NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Matahari pagi mulai menyinsing masuk melalui celah-celah gorden jendela, membawa cahaya terang dan kehangatan baru. Suasana kamar terasa tenang dan damai.

Aira perlahan membuka matanya. Cahaya matahari terasa sedikit silau, namun sangat nyaman menyentuh kulitnya.

Perasaan tubuhnya sudah jauh lebih baik dibandingkan semalam. Pusing yang mendera kepalanya sudah berkurang drastis, tulang-tulangnya tidak terasa nyeri lagi, dan napasnya terasa jauh lebih lega.

"Umm..." Aira mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya.

Namun saat ia sadar sepenuhnya, ia menyadari sesuatu yang membuat hatinya meleleh seketika.

Ternyata sepanjang malam, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Elvano, dan tangan besar pria itu masih melingkar erat di pinggangnya, memeluknya dengan posesif namun sangat menenangkan.

Aira mendongak perlahan, menatap wajah suaminya yang berada tepat di atasnya.

Elvano tertidur!

Karena terlalu lelah menjaga dan merawat Aira semalaman, akhirnya mata pria itu tak kuasa menahan kantuk, dan tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk istrinya.

Wajah Elvano saat tidur terlihat sangat damai, sangat tampan, dan jauh lebih muda dari biasanya. Tidak ada aura dingin atau galak yang biasa ia tampilkan. Hanya ada wajah lelah yang dipenuhi rasa sayang.

Aira bisa melihat dengan jelas ada lingkaran hitam tipis di bawah mata indah Elvano, bukti nyata bahwa pria itu benar-benar tidak tidur semalaman demi dirinya.

"Mas..." panggil Aira pelan sekali, suaranya hampir tak terdengar, takut sekali jika ia membangunkan suaminya.

Hati Aira terasa hangat, bercampur rasa haru dan bahagia yang luar biasa. Air matanya hampir menetes lagi, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena merasa begitu dicintai dan dihargai.

Dia menjagaku semalaman ya... Dia rela tidak tidur demi aku... batin Aira bergumam, perasaannya berbunga-bunga.

Semua rasa sakit hati akibat ucapan Tante Rina kemarin seolah lenyap tak berbekas, tergantikan oleh perhatian manis dan ketulusan Elvano saat ini.

Dengan sangat hati-hati dan perlahan, Aira mengangkat tangannya yang masih terasa sedikit lemas itu. Ia ingin sekali menyentuh wajah tampan suaminya itu.

Jari-jemari halusnya menyentuh alis tebal Elvano, lalu turun perlahan menyentuh hidung mancungnya, dan berhenti tepat di bibirnya yang tipis dan tampan itu.

Sentuhan itu sangat lembut, sangat halus, seolah-olah ia sedang menyentuh sebuah benda berharga yang sangat rapuh dan mahal harganya.

"Ganteng banget..." gumam Aira pelan tanpa sadar, senyum tipis terukir manis di bibirnya yang masih pucat. "Terima kasih ya Mas... sudah menjadi suami yang terbaik untuk Aira."

Tiba-tiba...

Kelopak mata Elvano bergerak-gerak pelan, lalu perlahan terbuka lebar.

Mata hitam tajam itu langsung bertatapan dengan mata Aira yang sedang menatapnya lekat-lekat, dengan tangan yang masih berada di wajahnya.

JLEB!

Waktu seakan berhenti sejenak. Jarak wajah mereka sangat dekat sekali, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Mereka bisa merasakan napas satu sama lain.

Mata Aira membelalak kaget, tangannya membeku di pipi Elvano. Wajahnya langsung memerah padam seketika karena malu tahu-tahu ketahuan sedang mengamati dan menyentuh suaminya.

"Eh... eh..." Aira buru-buru ingin menarik tangannya pergi dan menunduk dalam-dalam. "Ma... maaf, Mas! Aira tidak sengaja! Aira cuma..."

Namun sebelum tangannya sempat mundur, Elvano lebih cepat menangkap tangan kecil itu, dan menahannya tetap di pipinya. Bahkan, ia malah menggesekkan pipinya ke telapak tangan Aira dengan sikap manja dan penuh sayang!

"Hmmmmm..." Elvano mengerang nyaman, matanya masih setengah terpejam karena baru bangun tidur, membuatnya terlihat sangat menggoda. "Jangan ditarik dong, rasanya enak lho."

Aira ternganga melihat tingkah manis suaminya itu. Jantungnya berdegup dengan kencang tak karuhan. Dug... dug... dug... suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri.

