Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Secercah
Dengan tangan enggan, Lu Yansheng akhirnya menerima kelebihan 70 tael yang di berikan oleh para pemilik toko.
Dia menyerahkan semuanya itu pada nyonya tua Wang.
"Ck, bagaimana ini? kita sudah kehilangan satu ladang" sesal nyonya tua Wang.
Lu Yansheng hanya bisa diam. Dia juga tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi.
Dan larut malam, Shen Meiren baru kembali ke kediaman jenderal. Kamar mereka gelap sekali, ada Lu Yansheng di dalamnya. Tapi pria itu hanya duduk di atas kursi dengan tatapan mata ke lantai. Dan tangan terdiam di atas meja.
"Chuying! nyalakan lilin!" ujar Shen Meiren.
Suara Shen Meiren sebenarnya di dengar oleh Lu Yansheng. Hanya saja dia tidak ingin bersuara untuk saat ini.
Dan begitu lilin menyala. Shen Meiren terkejut dengan keberadaan jenderal di dalam kamar.
"Suamiku, kenapa diam saja! kalau kamu ada di dalam kamar, kenapa tidak memberitahu? mengejutkan saja!"
"Nyonya, saya akan mengambilkan air hangat untuk cuci kaki!"
"Iya, pergilah!"
Shen Meiren berjalan mendekati suaminya.
"Aku baru kembali dari penginapan, besok ayah dan yang lain mau jalan-jalan di ibukota. Aku akan temani mereka. Suamiku, kamu bisa siapkan kereta kuda yang bagus kan. Aku tidak mau mengecewakan mereka..."
Lu Yansheng segera menoleh ke arah Shen Meiren.
"Kamu yang mengganti semua dekorasi dengan bahan yang biasa di gunakan untuk dekorasi istana?" sela Lu Yansheng.
Shen Meiren yang tadinya merangkul Lu Yansheng, menarik tangannya itu perlahan. Wajahnya masih menunjukkan kalau dia merasa itu bukan sesuatu yang besar. Kenapa suaminya bertanya seperti itu padanya, dengan nada yang sungguh dia tidak senang melihatnya.
"Suamiku, ini hanya dekorasi! lagipula kamu kan seorang jendral. Dan yang datang dari kerajaan Yuzhuan, mereka semua itu orang yang penting. Kalau dekorasi murah seperti yang di pesan oleh ibumu. Kamu yang akan malu suamiku! memangnya kamu mau, di remehkan oleh orang-orang dari kerajaan Yuzhuan. Bukan hanya kamu saja, ayahku nantinya juga akan hadi bahan gunjingan di sana. Katanya menikah dengan jenderal, tapi pernikahannya menggunakan dekorasi yang murah!" jawab Shen Meiren dengan begitu santai.
Lu Yansheng mengusap wajahnya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi Shen Meiren dengan Mei Huarin memang sangat jauh berbeda. Mei Huarin tahu, kapan dia harus menunjukkan kemewahan, dan kapan dia harus berhemat.
"Waktunya tidak tepat, Meiren. Kediaman ini sedang...!" Lu Yansheng menjeda kalimatnya, dia benar-benar sulit mengatakan kalau kediaman jenderal sudah hampir tidak punya apapun.
"Sudahlah jenderal, sudah selesai juga kan? kenapa memperpanjang. Aku sangat lelah, aku mau istirahat!"
"Meiren..."
"Jangan lupa kataku tadi ya, besok siapkan kereta kuda yang bagus untuk ayah!"
Lu Yansheng mendengus kesal, dan tanpa bicara lagi. Pria itu segera menghentakkan ujung hanfu nya lalu keluar dari kamar itu.
Di dekat pintu keluar, Chuying yang membawa baskom untuk cuci kaki Shen Meiren nyaris saja menabrak jendral.
"Nyonya, jenderal terlihat kesal!"
"Halahhh, biarkan saja! dia menegurku kenapa mengganti dekorasi. Ya kalau tidak di ganti. Kita yang malu kan? masalah sepele begitu saja di besar-besarkan! biarkan saja dia mau kemana! aku juga lelah, mau langsung tidur!"
"Baik nyonya!"
Dan di taman belakang kediaman jenderal. Lu Yansheng berdiri di bawah pohon plum. Pohon yang dulu di taman oleh Mei Huarin. Dia banyak sekali menanam pohon di kediaman. Tatapannya tertuju ke arah langit, dah tiba-tiba saja muncul wajah Mei Huarin disana.
