NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29 : SATU KLIK MENUJU KEHANCURAN DINASTI WIJAYA

Malam semakin larut mencekam, jarum jam di dinding unit apartemen mewah milik Fandi Achmad Mahendra tepat menunjukkan pukul sepuluh malam. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan berembus sunyi, menemani aroma sisa alkohol dan asap rokok yang masih pekat mengambang di udara. Di ruang tengah yang remang-remang itu, Fandi duduk tegap di hadapan sebuah meja kerja kaca dengan sebuah laptop premium yang menyala terang benderang, memantulkan pendar cahaya putih di wajah lebamnya yang dipenuhi seringai licik.

Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan pakaian serba hitam. Dia adalah Riko mulyadi (31 tahun), sahabat karib sekaligus orang kepercayaan Fandi yang bekerja sebagai ahli IT dan peretas bayaran di dunia maya. Riko melipat kedua tangannya di depan dada, menatap layar monitor laptop yang sudah menampilkan beberapa folder berisi dokumen berkas rahasia dan cuplikan rekaman video beresolusi tinggi.

"Mas Fandi, berkas enkripsi datanya udah seratus persen siap diunggah ke server hosting anonim," ucap Riko dengan nada suara yang rendah, membuka percakapan malam itu. "Semua alamat IP pelacak udah aku belokkan ke luar negeri. Begitu kamu menekan tombol enter ini, dalam hitungan menit berita ini bakal langsung meledak jadi trending topic nomor satu di seluruh platform media sosial. Tapi bentar deh... Kamu beneran yakin mau ngelakuin aksi balas dendam gila ini ke seluruh jaringan keluarga Wijaya?"

Fandi mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya kasar ke layar laptop sambil terkekeh sangat puas, sebuah tawa lepas yang terdengar begitu penuh kebusukan moral. "Hahaha! Yakin seribu persen, Rik! Aku udah nggak sabar mau liat muka sok terhormat dari si tua bangkai Hermawan Wijaya itu hancur lebur di depan semua rekan bisnisnya! Berani-beraninya dia nampar dan ngehajar wajahku sampai berdarah-darah di rumahnya kemarin sore! Dia pikir dia siapa, hah?! Dia nggak tahu kalau aku udah megang semua kartu mati keluarganya!"

Riko mengernyitkan dahi penuh selidik, menunjuk salah satu folder dokumen di layar yang bertuliskan nama silsilah kelahiran. "Gila sih. Tapi bentar, Mas... Kalau kamu bilang mau balas dendam ke seluruh isi rumah keluarga Wijaya, ini berarti termasuk mau ngehancurin reputasi si Kalea juga, kan? Folder rahasia kelahiran dia kan ada di sini juga."

Fandi seketika menghentikan tawa liciknya. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius, kaku, dan matanya berkilat memancarkan aura obsesi kotor yang luar biasa membara. Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Enggak, Rik. Kecuali Kalea! Jelas-jelas dari dulu aku udah bilang sama kamu, Kalea itu pengecualian mutlak! Dia itu satu-satunya cewek yang bener-bener aku MAU di dunia ini, dia itu cintaku yang sesungguhnya! Aku nggak bakal pernah sudi ngehancurin dia!"

Riko langsung meledakkan tawa renyah yang penuh sindiran, menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku sahabatnya. "Bwahaha! Mas, Mas... Kamu bener-bener udah sakit jiwa ya! Kamu kok bisa-bisanya sama sekali nggak peduli atau sedih sedikit pun soal surat gugatan cerai yang barusan ditandatangani sama istrimu, Dokter Fitri, di kafe sore tadi? Kamu datar banget kayak robot!"

Fandi mengendikkan kedua bahunya dengan gerakan kaku yang acuh tak acuh, menyandarkan punggung tegapnya di kursi kerja. "Ngapain juga aku harus sedih mikirin cewek mandul kayak Fitri? Sejak awal pernikahan kami dua tahun lalu, aku bener-bener NGGAK PERNAH ADA RASA CINTA sepeser pun sama dia, Rik! Aku sudi nikah sama dia murni cuma biar bisa tinggal satu rumah dan bisa mandang kecantikan mata biru Kalea setiap hari! Dan sekarang, status Fitri beneran udah jadi mantan istri di mataku, sebentar lagi proses hukum pengadilan juga kelar. Aku bebas!"

