Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Setelah pagi yang panas di kebun anggur, Zayyan dan Alin menghabiskan waktu hingga siang dengan bersantai di vila. Mereka berenang di kolam renang infinity sambil saling goda, makan siang ringan di teras, dan tidur siang sebentar dengan tubuh saling berpelukan.
Menjelang sore, Zayyan mengusulkan sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.
"Sayang, kita ke Florence hari ini yuk. Kota ini terlalu indah kalau hanya dilewati. Aku mau ajak kamu jalan-jalan, makan malam, dan belanja sedikit."
Alin yang sedang mengenakan bathrobe langsung berbinar. "Serius? Aku mau banget! Aku pengen lihat Duomo dan Ponte Vecchio dari dekat."
Mereka bersiap dengan pakaian yang cocok untuk jalan-jalan sore di kota. Alin memilih dress floral midi berwarna soft pink yang lembut dan feminin, dipadukan dengan flat shoes dan tas kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan kacamata hitam. Zayyan tampan seperti biasa dengan kemeja linen biru muda yang dilipat lengan dan celana chino krem.
Private driver mereka membawa mobil ke pusat kota Florence. Begitu tiba, suasana kota langsung memukau Alin. Jalanan batu kuno, bangunan-bangunan bersejarah berwarna terracotta dan krem, serta aroma kopi dan makanan Italia yang menguar di mana-mana.
Mereka mulai dari Piazza del Duomo. Alin terpesona melihat Katedral Santa Maria del Fiore yang megah dengan kubah bata merah ikoniknya.
"Ya ampun, Zayyan... ini lebih indah dari foto!" seru Alin sambil memegang lengan suaminya erat.
Zayyan berdiri di belakang Alin, memeluk pinggangnya dari belakang sambil dagunya bertumpu di bahu istrinya. "Kamu yang lebih indah," bisiknya sambil mengecup leher Alin sekilas.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalan-jalan sempit Florence. Zayyan sesekali mencuri ciuman di pipi atau kening Alin, tak peduli ada orang yang lewat. Beberapa turis bahkan tersenyum melihat pasangan yang terlihat sangat mesra ini.
Di Ponte Vecchio, jembatan kuno yang terkenal dengan toko-toko emas di atas Sungai Arno, Zayyan menarik Alin ke pinggir jembatan. Mereka bersandar di pagar batu sambil melihat matahari sore yang mulai turun, mewarnai sungai dengan cahaya keemasan.
Zayyan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. "Ini buat kamu," katanya lembut.
Alin membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil berbentuk hati. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Zayyan... ini cantik sekali. Kapan kamu beli?"
"Waktu kita transit di Doha. Aku diam-diam memesannya," jawab Zayyan sambil memasangkan kalung itu di leher Alin. Lalu ia mengecup tengkuk istrinya lama. "Sebagai tanda bahwa hatiku sudah sepenuhnya milikmu."
Alin berbalik dan mencium Zayyan dengan penuh perasaan. Ciuman mereka cukup lama hingga beberapa orang di sekitar bertepuk tangan kecil. Alin langsung malu dan menyembunyikan wajah di dada Zayyan.
Mereka melanjutkan jalan-jalan. Zayyan membelikan Alin gelato rasa stracciatella dan pistachio di salah satu gelateria legendaris. Mereka berbagi satu cone sambil berjalan, sesekali Zayyan menjilat gelato yang menetes di bibir Alin dengan lidahnya, membuat Alin memukul lengannya malu-malu.
"Dasar mesum, ini di tengah jalan!" bisik Alin.
Zayyan hanya tertawa. "Aku nggak tahan lihat bibir kamu yang manis."
Mereka juga mampir ke beberapa butik kecil. Zayyan memaksa Alin mencoba beberapa dress musim panas, lalu membelikan semuanya. Di salah satu butik sepi, saat Alin sedang mencoba dress di ruang ganti, Zayyan menyusup masuk dan mencium Alin dengan liar di dalam ruangan sempit itu.