Air mata perlahan menetes di sudut mata pria yang sudah berkhianat pada istrinya yang baik dan setia itu. Air mata penyesalan yang datang sangat terlambat.
**
Keesokan harinya, Lu Yansheng pergi ke pengadilan. Seseorang yang merasa dulunya pernah menerima kebaikan dari kediaman Jenderal. Ayahnya Lu Yansheng pernah membantunya di masa lalu. Mendengar kalau ladang milik jenderal telah dijual.
Bagaimanapun, orang itu berpikir. Kalau mungkin jenderal memang benar-benar mengalami kesulitan.
Pejabat tingkat dua, dari balai pekerjaan umum. Menghampiri jenderal yang sejak tadi diam saja di pengadilan. Begitu mereka keluar, menteri Wei menghampiri Lu Yansheng.
"Jenderal Lu!"
Lu Yansheng yang mendengar namanya di panggil segera menghentikan langkahnya.
"Menteri Wei, ada apa?"
Menteri Wei menghela nafas panjang.
"Putraku, dulu bisa masuk ke perguruan kerajaan karena bantuan dari Tuan Lu tua, sekarang aku dengar kalau kediaman jenderal mengalami sedikit kemunduran, maaf bukan bermaksud berkata yang menyinggung..."
"Tidak apa-apa menteri. Aku rasa semua orang sudah tahu hal itu. Aku memang telah melakukan kesalahan yang fatal. Yang mulia, memisahkan kediaman jenderal dengan kediaman Jinxi. Sementara selama ini kediaman jenderal bergantung pada kediaman Jinxi. Aku pun sudah tidak bisa berperang lagi, kediaman jenderal memang sudah seperti yang tuan Wei dengar!" kata Lu Yansheng terdengar seperti seseorang yang sudah hampir putus asa.
Lu Yansheng bahkan langsung menundukkan kepalanya. Dia benar-benar terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat. Mungkin pertimbangannya hanya karena anak yang belum lahir di perut Shen Meiren itu sama. Lu Chengyan sudah tidak mau tahu lagi urusannya dan kediaman jenderal. Sementara Lu Yanzhi, dia sangat marah karena mengira ayahnya tahu masalah penyiksaan yang dia alami di gudang kayu. Dan tentu saja pengkhianatan dari sang ayah. Lu Yansheng sungguh tidak memiliki alasan bertahan, kecuali ibunya dan anaknya yang belum lahir itu.
"Jenderal Lu, manusia itu tempatnya salah. Yang saya lihat, jenderal Lu tampak sangat menyesalinya. Nyonya jenderal memang sangat baik. Sungguh disayangkan sebenarnya, aku kira dulu jenderal dan nyonya Jenderal adalah pasangan yang paling harmonis. 18 tahun lamanya jenderal tidak memiliki selir, tapi..."
Tuan Wei tidak melanjutkan ucapannya. Dia juga sebenarnya menyayangkan. Tapi, dia juga seorang pria. Dia tahu juga lah, bagaimana kalau sudah ada wanita yang menurutnya sangat baik dan membuatnya merasa suka.
"Mari lupakan masalah itu dulu. Jadi begini, aku bermaksud mengajak jenderal bekerja sama. Setahuku, semua senjata yang di gunakan oleh kerajaan ini, adalah hasil cetak biru dari kediaman Jinxi. Aku rasa jenderal juga pasti pernah melihat nyonya jenderal menggambar kan? atau berdiskusi kan?" tanya Tuan Wei dengan serius.
Lu Yansheng memang sering melihat Mei Huarin menggambar. Dan memang istrinya itu selalu menjelaskan padanya tentang apapun yang dia buat.
Lu Yansheng pun mengangguk.
"Bagus kalau begitu jenderal! wilayah tetangga kita, membutuhkan senjata juga. Tapi, mereka tidak mau yang terlalu berbahaya. Mereka tinggal di gurun, mereka akan membayar mahal untuk senjata yang bisa mereka patenkan sebagai senjata khas suku mereka. Bagaimana jenderal? bukankah itu akan sangat membantu kediaman jenderal nantinya?"
***
Bersambung...
Lalat² seperti Perdana Menteri Xie emang harus di bersihkan dari istana..
Dan Lu Yansheng.. Jadi mantan perwira, itulah yg pantas untuk mu.. 😏
ttp semangat kak,,,💪
aku kira cerita ibu nya yanzi... tapi gak PP bagus ko ini.. asalkan tegas aja si lu yanzi nya kak😍😍😍😍