Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|35| Permintaan Maaf Wijaya
Satu minggu berlalu, meninggalkan kenangan yang masih lengket pikiran Aruna, tetesa air yang Ia tumpahkan diatas tanaman mawar merah yang bermekaran di pagi hari menjadi awal yang baru bagi Aruna.
Hari bergati hari, Ia tak mendengar kabar apapun lagi setelah kabar pembatalan pernikahan Devara, Ia tak terkejut, tak senang ataupun sedih. Ia berusa sekuat tenaga untuk melupakan semuanya. Sekarang ia cuma mau sembuhin dirinya sendiri dan juga ayahnya.
Sudah cukup kemarin, hari ini Ia ingin terus tersenyum bahagia menemani masa tua ayahnya di rumah kecil ini, setiap hari Bayu selalu berkunjung membawa makanan dan buah-buahan. Dia sangat baik kepada Aruna dan Wijaya, namun kebaikan itu tak bisa Aruna balas dengan apa yang Ia harapkan.
"Run, aku mau ngomong sesuatu.."Ujar Bayu yang berjalan mendekati Aruna disamping rumah.
Dia berbalik, tersenyum simpul melihat kedatangan Bayu. "Ngomong apa..?"
Langkah bayu terhenti tepat didepan Aruna, Ia merogoh kantong celananya, kotak cincin berwarna merah terang, perlahan Bayu membukanya, cincin berlian yang tidak pernah Aruna lihat, cantik dan berkilau.
Bayu menekuk satu lututnya, berjongkok dihadapan Aruna. "Run, will you marry me..?"
Aruna menutup mulutnya, ia sempat mundur selangkah. "Berdiri... Aku gak mau papa lihat" Aruna maju kembali sambil menarik lengan Bayu untuk berdiri.
Bayu akhirnya berdiri, menutup kotak cincin itu sampai berbunyi klek.. "Kamu beda Run, kalau kamu gak ada perasaan sama aku kenapa gak bilang"
Aruna menggigit bibir bawahnya, Ia mengalihkan pandanganya. "Aku...-" ucapannya terpotong karena suara mobil yang berhenti tepat didepan rumahnya.
Mereka berdua langsung melihat kearah mobil tersebut, 'maybach hitam. Devara...?'-batin Aruna.
Bayu menyimpan kotak cincinnya kembali kedalam saku. Ia tersenyum pahit melihat Aruna. "Dia yang kamu tungguin selama ini? Selama satu bulan ini..?" disusul tawa hambar yang menyakitkan.
"Selamat pagi Ibu Aruna" ucap Andre ditengah-tengah Bayu dan Aruna.
"Ngapain kesini, Aruna udah gak..."
"Bayu... " Potong Aruna sambil melirik Bayu.
Bayu diam, Ia langsung beralih dan pergi menjauh.
"Ndre..? Ada apa?" Ujar Aruna sambil mencoba mengintip kearah mobil.
"Saya mau mengundang Ibu sama Tuan Wijaya ke acara makan malam exclusive. Jam 8 malam" ujar Andre sambil memberikan secarik kertas undangan.
"Tiba-tiba.. Setelah seminggu..?" Ucap Aruna melihat bergantian ke kertas undangan itu dan melihat Andre kembali dengan tatapan bingung.
Andre hanya mengangguk lalu tersenyum dan pergi menuju mobilnya kembali. Aruna masih melongo melihat mobil itu sampai ujung jalan.
Wijaya keluar rumah, wajahnya terlihat segar sehabis mandi. Melihat Aruna disamping rumah yang sedang memegang secarik kertas. "Kok mau dibuang.." Cegah Wijaya saat melihat Aruna hendak memasukkan kertas itu kedalam tempat sampah.
"Eum.. Ini cuma kertas promosi pinjol kok pah, gak penting" bohong Aruna yang segera meremas kertas itu.
"Yasudah, bikinin papa teh hangat ya nak" Wijaya percaya, namun tidak dengan matanya yang masih menatap remasan kertas itu sampai Aruna masuk kedalam dapur.
Malam itu Wijaya diam-diam mengambil kertas undangan yang tadi Aruna remas dan buang ke tempat sampah.
Undangan Makan Malam Eksklusif Keluarga Mahesa, jam 8 malam. Ballroom Skyline Hotel.
