NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 34 : Sisa-sisa fajar

Angin dingin di Lembah Kesunyian perlahan mulai mereda, namun getaran di tangan Celestine belum juga hilang. Ia menatap zirah perak George yang kini terbungkus es tebal, membeku di atas tanah lembap. Di dalamnya, musuh terbesar mereka terperangkap dalam keheningan abadi.

"Apa kau benar-benar yakin dia tidak bisa bicara lagi dari dalam sana, George?" tanya Celestine. Suaranya masih terdengar rapuh, namun ada ketegasan yang mulai kembali.

"Es abadiku bukan sekadar air yang membeku, Celestine. Itu adalah segel mana. Dia tidak akan bisa mengirim sinyal sekecil apa pun," jawab George sambil berusaha membantu Celestine berdiri.

"Lepaskan tanganku sebentar, George. Aku ingin mencoba berdiri sendiri," ucap Celestine pelan. Ia menarik napas panjang, merasakan sensasi perih yang menjalar di lengannya. 'Sakit ini nyata. Ini bukan simulasi Vektor,' batinnya.

"Hati-hati, Celestine. Kau baru saja memaksakan seluruh energimu," Julian memperingatkan dari jarak beberapa langkah.

"Aku tahu, Julian. Tapi aku tidak bisa terus-menerus bersandar pada kalian. Rakyat di Valley Barat sedang terbangun sekarang, dan mereka butuh melihat putri mereka berdiri tegak, bukan dipapah seperti orang sakit," kata Celestine sambil memaksakan senyum tipis.

Theodore mendekat dengan raut wajah khawatir. "Tapi bagaimana dengan luka di jalur manamu? Kalau kau memaksakan diri tampil di depan publik, kau bisa pingsan di tengah pidato."

"Lalu apa rencanamu, Theo? Menyembunyikan aku di dalam kereta tertutup sementara mereka ketakutan mencari jawaban?" tanya Celestine.

"Bukan begitu, maksudku—"

"Aku akan menggunakan sihir dasar untuk menyamarkan pucat di wajahku. Itu saja. Sisanya adalah urusan keberanian," potong Celestine dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Kau keras kepala sekali, persis seperti yang dikatakan catatan sejarah tentang 'Cahaya Valley'," gumam Julian sambil menggelengkan kepala.

"Catatan sejarah yang mana, Julian? Yang bilang kalau aku ini produk teknologi? Atau yang bilang kalau aku hanyalah bidak untuk menyelamatkan kerajaan?" tanya Celestine. Matanya menatap tajam ke arah Julian.

Julian tertegun sejenak. "Celestine, soal itu... kami tidak bermaksud meragukan kemanusiaanmu."

"Aku tidak butuh validasi dari kertas-kertas tua itu lagi, Julian. Tadi, saat aku berada di dalam jaringan Vektor, aku merasakan ribuan ketakutan mereka. Aku merasakan tangisan anak-anak yang tidak bisa bangun. Di saat itulah aku sadar," ucap Celestine. Ia menatap langit yang mulai membiru.

"Sadar akan apa?" tanya George lembut.

"Bahwa tidak peduli dari mana asalku—entah aku tercipta dari cahaya suci atau sirkuit kuno—rasa sakit yang aku rasakan saat melihat mereka menderita adalah nyata. Cinta yang aku rasakan padamu, George, itu bukan hasil kalkulasi. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh Vektor, sesempurna apa pun logikanya," jelas Celestine.

"Dan itu yang membuatmu menang hari ini," sahut George.

"Belum, George. Kita belum menang sepenuhnya sebelum semua orang kembali ke rumah dengan selamat. Theodore, bisakah kau hubungi pasukan medis di perbatasan? Aku ingin mereka menyiapkan penawar untuk sisa-sisa kabut kehampaan," perintah Celestine.

"Siap, Putri. Aku akan segera menggunakan sinyal suar," jawab Theodore sambil bergegas mengambil perlengkapannya.

"Julian, kau ikut dengannya. Pastikan tidak ada sisa-sisa robot Vektor yang masih aktif di sekitar sini. Aku dan George akan menyusul setelah aku menenangkan diri sejenak," lanjut Celestine.

