Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 GANTI RUGI
"Astaga Esther, Kau makan di kamar?" seru Lian tak percaya saat melihat makanan tidak sehat itu berada di atas kasurnya.
Esther yang tengah menguyah hanya terdiam sambil menatap Lian yang berdiri dengan rahang yang mengeras. Potongan burger yang baru saja ia gigit mengendap di kedua pipinya, membuat pipi itu mengembung di ikuti raut wajahnya yang terlihat terkejut dan rasa bersalah.
"Aku sudah bilang jangan makan makanan seperti ini! Kau itu tengah hamil dan kau kekurangan gizi karena kurangnya asupan ke dalam tubuhmu, kenapa kau keras kepala?"
Esther melanjutkan kembali mengunyah makanan di mulutnya lalu menelannya perlahan. "Kenapa tidak bergizi? Ini ayam, mengandung protein," katanya sambil menunjuk ayam berwarna merah di tangannya lalu menunjuk sayur yang muncul diantara tumpukan daging dan roti. "Dan ini sayur yang mengandung serat. Darimana kata tidak bergizi itu?"
Lian mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban istrinya itu. "Intinya jangan makan makanan ini," katanya seraya mengambil makanan itu dan membawanya.
Esther yang tidak rela makanannya di rebut begitu saja lantas turun dari kasur dan menyusul Lian. "Kembalikan makananku kak! Kau mau membawanya kemana?"
"Membuangnya."
Kedua mata Esther melebar mendengar jawaban itu. Buru-buru ia berlari mendahului Lian dan mencegat langkah pria itu. "Jangan, kak. Esther mohon jangan di buang..." Kedua tangan Esther mengatup, memohon kepada suaminya dengan sangat. "Esther akan makan makanan apapun yang menurut kak Lian bergizi tapi Esther mohon jangan di buang ya," suaranya rendah penuh permohonan, "Esther benar-benar ingin makan itu."
"Kalau begitu makan di dapur, aku sudah siapkan makanan untukmu." ujarnya lalu melewati Esther dan duduk di sofa.
Dengan malas Esther menarik tubuhnya ke dapur dan duduk dimeja makan. Disana semangkuk sup ayam dan sayur masih mengepulkan asap yang beraroma gurih. Meskipun pikirannya tetap tertuju pada makanan yang di bawa Lian, Esther tetap memakan masakan suaminya itu dengan senang hati karena selain karena ia lapar, masakan suaminya juga enak.
...*****...
Esther berjalan keluar setelah ia menghabiskan makan malam yang Lian buatkan untuknya lalu menghampiri pria itu di ruang tamu untuk kembali makan ayam dan burger yang tertunda.
Namun saat Esther tiba di ruang tamu, tubuhnya membeku seketika saat melihat di atas meja hanya tersisa bungkus makanannya saja tanpa isinya. Ayam ektra pedas berwarna merah itu hilang menyisakan tulang belulang yang menumpuk diatas meja, tumpukan kentang yang tadi masih utuh kini hanya tersisa beberapa potong, bahkan burger yang tadi sudah Esther gigit pun lenyap tanpa jejak.
Pandangan Esther kini beralih pada Lian yang tengah duduk sambil menggeser layar tab di pangkuannya. "Kak Lian makan makanan aku?"
"Tidak, mereka masuk ke dalam mulutku sendiri." jawabnya santai, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Kak Lian!" Panggilnya diikuti kakinya yang menghentak keras ubin hingga pria itu menoleh. "Kenapa kau makan makanan tidak bergizi milikku?" Esther menatap Lian penuh kekesalan diikuti bibirnya yang mengerucut.
"Aku pikir kau tidak akan makan lagi setelah makan masakanku. Jadi aku makan saja daripada aku buang."
Tubuh Esther mendarat di samping Lian lemas seolah ia belum memakan apapun dan makanan yang menurut Lian tidak sehat itu adalah makanan terakhir yang mereka miliki. Punggungnya bersandar malas sebelum akhirnya ia menoleh ke arah suaminya. "Kak Lian pokoknya harus ganti makananku." katanya dengan tatapan tajam yang terlihat menggemaskan alih-alih menakutkan.
"Kenapa? aku sudah lebih dulu menggantinya tadi." katanya sambil kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku tidak menyuruh kakak memasak untukku, kakak sendiri yang merebut makananku dan menyuruhku makan masakan kakak." jelas Esther sambil cemberut. "Ayo ganti makanan aku sekarang, kak!" katanya seraya mengguncang tubuh Lian.
"Kau sebaiknya tidur, jangan menggangguku bekerja."
"Tidak mau. Aku mau makan makanan itu baru tidur." Esther terus merengek. Memohon agar Lian mau membelikan makanan yang baru karena kali ini ia benar-benar menginginkan makanan itu.
"Besok saja."
"Tidak mau, aku maunya sekarang!" rengek Esther. Ia semakin keras menarik tangan Lian, seperti anak kecil yang tidak sabar pergi ke taman bermain dan memaksa orang tuanya untuk segera. "Ayo, belikan aku yang baru, kak."
"Besok. Aku bilang besok ya besok Esther, kenapa kau seperti anak kecil?" ucap Lian tegas. Tanpa nada tinggi ataupun bentakan hanya suara biasa. Namun itu cukup membuat Esther melepaskan tangannya.
Kedua matanya yang berwarna gelap itu menatap Lian cukup lama sebelum akhirnya Esther bangkit dan berjalan cepat ke kamar.