“Run,” panggil Wijaya pelan.
Aruna keluar dari dapur membawa teh. “Iya, Pa?”
Wijaya mengangkat kertas itu. “Ini bukan kertas pinjol.”
Aruna terdiam.
“Kesempatan untuk bertemu Devara langsung,” lanjut Wijaya. “Aku ingin bertanya, atas dasar apa dia menyakitimu.”
“Pa, kondisi Papa—”
“Kondisiku cukup kuat untuk bertanya,” potong Wijaya. “Malam ini jam delapan, kita datang.”
*Jam 8 malam. Ballroom Skyline Hotel.
Hanya ada satu meja bundar di tengah ruangan. Lampu kristal, wangi melati, dan keheningan yang menyesakkan.
Wijaya duduk di kursi roda. Aruna berdiri di belakangnya.
Pintu terbuka. Devara masuk dengan jas hitam. Di belakangnya, Marisa mengikuti dengan langkah pelan. Wajahnya tegang.
“Selamat malam, Pak Wijaya,” ucap Devara datar.
“Selamat malam, Wijaya,” sapa Marisa. Suaranya nyaris berbisik.
“Duduk,” kata Wijaya.
Mereka duduk. Marisa di samping Devara. Aruna tetap berdiri di belakang Wijaya.
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Hanya denting sendok yang memecah sepi.
“Apa dasarnya kamu menyakiti Aruna?” tanya Wijaya akhirnya. “Apa salah anakku sampai kamu mempermalukannya di depan semua orang?”
Devara mengangkat kepala. “Pak Wijaya pikir ini soal Aruna. Padahal ini soal hutang.”
“Aku tahu,” jawab Wijaya. “Aku tahu kamu sudah tahu hutang itu lunas.”
Devara terdiam. Rahangnya mengeras.
“Lalu kenapa?” tanya Wijaya. “Kalau kamu sudah tahu aku melunasi, kenapa kamu masih menghancurkan Aruna?”
“Karena lunas tidak menghapus apa yang sudah terjadi,” kata Devara pelan. “Ayah saya tetap mati karena tidak percaya pada Bapak.”
Wijaya menutup mata. Saat ia membukanya lagi, matanya sudah basah.
“Aku khilaf, Devara,” ujar Wijaya. Suaranya bergetar. “Aku mengambil uang itu karena terdesak. Tapi aku tidak lari. Aku menggantinya secepat yang aku bisa. Bahkan aku harus berutang pada rentenir untuk melunasi semuanya.”
Marisa menunduk. Tangannya meremas serbet di pangkuannya.
“Marisa membawamu keluar negeri saat itu,” lanjut Wijaya, menatap Marisa. “Dia tidak menjelaskan apa pun karena Devara masih kecil. Dia pikir Devara tidak pantas tahu masalah orang tua.”
“Aku tahu,” kata Devara singkat.
“Lalu Marisa lupa soal ini selama bertahun-tahun,” lanjut Wijaya. “Sampai dia pulang dan melihat Aruna. Dia baru ingat aku.”
Marisa akhirnya bersuara. “Aku tidak punya bukti saat itu, Devara,” katanya. Suaranya pecah. “Aku tahu kamu tidak akan percaya padaku. Jadi saat aku kembali dari luar negeri, hal pertama yang aku lakukan adalah membongkar brankas lama. Brankas yang bahkan aku lupa kata sandinya. Aku berusaha menyelamatkan Aruna.”
Devara menoleh ke arah Marisa. Untuk pertama kali malam itu, ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan dingin. Tapi kosong.
Sepuluh tahun ia hidup dengan dendam. Dan malam ini, orang yang ia anggap ibu angkatnya sendiri mengakui bahwa ia diam-diam berusaha memperbaiki semuanya.
“Aku tidak minta maaf atas nama Aruna,” kata Wijaya pelan. “Aku minta maaf atas namaku sendiri.”
Tidak ada yang menjawab.
Marisa menutup wajahnya dengan tangan. Aruna menggigit bibirnya sampai terasa perih.
Devara hanya menatap piringnya yang sudah dingin.
Di dalam kepalanya, suara yang selalu ia dengar selama ini berbisik: benci dia, hancurkan dia.
Tapi malam ini, suara itu terdengar semakin jauh.