Fandi memajukan kembali tubuh kekarnya ke depan meja, jemarinya mulai menari-nari di atas papan ketik laptop untuk mempersiapkan teks unggahan. "Dengar rencana matangku, Rik. Malam ini, aku bakal menyebarkan berkas dokumen otentik yang membuktikan kalau Kalea itu status lahirnya adalah ANAK HARAM di keluarga Wijaya! Dan di saat yang bersamaan, aku juga bakal ngerilis rekaman video skandal si jalang Shinta yang lagi asyik mabuk dan gelayutan manja di dalam ruangan privat night club bareng seorang laki-laki tua bangka yang umurnya udah bau tanah, yang bener-bener lebih cocok jadi bapaknya daripada jadi pacarnya! Hahaha! Aku bakal bikin Hermawan Wijaya mati berdiri menahan malu di depan semua orang!"

Riko tertegun membeku mendengar penjelasan Fandi. Otak cerdas peretasnya mendadak macet, menatap Fandi dengan pandangan mata yang melongo bodoh bercampur tidak percaya. Riko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Bentar, bentar, Mas... Logika berpikirmu ini beneran makin aneh dan konslet tahu nggak! Tadi kamu bilang Kalea itu cintamu, kamu mau ngelindungin dia. Tapi di saat yang sama, kamu malah mau menyebar berita ke publik kalau Kalea itu anak haram Wijaya! Tindakanmu itu justru bakal bikin Kalea malu setengah mati di tempat kerjanya dan dihina sama seluruh netizen kota ini, Mas! Gimana sih?!"

Fandi mengendikkan bahunya santai, melemparkan sebuah seringai kemenangan manipulatif yang sangat tipis namun sarat akan kelicikan psikologis yang luar biasa kejam. "Justru itu taktik utamaku, Riko mulyadi yang bodoh!" jawab Fandi dengan nada suara baritonnya yang rendah berbisik penuh rahasia. "Aku sengaja bikin nama Kalea hancur dan dihina sebagai anak haram oleh seluruh dunia luar malam ini! Biar apa? Biar karir dia di hotel pecah, dia dipecat, dia dikucilkan, dan di saat dia bener-bener berada di titik paling bawah hidupnya karena nggak punya siapa-siapa lagi buat bersandar... aku yang bakal maju sebagai pahlawan buat meluk dan nyelametin dia! Aku bakal bawa dia tinggal di apartemen mewah ini, mengunci takdirnya dalam dekapanku selamanya! Dia pasti bakal bertekuk lutut cinta sama aku!"

Mendengar jawaban psikopat yang keluar begitu lancar dari mulut Fandi, Riko bener-bener melongo sempurna selama lima detik tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, merinding melihat tingkat obsesi gila tingkat dewa yang dimiliki Fandi kepada adik iparnya sendiri. "Gila... Kamu bener-bener udah obsesi tingkat akut sama Kalea, Mas. Serem banget otakmu."

"Semua bukti video skanta Shinta di club itu udah rapi kan di tanganmu?" tanya Fandi mengalihkan pembicaraan, matanya berkilat tajam. "Makasih ya, untung kemarin aku nyuruh kamu buat terus memata-matai kelakuan Shinta yang hobi main di kelab malam pinggiran itu."

"Aman, Mas. Semua rekaman CCTV tersembunyi dari informanku di kelab udah lengkap," sahut Riko.

Fandi mendengus sinis mengingat nama Shinta. Selama menjalin hubungan terlarang selama tiga tahun di belakang Fitri, Fandi bukannya tidak tahu kalau Shinta itu hobi bergonta-ganti pasangan laki-laki kaya di luar rumah demi memuaskan gaya hidup sosialitanya. Fandi sengaja membiarkan dan menutup mata atas kelakuan liar adik iparnya itu karena sejak awal dia memandangi Shinta tidak lebih dari sebatas mainan pemuas berahi murah yang gampang dimanipulasi, jangankan Shinta, Fitri istrinya sendiri pun tidak pernah dia cintai seujung kuku pun sepanjang ingatan deskripsi hidupnya.

