Namanya Dinara, perempuan 29 tahun yang terjebak dengan dua pria bermasalah dalam hubungan percintaannya, sehingga dirinya dijadikan bagian dari tumbal ilmu hitam.
Seseorang menginginkan kematiannya hanya karena dia di anggap sebagai wanita penggoda.
Dimulai dengan mantra pelet yang diterimanya, Dina menjadi pribadi yang berbeda dan setengah gila mengejar laki - laki yang tidak pernah disukainya.
Akhirnya santet berdatangan pada malam - malam dimana seharusnya Dina bisa tertidur lelap.
Dibantu ayahnya yang pernah ngelmu di sebuah padepokan Dina berusaha mempertahankan nyawanya.
Apakah Dina berhasil melewati angkara yang selalu didatangkan padanya? Apakah Dina akhirnya menemukan labuhan cintanya?
Simak kisah cinta Dinara dan perjalanan spiritualnya yang penuh air mata dan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 35
Hari sudah siang ketika aku membuka mata, aku tidur di karpet ruang tamu, tidak ada yang membangunkan untuk pindah ke kamar. Aku masih enggan beranjak, isi kepalaku terasa berat dan badanku sakit semua.
Mas Ari pasti sudah pergi bekerja dan Alan pulang entah jam berapa. Hanya ada bapak di ruang tengah sedang menonton televisi.
"Dina hari ini mau ke toko Pak, membereskan semua kerjaan Dina. Mungkin butuh waktu 3 hari. Setelah itu Dina ingin pulang ke Yogya, Dina kangen sama ibu." Aku mengambil biskuit untuk teman minum kopi, berharap bisa mengurangi sakit kepala.
"Bapak terserah kamu aja Nduk, jangan jadikan beban pikiran soal pekerjaan. Yang penting kesehatan dan keselamatanmu."
"Dina ngeri menyampaikan ini pak, Dina melihat sesuatu akan terjadi pada…." Kalimatku terpotong oleh Bapak.
"Jangan Nduk, jangan dibicarakan. Apapun yang kamu lihat dan rasakan akan terjadi jangan pernah kamu sampaikan pada siapapun, termasuk Bapak. Ojo ndisiki kerso Nduk!" (Jangan mendahului takdir!)
Aku termangu memikirkan kata-kata Bapak, memikirkan memiliki penglihatan masa depan seseorang ini bermanfaat atau tidak. Aku mulai konyol berpikir untuk melihat masa depan teman-temanku, pasti menyenangkan bisa melihat apa yang akan terjadi dengan mereka atau bisa menolong mereka jika akan terjadi hal buruk. Tapi yah, siapa yang mau menanggung balaknya? Bapak benar, sebaiknya aku tidak mengganggu apa yang seharusnya terjadi.
"Iya Pak," jawabku dengan tidak yakin.
"Dan jangan menjelajahi alam lain baik itu di bawah alam sadar atau di alam nyata. Kamu diberikan kemampuan mendengar dan melihat makhluk halus itu sudah cukup."
"Iya Pak, sebenarnya sih Dina ingin coba berpetualang ke sana, tapi Bapak takut Dina tersesat dan tidak pulang kan?" Aku nyengir menggoda Bapak yang gusar dengan hal-hal baru yang ada padaku. Biskuit terakhir aku masukkan mulut dan kuhabiskan kopiku segera.
"Ya, kamu sudah tau kalau itu berbahaya. Dunia ini ada batasannya, jadi ya jangan kelewat batas." Bapak menekankan kata 'batas' padaku. "Gak makan dulu Nduk? Kakakmu beli lauk tadi pagi."
"Dina mau mandi Pak, nanti makan siang sekalian di tempat kerja." Aku membereskan gelas kopi dan menutup toples biskuit yang sudah kosong, "Dina mimpi melihat Bapak memimpin seribu pasukan berbaju putih, itu 'bolo sewu' ya Pak?" tanyaku memastikan apa yang tiba-tiba terlintas dalam benakku.
Aku lihat Bapak terkejut mendengar pertanyaanku, "Bapak tidak pernah menggunakannya Nduk."
***
Well, sekarang selera makanku jadi hilang karena manusia satu ini mengganggu acara makan siangku. Yeni buru-buru pamit karena Alan mengatakan ingin bicara berdua denganku.
"Kamu menghindariku Dina," keluhnya seolah ini adalah salahku.
"Jadi apa yang harus kulakukan? Memelukmu?" tanyaku dingin.
"Aku minta maaf Din, aku sungguh minta maaf. Tolong maafkan aku Dina!" katanya memelas.
"Aku sudah memaafkanmu, aku sudah melupakan kejadian yang lalu. Tidak ada lagi yang perlu kita bahas! Apa pembicaraan ini sudah selesai? Aku banyak kerjaan." Aku langsung mengakhiri pembicaraan yang belum dimulai ini.
"Beri aku waktu untuk bicara Din, sebentar saja!"
"Oke, lima menit."
Alan menggeleng pelan melihat sikapku yang dingin. "Pertama aku sangat menyesal sudah kasar sama kamu, sekali lagi minta maafmu!"
Dia menjeda kalimatnya, "Kedua aku ingin memberitahukan bahwa semua kejadian yang kamu alami adalah ulah Wanda, aku memergokinya pergi ke Jombang tempat Pakdemu. Wanita itu benar-benar tidak punya otak, aku minta maaf Dina!"
Aku mengangguk dan menatap Alan dengan wajah datar, tidak antusias dengan ceritanya yang sudah kutebak beberapa waktu yang lalu.
