Kemarahan lebih mudah ditanggung daripada rasa kehilangan."
Letnan Raditya tahu itu lebih baik dari siapapun. Sampai seorang dokter bernama Nayla datang ke Karang Wilis — dan tanpa sengaja, tanpa izin, mulai mengisi ruang yang sudah lama ia jaga tetap kosong.
Di antara luka yang belum sembuh, konflik yang belum selesai, dan waktu yang terus berkurang — keduanya belajar satu hal yang tidak ada dalam buku panduan militer manapun:
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan sendirian.
Di medan yang salah, pada waktu yang tidak tepat — tapi perasaan tidak pernah menunggu instruksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
observasi kecil
~{35}~
hari ini tidak ada briefing mendadak. Tidak ada insiden sperti di sungai. Hanya rutinitas sehari hari seperti biasa— yang justru membuat segalanya terasa lebih jelas, karena tidak ada yang bisa disalahkan selain pikiranku sendiri.
Nayla sedang berdiri di depan rak obat, menghitung stok antihipertensi yang angkanya sama tetapi ia tetap menghitung nya lagi dan lagi dua kali.
"Dok." suara Sari, ia muncul dari pintu tenda, di tangan nya membawa nampan kosong. "dokter suda menghitungnya tadi."
"iya," jawab Nayla, tetapi terlihat ia tidak berhenti.
Sari tidak berkomentar lebih jauh. Ia hanya meletakkan nampan, lalu duduk di kursi lipat, mengamati Nayla dengan cara yang sudah jadi kebiasaannya akhir-akhir ini — diam, tapi tidak benar-benar diam.
Di luar, suara mobil dinas terdengar memasuki pos. Nara kembali dari kunjungan pos tiga, ia pergi sejak subuh — evaluasi rutin yang sudah jadi bagian dari jadwalnya selama seminggu terakhir.
Nayla tidak menoleh .
Tapi ia berhenti menghitung lalu Nara masuk ke tenda sepuluh menit kemudian,dia membawa map kecil, ekspresi sama seperti biasanya — tenang, terkontrol, tidak pernah terburu-buru.
"Pagi," sapanya, lebih ke arah Sari daripada Nayla.
"Pagi, Letda," jawab Sari tersenyum.
Nara meletakkan mapnya di meja, lalu melirik ke arah Nayla yang masih berdiri di depan rak.
"apa Stok aman dokter?" ujar nara
"Aman," jawab Nayla singkat.
Nara mengangguk. Tidak bertanya lagi — itulah salah satu hal tentang Nara yang membuat Nayla sulit menemukan alasan untuk tidak menyukainya. Ia tidak pernah memaksa percakapan yang tidak perlu.
Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya berdiri di sana — ia terlihat seperti sedang memperhatikan sesuatu, bukan stok obat.
"Dok," ucap Nara tiban tiba, suaranya tenang.
"Boleh saya tanya sesuatu tetapi yang ini tidak ada hubungannya dengan laporan?"
Nayla menoleh. "Silakan dokter."
Nara menatapnya sebentar — seperti penilaian singkat, seperti membaca data sebelum menyimpulkan sesuatu.
" Sudah berapa lama Dokter bekerja dengannya?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi sesuatu di nadanya membuatnya terasa tidak sesederhana itu. Karena ia tahu yang di maksud Nara adalah Raditya.
"Sejak hari pertama saya datang ke Karang Wilis," jawab Nayla. "Kenapa?"
Nara tidak langsung menanggapi. Ia melirik sebentar ke arah pintu tenda — ke lapangan, ke arah pos komando yang tidak terlihat dari sini tapi seolah ia tahu persis di mana letaknya.
"Tidak apa-apa,Hanya observasi kecil dok." jawab Nara
Sari, yang duduk di sudut ruangan dengan clipboard di pangkuan, tidak bergerak . Tapi terlihat matanya bergerak cepat dari Nara ke Nayla, lalu kembali ke clipboardnya lagi
Siang menjelang evaluasi lapangan seperti biasa. Nara mencatat. Raditya menjawab. Nayla menambahkan poin medis ketika diperlukan. Rutinitas yang sudah terbentuk rapi dalam dua minggu terakhir.
Tapi di tengah briefing, ketika Raditya menjelaskan rute patroli malam, Nara berhenti mencatat Hanya sebentar.
Matanya berpindah dari peta ke Raditya, — singkat, hampir tidak terlihat — lalu ke arah Nayla yang berdiri di sisi lain meja.
Nayla tidak menyadarinya begitu pun Raditya. Ia sedang fokus pada titik di peta yang Raditya tunjuk.
Tapi Dimas, yang berdiri di sudut ruangan dengan kopi dingin di tangan nya, menyadari itu.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mengangkat alis sedikit, lalu kembali menyesap kopinya.
Sore hari, Nayla sedang merapikan catatan pasiennya ketika Sari masuk dengan langkah yang terlihat lebih cepat dari biasanya.
"Dok," ucapnya, agak terengah.
"Tadi aku ketemu Letda Nara di jalan ke sumur."
Nayla tidak mengangkat wajah dari catatannya.
"Terus?"
"Dia tanya sesuatu yang aneh."
Itu cukup untuk membuat Nayla berhenti menulis.
"Tanya apa?"
Sari duduk di kursi seberang, suaranya turun.
"Dia Nanya, apa Letnan Raditya orangnya selalu seprofesional itu, atau ada... pengecualian."
Nayla menatap Sari.
"Pengecualian?"
"ia. Aku juga bingung maksudnya apa." Sari mengangkat bahunya.
"Tapi cara dia nanya itu dok... kayak dia punya rencana sesuatu.Nayla tidak menjawab. Pulpennya berhenti bergerak di atas kertas,
"kamu jawab apa?" tanya Nayla akhirnya.
"Aku bilang, tidak ada satu pengecualian.
Nayla menghela napas, meletakkan pulpennya. Tangannya bergerak ke ujung kertas, merapikan sudut yang sebenarnya sudah rapi.
"Dia memperhatikannya," gumam Nayla, lebih ke dirinya sendiri.
"Memperhatikan apa, Dok?"
Nayla tidak menjawab langsung. Matanya menatap ke luar tenda, ke arah lapangan yang mulai diselimuti warna jingga sore.
"Bukan apa-apa," ucapnya akhirnya.
Sari tidak mengejar lebih jauh. Tapi ia juga tidak sepenuhnya percaya.
Malam itu, sebelum tidur, Nayla berbaring menatap langit-langit tenda yang sudah ia hafal setiap lipatannya. Sari sudah tidur di ranjang sebelah, napasnya teratur.
Pertanyaan Nara terus berputar di kepalanya. Sudah berapa lama Dokter bekerja dengannya.
Pertanyaan sederhana. Jawaban sederhana.
Tapi Nayla tahu — dengan cara yang tidak nyaman untuk diakui — bahwa Nara tidak benar-benar bertanya soal lamanya waktu.
Ia bertanya soal sesuatu yang lain.
Orang lain selalu lebih dulu melihat apa yang kita sembunyikan dari diri sendiri, pikirnya, sebelum akhirnya matanya menutup.
Di luar tenda, suara jangkrik mengisi malam Karang Wilis seperti biasa — tidak tahu, dan tidak peduli, bahwa sesuatu baru saja mulai bergeser.