"Satu menit menuju eksekusi mutlak, Rik," ucap Fandi, matanya menatap tajam ke arah tombol enter berwarna biru di layar. Dia mulai menghitung mundur dengan suara serak yang dipenuhi letupan kegilaan berahi. "Tiga... dua... satu..."

KLIK!

Dan ya, dengan satu tekanan jari yang mantap, Fandi resmi menekan tombol tersebut. Detik itu juga, melalui jaringan ribuan akun bot anonim yang sudah dipersiapkan Riko di Twitter (X) dan Instagram, berita skandal itu langsung menyebar luas laksana virus mematikan membelah kegelapan malam, siap menghancurkan kedamaian dinasti keluarga Wijaya dalam hitungan jam.

Fandi menyandarkan punggungnya kembali, menatap layar monitor dengan seulas senyuman sinis yang sangat lebar dan puas, membaca kembali takarir (caption) tajam penuh provokasi kejam yang sengaja dia tulis sendiri menggunakan akun anonim gosip tersebut.

Untuk postingan dokumen rahasia silsilah Kalea, takarirnya tertulis:

[EKSKLUSIF! Di balik kemegahan bisnis perhotelan kota ini, ternyata General Manager Hotel Grand Luminance yang sok terhormat, KALEA AZZAHRA PUTRI WIJAYA, status aslinya hanyalah seorang ANAK HARAM pembawa aib hasil hubungan terlarang masa lalu! Pantaskah wanita darah kotor memimpin hotel bintang lima?! 💣🔥 #SkandalWijaya #KaleaAnakHaram]

Sedangkan untuk takarir video skandal Shinta yang sedang mabuk bergelayutan di dada pria tua bangka, Fandi menulis kalimat yang jauh lebih menusuk ego keluarga:

[WOW! Ini dia SHINTA KIRANA WIJAYA, anak emas kesayangan berwajah polos di keluarga Wijaya yang selalu dimanja Papa Hermawan! Tapi liat dong kelakuan aslinya di balik kamera kelab malam, hobi bobo manis dan gonta-ganti pasangan bareng "Sugar Daddy" tua bangka yang lebih cocok jadi bapaknya! Like father like daughter? 🤫 underage #InfluencerJalang #AibWijaya]

Fandi meledakkan tawa kepuasan balas dendamnya yang paling kencang memenuhi seluruh ruang tengah unit apartemen mewahnya sore itu. Pandangan matanya menatap sinis ke arah layar laptopnya yang mulai dibanjiri oleh ribuan tanda suka dan komentar syok dari netizen seluruh kota.

...****************...

Pagi jam tujuh, di kediaman mewah keluarga Wijaya, hawa dingin yang kaku menyelimuti ruang makan utama. Hermawan, Sarah, Fitri, Shinta, dan Kalea sedang duduk melingkar menikmati sarapan pagi mereka dengan keheningan yang canggung. Di atas meja tersaji roti bakar, nasi goreng, dan kopi hangat. Namun, nafsu makan mereka seolah menguap, menyisakan ketegangan tersembunyi. Mereka semua sama sekali tidak tahu kalau di luar sana, di dunia maya, jutaan orang sedang heboh menggunjingkan nama baik keluarga Wijaya akibat bom skandal yang dilempar Fandi tadi malam.

Ting! Ting! Ting!

Rentetan suara notifikasi beruntun yang sangat nyaring mendadak berbunyi dari ponsel pintar milik Hermawan yang tergeletak di atas meja. Kening pria paruh baya itu mengernyit dalam. Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan yang ternyata dikirim oleh salah satu rekan bisnis utamanya. Di dalam pesan itu, terlampir dua buah tautan (link) berita internet.