"Kau yakin ingin ditinggal berdua saja di sini?" tanya Julian ragu.

"Percayalah padaku. Aku butuh udara segar tanpa gangguan teknis kalian," canda Celestine sedikit, mencoba mencairkan suasana.

Setelah Julian dan Theodore menjauh, Celestine terduduk kembali di sebuah batang pohon tumbang. Ia menatap tangannya yang masih bergetar hebat.

"Kau berbohong pada mereka, kan?" tanya George pelan sambil berjongkok di depannya.

"Berbohong soal apa?" Celestine mencoba mengalihkan pandangannya.

"Soal kau baik-baik saja. Aku bisa merasakan suhu tubuhmu menurun drastis sejak kau menggunakan 'Aureola' tadi," kata George.

"Aku hanya... aku hanya sedikit kedinginan, George. Ironis, bukan? Putri Cahaya merasa kedinginan di bawah sinar matahari," bisik Celestine.

"Kemarilah," George menarik Celestine ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri.

"George, apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti sejarah itu terungkap ke publik? Jika mereka tahu bahwa putri mereka hanyalah 'ciptaan'?" tanya Celestine di balik dada George.

"Mereka akan melihat seorang gadis yang mempertaruhkan nyawanya untuk menutup pintu air bendungan. Mereka akan melihat seorang pemimpin yang berani masuk ke dalam kegelapan demi menyelamatkan jiwa mereka. Rakyat tidak peduli pada asal-usul, Celestine. Mereka peduli pada siapa yang ada di sana saat mereka hampir mati," jawab George mantap.

"Aku harap kau benar. Aku hanya tidak ingin mereka merasa tertipu," kata Celestine.

"Kau bukan penipu. Kau adalah harapan. Dan harapan tidak butuh silsilah keluarga yang sempurna," ucap George sambil mencium puncak kepala Celestine.

'Mungkin dia benar. Aku harus berhenti mempertanyakan keberadaanku dan mulai menjalani takdir yang aku pilih sendiri,' batin Celestine.

"George, bantu aku berdiri lagi. Kita harus segera sampai ke perbatasan sebelum matahari benar-benar tinggi," ujar Celestine.

"Kau yakin sudah kuat?" tanya George.

"Aku harus kuat. Masih banyak yang harus aku sampaikan kepada mereka. Dan George?" Celestine menahan lengan pria itu.

"Ya?"

"Setelah semua ini benar-benar berakhir... maksudku, setelah Valley benar-benar pulih, berjanjilah padaku satu hal," pinta Celestine.

"Apa pun itu."

"Jangan pernah biarkan aku merasa sendirian lagi. Bahkan jika suatu saat nanti cahayaku meredup dan aku hanyalah gadis biasa tanpa kekuatan apa pun," ucap Celestine dengan tatapan yang sangat dalam.

George tersenyum, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Kau tidak akan pernah sendirian. Bahkan jika matahari berhenti bersinar, aku akan menjadi es yang memantulkan cahaya terakhirmu agar dunia tetap bisa melihatmu."

"Itu sangat puitis untuk seorang jenderal yang biasanya hanya tahu cara menebas musuh," goda Celestine sambil tertawa kecil.

"Yah, berteman dengan Julian terlalu lama memberikan pengaruh buruk padaku," jawab George sambil ikut tertawa.

Mereka pun berjalan perlahan meninggalkan lembah itu. Celestine melangkah dengan kepala tegak, meskipun setiap langkahnya terasa berat. Ia tahu perjalanan panjang masih menantinya, namun kini ia tidak lagi takut pada bayang-bayang masa lalu atau kegelapan masa depan.

"Lihat itu, George. Rakyat sudah mulai berkumpul di gerbang perbatasan," tunjuk Celestine ke arah kejauhan.

"Mereka menunggumu, Putri Cahaya," sahut George.

"Bukan hanya aku, George. Mereka menunggu kita semua," koreksi Celestine.

Dan di bawah sinar fajar yang semakin terang, Celestine bersiap untuk menyambut rakyatnya, bukan sebagai seorang putri yang sempurna, melainkan sebagai seorang pejuang yang telah menemukan jiwanya sendiri di tengah badai.

......................

Suara ledakan di kejauhan masih terngiang di telinga Celestine, namun keheningan yang menyusul setelahnya terasa jauh lebih menakutkan. Di tengah reruntuhan laboratorium bawah tanah yang baru saja hancur, Celestine mencoba mengatur napasnya. Debu logam dan aroma kabel terbakar memenuhi udara.

"George? Theodore? Julian?" panggil Celestine. Suaranya bergema di antara dinding beton yang retak.

"Aku di sini, Celestine. Tepat di sebelahmu," suara George muncul dari balik tumpukan puing. Ia merangkak keluar, tampak kotor namun tetap siaga. "Kau tidak terluka, kan?"

"Hanya beberapa goresan. Tapi kepalaku terasa seperti sedang dihantam ribuan suara sekaligus," jawab Celestine sambil memijat pelipisnya. Ia menatap telapak tangannya yang masih memercikkan sisa-sisa listrik emas. "Rasanya aneh... seperti ada bagian dari jaringan Vektor yang masih tersangkut di dalam pikiranku."

"Itu hanya efek samping dari resonansi jiwa tadi, Putri. Jangan biarkan kekacauan aneh itu memengaruhi kesadaranmu," ujar Julian yang muncul dari lorong sebelah kiri sambil membantu Theodore berjalan.

Celestine menatap Julian dengan tajam. "Bagaimana aku bisa yakin, Julian? Vektor bilang aku adalah eksperimen yang bahkan gagal. Bagaimana jika rasa sakit ini memang bagian dari masa lalu ku? Bagaimana jika aku sedang... ingin mati?"

"Kau tidak mati, Celestine! Berhenti bicara seperti itu!" potong George dengan nada tegas.

"Tapi kau lihat sendiri tadi, George! Aku bisa menyatu dengan sirkuit itu! Manusia biasa tidak bisa melakukan hal seperti itu!" teriak Celestine. Matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Tadi, saat aku berada di dalam 'sana', aku melihat memori yang bukan milikku. Aku melihat laboratorium ini saat masih utuh, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Aku melihat seorang bayi di dalam tabung yang dialiri cahaya matahari buatan. Bayi itu... itu aku, kan?"

Theodore dan Julian saling berpandangan. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka berempat.

"Katakan padaku! Theodore, kau yang paling tahu soal sihir kuno ini! Apakah aku ini manusia atau hanya sekadar eksperimen gagal yang diberi wajah cantik?" tuntut Celestine. Suaranya bergetar hebat.

Theodore menghela napas panjang, ia membersihkan kacamatanya yang retak. "Celestine, sejarah Kerajaan Valley memang lebih gelap dari yang diajarkan di akademi. Proyek 'Aureola' memang awalnya adalah upaya untuk menciptakan sumber energi abadi menggunakan teknologi nuklir dan cahaya. Tapi..."

"Tapi apa?" desak Celestine.

"Tapi mereka gagal menciptakan energi murni tanpa wadah biologis. Jadi, mereka menggunakan... rekayasa genetika. Kau lahir sebagai manusia, Celestine. Kau memiliki detak jantung, kau memiliki darah, dan kau memiliki jiwa. Hanya saja, sel-selmu dirancang untuk mampu menampung energi matahari dalam skala besar," jelas Theodore dengan suara rendah.

Celestine tertawa getir. "Darah daging itu istilah yang lebih tepat, bukan?"

"Bukan!" George melangkah maju dan memegang kedua bahu Celestine. "Dengar aku. Aku tidak peduli apakah selmu dirancang di laboratorium atau di rahim seorang ratu. Yang aku tahu, saat kau menangis karena melihat rakyatmu kelaparan, itu bukan program. Saat kau mempertaruhkan nyawamu di bendungan tadi, itu bukan perintah kode. Itu adalah pilihanmu!"

"Tapi bagaimana jika Vektor benar? Bagaimana jika pilihanku sebenarnya adalah hasil dari kegagalan mereka?" tanya Celestine. Ia menatap George dengan tatapan memohon, mencari kepastian yang ia sendiri tidak miliki.

