Murni dan Samsuri beserta ketiga anaknya tinggal di rumah selama bertahun-tahun lamanya tidak pernah tahu kalau ada kamar kosong di rumahnya .
Salah satu anak dari mereka melihat kamar kosong berada di ruang bawah tanah ketika tidak sengaja membuka lemari pakaian di kamarnya saat sedang merapikan pakaiannya .
Kejadian demi kejadian mereka alami setiap malam dan mereka sangat terganggu sehingga setiap malam terjaga .
Apakah yang akan dilakukan satu keluarga tersebut ketika mengetahui adanya kamar kosong di dalam rumahnya ?
Ikuti kisahnya sampai selesai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Kejadian Hari Ini
Masa liburan telah usai hari masuk sekolah tiba semua anak-anak masuk sekolah baru dengan teman baru , guru baru . Pagi itu wajah ceria para anak sekolah menghiasi wajah mereka , kebahagiaan terpancar dan bersemangat pergi ke sekolah .
Setelah selesai sarapan ketiga anak Murni sudah siap berangkat sekolah . Manaf dan Abdul berangkat dengan berjalan kaki sedangkan Alif naik angkutan umum karena jarak dari rumah ke sekolah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit .
Mereka berpisah di ujung jalan . Manaf dan Abdul tetap berjalan kaki karena jarak sekolahnya cukup dekat . langkah mereka terhenti ketika tidak sengaja melihat seseorang duduk di pinggir jalan dengan wajah menunduk rambutnya acak-acakan.
Manaf menyenggol lengan kakaknya takut . "Kamu kenapa senggol-senggol sih ," Abdul tahu kalau adiknya takut mau sekalian dikerjain . "Kak Abdul jangan jauh-jauh , aku takut ," Manaf mencoba meraih tangan Abdul justru sedikit menjauh .
Jarak antara orang yang duduk dengan mereka hanya beberapa meter , Manaf yang sudah ketakutan akhirnya memilih berlari sedangkan Abdul berjalan santai . Namun ketika sampai di depan orang tersebut tangan Abdul di tarik Abdul terkejut langsung panik .
“Hei lepaskan tanganku , lepaskan gak atau aku teriak maling nih ," ancam Abdul dengan jantung berdegup kencang . Orang tersebut mengibaskan rambutnya dan melihat Abdul dengan wajah ketakutan .
Orang itu hendak membawa Abdul namun teriakan Abdul membuat orang tersebut melepaskan cekalan tangannya dan berlari ke dalam mobil . Abdul selamat lalu berlari menuju sekolah .
Manaf masih di tempat melihat apa yang di lakukan kakaknya .“Syukurlah kakak tidak diapa-apain sama orang itu ,“ kata Manaf melihat kakaknya baik-baik saja.
"Hampir saja orang itu membawaku masuk ke dalam mobil kalau saja aku tidak berteriak ," kata Abdul berjalan masuk menuju kelas . "Untung saja aku lari tadi kalau tidak bisa jadi aku yang di bawa orang itu ," sahut Manaf .
Mereka masuk ke dalam kelas masing-masing , hari ini para siswa belum mulai pelajaran hanya perkenalan saja dan semua siswa memperkenalkan diri di depan kelas .
Di lain sekolah Alif juga tidak pelajaran ."Alif ," panggil seseorang , Alif menoleh ke belakang tersenyum ramah . “Kenalkan namaku Ilham kita satu kelas ," sapa Ilham memperkenalkan diri .
"Di mana kelas kita nanti ?" tanya Alif pada Ilham karena pihak sekolah belum menentukan kelas siswa baru . "Kalau tidak salah di gedung sebelah sana deh ," jawab Ilham menunjuk gedung sebelah .
"Kalau begitu ayo kita ke sana , aku ingin lihat ,"ajak Alif . Mereka berjalan menuju gedung sebelah hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri . Mereka masuk melihat kelas mereka nanti dan benar ada tulisan angka kelas di atas pintu .
"Cukup luas ," kata Alif masuk ke dalam kelas . "Iya , eh ada apa itu ?" Ilham mendekat ke arah jendela yang terbuka , Alif mengikuti Ilham . "Apa ini ? " Ilham mengambil sebuah kain panjang yang terikat menjulur ke bawah . Ruang kelas itu tingkat tiga dan di kelas itulah nanti mereka belajar .