Hermawan membuka tautan pertama. Detik itu juga, matanya membelalak sempurna melihat judul artikel besar yang terpampang di sana: "Skandal Dinasti Wijaya: Kalea Azzahra, sang General Manager Ternyata Anak Haram Pembawa Aib!" Di bawah artikel itu, ribuan komentar pedas netizen sudah berjubel menghina keluarganya.

Komentar pertama tertulis: "Wah, parah banget! Kirain di keluarga Wijaya cuma ada dua putri cantik yang biasa dibawa ke acara pesta rekan bisnis besar itu. Ternyata ada satu putri lagi yang disembunyikan selama ini, eh ternyata anak haram hasil hubungan gelap! Memalukan banget!"

Komentar kedua berbunyi: "Keluarga terhormat yang katanya kaya raya ternyata menyembunyikan bangkai busuk di dalam rumahnya! Kasihan banget si Kalea itu, mukanya cantik tapi statusnya cuma darah kotor!"

Komentar ketiga tertulis: "Pantas saja selama ini dia nggak pernah dianggap dan nggak pernah diajak foto keluarga besar. Ternyata asal-usulnya cacat hukum! Benar-benar merusak nama baik silsilah Wijaya!"

Melihat rentetan kalimat hinaan itu, rahang Hermawan langsung mengeras kaku dengan urat dahi yang menegang kuat menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Dengan tangan yang sedikit gemetaran, Hermawan beralih membuka tautan kedua. Dan detik itu juga, seluruh pasokan darah di wajahnya serasa menyusut lenyap bagaikan kertas.

Tautan kedua itu berisi cuplikan video skandal Shinta yang sedang mabuk berat di dalam sebuah kelab malam privat. Di dalam video beresolusi tinggi itu, Shinta terlihat jelas sedang berciuman panas dengan seorang laki-laki tua bangka yang keriput, yang bener-bener jauh lebih cocok menjadi ayahnya daripada kekasihnya. Nggak berhenti sampai di situ, bagian akhir video juga menampilkan rekaman adegan panas Shinta di sebuah kamar hotel, bergonta-ganti pasangan dengan pria-pria kaya demi memuaskan gaya hidup hedonisnya. Di bawah video itu, ribuan komentar netizen jauh lebih brutal dan menjijikkan.

Komentar pertama: "Anjrit! Ini kan selebgram kecantikan Shinta Wijaya yang sok polos itu?! Ternyata di belakang kamera kelab kelakuannya liar banget kayak pelacur kelas atas!"

Komentar kedua: "Gila, itu cowok tuanya udah bau tanah banget! Lebih cocok jadi bapaknya atau kakeknya kali! Menjijikkan banget seleranya demi uang!"

Komentar ketiga: "Nggak nyangka ya, anak emas Papa Hermawan ternyata hobi bergonta-ganti pasangan di ranjang hotel! Rusak banget moralnya!"

Komentar keempat: "Keluarga Wijaya bener-bener dapet paket komplit aib minggu ini! Yang satu anak haram, yang satu lagi pelacur kelab malam! Hancur reputasi bisnis mereka!"

Komentar kelima: "Sok kegantengan bapaknya didik anak, ternyata anak kesayangannya sendiri hobi main lendir di luar rumah! Kasihan Mbak Fitri punya adek kayak begini!"

BAMMMM!!!

Hermawan Wijaya mendadak menggebrak meja makan kayu jati itu dengan hantaman yang luar biasa keras dan membabi buta, membuat piring-piring porselen berdenting kaku dan seluruh orang yang sedang sarapan pagi langsung terlonjak kaget setengah mati dengan wajah pucat ketakutan.

Sarah yang memegang cangkir tehnya sampai gemetaran langsung bertanya panik menatap suaminya. "Mas... Mas Hermawan, ada apa sih?! Kenapa tiba-tiba ngamuk dan gebrak meja keras banget begini pagi-pagi?! Bikin kaget orang rumah aja!"