"Hati yang bersih tidak mengenal pengorbanan, Celestine. Mereka selalu memilih jalan yang paling efisien. Dan menyelamatkan ribuan orang dengan cara menghancurkan jalur mana mu sendiri adalah hal yang paling tidak efisien di dunia ini. Itu adalah tindakan gila yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki cinta," balas George.

Celestine terdiam. Ia merasakan kehangatan tangan George meresap melalui zirah peraknya. 'Cinta... apakah itu benar-benar cukup untuk menghapus asal-usulku yang buatan ini?' batinnya.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan zirahmu yang membeku ini?" tanya Celestine sambil menunjuk ke arah bongkahan es di sudut ruangan.

"Kita akan membawanya ke kuil terdalam di ibu kota. Kita akan menyegelnya di bawah pengawasan para pendeta cahaya," jawab Julian.

"Tidak," sela Celestine. "Itu terlalu berisiko. Jika Vektor berhasil menemukan celah di dalam segel es George, dia akan meretas sistem kuil."

"Lalu apa saranmu, Putri?" tanya Theodore.

"Aku akan membawanya bersamaku. Aku akan menjadikannya pengingat," ucap Celestine.

"Kau gila? Kau ingin membawa musuhmu sendiri ke dalam kamarmu?" George tampak sangat tidak setuju.

"Bukan ke kamarku, George. Tapi ke dalam pengawasanku. Aku adalah satu-satunya orang yang bisa merasakan frekuensinya jika dia mencoba bangkit kembali. Jika aku membiarkannya di kuil, kita akan buta terhadap pergerakannya," jelas Celestine.

"Tapi itu akan terus menyiksamu, Celestine. Kau akan selalu mendengar bisikannya," ujar George cemas.

"Biarkan saja dia berbisik. Aku ingin dia melihat dunia yang dia anggap gagal ini tumbuh dan pulih. Aku ingin dia melihat bahwa 'kesalahan logika' yang dia benci—seperti kasih sayang dan persahabatan—adalah kekuatan yang justru membangun kembali apa yang dia hancurkan," kata Celestine dengan senyum penuh tekad.

"Kau benar-benar luar biasa, Putri. Terkadang aku lupa kalau kau masih sangat muda," gumam Julian sambil tersenyum tipis.

"Usia hanyalah angka di dalam database, kan?" canda Celestine, meskipun nadanya masih sedikit getir.

"Ayo, kita harus segera keluar dari reruntuhan ini sebelum struktur atas runtuh sepenuhnya," ajak Theodore.

Saat mereka mulai berjalan keluar, Celestine sempat menoleh ke arah tabung cairan neon yang kini pecah dan kosong.

Tempat yang mungkin adalah 'tempat lahirnya'. Ia mengangkat tangannya, melepaskan sisa-sisa cahaya emas yang paling murni untuk menyelimuti tempat itu.

'Selamat tinggal, masa lalu yang diprogram. Selamat datang, masa depan yang berantakan,' batin Celestine.

"George, setelah ini, aku ingin makan roti gandum hangat di pasar kota. Tanpa pengawalan, tanpa jubah putri. Hanya kita berdua," ucap Celestine tiba-tiba saat mereka mencapai permukaan tanah.

George tertegun sejenak, lalu tertawa kecil. "Apapun yang kau inginkan, Putri. Tapi kau harus mandi dulu, wajahmu penuh dengan oli mesin."

"Hei! Ini adalah debu kemenangan, tahu!" protes Celestine sambil tertawa, suara tawa yang terdengar jauh lebih manusiawi daripada suara mesin mana pun di dunia.

Matahari sore menyambut mereka di luar tebing, memberikan warna jingga yang indah pada hamparan Lembah Kesunyian yang kini benar-benar telah terbebas dari jeratan Vektor.

Celestine menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-parunya.

"Dunia ini sangat indah, bukan?" tanya Celestine.

"Lebih indah karena kau ada di dalamnya," jawab George pelan.

Celestine tersenyum, kali ini matanya benar-benar bersinar, bukan karena energi matahari, melainkan karena kebahagiaan yang tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!