Plakkkk!!!
Kia menampar pipi ayahnya dengan berlinang air mata.
" Kia tidak akan pernah menuruti semua keinginan ayah, selama ini Kia sangat sabar menghadapi kelakuan ayah. Tapi sekarang?? kesabaran Kia sudah habis, ayahh, sudah habis!! "
Iya, dia adalah Kriya Anastasya, seorang gadis cantik yang akan dinikahkan dengan seorang rentenir duda beranak lima.
Ayahnya yang tega menukarnya hanya demi uang. Apakah itu bisa disebut ayah??
Tapi dengan bantuan Al sang pengusaha terkenal itu, Kia bisa lolos dari pernikahan tersebut.
Yang ternyata Al adalah orang yang pernah menyelamatkan dia dulu, orang yang sangat dingin pikirnya.
Kisah Kia masih berlanjut saat Al meminta Kia menjadi istrinya. Jika Kia menolak permintaannya itu, Al tidak segan-segan menjebloskan kakak dan ayah Kia kedalam penjara.
Tidak ada pilihan lain selain dirinya mengikuti kemauan Al.
Jadi, bagaimanakah kisahnya nanti??
Apakah keduanya bisa memberikan cinta satu samalain, atau malah sebaliknya keduanya tidak bisa mempertahankan rumah tangannya karena ego masing-masing??
Yukk simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadissusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMDTM BAB#34
Hari berganti hari.
Semua terlihat begitu indah dimata Kia. Semenjak Al menyatakan cinta kepadanya, dari hari itu juga Al mulai bersikap baik terhadapnya. Al sudah mulai membangkitkan semangatnya untuk melaksanakan ibadah yang seperti dia katakan dulu dengan bimbingan Kia.
Kia mengerjapkan matanya. Tubuhnya merasakan seperti ada tangan yang melingkar ditubuhnya. Membuka matanya sempurna.
Geli yang dia rasakan sekarang. Wajah Al yang menempel dilehernya dari belakang membuat bulu kuduknya berdiri semua.
Kia mengangkat tangan Al yang melingkar diperutnya itu dengan pelan agar Al tidak terbangun.
Membalikkan posisi menghadap kearah Al, menatap lekat wajah Al, lalu tersenyum kecil melihat wajah Al yang terlihat lucu saat tidur.
Seketika senyumnya hilang saat mengingat sesuatu.
" Arkhan!! " ucapnya kaget.
Bangun dari tidurnya, melangkahkan kakinya turun dari ranjang.
Baru saja turun ingin melangkahkan kakinya pergi mencari Arkhan, tangannya sudah ditarik oleh Al.
Bughhhh!
Tubuh Kia kembali terjatuh diatas dekapan Al dengan posisi membelakangi Al. Tangan Al berada dilengan Kia.
Al mencari posisi yang nyaman, mendekap tubuh Kia dengan sangat erat. Menghimpit tubuh Kia menggunakan kedua kakinya.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Kia berdegup dengan kencang.
" Mass," pekik Kia.
" Sak-sakit, Mas."
Berusaha melepas dari dekapan Al yang tidak pudar sama sekali itu.
" Ak-aku sul-sulit ber-naf-fas" ucap Kia terbata.
Mencoba mengatur nafasnya itu.
Huffft
Hufttt
Al membuka matanya, merenggangkan sedikit pelukannya.
Tangannya melingkarkan keperut Kia kembali.
" Mas, lepas dulu! aku mau mencari Arkhan. " Mencoba mengangkat tangan Al yang melingkar diperutnya itu.
" Hemmm. "
Al tidak melepaskan tangannya, wajahnya malah ditaruh ditenguk Kia, membenamkan wajahnya disana.
" Mas, geli." Menggoyang-nggoyangkan pundaknya.
" Mass, Arkhan hilang. Tolonglah jangan begini," pinta Kia.
" Tidak. Dia tidak hilang. Tadi malam aku pindahkan kekamar yang akan dia tempati nantinya, ada disamping kamar kita. "
Mata Kia membulat sempurna mendengar ucapan Al itu.
" Memindahkan?? tapi kenapa tidak meminta persetujuan ku dulu?? " tanya Kia.
" Itu tidak penting. Sekarang kita akan selalu berdua, tidak akan ada yang menganggu kita lagi. "
" Auwwwww," pekik Kia saat Al menggigit kecil bagian lehernya.
Kia menelan ludahnya dengan kasar, menjauhkan bagian kepalanya dari wajah Al, " M-m-mas, " ucapnya terbata saat menyadari tangan yang ada diperut Kia mulai bergerak disana.
" Aku mohon, jangan sekarang " pinta Kia.
" Haa?? apanya yang sekarang?? " tanya Al bingung.
" Emm. Itu " Memindahkan tangan Al dari perutnya.
Al yang paham akan hal itu hanya mengulas senyum sebentar.
" Tenang saja. Aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukannya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu mencintaiku dari lubuk hati kamu yang terdalam. Melakukannya dengan ikhlas, tidak ada paksaan sekalipun. "
Kembali memeluk tubuh Kia.
" Aku hanya ingin mengusap perutmu saja, tenanglah. " Kembali mengelus perut Kia yang rata itu.
Kia yang mendengarnya tersenyum simpul. Merubah posisinya, menghadap kearah Al. Kia memeluk tubuh Al dengan sangat erat. Membenamkan wajahnya didada bidang milik suaminya itu.
Al membalasnya, mengelus pucuk kepala Kia dengan sangat lembut.
Trimakasih atas semua keajaiban yang engkau berikan Ya Allah, ucap Kia dalam hati.
" Maaa," triak Arkhan saat sudah membuka pintu kamar lebar.
Al dan Kia saling melepas pelukannya, menoleh kesumber suara.
" Mamaaa, Papaaa" triaknya lagi.
Naik keatas ranjang, ikut tidur ditengah-tengah Al dan Kia.
" Hey, siapa yang suruh Arkhan tidur disini?? " tanya Al yang merasa Arkhan menjadi pengganggu kemesraannya dengan Kia pagi ini.
Arkhan mencari posisi yang nyaman.
" Papa, " Mengangkat tangan Al yang berada dipinggang Kia.
" Siapa juga yang nyuluh mindahin Alkhan tidul dikamal sebelah?? " tanyanya.
" Arkhan kan sudah besar. Sekarang waktunya tidur sendiri."
" Tapi kenapa Papa tidak bilang dulu sama Alkhan? "
Al hanya mengangkat kedua bahunya.
" Maa. Kenapa Alkhan dipindahin?? " tanyanya kepada Kia.
Kia tersenyum kecil, mengelus pucuk kepala Arkhan, " Karna Arkhan sudah besar bukan?? "
Arkhan mengangguk.
" Maka dari itu Arkhan harus tidur sendiri mulai dari sekarang. "
Arkhan mengangguk mengerti, " Tapi Alkhan kesepian, Mama. Alkhan tidak bisa tidul kalo tidak dipeluk Mama dulu. "
" Nanti mama akan temani Arkhan jika mau tidur. Oke? "
" Oke, " jawab Arkhan sumringah.
Pandai juga rupanya, batin Al dalam hati. Tersenyum senang dengan semua yang diucapkan Kia tadi.
" Maa, lapall" rengeknya.
Memeluk tubuh Kia, membenamkan wajahnya didada Kia.
Al yang melihatpun membulatkan matanya.
" Arkhan. " Memanggil sedikit menekan panggilannya.
" Lepas! " perintahnya.
Arkhan mwmbalikkan badannya, menatap lekat wajah Al.
" Apa yang halus Alkhan lepas, Pa?? " tanyanya dengan polosnya itu.
Kia menepuk jidatnya pelan.
Huftttt.
Al duduk dari pembaringannya.
" Jangan coba-coba memeluk mama mu seperti itu lagi. "
" Tapi kenapa , Papa?? Alkhan biasanya juga begitu. Memeluk tubuh mama dengan elat. " Bangkit dari tidurnya, ikut duduk seperti Al.
" Tapi sekarang tidak boleh. Mama itu punya papa. Jadi, jangan coba-coba berbuat seperti itu pagi. "
" Hemmm. "
Arkhan memincingkan kepalanya, menatap bingung kearah Al yang sikapnya berubah 180 derajat dari biasanya.
" Ma, papa kenapa?? " tanya Arkhan, menatap kearah Kia.
Kia hanya mengangkat kedua bahunya dengan posisi masih tidurnya itu.
" Lalu Alkhan halus bagaimana?? " tanya Arkhan.
" Udahlah,Mas. Anak kecil itu butuh belaian, biarkan saja dia begitu sama aku. Nanti saat dewasa dia juga bakal tau sendiri. " Jelas Kia kepada Al.
Seketika bayangan-bayangan masa lalu terlintas dibenak Al. Menatap kosong kearah depan.
" Mas kenapa?? " tanya Kia yang sadar akan tingkah laku Al. Bangun dari tidurnya, duduk dibelakang Al.
" Tidak, " jawabnya cepat.
" Oke. Arkhan boleh memeluk tubuh mama seperti tadi lagi. "
Mata Arkhan berbinar mendengar ucapan dari Al.
" Benarkah, Pa?? " tanya Arkhan kegirangan.
Al hanya mengangguk menanggapinya.
" Yeeeeee yeeeee yeeeeee."
Sorak Arkhan gembira, melompat-lompat diatas kasur yang empuk itu, berlari kecil mengelilingi Kia dan Al.
" Aku larang pun, kamu juga tetap memeluk tubuh mamamu itu" ucapnya pelan.
Kia yang mendengar ucapan Al itu hanya tersenyum kecil.
" Aku tau kamu akan berbicara seperti itu. Mas Al nggak akan pernah tega," ucap Kia.
Al hanya menama Kia dengan sendu.
Aku tau Mas apa yang ada dipikiranmu sekarang. Tapi, maaf. Aku belum bisa melakukan itu semua sekarang, aku akan menyakinkan perasaan cintaku kepadamu dulu. Aku tidak mau mengambil langkah yang salah untuk masalah ini. Memang dalam islam menolak ajakan suami adalah perbuatan dosa, kecuali ada halangan tertentu.Tapi maaf, aku belum bisa melakukannya itu sekarang juga. Aku harap kamu akan mengerti dengan semua yang aku lakukan saat ini tanpa aku memberitahu kamu terlebih dahulu.
Batin Kia sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap kearah Al yang sedang bermain dengan gembira bersama Arkhan itu.
.
.
.
.
Bersambung.