Hermawan tidak menjawab pertanyaan istrinya sepeser pun. Sepasang mata tuanya berkilat memancarkan aura pembunuh yang mutlak laksana badai petir, menatap lurus menembus jiwa Shinta yang sedang ketakutan di ujung kursi. Hermawan bangkit dari duduknya dengan napas yang memburu naik-turun kesetanan. Dia melangkah lebar, lalu dengan gerakan tangan yang sangat kasar, Hermawan langsung menarik paksa bahu Shinta untuk berdiri, dan sebelum Shinta sempat bersuara—

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Tiga kali hantaman tamparan mentah yang luar biasa keras beruntun dari telapak tangan Hermawan mendarat telak di pipi kiri dan kanan Shinta, membuat sudut bibir anak emasnya itu kembali pecah bersimbah darah segar.

"Mas Hermawan!!! Stop!!! Jangan pukul anakku?!" Sarah berteriak histeris, langsung melompat dari kursinya memeluk pinggang suaminya sambil menangis memohon-mohon. "Ada apa sebenarnya, Mas?! Kenapa Shinta dipukul sekasar ini lagi?! Apa salah anak kita, Mas?!"

"Kau mau tahu apa salah anak kesayanganmu ini, Sarah?!" bentak Hermawan dengan suara bariton menggelegar yang memecah keheningan rumah. Dengan gerakan jari yang gemetar menahan geram, Hermawan langsung menekan tombol bagikan, mengirimkan kedua tautan link berita busuk itu ke nomor WhatsApp istrinya dan ketiga putrinya sekaligus. "Buka ponsel kalian sekarang dan liat kelakuan menjijikkan dari anak emas yang selalu kamu manja ini?!"

Sarah, Fitri, Shinta, dan Kalea serentak merogoh ponsel mereka dengan jantung yang berdegup kencang. Begitu layar mereka menampilkan cuplikan rekaman video adegan panas dan artikel anak haram itu, seluruh ruangan seketika membeku kaku sedingin es. Wajah Sarah memucat bagai mayat, Fitri tertegun kaku, sementara Kalea hanya bisa menarik napas panjang menahan sesak batinnya.

Shinta yang rahasia liarnya di kelab malam terbongkar total di depan publik, langsung menjatuhkan tubuh seksinya berlutut di atas lantai marmer. Dia mencengkeram erat kaki Hermawan, menangis meraung-raung memohon belas kasihan penuh kepalsuan gila. "Papa... Papa, Shinta mohon percayalah sama Shinta, Pa! Di dalam video bukan Shinta, Pa! Itu editan orang jahat yang mau ngejatuhin namaku sebagai influencer! Shinta dijebak, Pa!"

Fitri Amelia Wijaya yang melihat ketidakberdayaan adiknya langsung meledakkan sebuah kekehan sinis yang sangat dingin dan penuh rasa muak mendalam dari kursinya. Fitri menatap Shinta dengan pandangan mata yang meremehkan seutuhnya. "Hahaha! Bagaimana bisa di dalam video menjijikkan itu bukan kamu, Shinta?! Jelas-jelas dari sudut kamera mana pun mukamu kelihatan jelas banget lagi sangat menikmati ciuman panas sama tua bangka itu! Nggak usah berlagak sok suci dan bikin bualan palsu lagi deh!"

Fitri berdiri dari duduknya, menunjuk tepat ke wajah Shinta dengan air mata kemarahan yang kembali merembes. "Bahkan suamiku dulu... Mas Fandi yang berstatus tunanganku aja tega kamu ambil dan kamu tidurin di ranjangku selama tiga tahun, apalagi cowok-cowok tua bangka di kelab malam itu demi uang jajan lipstikmu! Kamu itu emang pelacur sejati, Shinta! Hahaha, rasain kamu karma sekarang!" Fitri tertawa sinis menertawakan kehancuran adiknya.

"Mbak Fitri!!! Tutup mulutmu ya! Kamu jangan—" Shinta baru saja mau berteriak marah membela egonya, namun kalimatnya langsung dipotong telak oleh bentakan murka Hermawan yang sudah berada di puncak kegilaan amarah batinnya.

