🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29. Ranjang
"Teteh punya temen kerja waktu itu. Dia nikah sama pengusaha gitu. Dan ternyata selama pernikahan mereka itu...mereka gak pernah berhubungan badan seperti layaknya suami istri."
Sekar melirik Faiz yang masih anteng bersama anaknya teh Emi yang sedang memainkan batu.
"Pokoknya kasihan deh, selama delapan tahun pernikahan dia masih perawan. Dan kamu tahu penyebabnya neng?"
Sekar menoleh, cukup antusias mendengarkan. "Apa?"
"Diam-diam suaminya selingkuh. Pantesan jarang pulang, orang dia ena-ena sama cewek lain. Akhirnya temen teteh milih cerai." Cerita teh Emi.
Sekar nyengir kaku.
"Pokoknya nih neng, kita sebagai istri harus ikut andil menjaga keutuhan rumah tangga. Salah satunya ya itu, membuat nyaman suami kita, baik dari segi ranjang sama dapur. Kalau suami udah nyaman di ranjang, teteh jamin deh suami kita gak bakal jajan di luaran sana." Ucap Teh Emi.
Sekar tertegun sejenak. Selama ini ia mengakui, tidak pernah berniat menawarkan diri untuk melayani Galang di r'anjang. Namun, begitu mengingat kata ranjang ia malu sendiri.
🍁🍁🍁
Malam di rumah itu terasa jauh lebih sunyi sejak kembalinya Faiz tadi.
Jam dinding ruang tengah baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam ketika mobil Galang berhenti dihalaman rumah setelah mereka mengantar Faiz kembali ke rumah teh Mila. Udara Garut malam itu dingin, menyisakan embun tipis di kaca mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak banyak percakapan di antara mereka.
Sekar beberapa kali mencuri pandang ke arah Galang yang fokus menyetir dengan satu tangan. Wajah Galang tampak lelah selepas melakukan operasi berturut-turut sejak pagi, tetapi tetap tenang seperti biasa. Terlalu tentang sampai Sekar tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Begitu masuk rumah, Galang langsung melonggarkan jam tangannya lalu berjalan menuju kamar.
"Saya ke kamar duluan..." ucapnya pendek.
Sekar mengangguk kecil.
"Iya."
Pintu kamar tertutup perlahan. Sementara itu, Sekar masih berdiri beberapa detik di ruang tengah dengan jantung yang sejak tadi terasa tidak karuan.
Malam ini,
Ia terlihat menggigit bibir bawahnya gugup.
Pelan-pelan perempuan itu berjalan menuju bagian belakang rumah. Langkahnya melewati dapur yang lampunya masih menyala redup. Di balik sekat dinding area mesin cuci, terdapat kamar mandi rumah mereka yang sederhana namun bersih.
Begitu kamar mandi tertutup, Sekar langsung menyandarkan tubuh di balik pintu.
Napasnya panjang, terlihat tangannya gemetar kecil karena gugup. Di gantungan dekat cermin, piyama satin dusty pink yang sejak sore sudah ia siapkan diam-diam tergantung rapi.
Sekar menatap piyama itu lama, seolah tengah menimang-nimang pikirannya. Malam ini perasaannya benar-benar campur aduk antara malu, takut, gugup dan nekat.
Ia masih ingat jelas percakapan teh Emi tadi pagi saat mereka jalan-jalan di area rumah sambil menyuapi Faiz.
"Perempuan itu bukan cuma harus bisa ngurus rumah aja, Neng. Kadang suami juga pengen istrinya terlihat cantik buat dia."
Pagi tadi Sekar hanya bisa tertawa malu menanggapi omongan teh Emi. Namun teh Emi pagi tadi melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"Rumah tangga bisa langgeng kalau istri sama suami saling bikin nyaman. Di dapur iya, di kasur juga iya."
Kalimat itu terus terngiang sampai sekarang. Gadis itu menunduk pelan, dirinya sadar sejak menikah hubungannya dengan pria yang usianya sembilan lebih tua darinya terlalu datar. Bahkan untuk sampai ke ranjang pun mereka belum pernah melakukan apapun kecuali tidur di tempatnya masing-masing.
Di mata Sekar, Galang selalu sopan. Tidak pernah membentaknya, tidak pernah berlaku kasar. Tetapi lelaki itu juga seperti tengah membangun dinding tinggi yang tidak bisa disentuh oleh siapapun, termasuk dirinya sendiri sebagai istri.
Dan malam ini, Sekar ingin mencobanya. Walaupun sebenarnya ia cukup tidak yakin dengan keberaniannya saat ini.
Tangannya perlahan terulur dan mengambil piyama satin itu. Kainnya terasa lembut dan dingin di kulit.
Beberapa menit kemudian, Sekar berdiri di depan cermin kamar mandi dengan piyama satin yang melekat di tubuhnya.
Hening.
Saking heningnya, degup jantungnya terdengar terlalu keras.
Satin dusty pink itu jatuh lembut mengikuti tubuhnya yang indah. Inner dress pendek tanpa lengan membuat bahunya terlihat lebih terbuka dari biasanya, sementara robe tipis yang diikat pita kecil di pinggang justru membuatnya tampak lebih feminin.
Sekar langsung menarik robe itu rapat-rapat.
"Malu banget..." lirihnya pelan.
Wajahnya memerah saat melihat dirinya yang tidak pernah memakai pakaian lebih dewasa di cermin kamar mandi. Bahkan ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Biasanya ia hanya mengenakan kaos longgar atau daster katun sederhana. Di hidupnya, ia sama sekali tidak pernah memakai pakaian terbuka seperti yang ia pakai saat ini. Tidak pernah memakai pakaian yang terlihat dewasa seperti saat ini.
Jemarinya gemetar saat membuka jepitan rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
"Aduh..."
Sekar menutup wajahnya sebentar.
"Bagaimana kalau A Galang malah merasa aneh? Bagaimana kalau A Galang tidak suka? Atau lebih buruk lagi kalau A Galang tidak peduli sama sekali?"
Dada Sekar terasa penuh memikirkan kemungkinan terakhir gumamnya barusan.
Tok.
Tok.
Tok.
Sekar langsung tersentak kaget.
"Sekar?"
Suara Galang terdengar dari balik pintu mandi.
"Masih lama?" tanyanya.
Jantung Sekar hampir copot.
"I-iya bentar, A..."
Galang terdengar menghela napas dari luar kamar mandi.
"Saya mau ke kamar mandi."
Gadis itu terlihat panik sendiri di dalam kamar mandi. Matanya kembali menatap dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat, gugup dan takut.
Tetapi di tengah semua itu, ada harapan kecil yang diam-diam ingin ia pertahankan malam ini. Sekar menarik napas panjang lalu menatap dirinya sendiri di cermin.
Pelan-pelan ia berbisik lirih, nyaris seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Kamu cantik, Sekar...demi rumah tanggamu, kamu harus melakukan ini!"
Kalimat itu membuat matanya sedikit menghangat penuh percaya diri.
"Masih lama ya?" tanya Galang lagi.
Tangannya meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Dan tepat di depan sana, Galang berdiri dengan kaus hitam rumahan dan celana training gelap. Lelaki itu awalnya tampak biasa saja, sampai pada akhirnya matanya jatuh pada Sekar.
Detik itu juga Galang terdiam.
Tatapannya berhenti, sedangkan Sekar langsung menunduk malu. Untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun selain dengusan napas mereka sendiri.
Galang menelan ludah pelan.
Ia pria normal, dan sangat normal.
Dan malam ini, istrinya berdiri di depan matanya dengan pakaian satin lembut yang membuat Sekar terlihat begitu berbeda.
"Cantik." Gumamnya dalam hati.
Benar! Terlalu cantik malah.
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang, dadanya mulai panas secara tiba-tiba. Panas yang sangat ia mengerti sebagai pria normal. Bola matanya terkunci pada belahan yang sangat menggoda imannya.
Sedangkan Sekar sendiri langsung membenarkan kain robe tipis itu lalu memeras ujung robe kecilnya.
"Ehm..."
Galang berkedip pelan, seperti baru sadar dirinya terlalu lama menatapnya.
"Saya..." suaranya sedikit serak. "Saya mau ke kamar mandi."
Sekar cepat-cepat mengangguk.
"Iya..."
Perempuan itu buru-buru menepi memberi jalan. Begitu Sekar keluar, Galang langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu lebih cepat dari biasanya.
Klik.
Sekar mematung sebentar di depan pintu.
Malu setengah mati.
Bahkan jantungnya tidak berhenti berdebar.
Ia bahkan tidak berani mengingat bagaimana Galang tadi menatapnya beberapa detik tanpa bicara.
Sekar segera berjalan cepat menuju kamar mereka. Begitu masuk kamar, ia langsung duduk di tepi kasur sambil berkali-kali merapikan rambut panjangnya yang terurai.
Tangannya terasa sangat dingin, pikirannya kacau.
"Apa barusan A Galang suka? Atau justru terganggu?"
Sekar mengigit bibir bawahnya sembari meremas seprai.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka.
Galang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah kembali tenang seperti biasa. Namun saat melihat Sekar yang duduk di pinggir kasur dengan piyama satin itu, langkahnya kembali terhenti beberapa detik.
Tatapan mereka bertemu. Dan suasana menjadi canggung secara tiba-tiba, Galang akhirnya berjalan masuk.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya pelan.
Sekar mengangkat wajahnya dan menatap Galang yang berjalan ke arah ranjang.
"A-aku...nunggu A Galang..."
Hening.
Kalimat itu membuat suasana kamar terasa semakin aneh.
Galang memalingkan wajah sebentar sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya. Lalu kemudian ia memilih naik ke atas ranjang, merebahkan tubuh dan lalu memunggungi Sekar.
Sekar menunduk pelan.
Rasa kecewa kecil mulai muncul di dadanya. Sementara itu, Galang justru menatap kosong ke arah dinding depan.
Dan seperti sengaja datang di waktu yang salah, pikirannya kembali mengingat pesan teks dari Anya-- teman Sekar dari Bandung.
Tentang Arif.
Tentang bagaimana laki-laki itu masih mencari Sekar selama ini.
Tentang bagaimana mungkin...hati Sekar sebenarnya belum benar-benar ada di rumah ini.
Rahang Galang mengeras perlahan.
Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum akhirnya lelaki itu membuka suara.
Dingin.
Pelan.
Namun sangat menusuk.
"Lain kali..." katanya tanpa menoleh, "nggak usah pakai pakaian seperti itu di depan saya."
Sekar langsung membeku.
Deg!
Tangannya perlahan meremas pakaiannya di atas paha, Galang melanjutkan dengan nada datar.
"Nggak perlu melakukan hal yang bukan menjadi diri kamu sendiri hanya karena status pernikahan ini."
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di tengah dada Sekar.
Hening kembali memenuhi kamar.
Dan malam itu, di bawah lampu redup kamar mereka, Sekar hanya bisa tertunduk diam sambil menahan rasa malu yang perlahan berubah menjadi nyeri kecil dihatinya sendiri.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung....