10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pilihan yang Terlambat Gelap.
Tidak ada cahaya sedikit pun di kamar itu.
Dira tidak bergerak.
Tubuhnya membeku, napasnya tercekat, dan pikirannya kosong—seolah seluruh keberaniannya ditarik keluar bersamaan dengan padamnya lampu.
Hanya ada satu hal yang tersisa.
Suara itu.
Tawa.
Pelan… panjang… dan menggema dari segala arah.
Bukan satu suara.
Banyak.
Bercampur menjadi satu kesatuan yang mengerikan.
Dira menutup telinganya, namun seperti sebelumnya, itu tidak ada gunanya.
Karena suara itu…
Ada di dalam.
“Aku… harus… menyalakan lampu…” bisiknya gemetar.
Tangannya meraba-raba dinding.
Mencari saklar.
Namun setiap sentuhan terasa asing.
Seolah dinding itu berubah.
Berdenyut.
Hidup.
“Tidak… ini tidak nyata…” ulangnya, mencoba bertahan.
Akhirnya—
Klik.
Lampu menyala.
Namun yang ia lihat…
Bukan kamarnya.
Dira membeku.
Dinding kamarnya hilang.
Digantikan oleh ruang luas yang gelap, dengan cahaya merah redup dari bawah.
Tanahnya hitam.
Basah.
Dan bergerak perlahan.
“Apa…” suaranya hilang di tenggorokan. “Aku di mana…?”
Jawabannya datang tanpa ia minta.
“Di dalam…”
Suara itu.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih dekat.
Dira berbalik.
Dan melihat mereka.
Puluhan sosok berdiri di kejauhan.
Samar.
Kabur.
Namun cukup jelas untuk membuat tubuhnya gemetar hebat.
“Aku… tidak pernah keluar kamar…” bisiknya.
“Tapi kamu membuka pintu…”
Dira menoleh cepat.
Di belakangnya—
Cermin.
Yang tadi retak.
Kini berdiri utuh.
Seperti pintu.
Permukaannya tidak lagi memantulkan bayangan.
Melainkan…
Kegelapan.
Dira mundur.
“Ini mimpi… ini pasti mimpi…”
“Kalau ini mimpi… kenapa kamu takut?”
Suara itu kini tepat di samping telinganya.
Dira menjerit dan menjauh.
Namun semakin ia bergerak, semakin jelas dunia itu menjadi.
Dan semakin dekat…
Mereka.
Sosok-sosok itu kini mulai bergerak.
Pelan.
Serempak.
Mengelilinginya.
Dira terjatuh.
Air matanya mengalir deras.
“Aku tidak mau di sini… tolong…”
“Sudah terlambat…”
“Belum!”
Suara lain memotong.
Keras.
Tegas.
Dira menoleh.
Dan melihat—
Raka.
Ia berdiri di antara bayangan-bayangan itu.
Namun kini lebih jelas.
Lebih nyata.
Matanya masih merah redup.
Tubuhnya masih retak.
Namun ada sesuatu yang berbeda—
Ia masih melawan.
“Dia belum sepenuhnya masuk,” kata Raka. “Masih ada waktu.”
Sosok-sosok lain langsung bereaksi.
“Dia melanggar aturan…”
“Dia terlalu banyak bicara…”
“Dia mulai ingat…”
Raka menatap mereka tajam. “Diam.”
Anehnya…
Mereka benar-benar diam.
Dira menatap Raka dengan harapan yang rapuh.
“Tolong aku…” bisiknya.
Raka mendekat.
Langkahnya pelan.
“Dengar aku baik-baik,” katanya.
“Kamu masih terhubung dengan dunia luar.”
“Bagaimana caranya keluar…?” suara Dira hampir tidak terdengar.
Raka menunjuk ke arah cermin.
“Itu pintumu.”
Dira menoleh.
Cermin itu berdiri diam.
Gelap.
Menunggu.
“Aku harus masuk ke sana…?”
Raka mengangguk. “Sebelum mereka menarikmu lebih dalam.”
Dira berdiri perlahan.
Kakinya gemetar.
Namun ia mencoba melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun sebelum ia sampai—
Tangan-tangan muncul dari tanah.
Hitam.
Panjang.
Mencengkeram pergelangan kakinya.
Dira menjerit.
“Tidak! Lepaskan!”
“Dia milik kami…”
“Dia sudah memanggil…”
“Dia sudah membuka…”
Raka langsung bergerak.
Ia meraih tangan-tangan itu dan menariknya menjauh dari Dira.
“Pergi!” teriaknya.
Untuk sesaat…
Tangan-tangan itu mundur.
Namun tidak hilang.
Hanya menunggu.
Raka menatap Dira.
“Sekarang! Lari!”
Dira tidak ragu lagi.
Ia berlari ke arah cermin.
Setiap langkah terasa berat.
Seolah dunia itu mencoba menahannya.
ia terus maju.
Hingga akhirnya—
Ia berdiri tepat di depan cermin itu.
Permukaannya bergetar.
Seperti air.
Dira menoleh ke belakang.
Raka masih menahan sosok-sosok itu.
Namun ia mulai kewalahan.
“Pergi!” teriaknya. “Jangan lihat ke belakang!”
Dira mengangguk.
Menarik napas dalam.
Dan—
Ia melangkah masuk.
Dunia itu langsung berubah.
Tubuhnya terasa ditarik.
Diputar.
Ditekan.
Seperti melewati lorong sempit yang tak berujung.
Dan tiba-tiba—
BRAK!
Dira terjatuh.
Keras.
Ia membuka matanya.
Kamarnya.
Lampu menyala.
Hujan masih turun.
Semua kembali normal.
Ia terengah-engah.
Menangis.
“Tadi… itu nyata…”
Ia menoleh ke cermin.
Retak.
Namun kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Dira mundur perlahan.
Hampir tidak percaya.
“Aku… keluar…”
Namun—
Buku itu.
Masih di lantai.
Terbuka.
Dan tulisan baru muncul.
Lebih cepat.
Lebih banyak.
“Kamu kembali.”
“Tapi pintu tetap terbuka.”
“Dan sekarang… kamu terhubung.”
Dira menggeleng.
“Tidak… aku sudah selesai…”
Namun saat ia mencoba menjauh—
Suara itu kembali.
Pelan.
Di telinganya.
“Dira…”
Ia membeku.
“Ini belum selesai…”
Air matanya jatuh lagi.
Ia menatap buku itu.
Lalu ke cermin.
Lalu ke tangannya sendiri.
Yang kini—
Memiliki retakan kecil.
Sangat halus.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk membuatnya sadar—
Sesuatu ikut keluar bersamanya.
Dan di dalam kegelapan—
Raka berdiri sendiri.
Lebih lemah dari sebelumnya.
Namun masih bertahan.
Ia menatap ke arah tempat Dira menghilang.
Dan berbisik,
“Maaf… aku belum bisa menghentikannya…”
Di belakangnya—
Sosok-sosok itu mulai bangkit lagi.
Lebih banyak.
Lebih gelap.
Dan penjaga baru…
Kini mulai terbentuk.
Bab berikutnya akan mengungkap…
Apakah Dira benar-benar selamat… atau justru menjadi pintu baru bagi sesuatu yang lebih mengerikan untuk masuk ke dunia nyata?