"DIAM KAU, SHINTA!!! JANGAN BERANI MEMBANTAH LAGI SEBELUM SAYA MEMBUNUHMU DI SINI?!" bentak Hermawan menggelegar, wajah tuanya memerah padam dengan urat leher menegang kaku. Hermawan memutar kepalanya ke arah lorong dapur, berteriak kencang memanggil pelayan tuanya. "Bi Minah!!! Bi Minah!!! Cepat ke sini, AMBILKAN IKAT PINGGANG DAN CAMBUK KULIT SAYA DI DALAM RUANG KERJA SEKARANG JUGA?!"

Sarah yang mendengar perintah cambuk itu langsung menangis histeris, merosot berlutut di bawah kaki suaminya, memeluk erat lutut Hermawan dengan dialog yang menguras emosi batin. "Mas Hermawan, jangan, Mas! Aku mohon jangan cambuk Shinta! Shinta bisa mati terluka kalau dicambuk pakai kulit itu, Mas! Ampuni anak kita sekali aja, aku mohon, Mas... hiks... hiks..."

Namun, seolah telinga Hermawan sudah tuli seutuhnya oleh rasa malu sosial yang luar biasa besar, pria paruh baya itu sama sekali nggak memedulikan tangisan istrinya. Dengan sentakan kasar, Hermawan mendorong tubuh Sarah menjauh, lalu menarik paksa kerah baju Shinta dan mendorongnya hingga Shinta tersungkur meringkuk di tengah lantai ruang makan.

Hermawan ikut berlutut di hadapan Shinta, tangan kanannya mencengkeram sangat kuat rahang wajah Shinta hingga pipi adiknya kaku kesakitan. Hermawan menatap lurus mata Shinta dengan pandangan mata elang yang sangat kejam. "Kau... kau anak tidak tahu diri yang bener-bener udah bikin nama besar keluarga Wijaya hancur dan malu di depan semua orang kota ini! Saya bakal habisi kamu pagi ini?!" Shinta yang melihat wajah menyeramkan papanya langsung menangis meraung-raung ketakutan setengah mati, sekujur tubuhnya gemetaran hebat laksana diterpa badai es.

Tidak butuh waktu lama, Bi Minah melangkah masuk ke ruang makan dengan tangan yang gemetaran hebat membawa sebuah cambuk kulit panjang berwarna hitam milik Tuan-nya. Begitu cambuk itu berpindah tangan, Hermawan langsung mengayunkan cambuk tersebut dengan kekuatan penuh, menghantam kasar punggung dan lengan Shinta berulang kali tanpa belas kasihan sepeser pun.

CETARRR!!! CETARRR!!! CETARRR!!!

"AAWWHHH!!! PAPA SAKIT!!! AMPUN, PA!!! SHINTA MOHON AMPUN, HIKSS!!!" jerit Shinta meraung-raung histeris menahan perih yang luar biasa dahsyat akibat kulitnya yang mulai robek berdarah di atas lantai marmer.

Sarah yang menyaksikan anak emasnya disiksa seperti binatang langsung berteriak histeris kesetanan, berlari memeluk lengan Fitri mencoba mencari bantuan. "Fitri! Fitri sayang, tolong Mama, Nak! Tolong hentikan Papamu sebelum Shinta mati dicambuk begitu! Mama mohon, Fitri, dia adek kandungmu?!"

Fitri Amelia Wijaya dengan gerakan dingin langsung memalingkan wajah cantiknya ke arah jendela luar, menolak menatap wajah mamanya yang menangis ataupun melihat ke arah Shinta yang sedang meraung di lantai. Di dalam hatinya, pintu maaf Fitri udah tertutup rapat seutuhnya. "Maaf, Ma. Udah cukup selama bertahun-tahun ini aku menutup mata dengan seluruh kelakuan liar Shinta yang busuk di belakangku. Dia pantes dapet itu pagi ini," sahut Fitri ketus sedingin es.

