Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Hasil yang Membungkam Semua
Ballroom Imperial Palace Hotel berubah seperti ruang sidang raksasa.
Tak ada lagi suara musik.
Tak ada lagi tawa sosialita.
Tak ada lagi obrolan bisnis penuh kepalsuan.
Yang tersisa hanya ketegangan.
Dan pusat ketegangan itu berdiri tepat di tengah ruangan:
Elara Vasiliev.
Di bawah cahaya lampu kristal, wanita itu terlihat begitu tenang.
Terlalu tenang.
Sementara di sisi lain…
Selene mulai kehilangan kendali atas napasnya sendiri.
Lima belas menit.
Dr. Heinrich Adler berkata hasil tes akan keluar dalam lima belas menit.
Namun bagi semua orang malam itu—
rasanya seperti menunggu vonis hidup dan mati.
Para wartawan berdiri hampir tanpa bergerak.
Kamera tetap menyala.
Beberapa media bahkan melakukan siaran langsung diam-diam.
Karena semua orang sadar…
malam ini akan menjadi sejarah.
Jika hasil tes membuktikan Elara palsu—
maka Vasiliev Group akan hancur.
Namun jika hasilnya benar—
maka keluarga Moretti baru saja menggali kubur mereka sendiri di depan publik.
Dan semakin waktu berjalan…
semakin banyak orang mulai menyadari pihak mana yang terlihat panik.
Bukan Elara.
Melainkan Selene.
Wanita itu terus menggigit bibirnya sendiri.
Tangannya dingin.
Keringat mulai muncul di telapak tangannya meski ballroom berpendingin mahal.
Ia berusaha terlihat tenang.
Namun matanya terus bergerak gelisah.
Seraphina langsung menyadarinya.
“Tenangkan dirimu.”
Nada suaranya rendah.
“Jangan terlihat takut.”
“Aku tidak takut.”
Jawaban Selene terlalu cepat.
Dan itu justru membuat Seraphina makin kesal.
Karena ia tahu—
putrinya mulai goyah.
Sementara itu…
Octavian Vasiliev duduk diam di kursi utama yang disediakan khusus.
Aura pria tua itu membuat seluruh ballroom tetap sunyi.
Tak ada yang berani bicara terlalu keras di dekatnya.
Tatapannya tajam.
Dingin.
Dan entah kenapa…
semakin lama orang melihatnya—
semakin mereka mengerti dari mana Elara mendapatkan ketegasannya.
Damian berdiri beberapa meter dari Elara.
Tatapannya tak pernah lepas dari wanita itu.
Ada begitu banyak emosi bercampur di dadanya.
Khawatir.
Bangga.
Menyesal.
Dan rasa sakit yang semakin besar setiap kali ia menyadari:
wanita yang dulu ia abaikan…
kini berdiri begitu jauh darinya.
“Kau tidak gugup?”
Suara Damian akhirnya terdengar pelan.
Elara tidak langsung menoleh.
“Untuk apa?”
“Kalau hasilnya terlambat keluar, media bisa memelintir semuanya.”
“Elara tersenyum tipis.”
“Orang yang hidup dari opini publik akan mati karena opini publik.”
Tatapannya tetap lurus.
“Aku tidak berniat hidup seperti itu.”
Damian terdiam.
Sekali lagi…
wanita ini terlalu berbeda dari Elara yang dulu ia kenal.
Di sudut lain ballroom, Cassian memperhatikan situasi sambil memainkan gelas wine di tangannya.
Pria itu tersenyum kecil.
Namun senyumnya tidak sepenuhnya santai malam ini.
Karena bahkan dirinya pun tahu—
hasil tes ini akan mengubah banyak hal.
Kalau Elara terbukti sah…
maka posisinya di keluarga Vasiliev akan semakin kuat.
Dan banyak orang akan mulai berlutut di hadapannya.
Termasuk orang-orang yang dulu menertawakannya.
“Dr. Adler lama sekali.”
Salah satu investor mulai berbisik.
“Tes DNA cepat memang seperti ini?”
“Dia menggunakan alat validasi langsung.”
“Kalau benar…”
tatapan pria itu jatuh pada Elara,
“…maka gadis itu benar-benar luar biasa.”
Selene mendengar semua bisikan itu.
Dan setiap kata terasa seperti jarum menusuk kepalanya.
Luar biasa.
Pemimpin muda.
Pewaris sah.
Wanita hebat.
Ia muak mendengarnya.
MUAK.
Karena dulu…
semua pujian itu miliknya.
Orang-orang selalu mengaguminya.
Memujinya.
Mengejarnya.
Namun sekarang?
Ia berdiri di ballroom yang sama…
dan tak seorang pun benar-benar melihatnya lagi.
