“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 32
Pintu utama terbuka setengah, memberi celah sedikit sehingga netra penuh penasaran itu dapat menangkap sosok wanita berpenampilan nyentrik berdiri di depan pintu.
Rambut pirang berwarna menyala, mengenakan pakaian serba hitam, namun kaus kaki berwarna kuning terang. Kedua tangan menenteng paper bag cukup besar.
"Hai, Anda pasti Nyonya Alyra, 'kan?" tanyanya yang langsung tahu nama penghuni rumah.
Alyra menyipitkan mata, menatap curiga. 'Siapa anomali unik ini?'
"Pak Erlan yang memintaku datang," ungkapnya seraya tersenyum lebar.
Bola mata Alyra berubah membulat, segera ia buka lebar-lebar pintu utama hunian. "Oh, kamu pasti Tamia, ya?"
"Tamia?" sesaat gadis itu mengatupkan bibir menahan tawa, namun akhirnya lepas juga. "Hahaha!"
Alyra menatap bingung. "Bukan, ya?"
"Pasti Pak Erlan yang memberitahu namaku, 'kan?" perempuan pemilik nama Tamia itu masih tertawa, tetapi segera terdiam, bibir mengerucut samar.
"Kalau bukan Tamia ... lalu siapa?"
Simon yang sedari tadi hanya menyimak obrolan kedua wanita dari pos satpam, akhirnya berdiri, berjalan mendekati istri sang tuan.
"Ini Mbak Hilmia, Nyonya. Bukan warga asli sini, tapi sudah cukup lama tinggal di daerah sini, yang diminta pak Bos untuk menemani Nyonya muda selama beberapa hari," ungkapnya akhirnya.
"Hilmia?" Alyra menatap memastikan.
"Iya, Nyonya ...." perempuan yang kerap disapa Mia itu mengangkat penuh ujung bibir, senyumnya terlihat begitu manis.
"Hilmia ... Kenapa bisa berubah jadi Tamia?" tanyanya terheran.
"Suka hati Pak Bos lah mau memanggil gimana, saya juga sudah terbiasa dengan panggilan Tamia," beritahunya sambil tertawa.
Dibalas tawa singkat oleh sang sopir yang tinggi badannya menjulang di atas rata-rata penduduk lokal.
"Begitu, ya?" Alyra tersenyum kaku, masih terlihat sedikit canggung. "Kalau gitu ... Boleh saya panggil Mia?"
"Tentu saja boleh," sahut Hilmia. "Di perkampungan begini agak belibet kalau panggil nyonya, apa saya juga boleh memanggil 'mbak'?"
Alyra mengangguk tanpa ragu. "Mbak saja, biar lebih enak didengar juga. Sebenarnya ... Saya juga nggak terbiasa dipanggil nyonya, hehe." ia terkekeh pelan.
Obrolan mengalir begitu saja antara dua insan yang baru saja saling mengenal. Alyra mempersilakan gadis itu untuk masuk ke hunian.
Setelah bercengkrama cukup lama, Alyra dan Hilmia langsung terlihat akrab. Keduanya pun bersiap hendak keluar, mengunjungi sang nenek yang bekerja sebagai juru masak di sebuah yayasan Rumah Rehabilitasi Jiwa tidak jauh dari hunian mereka.
Simon mempersiapkan mobil, usai kedua wanita masuk dan duduk di bangku tengah, kendaraan type mercy itu melaju dengan stabil.
.
.
.
"Oma!" panggilnya sedikit mengeras tatkala dirinya telah tiba di halaman luas rumah rehabilitasi.
Sang Oma tengah berbincang dengan beberapa perawat, kebetulan sudah melewati jam makan siang, tugas di dapur pun sudah sedikit santai.
"Alyra?" wanita baya berambut putih seluruhnya yang digelung rapi, kacamata berlensa tebal bertengger di hidung yang tak begitu mancung.
Oma Widi beranjak dari kursi, merentangkan tangan, menyambut hangat kedatangan cucu kesayangan.
Bruk!
Suara dekapan penuh rindu seolah menggema di pelataran gedung besar berlantai dua. Alyra memeluk erat tubuh kurus namun masih tetap kuat, dibalas dengan belaian lembut tangan berkulit keriput pada pucuk kepala cucunya.
"Oma, Alyra rindu," lirihnya, buliran bening mulai berjatuhan tanpa seizinnya.
Sang Oma menarik napas panjang, dapat ia rasakan, betapa berat beban yang ditopang oleh pundak kecil cucunya. Dari suara parau, isak tangis tersedu, Oma Widi sudah mengerti, sang cucu sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Sayangku? Cucu Oma yang cantik, yang baik, yang kuat. Cerita ke Oma." ia usap lembut pundak tertutup jaket kedodoran, Alyra pakai milik Erlan.