Kalea Azzahra Putri yang sejak tadi berdiri diam menyudut menyaksikan adegan penyiksaan itu, mendadak merasakan dadanya sesak luar biasa. Melihat air mata Sarah yang menangis kejer memohon bantuan, ada sebersit rasa kasihan yang asing merayap di lubuk hati Kalea yang paling dalam. Tapi mau diapa... Sarah selama puluhan tahun ini selalu membencinya, melabelinya anak haram, dan membiarkannya dipukul.

Kalea menatap lurus ke arah cambukan Hermawan, dan dalam hitungan detik, memorinya mendadak terlempar kembali pada masa lalunya sendiri. Kalea teringat bagaimana dulu Hermawan juga melakukan tindakan kejam dicambuk berkali-kali pakai kulit itu di atas lantai marmer ini sampai punggung mungilnya berdarah, padahal saat itu dirinya sama sekali tidak pernah bersalah, murni cuma karena fitnah busuk dari Sarah dan Shinta. Kalea menutup mata birunya rapat-rapat, air mata kelelahan batin yang sejak tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya runtuh juga membasahi pipi mulusnya. Dia bener-bener nggak tega melihat manusia disiksa sedahsyat itu meskipun Shinta adalah ular yang kejam.

Sifat berani dan tangguhnya mendadak bangkit kembali. Kalea melangkah maju menerobos pembatas lobi, lalu dengan gerakan nekat yang mengejutkan semua orang, Kalea langsung memposisikan tubuh mungilnya melompat memeluk erat-erat punggung tegap Hermawan dari belakang, menahan pergerakan lengan ayahnya yang mau mengayunkan cambuk lagi.

"PAPA!!! STOP!!! JANGAN CAMBUK SHINTA LAGI, PA!!!" teriak Kalea dengan suara parau yang menyayat hati tepat di dekat pundak Hermawan. Kalea mendongak menantang mata tua ayahnya dengan binar air mata yang mengalir deras dari sepasang mata birunya. "Kalau Papa mau terus mencambuk Shinta sampai mati... maka Papa juga harus mencambuk dan menghabisi nyawaku, Pa! Adil, kan?! Karena namaku juga terpajang jelas di dalam berita skandal kotor itu pagi ini! Aku ini juga aib, aku ini anak haram keluarga Wijaya kan, Pa?! Ayo cambuk aku juga, Pa?!"

DEG!!!

Mendengar runtutan kalimat lantang penuh kepedihan batin bercampur kata 'anak haram' keluar dari mulut Kalea, Hermawan Wijaya seketika menghentikan ayunan cambuknya di udara. Tubuh tegapnya membeku kaku laksana patung batu. Napas pria paruh baya itu memburu naik-turun dengan sangat kencang menahan gejolak emosi yang tertahan di dalam dadanya. Hermawan menurunkan cambuknya perlahan, lalu memutar tubuh jangkungnya menghadap seutuhnya ke arah Kalea, menatap lurus ke dalam mata biru jernih putrinya yang sedang basah oleh air mata ketulusan.

Kalea menatap balik mata ayahnya, bertanya dengan nada suara yang bergetar hebat dipenuhi kekecewaan yang mendalam. "Kenapa Papa diam?! Kenapa Papa nggak cambuk aku juga pagi ini?! Aku kan darah kotor pembawa sial di rumah ini, Pa?! Kenapa cuma Shinta yang Papa hukum?!"

Hermawan menatap lekat mata biru Kalea yang begitu mirip dengan wanita masa lalunya. Rasa penyesalan yang teramat sangat mendalam mendadak kembali mencengkeram erat ulu hati tua Hermawan. Pria paruh baya itu terdiam membisu seribu bahasa, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan tajam putrinya. Setelah menahan keheningan yang menyiksa selama beberapa detik, Hermawan melemparkan cambuk kulitnya ke atas lantai marmer dengan sentakan kaku, lalu memalingkan wajahnya melemparkan tatapan mata elangnya yang sangat tajam dan dingin ke arah Shinta dan Sarah yang masih gemetaran di lantai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Hermawan berbalik tubuh melangkah lebar keluar meninggalkan area ruang makan menuju ruang kerjanya pribadi, membanting pintu kayu ek dengan keras. BAM!

