NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu, suasana pesantren terasa berbeda. Udara yang biasanya sejuk kini terasa gerah bagi Humairah.

Meskipun cadar hitam telah menutupi wajahnya, ia tetap merasa tatapan mata orang-orang menembus hingga ke ulu hati.

Gosip tentang "pernikahan darurat" itu telah bermutasi menjadi bola api yang liar, menyebar cepat dari mulut ke mulut di kalangan santri hingga warga sekitar pasar yang berbatasan dengan pesantren.

Saat Humairah berjalan menuju aula, ia terpaksa melewati kerumunan ibu-ibu pengurus asrama yang sedang menyapu halaman.

Langkahnya melambat saat sayup-sayup namanya disebut dengan nada rendah yang penuh kebencian.

"Kasihan ya Ustadz Fathan, harus jadi korban 'cuci piring' adiknya sendiri," bisik salah seorang wanita sambil melirik sinis ke arah Humairah.

"Iya, lagian itu perempuannya apa nggak laku ya sampai harus mengemis pada kakaknya? Malu sedikit lah, baru ditinggal adiknya di hari H, langsung mau saja disambar kakaknya. Jangan-jangan..."

Wanita itu menjeda kalimatnya, lalu berbisik lebih tajam, "Jangan-jangan sudah hamil duluan sama Abraham, makanya keluarga Kyai terpaksa menutup aib itu dengan menikahkan dia sama Fathan."

Langkah Humairah terhenti. Tubuhnya bergetar hebat.

Fitnah itu begitu keji, melampaui batas kewarasan yang bisa ia terima.

"Hamil duluan?" bisiknya dalam hati dengan rasa sakit yang tak tertahankan.

Seolah semua perjuangannya menjaga kehormatan selama ini runtuh seketika oleh asumsi buta.

Di depan aula, Fathan rupanya berdiri tidak jauh dari kerumunan itu.

Ia sedang memegang beberapa kitab, jelas sekali ia mendengar setiap kata, setiap hinaan, dan setiap tuduhan yang dilemparkan pada istrinya.

Humairah menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, berharap pria itu akan melangkah maju, membentak mereka, atau setidaknya memberikan satu kalimat pembelaan untuk menjaga kehormatan istrinya.

Namun, Fathan hanya diam. Pria itu memperbaiki letak kitab di pelukannya, lalu membuang muka seolah-olah percakapan itu hanyalah angin lalu yang tidak penting.

Fathan memilih diam seribu bahasa. Ia tidak menegur ibu-ibu itu, tidak pula menghampiri Humairah untuk sekadar menguatkan.

Baginya, membela Humairah hanya akan membuatnya tampak semakin terlibat secara emosional dalam pernikahan yang ia anggap "di atas kertas" ini.

Humairah menarik napas panjang yang terasa sangat sesak di balik cadarnya.

Ia merasa benar-benar sendirian di tengah lautan manusia.

"Mas..." panggil Humairah lirih saat ia melewati Fathan.

Fathan hanya menoleh sekilas dengan tatapan datar yang menusuk.

"Masuklah ke kelas. Jangan biarkan gosip murahan menghambat tugasmu. Biarkan mereka bicara, selama kamu tidak melakukannya, itu bukan urusanku."

Kata-kata itu justru lebih menyakitkan daripada fitnah itu sendiri. Itu bukan urusanku.

Bagi Fathan, kehormatan Humairah bukanlah bagian dari tanggung jawabnya.

Humairah melangkah masuk ke aula dengan air mata yang mulai membasahi bagian dalam cadarnya.

Ia menyadari satu hal yang pahit: di rumah ini, ia tidak hanya berperang melawan fitnah dunia, tapi juga melawan kekosongan hati suaminya.

Langkah Humairah terasa berat saat kakinya menyentuh lantai kayu aula yang luas.

Ruangan yang biasanya menjadi tempat paling damai untuk menimba ilmu itu kini terasa sangat menyesakkan.

Dengan cadar hitam yang masih baru di wajahnya, ia mencoba berjalan tegak meski hatinya hancur berkeping-keping akibat sikap diam Fathan di luar tadi.

Humairah masuk ke dalam kelas. Di sudut depan, ia melihat Aisyah yang sudah duduk rapi, memegang kitab tajwidnya dan bersiap untuk mendapatkan pelajaran.

Aisyah memberikan senyum tulus melalui tatapan matanya, seolah menjadi satu-satunya cahaya di ruangan yang mendung itu.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.

"Jangan buka kitabnya dulu!" teriak seorang santriwati dari barisan tengah.

Ia berdiri dengan tangan di pinggang, menatap Humairah dengan pandangan meremehkan.

Seketika, suasana kelas menjadi gaduh. Tetapi santriwati lainnya menolak dengan terang-terangan.

Mereka saling berbisik, lalu serempak menutup kitab mereka masing-masing sebagai bentuk protes.

"Kami tidak mau diajar oleh wanita murahan!" teriak salah satu dari mereka yang paling vokal.

"Pura-pura pakai cadar untuk menutupi aib, tapi malah terlihat aneh. Seperti ninja yang sedang menyamar!"

