NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Sosok di Belakang Zia

Hari masih pagi, tetapi Ray sudah berada di lapangan basket dan bermain sendirian. Keringat membasahi kausnya, tapi perasaan hatinya tetap saja tidak tenang. Padahal, sebelum ini dia sudah lari pagi dan bersenang-senang menguras fisik, tetapi bayangan kejadian di acara kartini terus mengusik pikirannya.

​Kesal karena rasa sesak yang tidak kunjung hilang, Ray akhirnya melemparkan bola basket di tangannya secara sembarangan ke arah bawah. Di luar dugaan, bola itu membentur ujung fondasi tiang dengan keras dan memantul cepat kembali ke arahnya. Ray sama sekali tidak memperhatikan laju bola karena pada saat yang sama, sepasang matanya menangkap sosok yang sedang berjalan menuju lapangan.

​DUK! Bola itu tanpa ampun menghantam kepalanya.

​"Ah...!" jerit Yasmin yang melihat peristiwa itu secara langsung. Gadis itu menutup mulutnya dengan cemas, lalu menatap heran karena Ray hanya diam mematung, sama sekali tidak mengaduh meski hantamannya cukup keras. Sepasang mata Ray terkunci pada sosoknya.

​Ray perlahan melangkah, menghampiri dinding kawat yang membatasi lapangan. Di sana mereka berhenti, saling menatap dalam diam, terhalang oleh jaring-jaring kawat besi yang dingin.

​"Ray, sakit nggak?" tanya Yasmin dengan nada khawatir yang tulus.

​"Nggak," jawab Ray singkat, suaranya agak serak. "Kamu lagi ngapain di sini?"

​"Aku sengaja nyari Ray. Ini... mau mengembalikan baju punya Mama Ray." Yasmin mengangkat kantong kertas yang dibawanya, menunjukkannya pada Ray.

​Ray menatap kantong itu datar. "Baju itu buat kamu. Itu kata Mama."

​"Tapi ibuku bilang, aku harus mengembalikannya," ucap Yasmin serba salah.

​Ray mencengkeram kawat di depannya, menatap Yasmin lebih dalam. "Apa kamu benci aku, Yasmin?"

​"Nggak. Kenapa nanya gitu?" Yasmin mengerjap bingung.

​"Kalau nggak, jangan kembalikan hadiah dariku."

​Yasmin terdiam selama beberapa saat. Di bawah sinar matahari pagi yang lembut, gadis itu perlahan mengurai sebuah senyuman—senyuman manis yang seketika membuat jantung Ray bergetar hebat.

​"Baiklah. Aku akan menyimpannya. Makasih ya, Ray. Tapi... apa kamu baik-baik aja?"

​Ray agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Sisi defensifnya langsung bangkit. "Kenapa nanya gitu? Bukannya aku orang yang sudah memukul Vyan?"

​"Tapi, Ray mukul Kak Vyan karena Ray bermaksud melindungiku, kan?" sahut Yasmin lembut.

​Kalimat itu telak menghantam ego Ray. Jantungnya mencelos. "Ah.... aku, aku sebenarnya..." Ray terbata-bata, tidak menyangka Yasmin akan melihat niat baik di balik ucapannya.

​"Terima kasih... tapi jangan pukul Kak Vyan lagi ya?" pinta Yasmin dengan tatapan memohon.

​Mendengar nama Vyan disebut dengan nada sepeduli itu dari bibir Yasmin, perih di dada Ray semakin meradang. Dia tidak sanggup lagi menatap mata polos itu.

"Aku gak mau denger nama Vyan lagi di obrolan kita."

"Apa?"

"Yasmin..." Ray mengalihkan topik. "Nanti malam mau nggak kamu datang ke acara ultahku?"

Ray melihat binar di mata Yasmin. "Oh, Ray ultah. Selamat ya!"

Melihat wajah Yasmin yang tulus membuat Ray kembali cerah. Namun, ucapan Yasmin kemudian, meredupkannya lagi.

"Tapi maaf, ayah nggak mengizinkanku datang ke acara ultah malam-malam."

"Nggak terlalu malam, kok. Acaranya jam delapan. Nanti, kamu boleh pulang duluan."

Yasmin menunduk. "Maaf, Ray. Ga bisa."

Pandangan mata Ray meredup tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Meminta izin Pak Danang secara langsung pun tidak mungkin. Terakhir Pak Danang mengusirnya karena melihatnya memeluk Yasmin.

​Yasmin melangkah mundur, lalu berbalik untuk pergi.

​Melihat punggung itu menjauh, pertahanan Ray runtuh. Sebelum Yasmin melangkah terlalu jauh, Ray berteriak lantang.

