NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:11.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lunoxs

Takdir membawa ku dalam keadaan ini, setelah suami ku mas Arend meninggal dunia, aku menikah lagi dengan adik kembar mas Arend, yaitu Arick.

✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Selepas panggilan itu terputus, Selena langsung mengirimkan lokasinya saat ini pada Arick.

"Jas, hati-hati." Selena mengingatkan, pasalnya kini jalanan sangat ramai dan Jasmin terus-terusan berusaha menyalip.

Jasmin terus memindai taksi Lila, kali ini ia benar-benar tidak ingin melepas perempuan tidak tahu malu itu.

"Ah Shiit!" Jasmin mengumpat, ketika ia terhenti dilampu merah sedangkan taksi Lila sudah berlalu jauh didepan sana.

"Tenang Jas, aku sudah menghapal nomor plat mobil itu. Jika dugaan kita benar, kita hanya perlu mengikutinya ke rumah Jihan."

Keduanya terdiam, memperhatikan waktu lampu merah yang seolah berdetik lebih lama.

Jangan sampai Lila sampai terlebih dahulu di rumah Jihan. Bantu kami ya Allah, hamba mohon. Batin Jasmin penuh harap.

Ia kembali melaju ketika lampu sudah berubah menjadi hijau, ia memang tidak melihat taksi Lila didepan sana. Tapi Jasmin melaju menelusuri jalanan menuju rumah Jihan.

Ketik sudah memasuki area perumahan Jihan, Jasmin dan Selena melihat taksi Lila. Jasmin memang sedari tadi melaju dengan kecepatan tinggi, jadi wajar saja jika kini ia kembali menyusul Lila.

"Itu mobilnya Jas, ayo cepat kita susul dia." Selena mulai was was pasalnya tak butuh waktu lama lagi mereka akan sampai di rumah Jihan.

"Loh! kenapa dia melewati rumah Jihan Jas?" tanya Selena penasaran, dilihatnya taksi itu terus melaju melewati rumah Jihan.

Seringai mulai muncul dibibir Jasmin, "Bodoh, hahahaha. Pasti dia berpikir jika Jihan masih tinggal dirumah ibu Sofia." Jasmin menggelengkan kepalanya berulang, menertawakan kebodohan Lila.

"Hahahaha." Selena ikut-ikutan tertawa juga, benar-benar merasa lucu. Sedari tadi mereka cemas memikirkan Lila yang akan menemui Jihan, ternyata kecemasan itu tidak ada gunanya.

Mereka terus mengikuti mobil Lila, dan benar saja, mobil taksi itu berhenti tepat di depan rumah ibu Sofia.

"Jihan!"

"Jihan!"

Lila mulai berteriak tak terkendali di depan gerbang rumah itu.

Dengan tergesa Jasmin dan Selena menghampiri. Tanpa babibu, Jasmin langsung menjambak rambut Lila hingga gadis pincang itu terhuyung kebelakang.

"Dasar tidak tahu diri! kami semua sudah tahu kebohonganmu, tapi berani-beraninya kamu masih berbuat ulah!" Jasmin membentak, tangannya terus memcengram kuat rambut Lila.

"Lepaskan!" Teriak Lila, sumpah demi apapun, jambakan Jasmin sangat sakit, kulit kepalanya sampai terasa pedih.

"Ini belum seberapa dibandingkan fitnah kejam mu itu! dasar brengsek!" Jasmin menarik-narik rambut Lila hingga Lila gaduh kesakitan.

Selena yang melihat perkelahian itu bingung harus bagaimana, lama-lama ia pun tidak tega melihat Lila yang dihajar habis-habisan oleh sahabat barbarnya ini.

"Jas, cukup Jas. Rambutnya bisa copot!" teriak Selena takut-takut, kakinya maju mudur, bingung antara melerai atau membiarkan saja.

Puas menjambak-jambak rambut Lila, Jasmin langsung saja menghempaskannya ke jalanan. Hingga selembar foto yang sedari tadi digenggam oleh Lila ikut terbuang jatuh ke jalanan.

Selena yang melihat ada kertas jatuh langsung bergerak cepat untuk mengambilnya.

Dilihatnya foto itu lekat-lekat, foto Lila dan Arend yang sedang tidur bersama diatas ranjang.

"Brengsek!" Teriak Selena, ia langsung merobek-robek foto itu hingga menjadi bagian-bagian kecil, selesai merobek, Selena langsung saja melayangkan satu tamparan keras di pipi Lila.