Kalimat itu memicu gelombang ejekan lainnya. "Benar! Ninja pengincar ustadz! Kemarin adiknya, sekarang kakaknya. Murahan sekali!"

Mereka tertawa terbahak-bahak, seolah menghina guru sendiri adalah sebuah prestasi.

Suara tawa yang riuh itu memantul di dinding-dinding aula, menyayat hati Humairah lebih dalam daripada sembilu.

Di balik kain hitam yang menutupi wajahnya, bibir Humairah gemetar hebat.

"Astaghfirullah..." bisik Humairah lirih.

Ia memejamkan mata, mencoba mencari kekuatan di tengah badai penghinaan yang menerpanya.

"Cukup! Jaga lisan kalian!"

Aisyah tiba-tiba berdiri, wajahnya memerah karena marah melihat gurunya diperlakukan seperti itu.

"Di mana adab kalian sebagai santri? Belum tentu apa yang kalian dengar itu benar!"

"Halah, Aisyah! Kamu cuma disihir sama suaranya saja!" sahut yang lain tetap tertawa.

Humairah hanya bisa memegang pinggiran meja pengajar untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Di luar pintu aula, ia tahu Fathan masih berdiri di sana. Namun, hingga detik ini, tidak ada suara tegas suaminya yang masuk untuk menertibkan mereka.

Tidak ada perlindungan. Humairah benar-benar sendirian menghadapi ribuan anak panah kata-kata yang dilemparkan kepadanya.

Tawa yang tadinya meledak di seisi aula mendadak terhenti, seolah terpotong oleh pedang yang tajam.

Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat.

Bukan Fathan, melainkan Kyai Umar yang rupanya sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi, menyaksikan bagaimana menantunya diperlakukan seperti sampah oleh murid-muridnya sendiri.

Kyai yang mendengarnya langsung masuk ke dalam kelas.

Wajahnya yang biasanya teduh kini memerah, memancarkan amarah yang sangat besar.

Beliau berdiri di depan kelas, menatap satu per satu santriwati yang tadi paling kencang tertawa.

"Siapa yang kalian maksud wanita murahan?" suara Kyai Umar menggelegar, bergetar karena emosi yang tertahan.

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan.

Para santriwati yang tadi berteriak kini tertunduk dalam, jari-jari mereka gemetar memegang ujung jilbab.

"Apakah kalian manusia suci?" tanya Kyai lagi, suaranya kini merendah namun terasa lebih mengancam.

"Apakah kalian merasa sudah memegang kunci surga hingga berani menghakimi hamba Allah lainnya? Apakah kalian tidak pernah berbuat dosa?!"

Kyai Umar melangkah maju, tangannya menunjuk ke arah barisan depan.

"Maju ke depan, siapa yang suci! Siapa yang merasa tidak punya noda sedikit pun dalam hidupnya, silakan berdiri di samping saya sekarang juga!"

Tak ada satu pun yang berani bergerak. Suara isak tangis ketakutan mulai terdengar dari beberapa sudut kelas.

Humairah, yang sejak tadi berdiri kaku, merasa dadanya semakin sesak.

Ia tidak ingin menjadi penyebab kekacauan di pesantren ini.

"Kyai, sudah, saya tidak apa-apa," ucap Humairah lirih sambil memegang lengan baju sang mertua, mencoba meredakan kemarahan beliau.

"Saya ikhlas, mungkin ini cara Allah membersihkan dosa saya."

Kyai Umar menoleh ke arah Humairah dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, penuh rasa iba sekaligus bangga. Namun, beliau kembali menatap tajam ke arah santriwati.

"Tidak bisa, Humairah! Adab adalah di atas ilmu. Jika mereka tidak punya adab kepada gurunya, maka ilmu yang mereka pelajari di sini hanya akan menjadi tumpukan kayu bakar di akhirat nanti!" tegas Kyai Umar.

Beliau kemudian memberikan maklumat yang membuat seluruh isi kelas terperanjat.

"Kalian semua yang ada di aula ini, tanpa terkecuali, akan Kyai hukum! Kalian wajib menghafal Surah Al-Baqarah dari ayat pertama sampai terakhir! Dan setiap setoran hafalan kalian, harus diserahkan langsung kepada Ustadzah Humairah."

"Dan jika Ustadzah Humairah tidak memberikan tanda tangan kelulusan hafalan, maka kalian tidak akan pernah bisa mengikuti ujian akhir pesantren!"

Para santriwati itu hanya bisa menangis sesenggukan.

Menghafal Al-Baqarah bukanlah perkara mudah, itu adalah tugas yang sangat berat. Namun, Kyai Umar ingin mereka belajar satu hal: bahwa wanita yang mereka hina adalah wanita yang memegang kunci kelulusan mereka.

Di ambang pintu, Fathan menyaksikan semuanya dengan perasaan yang semakin berkecamuk.

Ia melihat bagaimana ayahnya membela Humairah dengan begitu luar biasa, sementara ia sendiri—suami sahnya—hanya bisa mematung karena tertutup oleh egonya sendiri.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!