NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk ke sumur

"Pelan-pelan!" teriak Bejo dari dalam sumur.

"Iya!" sahut Santa dari atas.

Tali yang melilit pinggang Bejo kembali diturunkan sedikit demi sedikit. Santa dan Kimin bekerja sama mengendurkan tali dengan hati-hati agar tubuh Bejo tidak membentur dinding sumur yang licin.

Sumur tua itu sangat dalam. Dindingnya terbuat dari susunan batu yang sudah ditumbuhi lumut hijau. Air merembes dari sela-sela batu dan membuat permukaannya licin seperti minyak.

Semakin turun ke bawah, udara di dalam sumur terasa semakin dingin.

Namun yang paling mengganggu adalah baunya.

Bau busuk yang sejak tadi tercium dari dalam sumur kini semakin pekat.

Baunya begitu menyengat hingga membuat Bejo beberapa kali mual, dia bahkan sampai harus menahan napas.

"Astagfirullah..." gumamnya pelan.

Bau itu bukan seperti bangkai ayam atau kambing yang pernah dia cium sebelumnya.

Bau ini jauh lebih berat dan lebih menusuk.

Seolah sesuatu yang sudah lama membusuk terendam di dalam air.

Bejo berusaha mengabaikannya, fokusnya hanya satu.

Mencari tahu apa yang sebenarnya berada di dasar sumur itu.

Tak lama kemudian kedua kakinya menyentuh permukaan air.

Cipratan kecil muncul saat ujung kakinya masuk ke dalam air yang keruh.

Namun tali masih terus diturunkan.

Air naik hingga ke lututnya.

Lalu ke pinggang, ke dada. Dan, akhirnya sampai ke leher.

Air sumur itu terasa sangat dingin dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Sudah!" teriak Bejo.

"Berhenti!"

Tali segera dihentikan.

Kini tubuh Bejo mengapung di dalam sumur sambil berpegangan erat pada tali yang melilit pinggangnya.

Dia memandang ke bawah.

Air sumur tampak hitam kehijauan dan keruh.

Tidak ada apa pun yang terlihat dari permukaannya.

Bahkan cahaya matahari yang masuk dari atas hanya mampu menembus beberapa jengkal saja.

"Ada apa di bawah?" Teriak Santa.

"Nda kelihatan apa-apa!" Bejo menggeleng.

"Lha terus sapinya di mana?" teriak Kimin.

"Mungkin di dasar!"

Pak Darmin yang berdiri di bibir sumur langsung berseru,

"Coba lihat, Jo!"

Bejo menelan ludah.

Jujur saja, dia mulai merasa tidak nyaman.

Ada sesuatu tentang sumur itu yang membuatnya gelisah.

Entah karena baunya. Entah karena suasananya. Atau mungkin karena keheningan aneh yang menyelimuti tempat itu.

Meski begitu, dia sudah terlanjur turun, tidak mungkin kembali naik tanpa memastikan apa yang ada di bawah.

Dia menarik napas panjang. Kemudian mengisi paru-parunya sebanyak mungkin.

Lalu perlahan membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam air. Dunia seketika berubah menjadi sunyi, suara orang-orang di atas menghilang.

Yang tersisa hanya suara gelembung udara dan detak jantungnya sendiri.

Semakin dalam dia menyelam, semakin gelap keadaan di sekelilingnya.

Air keruh membuat pandangannya sangat terbatas.

Dia hanya bisa melihat beberapa jengkal di depan wajahnya.

Tangannya bergerak perlahan meraba-raba air.

Matanya menyapu dasar sumur yang mulai terlihat samar.

Lalu dia melihat sesuatu, sebuah bayangan besar. Terbaring diam di dasar sumur.

Jantung Bejo langsung berdegup lebih cepat.

"Itu pasti sapi." Pikirnya.

Bukankah sejak awal Pak Darmin menduga sapinya jatuh ke dalam sumur?

Bayangan itu memang cukup besar.

Ukurannya mirip tubuh seekor sapi dewasa.

Bejo mencoba mendekat.

Namun semakin dekat, perasaannya justru semakin tidak enak.

Bentuk bayangan itu tampak aneh. Tidak seperti bangkai sapi yang pernah dia lihat.

Tidak ada tanduk, tidak ada bentuk tubuh seekor sapi yang dia kenali.

Bayangan itu justru terlihat terlalu ramping.

Terlalu lurus.

Bulu kuduk Bejo mulai berdiri, dia ingin berbalik. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk terus maju.

Sedikit lagi.

Sedikit lagi.

Matanya berusaha menembus kekeruhan air.

Kemudian perlahan sosok itu mulai terlihat lebih jelas.

Kakinya.

Tangannya.

Tubuhnya.

Dan saat itulah mata Bejo membelalak lebar.

Tubuhnya langsung membeku.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Itu bukan sapi.

Bukan kambing.

Bukan pulah kerbau.

Bukan binatang apa pun.

Tubuhnya mengambang miring di antara lumpur dan air keruh.

Kulitnya tampak pucat.

Wajahnya menghadap ke samping.

Namun cukup jelas bagi Bejo untuk mengetahui bahwa itu bukan binatang.

Sesaat Bejo tidak mampu bergerak.

Pikirannya kosong.

Ketakutan menyambar dirinya seperti petir.

Lalu tiba-tiba dia merasa sosok itu sedang menatapnya.

