NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuku Ningsih

Wanita itu tersenyum sambil menangis. Matanya merah, tetapi bibirnya terangkat dengan cara yang aneh.

Kepalanya masih dalam posisi tidak wajar, sedikit miring seperti persendiannya rusak.

Endric membeku. Kakinya tertahan di tanah dan tidak bisa bergerak mundur.

“Gue salah tempat,” bisiknya pelan.

“Gak juga,” jawab wanita itu lembut. “Semua yang dipanggil pasti ke sini.”

Endric menelan ludah.

“Ndhul...”

“Gue di sini,” jawab Gandhul pelan dari samping.

“Ini aman, kan?”

Gandhul diam sebentar.

“Tergantung.”

Endric memejamkan mata sejenak.

“Jawaban lo selalu bikin gue makin tenang, sumpah.”

Wanita itu tertawa kecil. Suaranya bercampur isak tangis dan terdengar tidak sinkron.

“Kamu lucu juga.”

Endric memaksakan senyum.

“Iya, makasih. Bisa gak kita skip bagian seremnya?”

Wanita itu memiringkan kepala lagi. Posisi itu sudah tidak masuk akal.

“Kamu takut?”

“Gak,” jawab Endric cepat.

“Bohong.”

“Iya, bohong.”

Wanita itu tertawa lagi, kali ini lebih ringan.

“Akhirnya jujur juga.”

“Oke. Lo siapa?”

“Namaku Ningsih.”

“Endric.”

“Aku tahu.”

Endric menegang.

“Semua di sini tahu nama gue, ya?”

“Kalau sudah dipanggil, namamu bukan milikmu lagi.”

“Bahasanya kenapa harus serem begitu, sih...”

“Itu sudah biasa,” sahut Gandhul.

“Lo diam dulu,” sergah Endric. Ia kembali menatap Ningsih. “Lo tadi bilang semua yang dipanggil ke sini. Kenapa?”

Ningsih menunduk. Tangannya memainkan tanah di bawahnya.

“Karena di sini tempat kami dulu terakhir kali berharap.”

“Harap apa?”

“Bisa keluar.”

Endric merasakan dada terasa sesak.

“Lo juga dulu mau kabur?”

“Iya.”

“Terus?”

Ningsih tertawa pendek dan kosong.

“Gagal.”

“Semua gagal, ya...”

“Yang berhasil gak pernah kembali.”

“Berarti ada yang berhasil?”

“Ada.”

Endric langsung mendekat.

“Gimana caranya?”

“Pelan, rek,” bisik Gandhul.

“Bodo amat. Gue harus tahu.”

Ningsih menatapnya lama.

“Jangan memilih cara itu. Itu bukan cara yang tepat.”

Endric mengusap wajahnya frustrasi.

“Tapi gue sudah dipilih, Ning.”

“Belum.”

“Gue sudah dapat kertas. Sudah dipanggil.”

“Itu undangan.”

“Bedanya?”

“Dipanggil belum tentu dipilih.”

Endric dan Gandhul langsung terdiam.

“Jelasin.”

“Setiap sebulan sekali desa ini butuh satu.”

“Satu apa?”

“Yang dipanggil dikumpulkan. Dilihat. Dipilih.”

“Dilihat apanya?”

“Yang paling cocok.”

Endric tertawa tegang.

“Cocok buat mati?”

Diamnya Ningsih sudah cukup menjadi jawaban.

“Oke. Berarti gue masih punya kesempatan.”

“Sedikit,” kata Gandhul.

“Lo diam.”

“Dia temanmu?” tanya Ningsih.

“Iya. Walau nyebelin.”

“Eh, gue bantu lo, ya,” protes Gandhul.

“Bantu, tapi nyebelin.”

Ningsih tersenyum. Kali ini senyum itu terasa lebih manusiawi.

“Bagus kalau kamu gak sendiri.”

“Gue juga berharap begitu.”

“Gue harus ngapain malam ini?”

“Jangan sok siap.”

“Apaan?”

“Yang sok siap biasanya dipilih.”

“Logika macam apa ini...”

“Desa ini gak pakai logika,” jawab Gandhul.

“Oke. Jangan terlihat siap. Terus?”

“Jangan terlihat takut.”

Endric menatapnya datar.

“Terus gue harus jadi apa? Robot?”

“Kalau kamu terlalu takut, mereka tertarik.”

“Dan kalau gue santai?”

“Kadang mereka bosan.”

Endric menoleh ke Gandhul.

“Ini kayak lagi audisi, cok.”

“Ya memang.”

“Ada lagi?”

Ningsih diam sejenak.

“Kalau ada yang menawarkan kamu sesuatu, jangan diambil.”

Endric teringat tawaran tinggal selamanya.

“Noted.”

“Dan satu lagi...”

Endric menunggu.

“Kalau kamu lihat aku lagi, jangan mendekat.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin itu bukan aku.”

Endric merinding.

“Oke. Gue gak suka bagian itu.”

“Gue juga,” sahut Gandhul.

Tiba-tiba angin berhenti. Suasana menjadi sangat berat dan hening.

Ningsih menegang dan menoleh tajam ke dalam hutan.

“Mereka datang,” bisiknya.

“Siapa?”

“Pergi. Sekarang.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu ketemu mereka di sini, kamu langsung dipilih.”

Endric tidak butuh penjelasan kedua.

“Cabut, Ndhul.”

“Gas.”

Mereka berbalik dan berjalan cepat, lalu mulai berlari.

Namun, sebelum keluar dari hutan, suara langkah kaki terdengar menyerbu dari belakang.

Serempak.

Endric menoleh sekilas dan langsung membeku.

Di antara pepohonan, beberapa sosok berdiri. Wajahnya tidak jelas, bentuknya terlalu tinggi dan terlalu kurus.

Semua menatap ke arahnya.

“Ndhul...”

“Jangan lihat,” potong Gandhul cepat.

“Gue sudah lihat.”

“Makanya jangan dilihat!”

Langkah di belakang semakin dekat dan cepat. Endric berlari sekuat tenaga.

“ANJIR, INI BENERAN DIKEJAR!”

“YA LARI LAH!”

Mereka keluar dari hutan. Cahaya matahari menyambut dan langkah kaki itu berhenti mendadak.

Endric berhenti dan napasnya memburu. Ia menoleh ke belakang. Hutan kembali diam.

Ia jatuh terduduk di tanah.

“Gue hampir mati lagi.”

“Betul.”

“Gue baru sehari di sini.”

“Ya cepat beradaptasi.”

Endric tertawa lelah.

“Keren. Gue bangga sama diri gue.”

Tawa itu berhenti saat Endric melihat sesuatu di tangannya.

Tanah yang ia pegang mengandung benda kecil dan berwarna putih.

Ia membersihkan tanah itu pelan. Wajahnya berubah pucat.

Itu potongan kuku manusia. Masih ada noda darah di ujungnya.

Endric langsung menjatuhkannya.

“Ini dari mana?”

Gandhul menatap benda itu diam-diam, lalu berkata pelan.

“Lo gak sadar tadi Ningsih pegang tangan lo?”

Endric terpaku. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap pintu hutan yang gelap dan sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!