Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Rekonstruksi Nurani
Sirine polisi dari kesatuan yang berbeda saling beradu di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Di satu sisi, unit taktis yang masih setia pada instruksi Menteri Hukum berusaha merangsek masuk, sementara di sisi lain, tim khusus bentukan Jaksa Hendra melakukan blokade untuk melindungi Arkan dan saksi-saksi kunci. Di tengah kekacauan itu, Arkan Xavier berdiri tegak di balkon lantai dua, mencengkeram kerah baju Julian Baskara yang sudah tak berdaya.
"Lepaskan dia, Arkan! Jangan biarkan dirimu menjadi pembunuh lagi!" teriak Aisyah dari bawah, suaranya parau setelah berhasil menjinakkan pemicu bom terakhir di gudang asrama.
Arkan menatap mata Julian yang penuh ketakutan. Amarah yang selama ini ia tekan seolah ingin meledak. Namun, ia melihat Bimo di kejauhan, yang sedang mengawal anak-anak panti menuju ambulans. Ia melihat masa depan yang sedang ia bangun, bukan masa lalu yang sedang ia hancurkan.
Dengan satu sentakan kuat, Arkan tidak melempar Julian ke bawah, melainkan menyeretnya masuk dan membantingnya ke lantai beton di hadapan Jaksa Hendra yang baru saja merangsek naik.
"Dia milik hukum sekarang, Pak Jaksa," ucap Arkan, napasnya memburu. "Bawa dia sebelum aku berubah pikiran."
Pasca-insiden di panti, Jakarta berada dalam kondisi darurat politik. Rekaman suap Sang Menteri yang disebarkan Bimo menjadi viral nasional, memicu demonstrasi besar-besaran di depan kantor kementerian. Arkan dan Aisyah tidak lagi menjadi buronan; mereka kini dianggap sebagai whistleblower yang mempertaruhkan nyawa untuk membongkar borok negara.
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Panti asuhan mereka rusak berat, dan izin praktek sementara Aisyah dibekukan untuk keperluan investigasi medis atas "operasi darurat" di gubuk kumuh tempo hari.
Seminggu kemudian, Arkan kembali ke kampus UI, namun bukan untuk kuliah. Ia dipanggil menghadap Dewan Etik Universitas. Di sana, Profesor Darmono duduk bersama jajaran dekanat lainnya. Di barisan kursi pengunjung, Aisyah duduk memberikan dukungan moral, didampingi oleh Bimo yang kini sudah pulih sepenuhnya.
"Saudara Arkan Xavier," Profesor Darmono memulai, suaranya tidak lagi dingin, namun tetap formal. "Tindakan Anda mencuri dokumen negara adalah pelanggaran hukum. Namun, fakta bahwa dokumen tersebut membongkar kejahatan luar biasa di tingkat kementerian menciptakan dilema etis bagi kami. Ditambah lagi, kesaksian Saudara Bimo dan laporan Jaksa Hendra mengenai aksi penyelamatan nyawa di panti asuhan."
Arkan berdiri di podium. "Saya tidak meminta pengampunan atas pencurian itu, Profesor. Saya melakukannya karena sistem yang seharusnya melindungi saya justru menjadi predator. Sebagai calon dokter, saya belajar bahwa terkadang kita harus melakukan sayatan yang menyakitkan untuk mengeluarkan tumor yang mematikan."
Bimo tiba-tiba berdiri. "Jika Arkan dihukum, maka sistem pendidikan kita telah gagal menghargai keberanian. Dia menyelamatkan panti yang terbakar saat polisi hanya berdiri menonton perintah menteri yang korup. Dia adalah dokter sejati, bahkan sebelum dia memegang ijazah."
Setelah perdebatan panjang selama tiga jam, keputusan dijatuhkan. Arkan tidak dikeluarkan. Status kemahasiswaannya dipertahankan, namun ia dijatuhi sanksi skorsing satu semester dan kewajiban melakukan pengabdian masyarakat di daerah konflik kesehatan.
Hukuman itu justru menjadi berkah tersembunyi. Jaksa Hendra mengatur agar Arkan dan Aisyah dikirim ke wilayah perbatasan di Kalimantan Utara, tempat di mana sisa-sisa distribusi obat ilegal B-Pharm masih menghantui warga lokal.
"Ini bukan sekadar pengabdian masyarakat, Arkan," bisik Hendra saat melepas mereka di bandara militer. "Julian mungkin di penjara, tapi kakaknya, Adrian Baskara, dikabarkan telah melarikan diri ke sana. Dia mencoba membangun laboratorium baru di tengah hutan. Jika kau menemukan lab itu, kau tidak hanya menyelamatkan warga, tapi kau mematikan jantung Proyek Chimera untuk selamanya."
Tiba di desa terpencil bernama Desa Long Nawang, Arkan dan Aisyah disambut oleh kenyataan pahit. Banyak pemuda desa yang mendadak menjadi agresif dan memiliki kekuatan fisik yang tidak wajar—gejala klasik penggunaan stimulan Neuro-Strychnine.