Alif dan Ilham melihat seseorang di bawah sana sedang berbicara sendirian lalu menatap ke arah mereka dengan tatapan seram . Alif dan Ilham langsung berlari keluar dari kelas itu .
Sampai di luar mereka bertabrakan dengan seorang guru hampir saja jatuh seketika mereka sama-sama menghindar . "Kalian ada apa di sini bukannya berkumpul di aula malah kelayapan ," kata guru pria tersebut dengan tatapan sulit diartikan .
"Maaf pak kami hanya jalan-jalan sekitar sini saja kok ," jawab Alif diangguki Ilham . "Kalian kenapa berlari memangnya lihat apa ?" tanya guru tersebut melihat ke arah dalam ruang kelas .
"Tidak apa-apa kok, Pak , kami permisi ," kata Alif keduanya pergi meninggalkan guru tersebut dengan perasaan tidak enak . “Apa kamu lihat wajah guru itu ?" tanya Alif .
“Iya wajahnya pucat seperti orang sakit ," jawab Ilham bergidik tiba-tiba bulu kuduknya berdiri ,ia melihat sekitar tidak ada yang mencurigakan membuat Alif penasaran ." Kamu kenapa ?" tanya Alif .
"Lihat nih ,"Ilham menunjukkan kulit di tangannya merinding , Alif melihat tangan Ilham ia pun merinding lalu berlari menuju aula . Mereka belum terlambat masuk karena guru pembimbing belum hadir mengisi acara .
Setelah menunggu beberapa menit para guru hadir dan duduk di podium dengan elegan dan berwibawa . Salah satu guru memberi arahan dan materi kepada seluruh siswa.
Waktu selesai rapat semua keluar dari aula . Alif dan Ilham keluar menuju pintu gerbang .Ilham melihat Alif berdiri di pinggir jalan merasa kasihan mendekatinya .
"Kamu naik apa ?" tanya Ilham . "Aku naik angkot ," jawab Alif . Ilham berjalan menuju motor yang di parkiran . "Ayo naik , aku antar sampai rumah ," ajak Ilham dengan mengendarai motor .
Sebenarnya Alif merasa tidak enak hati tapi Ilham memaksa naik dan akhirnya Alif naik motor Ilham . Ilham mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata.
"Rumah kamu dimana ?" tanya Ilham dalam perjalanan ."Di desa Makmur Jaya ," jawab Alif . Ilham langsung menancapkan gasnya lebih kencang agar cepat sampai rumah Alif .
Motor berhenti tepat di depan rumah Alif , Ilham mematikan mesin motornya . "Ayo masuk istirahat dulu di dalam ," tawar Alif sambil turun lalu membuka pintu rumah .
Ilham mengikuti Alif masuk rumah dan duduk di ruang tamu sementara itu Alif masuk kamar mengganti pakaian dan membuatkan minuman buat berdua di bawa ke ruang tamu .
"Silahkan di minum , Ham ," Alif mengambil gelas dan meminumnya , Ilham langsung minum karena cuaca panas . "Kamu tinggal sama siapa saja ?' tanya Ilham .
"Kedua orang tuaku dan kedua adikku yang masih sekolah SMP ," jawab Alif . Ilham mengangguk paham sambil melihat seluruh ruangan dalam rumah . "Pasti rumahmu rumah kenangan ya , bangunanya sangat kuat dan tahan lama ," kata Ilham .
Alif melihat seluruh ruangan merasa kagum tinggal di rumah ini ."Iya rumah ini milik nenek dulunya dan sekarang sudah menjadi milik kedua orang tuaku ," jawab Alif . "Aku pulang dulu ya lain kali main kesini lagi ," kata Ilham beranjak dari tempat duduk hendak keluar rumah .
"Kenapa terburu-buru , belum juga makan ," sahut Alif merasa tidak enak hati . "Santai saja , oh iya besok barengan sama aku saja kamu tidak usah naik angkot ,“ kata Ilham ,ia merasa punya teman karena selama ini ia tinggal hanya bersama ibunya saja karena ayahnya sudah meninggal sejak lulus sekolah dasar .
"Apa tidak merepotkan ," kata Alif ragu . "Tidak sama sekali , kita bisa jadi teman dekat kan , kita kan tetanggaan , rumahku ada Di desa Ganggang sebelah ," kata Ilham .
"Baiklah kalau begitu aku akan siap menunggu kamu besok ," Alif mengacungkan jempol tanda setuju . Ilham menuju motor dan menyalakan motornya .