NovelToon NovelToon
MENANTI MENTARI

MENANTI MENTARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:87.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahyanti

Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Traktiran Yoga

Meli berjalan santai bersama Ika dan Umi keluar dari kompleks masjid kampus. Mereka menuju ke kompleks Fakultas Ekonomi yang jaraknya kurang lebih 500 meter.

Ketiganya baru saja selesai membahas rencana kegiatan kajian akbar.  Meski masih baru, Meli sudah dipercaya ikut dalam kepanitiaan. Apalagi nama Meli sering dibicarakan pasca kegiatan bakti sosial.

“Bu centil sudah sembuh belum, ya? Aku kok males banget kuliah hari ini,” gumam Ika yang masih terdengar jelas di telinga Meli.

“Bu centil? Maksud kamu Bu Atika?” tebak Meli.

“Hehe…iya, Bu Atika. Dia kan centil banget. Usia sudah kepala 4, gayanya masih kayak ABG.”

Meli menoleh ke Ika. Ia menggelengkan kepala, heran dengan kebiasaan Ika.

“Nggak bolah kasih julukan yang nggak baik, Ika. Kamu kan juga nggak suka kalau dikasih julukan yang nggak kamu suka,” tegur Meli.

“Eh, iya. Aku khilaf. Habisnya sebel lihat penampilan Bu cen…eh Bu Atika,” ujar Ika.

Umi menyikut lengan Ika.

“Kalau sadar, ya sudah nggak usah pakai nambahin sebellah, inilah, itulah. Lagian kamu itu, ya, masa khilaf kok berulang-ulang,” sergah Umi.

Ika hanya nyengir mendengar kalimat Umi. Ia tidak protes karena ucapan Umi benar adanya.

Baru saja mereka menjejakkan kaki beberapa langkah di teras gedung, seseorang memanggil Meli dengan suara keras.

“Mel, tunggu!”

Mereka bertiga menghentikan langkah. Secara otomatis mereka menoleh ke sumber suara.

Dari tangga paling kiri gedung, sesosok pria berjalan cepat mendekat. Meli dan kedua temannya menunggu.

“Kalian dari mana? Kamu lupa, Mel, aku hari ini sidang?”

“Kami dari masjid,” jawab Ika.

“Si—sidang? Masya Allah, maafkan Meli, Kak Yoga. Meli benar-benar lupa. Sekarang sudah selesai?” ucap Meli dengan raut muka bersalah.

“Tentu saja sudah. Sekitar lima belas menit yang lalu,” jawab Yoga.

“Selamat, Kak!” ucap tiga mahasiswi semester 6 itu kompak.

Ika mengulurkan tangan. Yoga pun bersiap menerima uluran tangan dari Meli. Namun, keduanya segera menarik tangan mereka masing-masing begitu melihat Meli dan Umi menangkupkan tangan di depan dada. Yoga dan Ika sama-sama menjadi canggung.

“Emm, bagaimana kalau kalian aku traktir untuk merayakan momen ini?” Yoga mencoba menghilangkan kecanggungannya.

“Maaf, Kak, kami ada kelas sebentar lagi. Kami tidak mau terlambat apa lagi bolos mata kuliah Bu Atika,” tolak Meli halus.

“Oh, jamnya Bu Atika.  Kosong, kok. Bu Atikanya tadi izin ke rumah sakit begitu sidang selesai. Ayahnya tadi pagi masuk rumah sakit. Karena memegang profesionalisme, tidak mau membatalkan sidangku, beliau tetap berangkat.”

“Oh, begitu. Alhamdulillah, doaku terkabul,” ucap Ika dengan mata berbinar.

Umi melotot ke arah Ika. Ia begitu gemas akan kelakuan sahabatnya.

“Kamu tuh, Bu Atika sedang dapat musibah kok malah bersyukur.”

“Lho, aku bersyukur bukan karena Bu Atika dapat musibah, tapi karena kuliah kosong.” Ika membela diri.

