WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5
“Yang tidak berkepentingan, diharap menjauh dari tempat kejadian!” tegas salah satu anggota polisi yang mengamankan tempat kejadian pembunuhan itu.
Radit dan keempat temannya yang baru saja tiba di kampus itu, di buat kebingungan. Pasalnya, area kampus itu dipasang garis polisi.
“Ada apa, ini?” tanya Radit sembari melangkah maju ke arah depan.
“Ada pembunuhan, dua orang siswa siswi angkatan semester 3 di temukan oleh satpam dalam keadaan meninggal di kelas mereka. Kayaknya mereka habis berbuat mesum , karena mereka meninggal dengan berpakaian gak utuh,” seseorang siswi menjelaskan pada Radit dan kawan-kawannya.
“Kok bisa?” tanya Radit. Ia menjadi semakin penasaran.
“Gak tau, denger-denger dari satpam yang liat sih! Mereka meninggal dengan tragis, tubuh yang cowok penuh luka dan banyak terdapat pecahan beling di tubuhnya. Sedangkan yang cewek, mati dalam keadaan gak pakai pakaian dan perutnya tertusuk lampu gantung.”
“Ihh.. Se-se-serem banget!” Farhan bergidik ngeri.
“Ayo, kita pergi aja dari sini!” ajak Sarah.
“Kalian pergi aja duluan, aku pengen liat. Penasaran!” ujar Radit. Ia pun masuk ke arah kerumunan yang menunggu polisi menggotong dua kantong Jenazah.
“Radit! Gak usah aneh-aneh deh,” kata Toni pada Radit yang berjalan masuk ke dalam kerumunan.
“Radit keras kepala banget sih!” omel Toni. Mereka pun meninggalkan Radit di dalam kerumunan itu.
Radit melihat para polisi yang membawa dua kantong mayat itu. “Pak, tunggu! Apa saya boleh lihat?” tanya Arya.
Para polisi itu berhenti sejenak, lalu membuka resleting kantong mayat itu sedikit. Dan terlihatlah wajah kedua orang yang sudah terbujur kaku itu.
“Udah, Pak. Terimakasih!”
Para polisi itu, segera menutupnya kembali. Lalu, berjalan pergi ke arah ambulance yang berada di dekat gerbang kampus.
“Siapa yang membunuh mereka? Kok tragis banget kaya gitu.” Batin Radit.
Radit, pemuda yang berumur 21 tahun itu. Bukanlah pemuda yang penakut, ia selalu saja penasaran dengan hal-hal aneh yang ia temui. Tapi, meski ia selalu berbuat nekat dalam melakukan sesuatu yang berbahaya, ia tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar norma, atau melakukan kejahatan.
Radit berjalan menuju bagian belakang kampus, niat ingin menyendiri tetapi tidak jadi, karena ia melihat sosok Cempaka di tempat sepi itu.
“Cempaka!” panggil Radit. “Kamu ngapain di sini?” tanya Radit.
“Aku takut, tadi waktu mau masuk kelas. Aku lihat ada orang mati,” ucap Cempaka dengan lirih.
“Aku duduk disini, boleh?” tanya Radit sambil menujuk kursi yang diduduki Cempaka. Cempaka pun mengangguk.
“Kamu gak usah takut, mayat itu udah di bawa ama polisi. Mau di autopsi,” kata Radit.
“Kamu abis liat? Gak takut?” tanya Cempaka sambil menatap wajah Radit dengan tatapan dinginnya itu.
“Kenapa mesti takut? Takut mati? Kita gak perlu takut sama kematian. Karena takdir kita, sudah ditakdirkan sama TUHAN saat kita hendak di turunkan kebumi,” jelas Radit. Membuat Cempaka semakin dalam menatap wajah pemuda itu.
Saat Radit sedang sibuk berbicara dengan Cempaka, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya berdering.
“Papa,” guman nya.
“Kenapa?” tanya Cempaka dengan suara dinginnya itu. Tidak pernah sekalipun Cempaka berbicara dengan suara berirama atau dengan manusia pada umumnya.
“Papa nelpon, gak tau kenapa?” Radit segera mengangkat telpon itu.
“[Hallo, Pa. Ada apa?”]
“[Kalau kampus ditutup, cepat pulang. Jangan berkeluyuran!]” tegas Papa Harun yang ada di seberang telpon. Setelah itu, Papa Harun memutuskan sambungan telponnya.
“Kebiasaan banget!” gerutu Radit.
“Papa kamu galak?” tanya Cempaka sambil memiringkan kepalanya. Bukannya ia tidak tahu, tapi ia ingin mendengar dari mulut Radit sendiri.
“Galak, tapi Papa baik. Dia selalu ajarin aku, supaya jadi orang bener, jangan sampai aku salah jalan kayak anak-anak yang lain!” jelas Radit. “Dia juga gak izinin aku pacaran, dia takut aku ngalamin hal yang sama kayak dia. Di tinggalin tanpa ada alasan, bahkan sampe sekarang. Pacarnya Papaku itu gak pernah keliatan lagi.”
“Oh, gitu. Terus Papa kamu sekarang gimana?” tanya Cempaka lagi. Ia nampak sangat serius menyimak cerita Radit. Pemuda cerewet itu, terus menceritakan hal yang ia ketahui dari mulut papanya sendiri.
“Gak gimana-mana, Papaku terus berdoa semoga pacarnya itu selalu bahagia. Meski gak hidup bersama,” kata Radit. “Oh, iya. Papaku dan pacarnya itu, mahasiswa asal sini loh! Angkatan tahun 1988!”
Cempaka nampak menggerakan bola matanya kekiri dan kekanan.
“Kamu mau pulang atau tetap disini?” tanya Radit kepada Cempaka. Pasalnya, ia harus segera di pulang. Jika tidak, papanya pasti akan marah besar.
“Aku disini aja!” timbal Cempaka.
“Kalo gitu, aku pulang duluan ya! Kamu hati-hati, disini udah sepi!” Radit tersenyum manis ke pada Cempaka, sebelum akhirnya ia meninggalkan Cempaka seorang diri di belakang kampus itu.
Setelah Radit pergi, Cempaka juga ikut menghilang.
BERSAMBUNG!
.
.
.
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu