NovelToon NovelToon
GADIS KECIL KESAYANGAN CEO

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Eka Sugairti

Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??

Benarkah itu??

Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??

Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.

Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??

Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.

Penasaran dengan perjuangannya??

Langsung baca aja yak...

Jangan lupa like, vote, rate ya...

Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35

Ardiaz terdiam sekian lama setelah mendengar jawaban dari Gaby. Ia menenggelamkan wajahnya dipundak Gaby, air mata Ardiaz berjatuhan hingga membasahi kedua pipinya. Tak hanya itu, pundak Gaby juga basah akibat air mata Ardiaz.

Merasakan hangatnya air mata Ardiaz membuat Gaby tersenyum kecil. Ia merasa lega setelah Ardiaz menangis dipundaknya. Walau tanpa suara sedikitpun ia tahu bahwa Ardiaz tengah terluka dan menangis.

"Maafkan saya, saya belum bisa menjawab lamaran tuan. Tapi, saya berjanji akan menjaga dan memberi kehangatan untuk tuan!" Batin Gaby berjanji kepada dirinya dan juga Ardiaz.

Hari berikutnya...

Semalam Ardiaz memeluk Gaby selama hampir 1 jam, namun Gaby merasa tak keberatan sama sekali. Bahkan ia sangat lega setelah Ardiaz dapat mengeluarkan segala rasa sakit dihatinya. Mereka pun lupa untuk menyantap makan malam mereka. Ardiaz dan Gaby memilih pulang setelah berpelukan yang cukup lama tersebut.

Gaby terbangun dari tidurnya, ia bergegas mandi dan pergi kelantai bawah untuk sarapan pagi. Ketika hendak berjalan menuju tangga, langkahnya terhenti disebuah kamar yang cukup luas. Kamar tersebut yang biasa digunakan Ardiaz ketika sedang menginap dirumah Gaby.

Gaby membuka pintu dengan perlahan, dan tampaklah Ardiaz tengah tertidur lelap.

"Bukankah tuan Ardiaz sudah pulang?" Batin Gaby yang mengingat semalam Ardiaz pamit pulang.

Ketika Ardiaz dan Gaby sampai dirumah dan Gaby telah masuk kedalam kamarnya, Ardiaz melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang tamu dan duduk disebuah sofa dengan tubuh yang terasa lelah. Anny menghampirinya dan memeriksa keadaan tubuh Ardiaz.

Gaby melangkah maju mendekat kearah ranjang Ardiaz. Ia menempelkan telapak tangannya kedahi Ardiaz.

"Ah! Panas sekali!" Ucap Gaby panik setelah ia meraba pelan dahi Ardiaz.

"Bibi, sekertaris Kang?" Panggil Gaby sambil keluar dari kamar Ardiaz.

"Ada apa nona?" Jawab keduanya dengan langkah yang terburu-buru menghampiri Gaby.

"Tuan Ardiaz demam. Kita harus menghubungi dokter," ucap Gaby dengan cemas.

"Baiklah, saya akan menghubugi dokter Roger!" Jawab Kangjian dengan mengambil ponselnya.

"Bukankah dia tak ada disini? Kita harus cepat memanggil dokter. Jika tuan Roger lambat saya khawatir tuan Ardiaz akan...," ucapan Gaby terpotong oleh Kangjian.

"Tidak apa-apa nona, tuan Roger adalah teman dekat tuan Ardiaz. Beliau akan segera sampai!" Sela Kangjian.

"Hmm... baiklah," ucap Gaby lega.

Tak lama setelahnya Roger datang dengan tergesa-gesa. Ia segera memeriksa kondisi Ardiaz yang demam tinggi.

"Bagaimana keadaannya tuan?" Tanya Gaby setelah Roger selesai memeriksa kondisi Ardiaz.

"Dia hanya demam biasa, nona jangan khawatir!" Jawab Roger dengan perasaan lega.

