"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jems.
EMBUN PAGI.
Kakek Ares dan nenek Ayu sedang duduk di lantai dua sambil menghadap laptop masing-masing karena ada kerjaan yang harus mereka tangani sendiri sampai mereka harus meninggalkan Black di rumah sakit bersama dua penjaganya.
“Nek, dapat emailnya dari TERA CORP gak?”
“Iya, kenapa mereka seberani ini mengajukan kerja sama ke kita, padahal mereka tahu kita siapa ‘kan?” Nenek Ayu tampak bingung dengan email yang sudah dia baca dua kali karena nenek Ayu kira kalau dia salah baca sebelum mendapat pertanyaan dari Kakek Ares.
“Apa kabar tentang kantor mereka yang diambang kebangkrutan karena penipuan yang client mereka lakukan itu benar?” Tanya Kakek Ares sambil menelusuri lebih dalam tentang TERA.
“Masuk akal sih, kek. Sebentar kek, ini nenek gak salah baca? Coba kakek lihat siapa nama pemilik TERA!”
“Ini Kevin yang dulu pernah Black tolong?”
“Kalau dari foto yang nenek dapatkan sih iya, kek.” Nenek Ayu memang sudah melacak seluk beluk TERA juga sama seperti kakek Ares.
“Bukannya kata Black dia lagi diluar negri ngurus perusahaannya?”
“Ah, masuk akal kek, dia awalnya memang ke luar negri buat ngurus perusahaannya yang ternyata perusahaannya kena tipu client yang membuat dia mengalami kerugian yang cukup besar sampai mereka terancam bangkrut dan sekarang dia mengajukan kerjasama ke kita karena dia sudah tidak punya pilihan lain.”
“Kayaknya benar dugaan nenek, lalu kita bantu gak?”
“Melihat dari riwayat hidup dia dulu dan sekarang rasanya gak ada masalah sama Black, dia juga orang yang dulu sering membantu Black meskipun sifat dia plenger tapi dia cukup baik sama Black, setelah ketemu Black juga dia gak ada bikin masalah, jadi untuk yang berhubungan sama Black aman.”
“Untuk riwayat perusahaannya juga gak ada masalah, semua aman, tak ada kerugian yang dia buat untuk kliennya malah dia yang dibuat rugi sangat besar. Gak ada salahnya kalau kita mau bantu, tapi kakek punya syarat, kalau dia bisa memenuhi syarat itu maka kita akan bantu dia.”
“Ok boleh, syarat apa?” kakek Ares membisikkan sesuatu ke kuping nenek dan itu membuat nenek Ayu melotot.”
“Kakek yakin? Dia akan mau dengan syarat kakek itu?”
“Mau gak mau harus mau, kalau dia memang berniat mau kerja sama.”
Meski sedikit ragu, nenek Ayu mengangguk dan mengikuti rencana yang sudah kakek buat.
“Marsya jadi ke rumah sakit, nek?”
“Jadi,tadi dia bilang sudah sampai, dia juga membawakan makanan kesukaan Black, semoga kehadiran Marsya bisa membuat Black sedikit lupa dengan dendamnya pada Bintang, bukannya nenek gak menginginkan dia membalaskan dendamnya tapi nenek tidak ingin jika Black hanya berfokus pada pembalasan dendamnya,”
“Iya nenek benar, anaknya juga butuh fokusnya Black, bukan hanya fokus pada ayah mereka saja.”
“Kakek akan mengijinkan Bintang bertemu anaknya tidak saat mereka sudah lahir?”
“Itu semua tergantung Black, jika Black mengijinkan maka kakek juga akan mengijinkan tapi jika Black tidak mengijinkan kakek juga gak akan mengijinkan.”
“Iya kakek benar.”
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan mereka termasuk menyelesaikan masalah Kevin.
Hari ini Black sudah bisa keluar dari rumah sakit, tapi setelah tangisnya kemarin sekarang dia seakan tak mengingat Bintang yang sudah menolongnya, bahkan sekedar menjenguk Bintang kembali juga rasanya Black sudah tak sudi.
Black sekarang duduk di kursi roda dengan Marsya yang mendorongnya sementara dua bujang mengikuti mereka dari belakang.
Black tampak sangat bahagia bercanda dengan Marsya meski mereka baru ketemu tadi pagi, setidaknya kedatangan Marsya bisa membuat Black melupakan amarahnya pada Rio.
“Pin, Black sudah kembali menjadi dia yang dulu, dia yang selalu menjadi kesayangan tante Marsya, dia yang akan merebut semua kasih sayang tante Marsya dari lo, anak kandungnya sendiri.”
“Asal semua ini bisa membuat Black bahagia maka biarkan gue menjadi anak tiri di tengah mereka berdua, gue juga gak tahu nanti apa yang akan terjadi sama gue saat Alis sampai, bisa habis sudah isi dompet gue.”.
“Alis? Alicia?”
“Iya, siapa lagi cewek yang Black panggil Alis selain Alicia?”