Padahal mungkin tidak. Namun rasa takut membuat pikirannya kacau.

Bejo langsung berbalik.

Dia mengayunkan tangan dan kaki sekuat tenaga menuju permukaan.

Paru-parunya mulai terasa panas.

Dadanya sesak, napasnya hampir habis.

Dia terus berenang ke atas tanpa berani menoleh lagi.

Sesaat kemudian kepalanya muncul ke permukaan.

"HAAAH!"

Dia menarik napas panjang.

Udara terasa begitu berharga.

Tubuhnya gemetar.

Wajahnya pucat pasi.

Matanya membelalak penuh ketakutan.

"Tarik aku!" teriaknya.

"Tarik aku sekarang!"

Suara Bejo menggema di dalam sumur.

Santa dan Kimin saling berpandangan.

Mereka belum pernah melihat Bejo setakut itu.

"Ada apa, Jo?" Teriak Santa.

"Tarik aku!"

"Sudah ketemu sapinya?" tanya Kimin.

"Tarik aku dulu!"

Suara Bejo terdengar pecah.

Bahkan nyaris seperti orang yang hendak menangis.

Kimin langsung berjongkok di bibir sumur.

"Jo, kau lihat apa?"

"Tarik aku!"

Bejo kembali berteriak.

Kali ini lebih keras.

"Tarik aku sekarang juga!"

Pak Darmin ikut maju.

"Itu sapiku bukan?"

Namun Bejo tidak menjawab.

Dia hanya terus menatap permukaan air di belakangnya.

Seolah takut sesuatu akan muncul dari dasar sumur.

"Jo!" teriak Santa.

"Itu sapi atau bukan?"

"Tarik aku dulu!" bentak Bejo.

"Tarik aku! Cepat!"

Nada suaranya membuat keempat orang yang berada di atas langsung sadar.

Ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Tanpa bertanya lagi, Santa dan Kimin segera menarik tali sekuat tenaga.

Bejo ikut membantu memanjat tali.

Tangannya gemetar.

Kakinya beberapa kali terpeleset saat menendang dinding sumur.

Namun dia terus naik, secepat mungkin. Dia bahkan beberapa kali menoleh ke bawah dengan wajah pucat.

Seolah takut sesuatu mengejarnya dari kedalaman sumur.

Akhirnya tubuh Bejo berhasil ditarik keluar. Begitu sampai di atas, ia langsung jatuh terduduk di tanah.

Tubuhnya masih gemetar hebat.

"Jo!"

Santa berjongkok di hadapannya.

"Ada apa?"

Bejo tidak menjawab.

Tatapannya kosong.

Pikirannya masih berada di dasar sumur.

Masih terbayang sosok yang baru saja dilihatnya.

"Jo!"

Santa menggoyangkan bahunya.

"Sadar!"

Bejo berkedip beberapa kali. Perlahan pandangannya kembali fokus.

Dia menatap Santa. Matanya membulat penuh ketakutan.

"Jo, ada apa?" Tanya Santa lagi.

Bejo menelan ludah.

"Bukan sapi." Ucapnya pelan.

Namun cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Bukan sapi?" Ulang Santa.

Pak Nanang dan Pak Darmin saling berpandangan.

"Kalau bukan sapi, terus apa?" Tanya Pak Nanang.

"Biawak?" tebak Kimin.

"Atau binatang lain?" sambung Santa.

Pak Darmin mendekat dengan wajah cemas.

"Jo..."

"Apa yang kau lihat di bawah?"

"Itu binatang apa?"

Bejo terdiam.

Napasnya masih belum teratur.

Dia menoleh ke arah sumur. Namun buru-buru mengalihkan pandangannya lagi, seolah tidak sanggup melihatnya.

"Jo..." kata Pak Darmin mendesak.

"Kalau bukan sapiku, lalu apa yang mati di dalam sumur itu?"

Bejo menatap satu per satu wajah mereka.

Santa.

Kimin.

Pak Nanang.

Pak Darmin.

Bibirnya bergetar, beberapa kali ia mencoba berbicara.

Namun kata-kata itu terasa berat keluar dari mulutnya.

"Ayo, Jo," kata Santa.

"Jangan bikin kami tambah penasaran."

Bejo menarik napas panjang.

Wajahnya semakin pucat.

Kemudian dengan suara gemetar dia berkata,

"Itu..."

Kalimatnya terputus.

Dia menelan ludah sekali lagi.

"Itu bukan binatang."

Keempat orang yang mendengarnya langsung terdiam..

Hanya suara angin yang berembus pelan melewati pepohonan.

"Bukan binatang?" Ulang Pak Nanang lirih.

Bejo menggeleng.

"Lalu apa?" tanya Pak Darmin.

Bejo menatap sumur itu sekali lagi.

Matanya dipenuhi ketakutan.

Kemudian dengan suara hampir berbisik, namun cukup jelas untuk membuat semua orang merinding, ia berkata,

"Itu manusia."

1
Yulia Lia
akhirnya Sekar di temukan ,tapi sudah menjadi mayat😭😭😭
Mega Arum
typo Thor... kalimat Nda...sebaiknya tidak, msl tdk mungkin...
Nurr Tika
itu arwah sekar
Mega Arum
menarik
Rini Yunita
q curiga kl wulan adalah pelakunya
Nurr Tika
sedihnya smpe sini
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!