​"Yasmin, je t'adore. Je t'aime beaucoup...!"

​Langkah Yasmin seketika terhenti. Dia menoleh kembali, mendapati Ray sedang menatapnya dengan raut wajah yang luar biasa serius—ekspresi paling jujur yang pernah Ray tunjukkan.

​Melihat intensitas itu, Yasmin justru tersenyum kecil, mencoba mencairkan ketegangan. "Ray kamu bilang apa?"

​Ray hanya tersenyum.

​"Yasmin, aku akan merebutmu dari Vyan...," ucapnya pelan.

...****************...

Pagi itu, suasana di kelas terasa lebih hidup bagi Zia. Berkat kerja keras Archie semalam, Zia berhasil menyebarkan pesan broadcast pengumuman pendaftaran anggota baru Keputrian ke seluruh grup angkatan. Pesan itu tidak main-main—sangat lengkap, profesional, dan langsung terintegrasi dengan formulir pendaftaran digital serta basis data anggota yang rapi.

​Sebenarnya, ketika menerima e-mail dari Archie tadi malam, draf pertama iklan tersebut sempat membuat Zia tersenyum geli. Archie menggunakan gambar latar belakang karakter Hinata dan Sakura dari anime kegemarannya. Zia maklum Archie menyukai cerita-cerita semacam itu sampai memanggilnya Zi-Chan.

Namun, dengan segala kerendahan hati, Zia membalas e-mail tersebut dan meminta agar temanya diganti dengan nuansa yang lebih mencerminkan Indonesia. Bagaimanapun, Keputrian adalah ekskul yang berfokus pada kesenian dan prakarya tradisional Indonesia. Untunglah, Archie yang berada di seberang sana dengan sigap langsung memperbaikinya sesuai permintaan Zia.

​"Gila, Zi! Ini iklan Keputrian? Keren banget, sumpah!" puji Sandra heboh begitu sampai di kelas pagi itu. Teman-teman Sandra yang lain ikut berkerumun di meja Zia, menatap layar ponsel dengan mata berbinar-binar kagum. "Desainnya estetik, terus langsung ada link formulir sama database-nya lagi. Niat banget!"

​Mendengar keributan di barisan bangku Zia, Vyan yang sudah duduk tenang di bangkunya mulai merasa penasaran. Dengan raut wajah datar, ia merogoh ponsel dari saku seragamnya dan memeriksa pesan broadcast yang sedang ramai dibicarakan itu.

​Begitu layar ponselnya menampilkan iklan Keputrian, alis Vyan langsung bertaut. Ia terkejut melihat hasilnya. Sebagai orang yang sangat mengenal Zia, Vyan tahu betul kapasitas gadis itu. Zia tidak mungkin bisa membuat sistem digital seprofesional ini; dia sama sekali tidak lihai dalam urusan teknologi dan desain grafis.

​Di saat yang sama, Mia—yang duduk tak jauh dari Vyan—ikut bersuara memecah rasa penasaran yang juga dirasakan sang Ketua OSIS. "Zi, lo serius bikin ini sendiri? Siapa sih yang buatin? Setahu gue anak-anak Keputrian nggak ada yang jago IT sampai level gini."

​Zia tersenyum simpul, ada binar kebanggaan sekaligus rasa syukur di matanya. "Bukan aku kok, Mia. Ada seorang mahasiswa IT yang baik banget sama aku waktu aku di Cirebon dulu. Dia yang nawarin diri buat bikin ini semua. Namanya Archie."

​Mendengar nama asing itu disebut, Vyan menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah ponselnya dengan sejuta tanda tanya di kepala. Dia merasa terusik oleh kehadiran sosok misterius bernama Archie tersebut. Seberapa jauh sosok itu akan membantu Zia.

Tepat setelah bel masuk berbunyi nyaring, pintu kelas terbuka dan sosok Zaki melangkah masuk. Seperti biasa, dia berjalan menunduk dengan langkah yang nyaris tak terdengar, berusaha menjadi segaib mungkin di antara ramainya murid-murid lain yang mulai kembali ke bangku masing-masing.

​Saat berjalan melewati barisan depan, langkah Zaki sempat tertahan sepersekian detik. Sepasang matanya melirik ke arah meja Zia. Di sana, Zia masih terlihat begitu senang dan antusias, wajahnya memancarkan binar kebahagiaan yang sudah lama tidak Zaki lihat.

​"Kalau promosi kita kayak gini, gue yakin banget bakal banyak peserta baru yang daftar, Zi. Sistemnya kelihatan profesional banget!" bisik Sandra bersemangat sebelum meletakkan ponselnya.