Semua mata hanya tertuju pada Elara.
“Aku benci dia…”
gumamnya lirih.
Seraphina langsung menoleh tajam.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku tidak peduli!”
Selene hampir berteriak.
“Kenapa semua orang bertindak seolah dia sempurna?!”
Tatapannya mulai berkaca-kaca lagi.
“Kalian semua lupa siapa dia dulu!”
Suara itu cukup keras untuk membuat beberapa tamu menoleh.
Dan itu semakin mempermalukannya.
Karena malam ini—
Selene terlihat seperti satu-satunya orang yang kehilangan kendali.
“Elara tidak berubah.”
Tiba-tiba suara berat Octavian terdengar.
DEG.
Selene langsung membeku.
Pria tua itu menatap lurus ke arahnya.
“Yang berubah…”
ia berhenti sesaat,
“…adalah cara kalian memandangnya.”
Sunyi.
Tak ada yang berani menyela.
Dan kalimat itu…
menghantam lebih keras daripada bentakan.
Selene mengepal tangannya kuat-kuat.
Karena untuk pertama kalinya…
ia merasa kalah total.
Bukan hanya kalah perhatian.
Tapi kalah harga diri.
Lalu—
pintu ruang VIP akhirnya terbuka.
DEG!
Seluruh ballroom langsung menoleh bersamaan.
Dr. Heinrich Adler keluar sambil membawa tablet hitam di tangannya.
Wajahnya serius.
Dan suasana mendadak berubah sangat tegang.
Tak ada suara.
Tak ada gerakan.
Semua orang menunggu.
Dr. Adler berjalan perlahan menuju tengah ballroom.
Suara langkah sepatunya terdengar begitu jelas di tengah keheningan.
Selene menahan napas.
Damian ikut menegang.
Bahkan Seraphina terlihat pucat.
Sementara Elara…
masih berdiri tenang.
“Dr. Adler…”
suara pembawa acara terdengar pelan,
“apakah hasilnya sudah keluar?”
Pria tua itu mengangguk.
Dan detik berikutnya—
seluruh ballroom seperti berhenti bernapas.
“Hasil tes DNA telah diverifikasi.”
Tatapannya menyapu ruangan.
“Dengan tingkat kecocokan 99,98 persen…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu—
“Nona Elara secara biologis adalah keturunan langsung keluarga Vasiliev.”
DEG!
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Seolah seluruh ballroom kehilangan suara pada saat bersamaan.
Dan satu detik kemudian—
RUANGAN LANGSUNG GEMPAR.
“Ya Tuhan…”
“Itu berarti dia benar-benar pewaris sah!”
“Selene baru saja mempermalukan dirinya sendiri!”
“Gila…”
Para wartawan langsung bergerak liar.
Flash kamera menyala tanpa henti.
Beberapa investor bahkan langsung berdiri menghampiri Elara.
Karena hasil ini—
bukan hanya membuktikan identitasnya.
Tapi juga mengukuhkan posisinya.
Selene membeku di tempat.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Ia menatap Dr. Adler tidak percaya.
“Tidak…”
gumamnya pelan.
“Itu tidak mungkin…”
Namun Dr. Adler langsung menatapnya dingin.
“Ilmu pengetahuan tidak bekerja berdasarkan iri hati, Nona.”
BRAK!
Kalimat itu langsung membuat beberapa tamu menahan napas.
Dan Selene…
terasa seperti baru saja ditampar di depan seluruh kota.
“Aku tidak percaya!”
Ia melangkah maju panik.
“Tes itu bisa dimanipulasi!”
“CUKUP!”
Suara Octavian menggema keras untuk pertama kalinya malam itu.
DEG!
Seluruh ballroom langsung diam total.
Bahkan Selene langsung membeku.
Pria tua itu berdiri perlahan menggunakan tongkatnya.
Aura dinginnya terasa menekan seluruh ruangan.
Tatapannya mengarah lurus pada Selene.
“Sejak awal…”
suaranya rendah namun tajam,
“…kau datang malam ini bukan untuk mencari kebenaran.”
TOK!
Tongkatnya menghantam lantai.
“Kau datang untuk mempermalukan cucuku.”
DEG!
Selene langsung mundur setengah langkah.
Untuk pertama kalinya malam itu—
ia benar-benar ketakutan.
Octavian melangkah mendekat perlahan.
“Dan sekarang…”
tatapannya berubah dingin mematikan,
“…seluruh dunia melihat siapa yang sebenarnya memalukan.”
BRAK!
Ruangan kembali gempar.
Para sosialita langsung mulai berbisik panas.
Karena ucapan Octavian—
adalah hukuman sosial.
