Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rembulan di Atas Sumpah Darah
Hening kembali merayap, menjerat setiap napas yang berembus di dalam gazebo pualam tersebut. Tawaran dari Ratu Micky Yoochun bagaikan racun manis yang disuguhkan dalam cawan emas; menawarkan kekuasaan mutlak, namun dengan harga yang teramat mahal, sebuah kudeta berdarah di tanah kelahirannya sendiri.
Pangeran Ares mematung, sepasang mata peraknya menatap lurus ke arah cawan teh yang mulai mendingin. Di dalam benaknya, berkecamuk badai yang meruntuhkan segala prinsip ksatria yang selama ini ia agungkan di Sanjaya. Menghianati darah dagingnya sendiri, mengacungkan pedang ke arah Raja Sanjaya dan Ratu Ara, adalah dosa terbesar bagi seorang Putra Mahkota. Namun, ingatan akan tubuh kurus Martha yang menggigil dan tatapan putus asa Ingdrit di bawah tanah Warden membuat nuraninya berteriak bahwa keadilan di utara telah lama mati.
Naomi memandang saudaranya dengan dada yang sesak. Ia tahu beban berat yang kini menghimpit pundak Ares. "Ares..." bisik Naomi, suaranya nyaris tak terdengar, memecah keheningan di antara mereka. "Jangan lakukan ini jika itu menghancurkan jiwamu. Aku bisa mencari jalan lain bersama David."
Pangeran David yang sejak tadi menyimak, perlahan melangkah maju hingga berdiri sejajar dengan ibundanya. "Jalan lain tidak akan mengubah fakta bahwa Sanjaya sudah berada di ujung tanduk, Naomi. Jika Ares tidak mengambil takhta itu, Princess Ciara dan Warden yang akan menelannya dari dalam. Pernikahan kemarin adalah buktinya. Mereka hanya menunggu waktu untuk mengudeta ayahmu."
Ucapan David laksana palu yang menghantam keraguan terakhir di dalam hati Ares. Sang Pangeran Sanjaya itu menarik napas panjang, membiarkan hawa malam Selatan mengisi rongga dadanya, mengusir sisa-sisa keraguan yang tersisa.
Ares melangkah maju satu tindak, lalu perlahan menjatuhkan lututnya di atas lantai pualam. Namun, kali ini kepalanya tidak tertunduk karena takluk, melainkan terangkat dengan tatapan sekeras baja, menatap langsung ke sepasang mata tajam Ratu Micky.
"Hamba menerima barter Anda, Yang Mulia Ratu," ucap Ares, setiap patah katanya keluar dengan intonasi yang dingin dan mutlak. "Hamba akan kembali ke utara dan mengambil apa yang seharusnya menjadi hak hamba. Hamba akan membersihkan Sanjaya dari pengaruh busuk Warden."
Ratu Micky menyunggingkan senyum kemenangan yang teramat puas. Ia bangkit dari kursi cendananya, jubah merah darahnya berdesir megah di bawah temaram lampu gantung yang mulai dinyalakan oleh para pelayan di kejauhan.
"Pilihan yang sangat bijaksana, Pangeran Ares," ujar Ratu Micky, melangkah mendekati Ares dan meletakkan tangannya di atas bahu sang Pangeran. "Mulai malam ini, kau bukan lagi sekadar Putra Mahkota yang terikat oleh aturan kuno ayahmu. Kau adalah sekutu terdekat Baitang Sang. Siasatmu adalah siasatku, dan musuhmu adalah musuhku."
Sang Ratu kemudian menoleh ke arah komandan zirah hitam yang berjaga di luar pembatas taman. "Bawa pelayan Ingdrit ke paviliun dalam dengan pengawalan rahasia. Sediakan pakaian terbaik dan pastikan tabib tertinggi memberikan obat terbaik untuknya dan istrinya. Mulai hari ini, mereka adalah tamu kehormatan, bukan lagi tawanan."
Ingdrit yang mendengar keputusan itu meneteskan air mata kelegaan. Sebelum diseret menjauh dengan penuh hormat oleh para pengawal, ia sempat menatap Naomi dan mengangguk pelan, seolah menitipkan seluruh sisa hidupnya pada takdir baru yang tengah dirajut anak gadisnya.
Setelah para pengawal membawa Ingdrit pergi, menyisakan keheningan di antara ketiga anak muda tersebut dan sang Ratu, Ares bangkit berdiri. Ia menatap Naomi untuk terakhir kalinya sebelum ia harus kembali menyelinap melintasi perbatasan sebelum fajar menyingsing.
"Aku akan merindukanmu, Naomi... Putri Naonna," ucap Ares, seulas senyum tipis, senyuman tulus yang hanya ia miliki untuk adiknya...terukir di wajahnya yang letih.
Naomi mendekat, mendekap tubuh Ares erat-erat, menghirup aroma zirah kulit kusam yang mengingatkannya pada sisa-sisa kehangatan rumah mereka yang telah runtuh.
"Jaga dirimu, Kak. Jangan biarkan Ratu Ara mencurigaimu. Kita akan bertemu lagi saat panji-panji Selatan berkibar di depan gerbang Sanjaya."
Ares melepaskan pelukan itu, mengangguk tegas ke arah David, lalu menarik kembali tudung kain kusamnya. Dalam sekejap, sosok Putra Mahkota Sanjaya itu telah melesat, melebur bersama bayang-bayang pohon dedalu dan kegelapan malam Selatan, meninggalkan kolam pualam yang kini menyimpan rahasia tentang awal dari runtuhnya sebuah kekaisaran di utara.