“Sudah, tidak usah ribut!  Ayolah, ikut ke kafe! Aldo, Dewa, dan Anin juga ikut. Entah siapa lagi yang Aldo ajak.” Yoga menatap Meli penuh harap.

Meli menoleh ke Ika dan Umi meminta persetujuan, Keduanya mengangguk.

“Tapi, aku nggak bawa motor,” ucap Ika.

“Aku juga,” sahut Umi.

“Kalian bertiga ikut aku saja.” Yoga memutuskan.

“Kak Yoga bawa mobil?” tanya Umi.

Yoga mengangguk dan memberi isyarat agar ketiga gadis itu mengikutinya.

“Lama amat, Bos? Aku udah karatan nih nungguin di sini,” ucap pria yang berdiri bersandar pada minibus hitam metalik.

“Siapa suruh nunggu? Aku kira kamu sudah bareng yang lain,” sahut Yoga ketus.

Yoga membuka pintu kanan depan lalu duduk di belakang kemudi. Meli dan yang lainnya menyusul masuk di belakang. Dewa duduk di samping Yoga yang terlihat kesal.

“Gak usah manyun gitu, Bos! Besok aku bantu revisi deh!” rayu Dewa.

“Halah, kamu juga belum nyusun skripsi, pakai sok-sokan bantu aku,” cibir Yoga sembari menginjak pedal gas.

Sesampai di kafe, ternyata sudah banyak anak ekonomi yang duduk di sana. Yoga mengajak duduk di meja yang masih kosong.

Kedatangan Yoga bersama Meli dan lainnya mengundang perhatian anak-anak yang tengah menunggu pesanan mereka datang sembari mengobrol. Tatapan tajam gadis bermata sipit langsung diarahkan ke Meli yang duduk semeja dengan Yoga.

“Dasar cewek ganjen. Berani-beraninya dia duduk dekat Kak Yoga. Awas saja kalau kamu berani melangkah lebih jauh.”

Tak lama setelah Yoga datang, pelayan mengantarkan menu yang mereka pesan. Rupanya, Yoga sudah memesan menu untuk dirinya juga keempat orang yang ia ajak. Mereka pun tak perlu menunggu makanan terlalu lama.

“Kak Yoga, selamat, ya. Sebentar lagi Kak Yoga wisuda. Habis wisuda Kak Yoga mau pulkam?” tanya Fani sambil menatap Yoga.

“Makasih. Mungkin aku mau cari kerja di sini,” jawab Yoga.

“Bukannya papamu punya bisnis, Bos? Sebagai anak sulung, pasti Bos yang ditunjuk menggantikan. Apalagi adik Bos kan cewek,” ucap Dewa yang sepertinya tahu banyak tentang keluarga Yoga.

Yoga tidak langsung menjawab. Ia melirik Meli yang tengah memotong daging.

“Aku ingin cari pengalaman dari bawah. Paling tidak dua tahun aku kerja dari nol. Itu bisa jadi bekal buatku saat menggantikan posisi papa. Lagian papaku masih muda, masih kuat kerja,” jawab Yoga sambil terkekeh.

Fani memuji pemikiran Yoga. Ia membawa minumannya ke dekat Yoga. Tanpa sungkan, ia menepuk bahu Meli, menyuruhnya pindah tempat duduk. Fani pun duduk di kursi yang tadinya Meli tempati.

“Kak Yoga benar-benar luar biasa. Aku salut sama Kak Yoga yang tidak manja, ingin belajar mandiri.” Fani menatap Yoga penuh kekaguman.

Yoga terkejut saat menyadari Fani berada di dekatnya. Ia celingukan mencari Meli yang ternyata sudah berpindah, duduk di meja lain.

Yoga hanya tersenyum tipis. Ia tak lagi menanggapi omongan Fani. Dibiarkannya gadis itu nyerocos bak penjual jamu.

Setelah menghabiskan makanannya, Yoga bangkit. Ia mendekati Aldo.

“Itu si sipit kenapa diajak? Bikin bad mood, tahu?” bisik Yoga.