Alyra melerai pelukan, mengusap pipi bersimbah air mata, lalu menarik paksa ujung bibir, menampilkan senyum tipis.
"Nggak apa-apa, Oma. Alyra cuma kangen aja, sampai rasanya kepengen nangis, akhirnya bisa peluk Oma." ia menggeleng penuh dusta.
"Bener? Nggak bohong?" Oma Widi menelisik wajah sendu cucunya.
Namun hanya mendapati sorot berkaca-kaca, iris pekat penuh gelisah.
"Iya, Oma." Alyra mengangguk meyakinkan.
"Ya sudah." Sang Oma mengalihkan pandangan, seolah mencari seseorang. "Di mana suamimu? Dia nggak ikut?"
"Dia lagi ada urusan mendesak, pekerjaannya nggak bisa ditinggal. Lusa baru kembali, dia bilang mau datang ke sini untuk bertemu Oma," jelasnya apa adanya.
Oma Widi manggut-manggut seolah paham.
Akibat usia yang sudah mulai menua, sang Oma tidak bisa hadir dalam acara akad Alyra di kota. Selain mabuk perjalanan jauh, Oma Widi sudah tidak sanggup duduk di kendaraan dalam waktu berjam-jam lamanya.
Sampai hari ini, dirinya hanya bisa melihat wajah cucu menantu dalam bingkai gambar maupun video yang pernah Alyra bagikan melalui aplikasi chat hijau.
"Oh, iya. Dia Mia, yang nemenin Alyra di penginapan." Ia bergeser sedikit, lalu memperkenalkan sosok yang datang bersama dengannya.
"Halo, Oma. Saya Mia." Gadis itu tersenyum hangat, mengulurkan tangan dengan hormat.
Lalu disambut ramah oleh Oma Widi.
Suasana penuh haru dan rindu beradu dalam pertemuan hangat, senyum lembut, dan obrolan penuh tawa. Oma Widi membawa dua wanita untuk masuk, melihat-lihat tempat kerjanya, tentu saja sudah atas seizin pemilik yayasan.
Wanita baya itu sudah berpuluh tahun bekerja di sana, sehingga mendapat hak istimewa, berbeda dengan staf lainnya.
.
.
.
Sementara di tempat lain, malam mulai menyelimuti kota, Erlan baru saja tiba di hunian keluarga Pradana. Langkahnya terangkat letih, helaan napas berat mengudara.
"Erlan. Papa mau bicara." suara berat khas seorang pimpinan menghentikan langkah yang sudah menginjak undakan tangga kedua.
Pemuda berwajah muram itu menoleh, menatap lelah sang ayah.
"Tentang apa?" tanyanya singkat.
"Kau mengunjungi yayasan rumah rehabilitasi Atmaja Group?" Alis tebal itu mengerut tajam, nada bicara Dirham menekan.
Erlan menghembuskan napas pelan. "Benar," sahutnya tidak berdusta.
"Kau melupakan kesepakatan kita, Erlando Pradana?" Saat seorang Dirham telah menyebut nama lengkap putranya, sudah dipastikan dirinya tengah dilanda kecewa atau murka.
"Tujuanku untuk mencari Alyra, bukan untuk menemui Bu Amalia," sanggahnya, memang begitu kenyataannya. Selain mencari keberadaan istrinya, ia tak memiliki tujuan lain. "Aku sama sekali tak ingkar janji. Apalagi melupakan kesepakatan besar itu."
"Bohong! Papa sama sekali tak mempercayai ucapanmu. Untuk apa istrimu datang ke sana? Kau sudah terbuka dengannya, menceritakan kisah dan asal-usulmu padanya?" Tatapan setajam ujung mata pisau membidik netra berkaca-kaca. Dirham mengepalkan kedua tangan.
"Untuk apa aku menceritakan asal-usul memalukan itu? Nggak ada gunanya," gumam Erlan pelan.
"Bila Papa tak percaya, bisa tanyakan pada orang suruhan yang terus membuntutiku. Bukankah Papa lebih percaya dengannya, daripada ucapan putramu sendiri." Ia tatap berani netra memerah, pupil yang membesar karena amarah.
Dirham meneguk ludah kasar, sorot matanya perlahan meredup, kepalan tangan mengendur. "Jangan sekali-kali kau ungkap apalagi bicara terus terang soal Amalia di hadapan Alyra. Kita tak tahu seberapa bisa wanita itu dipercaya, ingat ucapan Papa!"
Usai memperingati keras putra keduanya, Dirham berbalik pergi, meninggalkan sosok berwajah rupawan, namun sorot matanya gelap, seakan menyimpan banyak luka yang tak bisa terungkap.
"Mau sampai kapan rahasia busuk itu akan disimpan?"
*
*
Bersambung.