Dan dalam dunia elit seperti mereka…
itu bisa menghancurkan reputasi seseorang selama bertahun-tahun.
Seraphina langsung maju cepat.
“Kami minta maaf atas tindakan Selene.”
Nada suaranya tegang.
Untuk pertama kalinya…
wanita angkuh itu terdengar benar-benar terdesak.
Namun Octavian bahkan tidak menatapnya.
“Itu bukan permintaan maaf.”
Ia berkata dingin.
“Itu usaha menyelamatkan harga diri.”
DEG!
Seraphina langsung pucat.
Di sisi lain—
Damian masih menatap Elara.
Dan entah kenapa…
di tengah kekacauan sebesar ini—
wanita itu tetap terlihat tenang.
Tidak sombong.
Tidak haus kemenangan.
Tidak balas menghina.
Justru itulah yang membuat Damian semakin sakit.
Karena Elara terlalu berbeda dari semua orang di ruangan itu.
“Elara.”
Salah satu investor senior mendekat.
“Saya harap Anda tidak tersinggung dengan kejadian malam ini.”
Elara tersenyum tipis.
“Aku tidak akan membuang energiku untuk kebencian orang lain.”
Kalimat sederhana.
Namun membuat beberapa orang langsung kagum lagi.
Karena setelah dipermalukan seperti itu—
wanita ini tetap menjaga martabatnya.
Dan itulah momen ketika banyak orang di ballroom sadar:
Elara bukan hanya pewaris sah.
Ia memang pantas berada di atas.
Sementara itu…
Selene mulai mendengar bisik-bisik yang semakin menusuk.
“Dia benar-benar kehilangan akal.”
“Memalukan sekali.”
“Aku bahkan hampir kasihan.”
“Tidak heran Damian meninggalkannya.”
Kalimat terakhir itu—
menghancurkan pertahanan terakhir Selene.
“Aku BENCI kalian semua!”
teriaknya tiba-tiba.
Air matanya jatuh deras.
“Kalian semua munafik!”
Ia menunjuk para tamu satu per satu.
“Dulu kalian juga menghina Elara!”
Sunyi.
Karena itu benar.
Dan justru itulah yang membuat suasana makin canggung.
Selene tertawa kecil histeris.
“Tapi sekarang kalian memujanya karena dia punya kekuasaan!”
Tatapannya liar.
“Kalian tidak benar-benar peduli padanya!”
“Selene!”
Seraphina mencoba menahannya.
Namun wanita itu sudah benar-benar runtuh.
“Aku hanya tidak mau kalah darinya…”
suara Selene melemah.
Tatapannya jatuh pada Elara.
Dan untuk pertama kalinya—
kebencian di matanya terlihat berubah menjadi keputusasaan.
Karena malam ini…
ia sadar sesuatu yang paling menyakitkan:
Tak peduli seberapa keras ia mencoba menjatuhkan Elara—
wanita itu selalu bangkit lebih tinggi.
Elara memandangnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Masalahmu bukan aku.”
Selene membeku.
“Elara melanjutkan tenang.”
“Masalahmu adalah…”
tatapannya tajam namun tidak kejam,
“…kau terlalu takut hidup tanpa menjadi pusat perhatian.”
DEG.
Kalimat itu langsung menghancurkan Selene lebih dalam daripada penghinaan apa pun.
Karena tepat sasaran.
Terlalu tepat.
Selene akhirnya tak sanggup lagi.
Ia menunduk.
Tubuhnya gemetar.
Dan tanpa berkata apa-apa—
wanita itu berbalik lalu berlari keluar ballroom.
Tangisnya pecah di depan semua orang.
Pintu besar ballroom terbuka keras.
BRAK!
Lalu tertutup kembali.
Meninggalkan keheningan panjang.
Tak ada yang mengejar.
Karena semua orang masih terlalu sibuk mencerna satu fakta:
Elara Vasiliev baru saja membungkam seluruh kota—
dengan kebenaran.
d psahkn dr bayi,rbut soal hrta....
tp mga aja kmbaran elara bkln jd plindung buat elara jg,biar para msuh ga brani ngusik mreka lg...
tp ga ush mksa jg kaleee....seribu maaf jg ga bs mnyembuhkn luka elara d msa lalu...mndingn mnjauh smntra,biarkn elara tnang...toh kl jdoh jg ga akn kmna kan?????
kl sdar y sukur,kl ga ya wasalam.....🙄🙄🙄
Ayo cari ide lain yg lbih konyol.....😛😛😛
enth dpt uang dr mna smp bsa mndtangkn orng hbat,hnya untk mnjtuhkn elara....yg msti d tes tu bkn elara,tp dia sndri....kira2 otaknya udh pndah kmna????
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....