"Ada lagi yang ingin kamu bicarakan?"
"Kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya, aku tidak akan mengulanginya, aku tidak akan melakukan hal buruk padamu Dina!" Dia menyodorkan paper bag yang aku kirimkan balik padanya. "Terimalah ini, aku sudah merusak hp mu, aku harus menggantinya."
"Dengar Alan, hubungan ini tidak sehat, jika diteruskan akan membawa dampak tidak baik. Apa tidak terlalu egois ketika kamu sudah tau apa yang sedang terjadi tapi kamu terus saja merengek untuk hubungan ini?"
"Aku tau aku sangat egois, tapi aku tidak bisa mundur Dina!. Untuk masalah yang kamu hadapi sekarang, aku akan membantumu, aku akan membawamu ke guruku. Aku yakin Beliau bisa menyelesaikan masalah ini."
"Sudahlah Alan, aku lelah dengan pembicaraan ini." Aku menggeleng heran, "Aku tidak percaya kamu akan kembali pada gurumu. Bukankah kamu sendiri yang ingin melepas khodam pemberian gurumu?" tanyaku skeptis.
"Aku akan melakukan apapun untukmu Dina, apapun!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Menjauhlah dariku Alan! Jika kamu bisa melakukan apapun untukku maka jauhi aku. Hubungan ini tidak akan berhasil, ini hanya akan membahayakan kehidupan orang di sekitar kita, mundur sekarang atau kamu akan menyesal di kemudian hari, kamu tidak akan mampu melawan Pakde.
Dan aku tidak bisa menerima ini, anggap saja semua impas, aku sudah membayar mahal padamu karena membiarkan Andric terlalu dekat denganku." Aku berdiri siap meninggalkan Alan, Aku memang kejam padanya, tapi itu untuk kebaikannya.
Alan menarik tanganku agar kembali duduk, "Aku belum selesai Dina, duduklah!"
"Aku tidak mau terlihat sedang merayu suami orang Alan, apa kamu ingin Wanda menghabisiku di sini dengan tangannya?"
"Aku tidak akan membiarkan Wanda menyakitimu Dina, aku akan mengurusnya, aku akan menyingkirkannya."
"Jangan bercanda Alan, dia itu ibu anakmu. Kamu tidak akan bisa menyingkirkan dia, kamu membutuhkannya untuk anakmu yang masih batita itu. Terserah kamu mau mengakui atau tidak, tapi aku rasa kamu tidak akan menolak pendapatku."
Alan diam saja kali ini, dahinya berkerut pertanda sedang berpikir keras. "Dari awal kamu memang tidak pernah melihat usahaku Dina, aku gak tau harus bagaimana lagi untuk meyakinkanmu?" Ujarnya putus asa.
"Aku melihat usahamu akan sia-sia dengan semua permasalahan ini, jadi aku memang berniat menghentikan obsesimu itu."
"Dengan cara berkencan sama Andric? Apa tidak ada laki-laki lain? Dia sahabatku Din, kamu membuatnya menghianati persahabatan kami."
"Siapa yang membuatku tergila-gila dengan Andric? Diriku sendiri? Lalu, seandainya aku berkencan dengan laki-laki lain, apa kamu akan melepasku? Jawab aku Alan!"
Tidak ada jawaban.
Aku menghembuskan nafas kuat dan memandangnya tajam, "hal terakhir yang akan kulakukan padamu hanya mencabut keris di punggungmu itu, tidak lebih."
Alan hanya membisu, tidak menemukan sesuatu yang masuk akal untuk menjawab pertanyaanku. Aku berlalu meninggalkannya sendiri, kali ini dia membiarkanku pergi, mungkin tidak punya alasan untuk tetap menahanku.
Bertemu Alan benar-benar merusak konsentrasi kerjaku. Tidak ada pekerjaan yang bisa aku selesaikan dengan baik. Hingga aku mengikuti acara gosip di toko bersama Yeni.
"Mbak, berasa ada bau dupa gak?" tanya Yeni tiba-tiba.
"Iya, kenapa memangnya? Apa ada masalah?"
"Aku dengar tokonya Pak Alex sekarang luar biasa rame, gosipnya bau dupa ini dari sana, Mbak. Kira-kira itu pake penglaris atau apa Mbak?"
"Ohya, kamu update sekali dengan gosip Yen." Aku tidak bisa menahan tawa mendengar pertanyaannya.
"Beneran kok Mbak, semua orang di sini bilang gitu. Mbak Dina kan sering gak masuk kerja akhir-akhir ini, makanya gak tau."
"Gini aja deh, kamu minta dana sama Farida untuk cetak brosur dua rim. Besok aku meetingkan dengan leasing apa mereka bisa memberikan potongan biaya admin atau free 1 bulan cicilan bagi kredit di atas 9 bulan, untuk menaikkan penjualan bulan ini."
"Iya Mbak," akhirnya pembahasan mengenai penglaris toko tetangga selesai.
Aku pulang tepat jam 3 sore, aku tidak lagi bisa fokus dengan kerjaan, lagian aku ada janji menemani Andric ke nikahannya Anton nanti malam. Andric protes berkali-kali aku mengabaikan pesan dan telponnya dua hari terakhir.
Aku sengaja lewat toko yang diceritakan Yeni, memang ramai pembeli. Ada anak kecil telanjang berlarian menarik paksa pengunjung agar masuk ke toko itu. Anak yang malang, wajahnya pucat seperti mayat.
***
tapi tetap suka ceritanya