“Combo maut, siapin uang tunai yang banyak saja biar mereka puas dan badan kita gak sakit semua.”
“Gue harap Black juga bisa menerima Alis secepat dia menerima Bunda.”
“Gue yakin bisa, kedekatan mereka memang sudah lepas selama sepuluh tahun tapi itu tak membuat mereka saling melupakan, mereka hanya tidak bertemu, tapi mereka masih sahabat yang sangat dekat.” Pin mengangguk dan lanjut mengikuti dua perempuan yang sibuk bercanda di depan mereka.
“Tang, lo lihatin apa sih dari tadi kok hanya menatap pintu? Bahkan pintu itu gak boleh ditutup,” Tanya Jems yang menyadari jika tatapan Bintang bukan pada mereka tapi pada pintu yang bahkan tak ada siapapun disana.
“Lo lagi nunggu seseorang?” tanya Andra.
“Oh iya, Black gak jenguk lo, bukannya dia penyebab lo sampai dirawat?” Tanya Resta.
“Dia sudah menjenguk gue kemarin, dia sekarang juga sudah pulang, tapi kalian jangan menyalahkan Black, ini semua salah gue, gue yang sudah menantang Luna yang gue kira gak akan pernah dia lakukan, tapi nyatanya Luna benar-benar melakukan tantangan gue.”
“Gimana maksud lo, Tang?” Tanya Jems.
Bintang menceritakan semuanya dari pertengkarannya dengan Luna sampai tantangan yang sudah dia berikan sampai kejadian yang mengakibatkan dia sekarang terbaring di rumah sakit.
“Gila lo, pantes kalau Black sekarang gak jenguk lo lagi, ini semua karena lo.”
“Iya gue tahu ini salah gue, gue juga pantas mendapatkan ini, tapi bisa gak kalian bantu gue, gue hanya punya waktu tiga bulan setengah lagi sebelum anak gue lahir, gue tau gue salah, gue juga tahu kalau kesalahan gue dulu sangat besar, tapi gue mohon kali ini saja tolong gue.”
“Gue punya ide tapi gue gak tahu ini akan berhasil gak? Gue juga gak tahu apa penjaga Black akan mengijinkan ide gue ini,” Ucap Jems dengan muka serius.
“Jems, ide lo itu dari dulu jarang ada yang bener, untuk kali ini gue bisa menganggapnya serius atau tidak?” Tanya Andra dengan tatapan tak kalah serius.
“Jems, kalau ide lo ngaco lagi mending jangan lo katakan, tutup mulut lo.”
“Kali ini gue serius, tapi gue gak tahu apa kalian akan menganggap ide gue ini serius atau tidak.”
“Coba lo katakan apa ide lo, apa ide itu bisa gue pertimbangkan atau tidak?” Tanya Bintang.
“Lo minta tolong mama lo buat membujuk Black untuk seharian full sama mama lo dengan alasan apapun itu yang penting Black seharian sama mama lo.”
“Sebentar, apa hubungannya sama mama, yang mau berjuang itu gue?”
“Sabar, gini dengerin gue dulu. Tadi pas gue lewat depan kamar Black gue lihat dia sangat dekat dengan perempuan yang kayaknya seumuran sama tante Melisa, nah siapa tahu Black memang merindukan sosok ibu dan dulu selama kalian menikah gak ada kedekatan apapun sama tante Melisa, ini waktunya kalian menciptakan kedekatan, nanti pas tante Melisa lagi jalan sama Black, lo ikutin.”
“Tumben lo pinter, tapi pertanyaannya kapan gue sembuh, kalau gue belum sembuh gimana gue mau ngikutin mama sama Black?”
“Berawal dari lo yang belum sembuh, biarkan mama lo buat membujuk Black dulu karena gue yakin membujuk Black dan penjaganya jauh lebih sulit daripada menuruti permintaan Black saat kalian jalan.”
“Permintaan?”
“Gini loh Tang, Black itu pasti ada niatan buat balas dendam jadi dia pasti akan meminta sesuatu yang bahkan menurut lo itu gak masuk akal hanya untuk membuat lo menyerah.”
“Jems, lo lagi kesambet setan mana biar gue suruh tu setan nangkring di badan lo aja?” Tanya Resta sambil memutar badan Jems.
“Setan apa sih, gue gak ketempelan setan, gue waras, sehat dan masih normal, gimana ide gue?”
“Tang, lo bisa bikin tante Melisa mau untuk membujuk Black gak?”
“Mama akan melakukan apapun yang penting Black kembali sama gue, ini juga bentuk dari rasa penyesalan mama dan rasa tanggung jawabnya karena sikapnya dulu sudah keterlaluan sama Black.”
“Eh, Hexa kenapa diem aja, dari tadi kita sudah sangat heboh kenapa dia tetap diam?” Tanya Resta sambil melirik Hexa yang sibuk dengan laptopnya.
“Sudah biarkan, ada kasus penting katanya.”
BERSAMBUNG.