Plak!

"Ternyata kamu memang tidak pantas untuk dikasihani!" kesal Selena. Ia hendak menjambak rambut Lila juga namun terhenti ketika ia mendengar suara Arick datang.

"Cukup Len," ucap Arick. Arick datang bersama Mardi dan Hamid.

Hamid kemudian membantu Lila untuk berdiri, namum niat baik sang ayah malah ditolak mentah-mentah oleh Lila. Ia menepis tangan Hamid dan kemudian bersusah payah untuk bangkit sendiri.

"Dasar tidak tahu diri," desis Jasmin, namun masih didengar oleh semua orang.

Sreekkk!

Pintu gerbang terbuka, nampaklah Ujang dan sofia keluar dari sana.

Sofia memandang bingung pada keramaian didepan rumahnya ini, "Loh, ini ada apa?" tanyanya menyelidik.

Tatapan Sofia tertuju pada Lila yang sedang tertunduk.

"Ada apa ini Pa?" tanya Sofia pada sang suami, Mardi.

Mardi pun menjeleaskan secara garis besar, ia memberitahu jika Lila hanya berbohong, ia memfitnah Arend.

Mendengar itu semua, Sofia sangat bahagia, ia merasa lega seolah beban berat dipundaknya sudah menghilang. Meski begitu ia masih menaruh kemarahan pada Lila.

Sofia mendekati Lila, tanpa basa basi ia pun langsung menampar wajah Lila dengan keras.

Plak!

"Maafkan saya Pak Hamid, tapi anak Bapak ini benar-benar keterlaluan." Marah Sofia, ia bahkan menunjuk-nunjuk wajah Lila yang tertunduk.

"Maafkan saya Bu." Lirih Hamid, hanya itulah yang bisa ia ucapkan sekarang.

"Bu, sudah." Arick berucap pelan, ia memeluk pundak sofia dari samping dan mencoba menenangkan.

"Kamu jangan terlalu baik dengan dia Rick, perempuan seperti dia tidak bisa diberi hati, dia_"

"Buk!" Mardi memotong dengan cepat ucapan Sofia. Ia tahu jika Lila memang pantas untuk dicaci mami. Tapi Mardi pun tak bisa melupakan kebaikan Hamid. Bagaimanapun juga Lila adalah anak Hamid, pria paruh baya yang amat sangat baik hati.

"Sudah Bu," Mardi kembali mengingatkan Sofia, Mardi benar-benar tidak ingin masalah ini berlarut-larut.

"Hentikan semuanya disini, kita sudah mengetahui semua kebenarannya dan itu sudah cukup." Mardi kembali membuat petuah dan Sofia akhirnya menghela napas berat. Ia memang tidak bisa membantah ucapan sang suami. Terlebih lagi, ucapan Mardi itu memang ada benarnya.

"Baiklah, saya tidak akan memperpanjang masalah ini Pak Hamid. Tapi saya mohon, bawa Lila untuk pergi bersama anda. Kami akan tetap memenuhi janji kami untuk memberi tunjuangan pada Lila," ucap Sofia setelah ia mengambil keputusan.

"Tidak Bu, kami tidak pantas menerima apapun dari keluarga Ibu. Saya mohon, jangan buat saya semakin merasa malu dengan menerima uang itu." Lirih Hamid, saat ini ia sudah kehilangan muka. Anaknya sendiri sudah melepar kotoran diwajahnya.

"Tidak Pak Hamid. Mari kita lupakan ini semua dan izinkan kami memenuhi janji." Mardi menepuk pelan bahu Hamid.

Terlepas dari Lila, Hamid memanglah seorang manusia yang berhati tulus. Dia melupakan lelahnya untuk membantu orang lain.

"Tapi Pak_"

"Sudahlah." Potong Mardi cepat.

Akhirnya Hamid tidak punya pilihan, meskipun malu menyelimuti sekujur tubuhnya, ia terpaksa menerima bantuan Mardi.

"Lila, meminta maaflah dengan benar kepada keluarga Pak Mardi." Hamid memerintah Lila, yang diperintah hanya terdiam dan menundukkan wajahnya.

"Cih!" Jasmin berdecih, merasa jijik dengan sikap Lila itu.

"Sudahlah Tante, dia tidak akan mengerti bagaimana caranya meminta maaf dengan benar," kesal Jasmin.

"Sebaiknya Tante masuk saja ke dalam rumah dan kami akan kembali ke kantor." Lanjut Jasmin.

