NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Langit bertahta bintang, menjadi pemandangan yang indah malam ini. Gelapnya malam tidak menghentikan aktifitas seorang gadis yang sedang sibuk di meja belajarnya. Angin malam yang berhembus dari jendela yang sengaja dia buka menerbangkan rambut panjang dan hitamnya. Berkali-kali dia menyibakkan poni yang menutup dahinya.

Aneesha sedang asyik dengan sekotak crayon dan buku gambarnya. Sejak kecil Aneesha suka mewarnai gambar dengan crayon, meskipun dia sudah biasa melukis diatas kanvas dengan cat air. Tapi buku gambar dan crayon selalu tak bisa lepas dari kegiatan sehari-harinya. Kali ini dia sedang mewarnai gambar rumah sakit, tadi sore Ia hanya menggambar sketsanya saja.

Malam semakin larut tapi gadis itu belum juga ingin menghentikan aktifitasnya. Dia masih asyik memadukan warna dan membuat gradasi agar gambarnya semakin menarik.

Aneesha mengangkat hasil gambar yang sudah diwarnai. Puas dengan hasilnya, Aneesha meletakkan gambar tersebut diatas meja, kemudian membereskan crayonnya.

“Alhamdulillah...,” Aneesha menggeliat, meregangkan otot - otot tangannya, menautkan jemari lalu mengangkat kedua tangannya keatas.

Lalu Ia berdiri dan menutup jendela kamar. Aneesha membalikkan badan, betapa terkejutnya Ia melihat Ayahnya sedang duduk diatas tempat tidur sambil memegang kameranya. Seperti sedang mengamati isi dalam kamera tersebut.

“Astaghfirulloh, Ayah!”Aneesha merebut kamera dari tangan ayahnya, dia tidak ingin hasil jepretannya dilihat oleh orang yang menurut Aneesha lebih ahli dibidang fotografi dari pada dirinya.

“Sejak kapan ayah disini?” Aneesha meneliti apa yang tadi ayahnya lakukan pada kameranya. Dia ikut duduk di tempat tidur, disamping ayahnya.

“Satu jam yang lalu mungkin.” Fares menjawab santai. Wajah tuanya belum terlalu terlihat, walaupun beberapa uban sudah ada yang tumbuh pada rambut gondrongnya.

“Apa? Satu jam? Koq ayah diem aja, sih?” tanya Aneesha panik. Dia takut hasil jepretannya dibilang jelek oleh Fares. Padahal selama ini, Fares selalu kagum dengan hasil jepretan Aneesha yang tidak pernah dicetak  itu.

“Ayah ketuk pintu tadi, manggil kamu juga, tapi kamu terlalu asyik dengan crayonmu itu. Jadi suara ayah nggak hilang dibawa angin. Ya, sudah ayah masuk aja.” Fares menjelaskan dengan santai, beginilah ayah dan anak ini. Fares selalu bisa mengajak anak-anaknya berbincang dengan santai. Dia bisa menempatkan diri kapan menjadi ayah, kapan menjadi sahabat untuk anak-anaknya.

Aneesha hanya diam menanggapi perkataan Fares. Tangannya masih mengutak-atik kamera, mengeluarkan benda kecil yang merupakan tempat menyimpan hasil tangkapan kameranya tadi.

“Ayah bisa membelikanmu kamera baru kalau Kau mau. Kamera itu sudah kuno, sayang.” Fares menunjuk kamera ditangan Aneesha. Kamera miliknya dulu, kamera bersejarah yang sudah menemaninya berpetualang menaklukkan puncak-puncak gunung di seluruh indonesia.

Fares memberikan kamera itu kepada Aneesha ketika anak sulungnya itu mengatakan ingin belajar foto. Sampai sekarang Aneesha masih menggunakan kamera jadul itu. Walaupun Aneesha bisa membeli kamera yang lebih bagus, tapi dia tetap sayang pada kamera itu.

Aneesha menggeleng pelan, sama sekali dia tidak menginginkan kamera baru. Walaupun hasil jepretannya tidak sebagus kamera dengan seri terbaru, tapi Aneesha menikmatinya. Toh dia juga tidak pernah mencetak hasil fotonya kan? Begitu pikirnya.

“Kau tahu, Papamu bisa mengejekku karena memberimu kamera bekas. Lalu dia akan membelikanmu kamera seharga mobil, ha ha ha.” Canda Fares yang diakhiri dengan tawa.

“Dia mana tahu hal semacam itu, yah.” jawab Aneesha lirih, tanpa menatap ayahnya. Mendengar itu, Fares menghentikan tawa.

“Ehem ...,” Fares berdehem untuk menetralkan suaranya.

“Ayah boleh bicara sebentar, Nak?” kali ini nada bicara Fares berubah serius. Aneesha menghentikan gerakan tangan, menimbang apa yang akan dikatakan ayahnya.

“Tentang apa, yah?” jawab Aneesha menatap Fares. Yang dia pelajari sejak kecil dari orang tuanya adalah selalu menatap orang yang sedang mengajaknya bicara.

Hening....

Fares sedang memilih kosa kata untuk mulai berbicara dengan anak sulungnya itu.

“Kau masih marah padanya, Sha? Pada Papamu?” Fares bertanya setelah berpikir sejenak. Sedangkan Aneesha mulai bisa menebak arah pembicaraan ayahnya malam ini. Waktu dia pulang tadi Fares sudah sedikit menyinggung tentang pembicaraan ini.

“Aku tidak pernah marah padanya, Yah. Aku hanya belum bisa menerima alasan kalian menempatkanku pada posisi ini. Harusnya Ayah tidak memperbolehkan Dia menemuiku. Harusnya Ayah tidak membuat kami dekat.” Aneesha mengubah pandangannya menjadi lurus ke depan. Tangannya masih memainkan tali kamera yang Dia pegang sejak tadi. Airmata sudah mulai menggenang di kelopak bawah matanya, menunggu waktu untuk meluncur membasahi pipi.

Aneesha belum ingin membicarakan orang yang disebut Papa itu, hatinya masih perih. Sejak kecil Aneesha sudah tahu kalau dia bukan anak kandung Fares, Dia tidak pernah ingin tahu siapa ayah kandungnya. Bagi Aneesha memiliki Fares dan Riani sebagai orangtuanya sudah cukup, dia tidak menginginkan orang tua yang lain.

Suatu kejadian memaksa Fares dan Riani mengatakan siapa ayah kandung Aneesha. Sejak saat itulah hati Aneesha merasa kecewa, orang yang selama ini baik dan akrab dengannya adalah orang yang membuatnya dicap sebagai anak haram seumur hidup.

“Neesha ... maafkan Papamu, Sayang! Lihatlah usaha Papamu untuk memperbaiki diri!” Fares merangkul bahu Aneesha, dia tahu anaknya yang selalu terlihat ceria ini sebenarnya sedang sangat rapuh.

.

.

.

Bersambung....

Hai readers, terima kasih sudah membaca...

*Jangan lupa like, tinggalkan komentar yang membuatku bahagia. kalau ada yang kelebihan poin boleh vote ya... *

Terima kasih... hehe....

1
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
Chalimah Kuchiki
dipasar lama dulu aku sering beli es podeng makan sambil ngemper di depan toko kosmetik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!