"Syukurlah," sahut semua orang yang mendengar jawaban dari Roger dengan serentak.

"Sekertaris Kang, saya mau bicara berdua dengan anda!" Ucap Roger memanggil Roger.

"Baik dokter!" Sigap Ardiaz berjalan menyusul Roger yang telah melangkah mendahului dirinya.

Tak lama setelahnya Anny datang sembari membawa nampan yang berisi bubur hangat. Bersamaan dengan itu, Ardiaz terbangun dari tidurnya dengan wajah lesu.

"Apa aku membuatmu khawatir?" Tanya Ardiaz dengan nada lirih setelah melihat ekspresi khawatir dari Gaby.

"Ti-tidak apa-apa. Tuan istirahat saja sekarang," jawab Gaby dengan senyum manis.

"Tuan, ini makan dulu!" Sahut Anny berjalan mendekat kearah ranjang Ardiaz.

"Benarkah? Baiklah, aku akan memakannya." Jawab Ardiaz kepada Anny dan Gaby.

Anny meletakan nampan yang ia bawa keatas sebuah meja kecil disamping ranjang Ardiaz.

"Oh iya, saya lupa tehnya!" Ucap Anny melupakan teh jahe yang ia buat sebelumnya.

"Biar aku saja yang ambilkan!" Jawab Gaby sambil beranjak berdiri dan keluar dari kamar Ardiaz setelah Anny menjawabnya dengan anggukan kecil.

Anny menyuapin Ardiaz dengan lembut, persis seperti seorang ibu yang menyuapi putranya.

Ketika Gaby berjalan melewati koridor langkahnya terhenti setelah tak sengaja mendengar pembicaraan Roger dan Kangjian.

"Bagaimana? Apakah penyakit tuan parah?" Tanya Kangjian cemas.

"Untuk sekarang dia hanya demam biasa. Mungkin karena terlalu lelah bekerja, kau harus membatasinya!" Jawab Roger dengan santai.

"Lalu? Penyakit apa sebenarnya yang dialami tuan Ardiaz?" Kangjian kembali bertanya.

Sebelum Roger menjawab, ia melihat bayangan Gaby dari sebuah cermin didepannya.

"Nona kecil, jika kau ingin masuk ketuk pintu terlebih dahulu ya!" Sahut Roger dengan sambil membalikan badan dan menghadap Gaby. Kangjian juga mengikuti arah pandang Roger.

"Ah! Maaf, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan tuan dan sekertaris Kang," jawab Gaby pelan sambil sedikit membungkuk.

"Saya permisi kedapur," lanjutnya sembari berjalan menuju dapur.

Beberapa menit kemudian Gaby kembali masuk kedalam kamar Ardiaz sambil membawa nampan yang berisi teh jahe buatan Anny.

"Ini bi," ucapnya sembari meletakan nampan tersebut diatas sebuah meja kecil.

"Terima kasih, nona." Jawab Anny dengan menuangkan teh jahe tersebut kesebuah cangkir memberiknnya kepada Ardiaz.

"Silahkan tuan," ucapnya.

Ardiaz meneguknya sampai habis seketika. Setelah selesai makan, Anny pamit kembali kedapur untuk mencuci pinggan kotor.

Keluarnya Anny menimbulkan kecanggungan yang luar biasa diantara Ardiaz dan Gaby.

"Kemarilah," sahut Ardiaz melambaikan tangannya menyuruh Gaby untuk duduk didekatnya.

Gaby menurut dan berjalan menuju tempat yang dituju Ardiaz, ia kemudian duduk disana dengan perasaan canggung. Ardiaz menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Tak lama setelahnya Roger datang bersama dengan Kangjian. Ardiaz menatap kedatangan keduanya dengan penuh tanda tanya.

"Kenapa kau ada disini?" Tanya Ardiaz kepada Roger.

"Sudah seharusnya tugasku untuk memeriksa kondisi tubuhmu." Jawab Roger dengan santai sambil duduk disebuah sofa.