Hamid hanya mempu mengehela napas pelan, Lila sudah benar-benar mempermalukan dirinya.

Tanpa aba-aba, Sofia langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia juga tidak butuh kata maaf dari seorang pembohong. Kalaupun ia mengucapkan kata Maaf, belum tentu maaf itu tulus dari hatinya. Bisa saja dia kembali berbohong.

Selepas kepergian Sofia, Hamid berulang kali mengucapkan kata maaf pada Mardi dan Arick. Baik Mardi ataupun Arick sudah memaafkan Lila, tapi tetap saja tidak bisa melupakan semuanya. Ayah dan anak ini juga menginginkan Lila untuk pergi dari Jakarta.

Hamid pun menyetujui permintaan Mardi, dengan sedikit harga dirinya yang tersisa Hamid menarik tangan Lila untuk ikut pulang bersamanya.

Dan disinilah Hamid dan Lila kini berada, didalam taksi yang sedang melaju sedang ditengah jalanan kota.

"Bapak sangat kecewa padamu Lila." Lirih Hamid.

Lila masih setia untuk berdiam diri, air matanya mengalir tanpa permisi.

"Dalam hidup kita tidak bisa mendapatkan apapun yang kita mau. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang hadir ada yang ditinggalkan. Dimanapun posisi kita, jadilah yang mengambil hikmah, mengingat manfaat, dan ikhlas." Hamid pun menghapus air matanya sendiri yang entah sejak kapan mulai mengalir, ia benar-benar merasa telah gagal menjadi orang tua, ia telah gagal mendidik Lila.

Lila menggigit bibir bawahnya kuat, tangannya terkepal menahan tangis. Perasaan bersalah mulai menyelimuti hatinya. Terlebih ketika mendengar keputusasaan sang ayah itu.

"Maafkan Lila Pak." Lila berucap pelan, wajahnya masih tertunduk dengan air mata yang terus mengalir hingga jatuh kepangkuannya sendiri.

Hamid langsung membawa Lila masuk ke dalam dekapannya, bagaimanapun Lila tetaplah anak yang sangat ia sayangi.

"Baiklah, Bapak akan memaafkan mu, suatu saat nanti kamu juga harus meminta maaf kepada keluarga pak Arend."

Ayah dan anak itu terus berpelukan saling memberi kekuatan.

1
Hana
sudah kuduga arick memang sudah suka sama jihan sejak lama
Dysha♡💕
kayaknya ared selingkuh sama lila
Sutrisno Sutrisno
Luar biasa
Sri Widjiastuti
duh payahhh
Merry Bangun
Luar biasa
ayu cantik
suka
Bela Viona
arick goblok...main ambil keputusan sndri.
quile
aku malah Nethink Yakk... Arend selingkuh sm sekretarisnya..mungkinn terjadi apa lah gituu kaliii
🏡⃟ªʸ༺⬙⃟⛅ᴶᵉᵐⁱᵐᵃѕ⍣⃝✰zc❖☠️⃝: ‎Halo sahabat pembaca ✨
‎Aku baru merilis cerita terbaru berjudul BUKAN BERONDONG BIASA
‎Semua ini tentang Lucyana yang pernah disakiti, dihancurkan, dan ditinggalkan.
‎Tapi muncul seseorang dengan segala spontanitas dan ketulusannya.
‎Apakah Lucy berani jatuh cinta lagi? Kali ini pada seorang Sadewa yang jauh lebih muda darinya.
‎Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
‎Dukung dengan like ❤️ & komentar 🤗, karena setiap dukunganmu berarti sekali buatku. Terimakasih💕
total 1 replies
🌟 Dauzz🇲🇨
duh bodoh
🌟 Dauzz🇲🇨
paling jebakan lila
🌟 Dauzz🇲🇨
sudah ku duga
Ucillll
Bagus banget ceritanya ka
ayu cantik
suka
Siti Rahayu
menurut ku karakter arick terlalu egois ..suka ngambekan jadi kasian Jihan selalu meminta maaf
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
bikin greget aja,mana bisa jihan langsung melupakan suaminya,kamu egois rik.
sagitarius Girl
lah lah otor engga asik trus huda dimas asih ilham sm melisa gmn dah thor😞😞😞
Umahnendy Alisia
/Joyful//Joyful/ada ada asih
Woro Wardani
Luar biasa
Farrel Pratama
heleehhhh,,, reseekkk
Nurrosi Qolby
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!