Kalea mengembuskan napas panjang penuh kelegaan yang hambar dari lubuk dadanya, mengusap sisa air matanya kasar. Di seberang meja, Fitri yang sejak tadi diam sama sekali nggak memedulikan tangisan Shinta yang masih meraung kesakitan memegangi punggungnya. Fitri dengan gerakan dingin langsung menyambar tas jinjing dokternya di atas kursi, bersiap melangkah pergi menuju rumah sakit untuk dinas pagi. Namun sebelum melangkah melewati pintu, Fitri sempat menghentikan langkah kakinya sebentar menatap ke arah Kalea. Antara Fitri dan Kalea saat ini masih sama-sama menjarak dalam keheningan yang kaku. Terutama Fitri, ego dan rasa gengsinya sebagai seorang kakak sulung yang sukses membuat lidahnya masih membeku kaku buat mengucapkan kata maaf yang tulus kepada adik bermata birunya tersebut atas tamparan di rumah sakit kemarin. Fitri cuma menatap Kalea lekat, menghela napas pendek penuh arti, lalu melangkah lebar keluar dari rumah.

Kalea menatap kepergian Fitri dengan binar mata yang rumit, sebenarnya dia ingin membantu mencairkan suasana canggung itu, namun dia sadar posisinya di rumah ini masih sangat sensitif. Begitu dia menengok ke bawah, dia melihat Sarah sedang memapah perlahan tubuh seksi Shinta yang masih menangis parau menaiki anak tangga menuju kamar atas dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa benci yang mendalam kepada Kalea, menganggap pelukan Kalea tadi cuma sandiwara sok pahlawan. Kalea memandangi kepergian Sarah dan Shinta dengan helauan napas pasrah.

Puk...

Sebuah sentuhan tangan kanan yang sangat lembut dan hangat mendadak mendarat di bahu mungil Kalea. Kalea menoleh, melihat sosok Bi Minah sudah berdiri di sampingnya dengan seulas senyuman manis yang sangat lembut penuh rasa sayang seorang ibu kandung.

"Non Kalea sayang..." panggil Bi Minah lembut, suaranya menenangkan batin Kalea yang lelah. "Udah ya, Non, nggak usah dipikirin lagi keributan keluarga tadi pagi. Non Kalea sekarang mending cepetan berangkat ke hotel tempat kerja Non sekarang, ya. Ini udah jam setengah delapan lewat, Non, nanti Non bisa telat rapat koordinasi di sana."

Kalea menatap ketulusan di mata pelayan tuanya, lalu tanpa membuang waktu sepeser pun, Kalea langsung melompat maju memeluk erat-erat tubuh paruh baya Bi Minah, memejamkan sepasang mata birunya rapat-rapat menikmati kedamaian pelukan hangat tersebut di tengah hancurnya rumah Wijaya.

Bi Minah tersenyum tulus, tangan tuanya bergerak lembut mengelus-elus bahu mungil Kalea yang terbalut blazer hijau botol dengan gerakan penuh kasih sayang yang mendalam. Pelayan tua itu melepaskan pelukannya perlahan, lalu menggunakan jemari tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi cantik Kalea dengan kelembutan yang luar biasa manis. "Anak pinter, anak kuatnya Bibi nggak boleh nangis lagi ya. Sekarang berangkat ya, Non."

"Iya, Bibi sayang... aku jalan sekarang ya. Assalamualaikum," pamit Kalea dengan seulas senyuman manisnya yang kembali merekah indah di bibir ranumnya.

"Waalaikumsalam, Non. Hati-hati di jalan ya," sahut Bi Minah melambaikan tangannya lembut. Pelayan tua itu berdiri mematung di depan pintu dapur, memandangi arah kepergian langkah tegap Kalea menembus pintu pagar samping dengan seulas senyuman lembut yang sangat tulus, seraya merapikan celemeknya dan memanjatkan doa khusyuk di dalam hatinya agar bidadari bermata biru asuhannya itu selalu dilindungi Tuhan dari segala kelicikan dunia luar, sudah menganggap Kalea seutuhnya sebagai anak kandungnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!