"Aku ini datang kesini hanya untukmu, bahkan liburanku belum selesai." Lanjutnya kesal.

"Tapi, kau malah memilih gadis ini setelah aku mementingkan dirimu. Aku yang seharusnya layak dijadikanmu sebagai tunangan!" Sahut Roger sembari menatap Gaby dengan tatapan tidak suka.

"Apa-apaan kau ini, kalau kau tidak suak tidak apa-apa. Masih banyak dokter lain selain dirimu!" Jawab Ardiaz dengan tatapan dingin.

"Cih! Jadi kau membela gadis itu?" Ucap Roger menunjuk Gaby.

"Kalau iya, memangnya kenapa?" Tanya Ardiaz menantang Roger.

"Tentu saja itu masalah buatku!" Jawab Roger dengan berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah ranjang Ardiaz.

"Adik kecil, jangan berbicara sembarangan ya." Lanjutnya setelah sampai ditepi ranjang Ardiaz dan mendekatkan wajahnya kewajah Ardiaz. Roger tersenyum jahil kearah Ardiaz, sementara Ardiaz menatapnya dengan tajam.

Dibalik itu Gaby menutup kedua matanya dengan telapak tangannya sedangkan Kangjian menepuk pelan jidatnya melihat tingkah laku Roger.

"Jika kau berani menantangku, malam ini kau harus tidur bersamaku!" Ancam Roger sebelum menjauhkan dirinya dari Ardiaz.

"Keterlaluan!!" Tegas Ardiaz sambil menendang bagian intim dari Roger.

Roger merintih kesakitan sambil menjauhkan dirinya dari Ardiaz serta memegang bagian bawahnya.

"Kau... awas saja ya... akan kubalas nanti!" Ucap Roger kesal karena Ardiaz membuat 'telurnya' hampir pecah.

Gaby dan Kangjian menahan tawanya karena geli melihat Ardiaz yang menendang 'telurnya' Roger.

"Uuuggh... jika saya pasti akan berguling-guling," batin Kangjian merinding ngeri.

1
Ratna Fika Ajah
Thor, kok yo masalah trus yo yo.
Ratna Fika Ajah
Luar biasa
Alifah Azzahra💙💙
Mampir yah Thor 🥰
Nur Syamsi
waduh mna body guar tuan Rogad
Nur Syamsi
author bikin Ardiaz sembuh belum merasakan kebahagiaan bersama isterinya
Nur Syamsi
kapang Gabynya bahagia author terlalu banyak orang yg jahat padanya.....bahagiain Thor Gabynya
Nur Syamsi
ulat bulu Tdk punya malu, dsar
Nur Syamsi
haa sesak baca ketiga persahabatan kepala klan....
Nur Syamsi
author jgn pisahin Ardiaz ma Gaby, biarkan mrk bahagia bersama adik angkatnya yg menolong dr tabrak lari ...🙏🙏
Nur Syamsi
akhirnya....luluh jg Gabynya....
Nur Syamsi
Nikah betulan saja author Tdk usah nikah kontrak, masalah kakeknya Gaby nti Ardiaznya yg tanggung jawab....
Nur Syamsi
tidak adek tidak kakak sama" liciknya makanya jangan buat tantangan dan meremehkan orang Shani,
Nur Syamsi
Roger membuat Kanjian menahan kencingnya 🤣🤣🤣
Nur Syamsi
dasar Tio iblis ...
Nur Syamsi
siapa pria misterius it
Nur Syamsi
Ardias terjatuh Krn ngantuk at lelah Krn penyakitnya
Nur Syamsi
hati hati Gaby mrk turunan mafia
Nur Syamsi
kenapa Ardiaz Tdk merekomendasikan Gaby ntuk kerja di perusahaannya saja ya
Nur Syamsi
penyakit dan Surat dg pengirim misterius,
Nur Syamsi
Brian Brian ternyata sama liciknya ma si adik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!