"Sayang... nanti ketahuan," desah Alin sambil mencengkeram kemeja Zayyan.
"Nggak apa-apa. Cepat, cium aku dulu," jawab Zayyan sambil meremas pinggul Alin.
Ciuman mereka hampir menjadi lebih panas jika sales girl tidak memanggil dari luar. Alin keluar dengan wajah merah padam, sementara Zayyan tersenyum puas.
Menjelang malam, mereka makan malam romantis di sebuah restoran kecil di pinggir Sungai Arno. Lampu-lampu kuning hangat menerangi meja mereka. Mereka memesan pasta truffle, steak Fiorentina, dan sebotol wine Chianti Classico.
Sepanjang makan malam, kaki mereka saling bergesekan di bawah meja. Zayyan sesekali mengusap paha Alin dengan jari-jarinya, membuat istrinya gelisah sepanjang malam.
"Kamu sengaja ya bikin aku nggak tenang?" bisik Alin sambil memicingkan mata.
Zayyan tersenyum nakal. "Aku cuma mempersiapkan kamu untuk malam nanti di vila."
Setelah makan malam, mereka berjalan pelan kembali ke mobil. Florence di malam hari terlihat semakin romantis dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Zayyan memeluk Alin dari samping sepanjang jalan, sesekali mencium rambutnya.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke vila, suasana langsung memanas. Zayyan menarik Alin ke pangkuannya, meski sopir pura-pura tidak melihat, dan mereka berciuman liar di kursi belakang.
Tangan Zayyan menyusup ke dalam dress Alin, menemukan celah yang sudah basah.
"Kamu sudah basah sekali, sayang..." bisik Zayyan di telinga Alin sambil memainkan jarinya pelan.
Alin menggigit bibirnya menahan desahan. "Ini gara-gara kamu dari tadi menggoda..."
Sesampainya di vila, Zayyan langsung mengangkat Alin ala bridal style masuk ke kamar. Malam itu, gairah mereka meledak lagi dengan lebih liar setelah seharian penuh godaan di kota Florence.
Honeymoon mereka terus berlanjut dengan perpaduan sempurna antara romansa kota bersejarah dan panasnya nafsu di vila pribadi mereka.
*
*
Tubuh mereka masih saling menempel, basah oleh keringat dan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja meledak hebat. Zayyan ambruk lembut di samping Alin, napasnya masih memburu. Ia langsung menarik istrinya ke dalam pelukan erat, tak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka.
Alin menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, mendengar detak jantung Zayyan yang masih cepat. Tubuhnya sesekali bergetar kecil, sisa orgasme yang baru saja melandanya. Zayyan menciumi puncak kepala Alin dengan penuh kasih, tangannya mengusap punggung istrinya yang licin dengan gerakan lambat dan penuh sayang.
"Alin..." bisik Zayyan serak, suaranya lembut sekali. "Kamu baik-baik saja?"
Alin mengangguk pelan, bibirnya mengecup dada Zayyan. "Lebih dari baik... aku merasa seperti melayang."
Zayyan tersenyum, lalu menarik selimut tipis menutupi tubuh mereka berdua. Ia membalik posisi hingga Alin berada di atas dadanya, kepala istrinya bersandar nyaman di lekukan lehernya. Jari-jarinya menyisir rambut Alin yang acak-acakan dengan lembut.
Malam itu sangat hening. Hanya terdengar suara jangkrik dari kebun anggur dan angin malam Tuscany yang sejuk meniup tirai jendela. Cahaya bulan masuk lembut ke dalam kamar, menerangi wajah keduanya yang masih memerah.
"Aku cinta kamu," bisik Zayyan tiba-tiba, suaranya dalam dan tulus. "Bukan cuma karena ini... bukan hanya karena tubuhmu yang selalu membuatku gila. Tapi karena kamu... Alin. Karena senyummu saat bangun pagi, karena cara kamu mencium punggung tanganku, karena kamu tetap cemburu meski tahu aku hanya milikmu."