“Maaf, Kak. Aku nggak ngajak. Dia tahu-tahu ngikut gitu aja. Nggak enak mau ngusir,” jawab Aldo juga dengan suara berbisik.

Yoga mendengus kesal. Angan-angannya buyar gara-gara sosok Fani.

*

Meli dan Salsa sampai ruko hampir bersamaan waktunya. Mereka masuk ruko yang sedang ramai pengunjung.

“Mbak Mira baik-baik saja?” tanya Meli kepada wanita yang tengah hamil muda.

“Aku baik, kok. Mualnya sudah berkurang. Cuma nafsu makan yang belum pulih,” jawab Mira sambil memasukkan mukena ke dalam papper bag lalu menyerahkan kepada pembeli.

Sepuluh menit berselang, ruko sedikit lengang. Mira memilih ke lantai 2 untuk beristirahat.

“Kalau besok ruko sebelah sudah bisa ditempati, Mbak Mira nggak perlu naik turun tangga,” gumam Meli.

Ratna tersenyum mendengar ucapan Meli. Ia pun membayangkan lebih mudah jika ada tempat beristirahat yang tidak usah menapaki tangga. Apalagi kelak jika mertuanya tinggal di ruko. Tentu lebih mudah di lantai 1.

“Kau sependapat, kan Rat? Apalagi kalau Om Danu sudah tinggal di sini. Betapa repotnya kalau beliau ada di lantai 2 terus mau keluar ruko. Apalagi orang stroke cenderung perasaannya sensi kayak cewek PMS,” ucap Meli.

“Hush, kamu ini ada-ada saja. Masak iya seperti itu?” Ratna tertawa lirih.

“Eyang Probo contohnya. Setelah stroke kan jadi kayak anak kecil, nggak sabaran. Itu kata Mas Azka.”

Ratna terdiam. Ia teringat kembali sikap calon mertuanya saat ia mengunjunginya di panti. Tanpa sadar, Ratna menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.

Getar gawai di depan Ratna membuat gadis itu menghentikan tarian jemarinya di keyboard laptop. Ia menggeser ikon hijau di layar.

“Assalamualaikum.”

….

“Apa? Ini nggak sedang bercanda, kan?”

….

“La—lalu?”

…..

Ratna terlihat lemas. Gawai di tangannya terjatuh ke meja. Wajahnya begitu pucat.

“Ratna, kamu kenapa? Apa yang terjadi?” Meli panik melihat sahabatnya seperti itu.

***

Bersambung

Apa yang terjadi, ya? Siapa yang menelepon Ratna?

Ikuti episode berikutnya untuk tahu jawabannya! Jangan lupa mampir ke Ikatan Cinta Alenna dan Takdirku Bersamamu karya author kece Kak Indri Hapsari untuk tahu cerita sahabat Meli.

1
Firda Sari
kapan di lanjut kak?
zee zhia
kapan lanjutanx ini thorr
피롷
kpn lanjutnya
피롷
ini kpn lanjut lg
Dhina ♑
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Heni Rani
udh lama gak up
Sabila Nurul Ma'rifah
kapan up autor aku kangen meli sama azka
Heni Rani
mba uthor nya lg traveling ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
ok thor , jgn lama lama ya
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
yahhhhh😂
Ananda Andin Angraini
D tunggu Kakak... tetap semangat.... semangat .... semangat.... jaga kesehatan ya.. 😘
Heni Rani
ini udh lama gak update lg kemana kah
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
wah keren azka dan farhan
Dessy Sugiarti
ditunggu kak kelanjutannya...
semoga bs SEGERA UP nya....
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
klo jadi meli gue jg cemburu tingkat balapan😄🤣
Indri Hapsari
salam luv buat Meli-Azka 💙 dan salam semangat untuk akak besan di sana 😊
Aerik_chan
Kusetia untuk menunggu
Asyilah
di nantikan selalu kak
HeniNurr (IG_heninurr88)
Setia menunggu pastinya😍😍
Vie
lanjut torrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!