​Mendengar kalimat itu, sudut bibir Zaki tanpa sadar terangkat, mengurai sebuah senyuman hangat yang sangat tulus. Rasa puas yang begitu besar membuncah di dadanya; kerja kerasnya mengetik kode semalaman tidak sia-sia. Namun, senyuman itu seketika membeku. Zaki sedikit kaget ketika ia mendongak dan matanya mendadak bertemu langsung dengan tatapan tajam nan menyelidik dari Vyan.

​Jantung Zaki berdegup kencang. Mengingat di sekolah mereka selalu berpura-pura tidak dekat dan tidak saling kenal, Zaki dengan cepat memutuskan kontak mata itu. Ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, mempercepat langkah menuju bangkunya sendiri di sudut belakang yang sepi, lalu pura-pura sibuk mengambil buku pelajaran di bawah meja untuk menyembunyikan kepanikannya.

​Di barisan depan, Mia yang masih penasaran kembali mencondongkan badan ke arah Zia.

​"Senang banget ya, ternyata lo punya kenalan mahasiswa IT yang begitu baik," ucap Mia setengah berbisik dengan mata berbinar genit. "Ganteng nggak, Zi, orangnya? Kuliah di mana?"

​Zia hanya tertawa kecil mendengarnya, tidak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri pun belum pernah melihat wajah asli Archie. Sebenarnya, Archie tidak pernah sekali pun mengaku kalau dia adalah seorang mahasiswa IT. Itu murni tebakan Zia sendiri untuk meredam rasa penasaran orang-orang di sekitarnya. Zia tidak mau mereka tahu kalau sosok Archie ini sangat misterius dan tidak jelas asal-usulnya. Namun, bagi Zaki dia sama sekali tidak keberatan dengan kebohongan kecil itu. Malah, status fiktif tersebut menjadi tameng yang sangat sempurna untuknya.

​Dari balik poninya yang berantakan, Zaki mempererat pegangannya pada buku komik yang ia pegang. Ia mengembuskan napas lega yang sangat tipis. Vyan jelas tahu dia punya banyak akun di internet untuk berbagai keperluan. Untungnya nickname Archie yang digunakannya di akun Facebook yang berteman dengan Zia, sama sekali tidak pernah diketahui oleh Vyan.

...----------------...

Zaki Nurrahman

1
Aquarius97 🕊️
aseeekkk ... gitu kek gar dari kemarin
Aquarius97 🕊️
aihhh mantap banget vyan
Cimol krispy
di sini korban sesungguhnya ya Yasmin. dia cuma di jadikan alat oleh Vyan untuk membalas sakit hatinya ke Zia. whatever kalau memang Vyan beneran suka ke Yasmin, yang jelas sekarang aku kesal sama Vyan. tingkah lakunya antagonis, tapi nyatanya dia protagonis nya, huhuhuhu
Filan: Dia adalah masalah bagi dirinya sendiri ☺
total 1 replies
Cimol krispy
kalian berharap apa, Yasmin dan Zia jambak²an kah🤭
Cimol krispy
Pinter banget emang di Vyan ini memanfaatkan keadaan
Cimol krispy
Mulai playing victim
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
yasmin kamu memang bodoh. tapi, kali ini aku akui kamu benar-benar sangat amat bodoh /Proud/
☠️⃝ MULIANA ѕ⍣⃝✰
gak suka sama vyan /Sob/ kasihan yasmin
Miu.Nuha
yaa sesadis itu ternyata Vyan...
kalau gk ad yg nyadarin bisa keblalasan tuh...
Filan: kita siksa aja ya di akhir si Vyan biar dapat balasan setimpal gitu 🤣
total 1 replies
Miu.Nuha
lah, tiba2 menang /Sweat/
gk ada angin gk ada ujan, masuk sekolah pun enggak... aneh betul...
Filan: Iya...
total 3 replies
Miu.Nuha
nangis dulu deh Ray, move on belakangan 😆
Miu.Nuha
mungkin Agil adalah saksi kedekatan vyan dn Zia 🤔🤔 ,, gimana Gil? siapa yg belencek?
Miu.Nuha
kencan apa main 🤭
Miu.Nuha
emang zia cinta sama vyan /Drowsy//Drowsy//Drowsy/
Xlyzy
wkwkwk gimana gimana rasa nya sesak ga tuh hati🤭
Xlyzy
gimana gimana kaget kn kok bisa🤭
Xlyzy
wah mana aci masak masuk jurang ngajak ngajak
Three Flowers
Yasmin jadi tercemar dong namanya...gak marah tuh?
Three Flowers
salting di depan ayang
Three Flowers
waduh bu Dinda beneran jatuh cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!