Alin mendongak, matanya berkaca-kaca menatap suaminya. "Zayyan... kamu bikin aku mau nangis."
Zayyan tersenyum lembut dan mengusap air mata yang hampir jatuh di sudut mata Alin dengan ibu jarinya. Ia mengecup kening istrinya lama, lalu turun ke hidung, pipi, dan akhirnya bibirnya dengan sangat lembut.
"Aku serius, sayang. Dulu aku pikir aku sudah tahu apa itu cinta. Tapi setelah menikah denganmu, aku baru sadar... aku belum pernah benar-benar mencintai sebelumnya. Kamu mengajarkanku arti memiliki seseorang yang ingin kujaga selamanya."
Alin tersenyum haru. Tangannya mengusap rahang Zayyan yang kasar karena cambang tipis. "Aku juga. Kadang aku takut terlalu bahagia. Takut suatu saat semuanya hilang."
Zayyan menggeleng pelan dan memeluk Alin lebih erat, seolah ingin menyatukan mereka menjadi satu.
"Nggak akan hilang. Aku janji. Bahkan kalau dunia ini runtuh sekalipun, aku akan tetap memilih kamu. Setiap hari. Setiap malam. Di Jakarta, di Tuscany, di mana pun."
Mereka diam cukup lama, hanya saling peluk dan mendengar detak jantung satu sama lain. Zayyan sesekali mengecup bahu Alin, sementara Alin menggambar lingkaran-lingkaran kecil di dada suaminya dengan jarinya.
"Terima kasih sudah memilihku dulu," bisik Alin pelan. "Meski kita menikah cepat, aku nggak pernah nyesel sedetik pun."
Zayyan mengangkat dagu Alin agar menatapnya. Matanya penuh cinta yang dalam.
"Aku yang harus berterima kasih. Kamu menyembuhkan luka yang aku kira nggak akan sembuh. Kamu membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik. Menjadi suami yang pantas buat kamu."
Ia menarik selimut lebih tinggi, lalu memeluk Alin dari samping. Tubuh mereka saling menempel sempurna. Zayyan menciumi rambut Alin, menghirup aromanya yang selalu membuatnya tenang.
"Besok kita ke Venice ya?" bisik Zayyan. "Aku mau naik gondola sama kamu, peluk-peluk di bawah jembatan, dan cium kamu di tengah kanal."
Alin tertawa kecil. "Kamu ini... romantisnya naik-turun. Tadi ganas banget, sekarang manis banget."
Zayyan tersenyum dan menggigit pelan telinga Alin. "Karena kamu bikin aku seperti ini. Satu menit aku ingin menghabisi kamu di ranjang, menit berikutnya aku ingin melindungi kamu dari seluruh dunia."
Alin mendongak lagi dan mencium bibir suaminya dengan lembut. Ciuman yang lambat, penuh rasa syukur dan cinta. Tak ada nafsu liar kali ini, hanya kehangatan yang dalam.
"Aku milikmu, Zayyan Mahendra" bisik Alin di sela ciuman. "Tubuh, hati, dan masa depanku."
"Dan aku milikmu, sekarang dan selamanya," balas Zayyan sambil menatap istrinya dengan penuh kasih.
Mereka kembali berpelukan erat di bawah selimut. Cahaya bulan Toscana menyinari kamar mereka, seolah alam ikut memberkati cinta yang semakin kuat di antara keduanya.
Malam itu, setelah badai gairah yang panas, mereka tertidur dalam pelukan yang penuh kedamaian, hati mereka lebih dekat dari sebelumnya.
Honeymoon mereka bukan hanya tentang kenikmatan tubuh, tapi juga tentang janji cinta yang semakin dalam setiap harinya.
pulang dari Italy sih Alin langsung hamil ini🤣🤣🤣🤣
bikin Loly jeoles liat kebahagiaan zay & Alin
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