Lian menghembuskan napasnya berat. "Arash adikmu ini benar tidak bertumbuh dewasa." gumamnya.
Lalu tak lama setelah ia berkata begitu, suara pintu kamar yang kembali terbuka membuat Lian mengangkat kepalanya dan melihat Esther sudah mengenakan mantelnya.
"Kau mau kemana?"
"Keluar membeli makanan karena orang yang sudah menghabiskannya tidak mau ganti rugi." jawab Esther sarkas lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Lian menyimpan tab itu ke atas sofa lalu bangkit untuk mengambil mantel dan menyusul Esther keluar.
...*****...
Saat mengetahui bahwa Lian menyusulnya dan langsung mengambil alih kemudi saat Esther hendak masuk ke dalam mobilnya, selama perjalanan ia tidak henti tersenyum karena begitu antusias dan tidak sabar saat membayangkan aroma pedas yang sama seperti makanannya tadi. Begitu mobil mereka berhenti di sebuah restoran cepat saji yang Esther mau, ia tanpa berpikir memesan cukup banyak makanan dari dalam mobil tak peduli pada Lian yang berkali-kali mengingatkannya untuk membeli secukupnya karena mereka berdua sudah makan.
Hingga akhirnya makanan itu datang. Lian mengambilnya dari pelayan lalu memberikannya pada Esther yang sudah tersenyum sumringah dengan tangan yang terulur menyambut makanan yang sangat ia inginkan.
"Terima kasih kak Lian," katanya lemah lembut sambil tersenyum. Matanya berbinar menatap makanan yang kini menumpuk di pangkuannya.
"Kau yakin akan menghabiskan semua itu?"
Esther mengangguk penuh percaya diri. "Jika tidak, kak Lian pasti bisa menghabiskan seperti tadi." jawabnya sarkas seraya memakan kentang lalu ayam ekstra pedas yang aromanya langsung menggiurkan.
Lian hanya menggeleng lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Sangat pelan hingga rasanya butuh waktu semalam untuk mereka bisa sampai ke apartemen.
Selama perjalanan, mobil itu sunyi. Tidak ada musik. Tidak ada obrolan. Hanya suara Esther yang tengah makan yang terdengar dan suara napas mereka berdua.
"Kak Lian," panggilnya.
"Apa?"
"Apa kak Arash sudah memberitahumu?"
Lian yang semula fokus kini menoleh. "Apa?"
Esther sempat ragu sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Lian. "Bahwa Arthur akan memiliki adik?"
Lian menatap Esther beberapa detik mencoba mencerna apa yang baru saja wanita itu katakan. Pikirnya maksud Esther adalah adik yang ada di dalam kandungannya yang akan menjadi adik Arthur.
"Lalu?"
"Kak Ava mau memberitahu kehamilannya pada semua orang setelah aku."
Detik itu juga mobil berhenti mendadak hingga tubuh mereka berdua condong ke depan dan makanan Esther yang ada di pangkuannya hampir jatuh seandainya ia tidak memeganginya lebih dulu. Meskipun beberapa potong kentang sudah terjun bebas jatuh menimpa kakinya.
"Apa maksudmu Ava tengah hamil anak kedua?"
Esther mengangguk. Matanya menatap keterkejutan suaminya itu. "Kak Arash sudah memberitahumu, kan?" tanyanya ragu.
Lian menggeleng. "Dia tidak mengatakan apapun padaku saat aku datang untuk menjemputmu kemarin." jelasnya.
"Benarkah?" Esther tak percaya bahwa dia adalah orang asing pertama yang mengetahui hal itu. "Lalu kita harus bagaimana sekarang, kak?"
Lian menatap Esther. "Kita pulang dulu," katanya.
Mobil itu kembali bergerak pelan di bawah sinar bulan purnama dan ribuan bintang yang bertabur di langit gelap. Tidak ada yang bicara karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Esther sibuk memikirkan makanan karena ia sudah kenyang dan tidak mau mengakuinya karena ia pasti akan kena marah suaminya. Secara dia yang memaksa pria itu untuk mengganti rugi.
Sementara Lian memikirkan hal yang baru saja ia dengar beberapa detik lalu. Antara percaya dan tidak karena ini bisa saja tipuan yang sama yang di lakukan oleh Arash untuk menjebaknya. Persis seperti saat pria itu memberitahu kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Esther.
Lian menduga bahwa Arash mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa Esther hamil olehnya karena accident dan ia meminta orang tuanya untuk bertanggungjawab atas kesalahan itu. Namun ternyata dugaannya salah total. Arash datang ke rumahnya mengatakan bahwa Esther pindah dari rumah supaya bisa tinggal dengan dirinya di apartemen. Yap, Arash mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa Lian dan Esther diam-diam tinggal bersama di apartemen Lian tanpa memberitahu bahwa hal itu mereka lakukan untuk menjaga bayi di dalam perut Esther.
Kedua orang tua Lian yang tahu perbedaan usia mereka merasa bahwa Lian memanipulasi Esther untuk tinggal bersama demi kepentingannya sendiri. Dan ia baru mengetahui hal itu setelah pernikahan selesai dari Arash.
"Kak Lian kita mau kemana?" panggil Esther pelan. "Apartemen kita sudah terlewat."
Lian tidak menjawab. Ia terus melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia bisa mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.
...—Seharusnya ini nyampe 3k kata, tapi aku bagi dua aja buat besok....
...btw happy reading ya🤎—...