Arkan bekerja sebagai tenaga medis lapangan, sementara Aisyah mengelola puskesmas darurat. Di sana, Arkan kembali menggunakan kemampuan 'pelacakan' yang ia pelajari dari ayahnya. Ia memperhatikan bahwa setiap malam jumat, sebuah truk logistik tak bertanda masuk ke arah hutan lindung yang seharusnya tak berpenghuni.
Suatu malam, Arkan dan Aisyah mengikuti jejak truk tersebut. Mereka menemukan sebuah fasilitas modern yang disamarkan dengan vegetasi hutan lebat. Di dalamnya, mereka melihat pemandangan yang mengerikan: manusia-manusia malang yang dijadikan subjek percobaan.
"Arkan... lihat itu," Aisyah menunjuk ke arah ruang kontrol kaca.
Di sana berdiri Adrian Baskara, mengenakan jas lab putih yang ternoda darah. Ia tampak kurus dan gila. Di tangannya, ia memegang botol berisi cairan berwarna ungu pekat—versi terbaru dari Proyek Chimera.
"Dia ingin menciptakan tentara tanpa rasa sakit," bisik Arkan. "Kita harus menghancurkan fasilitas ini, tapi kita butuh bukti video agar militer bisa masuk."
Saat Arkan sedang merekam kegiatan di laboratorium, alarm berbunyi. Sensor gerak infra-merah mendeteksi keberadaan mereka. Dalam hitungan detik, mereka dikepung oleh pasukan paramiliter ilegal—sisa-sisa unit 'The Ghost' yang membelot ke Adrian.
"Selamat datang di masa depan medis, Dokter Aisyah! Dan selamat datang di kuburanmu, Arkan!" suara Adrian menggema lewat pengeras suara.
Arkan menarik Aisyah ke balik tabung oksigen besar. "Aisyah, kau ingat campuran kimia yang bisa menciptakan ledakan asap yang kita buat di panti? Aku butuh itu sekarang. Aku akan memancing mereka keluar."
Aisyah dengan cepat meracik bahan dari tas medisnya—gliserin dan kalium permanganat.
BOOM! Asap tebal memenuhi laboratorium.
Arkan melesat di tengah asap. Ia tidak lagi bertarung dengan tangan kosong. Ia mengambil sebuah defibrilator medis dan menggunakannya sebagai senjata kejut untuk melumpuhkan penjaga bersenjata. Gerakannya seperti tarian maut yang presisi.
Ia berhasil mencapai ruang kontrol dan mendobrak pintunya. Adrian Baskara gemetar, memegang botol ungu itu seolah-olah itu adalah nyawanya.
"Jangan mendekat, Arkan! Satu langkah lagi dan aku akan meminum ini! Aku akan menjadi monster yang tidak bisa kau hentikan!" teriak Adrian histeris.
"Kau sudah menjadi monster sejak kau membiarkan egomu menghancurkan sumpah doktermu, Adrian," Arkan mendekat dengan tenang. "Minumlah jika kau mau. Tapi kau tahu persis secara medis, dosis itu akan menghancurkan jantungmu dalam sepuluh menit. Kau tidak akan menjadi pahlawan, kau hanya akan menjadi mayat yang gagal."
Adrian ragu. Ketakutannya sebagai manusia biasa mengalahkan kegilaannya sebagai ilmuwan. Di saat keraguan itu muncul, Aisyah melepaskan gas bius dari sistem ventilasi yang berhasil ia retas dari luar.
Adrian tumbang sebelum sempat menelan cairannya.
Fajar di Perbatasan Ketika tim gabungan TNI dan Polri tiba atas koordinasi Jaksa Hendra, laboratorium itu sudah berhasil diamankan.
Seluruh data subjek percobaan diselamatkan oleh Arkan. Adrian Baskara dibawa dengan helikopter medis, namun kali ini ia menuju rumah sakit jiwa dengan penjagaan maksimum.
Arkan dan Aisyah berdiri di tepi sungai besar Kalimantan saat matahari terbit. Mereka lelah, tubuh mereka penuh luka, namun untuk pertama kalinya, mereka merasa benar-benar bersih.
"Kita sudah melakukannya, Arkan," Aisyah
menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Proyek Chimera sudah berakhir."
Arkan menatap tangannya yang tadi sempat gemetar saat memegang defibrilator. "Belum berakhir sepenuhnya, Aisyah. Selama masih ada kegelapan di hati manusia, akan selalu ada Proyek Chimera lainnya. Tapi sekarang aku tahu... aku tidak perlu menjadi serigala untuk melawan mereka. Aku hanya perlu menjadi pria yang mencintaimu."
Arkan mengeluarkan cincin peraknya, membersihkannya dari debu hutan. "Setelah skorsingku selesai, aku akan menyelesaikan kuliahku. Dan suatu hari nanti, di papan nama rumah sakit kita, tidak akan ada lagi nama Xavier yang ditakuti. Hanya ada nama kita berdua."