Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Luka Yang Ternyata Belum Sembuh
Pagi ini suasana digedung Almeera Group terasa lebih sibuk dari biasanya, Nayara bahkN mempercepat langkah jalannya menyusuri koridor lantai dua puluh dengan tablet yang berada ditangannya.
Langkah Nayaa yang tegas seperti biasanya, para karyawan yang tidak sengaja berpapasan langsung mendundukkan kepala sebagai salah satu bentuk hormat.
" Selamat Pagi, Nona Nayara" sapaan hangat menyambut kedatangannya.
Nayara menganggukkan kepalanya kecil tanpa mengurangi ritme langkahnya, ia sudah terbiasa dengan ritme bekerja seperti ini sampai tidak merasa jika ini adalah sebuah beban.
Pekerjaan, target, keputusan yang besar adalah hal-hal yang tidak pernah melibatkan perasaan Nayara, begitu masuk kedalam ruang kerjanya Livia sang sekretaris langsung berdiri dari kursinya.
" Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda, Nona"
" Siapa?" Nayara langsung meletakkan tas nya di atas meja.
" Dia bilang Anda pasti mengenalnya" Livia menjawab dengan sedikit ragu.
" Namanya Kevin, Nona" Nayara mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Livia.
Satu nama yang saat ini terdengar dan langsung menghantam sesuatu dalam dirinya, beberapa detik Nayara tidak bergerak sama sekali dia membeku setelah lama tidak mendengar nama itu kini kembali hadir.
" Sekarang, dimana dia?" tanya Nayara akhirnya.
" Diruang tamu, Nona" jawab Livia.
Nayara menarik nafasnya secara perlahan mencoba menetralkan perasaan yang kini kembali naik, perlahan berjalan keluar dari ruangannya.
Pintu ruang tamu terbuka dan disana berdiri seorang pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Nayara, Kevin Pratama pria itu kini tersenyum manis ketika melihat kehadiran Nayara.
" Nayara... Sudah lama sekali, ya" Kevin terlihat sedikit canggung.
" Bagaimana kabarmu? Ahh maaf jika aku mengganggu... Aku hanya ingin berbicara..."
" Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Tuan Kevin" Nayara memotong kalimat Kevin dan hendak berbalik untuk melangkah pergi. Tetapi Kevin mencegah dengan kembali mengeluarkan suaranya.
" Nayara... Aku tahu aku telah membuat kesalahan dan menorehkan luka dihati kamu..... Jujur aku menyesal" ruangan itu kini terasa sunyi.
" Penyesalanmu tidak akan mengubah apapun, Tuan Kevin. Jadi simpan saja untuk kesalahanmu yang lain" kini wajah Nayara tetap terlihat tenang.
" Aku dengar kamu akan menikah, apa itu benar?" kini Kevin melangkah sedikit lebih dekat.
" Aku rasa itu bukan urusanmu" Nayara menatap wajah Kevin dengan tajam.
" Nayara, aku masih...."
" Berhenti disana... Kita sudah selesai sejak lama jadi tidak ada lagi urusan diantara kita" Suara Nayara uang tetap tenang tapi dingin terasa jelas.
" Apakah kau benar-benar akan menikah dengan pria yang bahkan tidak kau cintai?" Kevin menghela nafas.
Pertanyaan itu kini menggantung di udara, namun Nayara menjawabnya tanpa ragu.
" Dengar baik-baik, lebih baik aku menikah dengan seseorang yang baru aku kenal, dari pada harus kembali pada seseorang yang pernah mengkhianatiku... Urusan cinta itu bukan lagi urusanmu, karena hatiku bukanlah ranah yang bisa kau atur" Nayara menatapnya sebentar.
Kevin hanya bisa diam.
" Sudahlah, kau seharusnya tidak perlu datang kesini" Nayara langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan tanpa melihat Kevin lagi.
Namun setelah kembali keruang kerjanya, Nayara berhenti didekat jendela tangannya perlahan mengepal kuat. Ia membenci kenyataan bahwa masa lalu masih bisa muncul begitu saja, menganggu ketenangan yang sudah ia bangun dengan susah payah.
Dddrrrtttt.... Dddrrrtttt....
Ponsel Nayara tiba-tiba bergetar diatas meja, nama yang muncul membuat dirinya kini sedikit terkejut. Adrian Mahendra... Nayara menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
" Yaa?..."
" Apakah aku mengganggumu?" suara Adrian terdengar tenang seperti biasa diseberang sana.
" Tidak, ada apa?" jawab Nayara yang masih mengatur emosinya saat ini.
" Aku hanya ingin memastikan sesuatu... Apakah kamu sudah makan siang?" pertanyaan itu begitu sederhana, namun entah mengapa membuat Nayara sedikit kaget dan terdiam.
" Aku belum makan siang" jawab Nayara.
" Bagus... karena aku sekarang sedang berada didekat kantormu"
" Hahhh... untuk apa?" Nayara kini mengerutkan keningnya.
" Aku rasa kita bisa makan siang bersama, bukankah itu ide yang bagus?" jawab Adrian santai.
" Aku sibuk..." Nayara sebenarnya hampir menolak, namun entah mengapa kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
" Tidak apa-apa, kamu selesaikan saja dulu pekerjaannya aku bisa menunggu " lagi jawaban Adrian terlalu santai seolah ia benar-benar tidak merasa keberatan.
" Aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit" Nayara kini menatap jendela didepannya, hsrinini terasa lebih berat dari biasanya.
" Baiklah itu sudah sangat cukup..."
Beberapa menit kemudian Nayara keluar dari gedung kantornya, langkahnya kini berhenti ketika melihat Adrian berdiri disamping mobilnya. Namun bukan itu yang membuatnya terdiam, tapi tatapan Adrian langsung tertuju pada wajahnya dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu ekspresi pria itu sedikit berubah.
" Adrian... Ada apa?" tanya Nayara.
" Aku merasa kau sedang tidak baik-baik saja" Adrian kini menatap Nayara lebih lama sebelum menjawab pelan.
" Aku baik-baik saja, mungkin hanya perasaanmu karena belum makan siang" Nayara sedikit mencairkan suasana.
Adrian tentu saja tidak langsung percaya, tatapannya terlalu tajam seolah mencoba membaca sesuatu yang sedang Nayara sembunyikan.
" Apakah ada seseorang yang mengganggumu, hari ini?" pertanyaan itu membuat Nayara sedikit terkejut.
" Ahh sepertinya kau terlalu lapar, sampai-sampai pikiranmu terlalu jauh" jawab Nayara.
" Nayara Almeera..." Adrian memanggil dengan tatapannya semakin serius
" I... I... Iya?"
" Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman... Kau bisa memberitahu, mengerti?" Adrian kini berubah menjadi sosok yang serius.
Nayara kini menatap Adrian cukup lama, terlihat kilat ketulusan dalam suara dan pandangannya. Namun Nayara masih belum siap untuk mempercayainya.
" Jangan khawatir, aku bisa mengurus semuanya sendiri, Adrian" jawab Nayara.
Adrian kini menganggukkan kepalanya namun jauh didalam pikirannya, ia sudah memutuskan sesuatu.
Siapapun itu jika ada seseorang yang berani mencoba mengganggumu... Aku tidak akan tinggal diam, Nay.
Tanpa disadari kini perasaan Adrian Mahendra pada sosok wanita dihadapannya mulai berubah, Adrian bukanlah tipe pria yang membiarkan seseorang menyakiti wanita yang akan menjadi istrinya.