"Ma... Mas..." Aira terbata-bata, malunya bukan main.

Elvano akhirnya membuka matanya penuh, menatap Aira dengan tatapan yang sangat lembut, sangat sayang, dan sedikit mengantuk, yang membuat suaranya terdengar berat dan sangat seksi di telinga Aira.

"Sudah baikan, sayang?" tanya Elvano pelan, suaranya berat khas orang baru bangun tidur.

"I... iya, Mas... sudah enakan kok. Kepala Aira juga tidak pusing lagi seperti semalam," jawab Aira cepat, masih dengan wajah yang memerah.

Elvano tersenyum tipis, lalu dengan sigap ia langsung meraba dahi Aira menggunakan punggung tangannya untuk mengecek suhu.

"Alhamdulillah... panasnya sudah turun. Baguslah." Elvano menghela napas lega sekali, bahunya yang semula tegang kini menjadi rileks. "Tadi malam kamu bikin Mas panik setengah mati, tahu tidak? Suhu badanmu tinggi sekali, Mas kira ada apa."

"Maaf ya Mas. Aira udah bikin Mas tidak bisa tidur semalaman." Aira menunduk sedih, merasa bersalah. "Aira jadi merepotkan Mas saja."

Seketika Elvano menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu ia mencubit pelan hidung Aira dengan gemas.

"Ah, apa sih kamu ini, ngomong begitu lagi?" Elvano mendecakkan lidahnya tidak setuju. "Kamu itu istri Mas. Sudah kewajiban dan tanggung jawab Mas untuk menjaga, merawat, dan mengurusmu kalau kamu sakit. Mana ada suami yang merasa istrinya merepotkan saat sedang sakit? Justru Mas senang bisa langsung menjagamu seperti ini."

Elvano mendekatkan wajahnya, menatap manik mata Aira dalam-dalam.

"Dan ingat ya. Mas rela tidak tidur seminggu penuh juga tidak apa-apa, yang penting kamu cepat sembuh dan sehat kembali. Mengerti?"

Aira mengangguk patuh, matanya kembali berkaca-kaca karena tersentuh oleh ketulusan yang luar biasa itu.

"I... iya, Mas... terima kasih banyak. Aira sayang banget sama Mas." ucap Aira lirih dengan sepenuh hati.

Mendengar pengakuan manis itu, senyum di wajah Elvano semakin lebar dan memancarkan ketampanan yang memukau.

"Aku juga sayang banget sama kamu." jawab Elvano lembut, lalu tanpa aba-aba ia menarik tubuh Aira dan memeluknya erat sekali di dalam dekapan hangatnya. "Jangan sakit-sakit lagi ya sayang. Mas sedih sekali melihatmu lemas dan tidak berdaya seperti itu."

"Iya, Mas... iya." Aira memejamkan matanya, menikmati hangatnya pelukan suaminya yang membuatnya merasa sangat aman dan terlindungi. "Aira janji akan cepat sembuh."

Setelah beberapa saat mereka habiskan dengan berpelukan dan mengobrol ringan untuk melepas kantuk, Elvano pun perlahan melepaskan pelukannya dan bangkit dari tempat tidur.

"Kamu tunggu di sini saja ya, jangan turun dulu. Istirahat total," kata Elvano sambil merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena tertidur semalaman.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Aira pelan dengan mata yang masih terlihat mengantuk dan manja.

"Aku mau ke dapur sebentar, sayang," jawab Elvano sambil menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan menggunakan jari-jarinya yang panjang dan tampan. "Biarin Bibi Asih santai dulu atau biar aku saja yang menyiapkan sarapan khusus untuk kamu. Kamu kan sedang sakit, harus makan yang hangat-hangat dan bergizi supaya tenagamu cepat kembali lagi."

Mata Aira membelalak kaget sekaligus senang mendengarnya.

"Hah? Mas mau memasak sendiri?" tanyanya tak percaya. "Bukannya biasanya Mas tidak pernah memegang sendok atau wajan di dapur?"

Elvano tersenyum miring, senyum yang sangat tampan dan sedikit menggoda hati.

"Biasanya memang begitu, tapi kan sekarang kondisinya istriku sedang sakit. Pangeran yang dingin pun bisa menjadi koki handal demi orang yang disayang, lho," jawabnya santai namun penuh makna. "Sudah ah, kamu tidur lagi atau rebahan saja di situ. Nanti kalau sudah jadi, aku panggil atau aku antar langsung ke sini."

"I... iya, Mas." Aira mengangguk patuh layaknya anak kecil yang menuruti perkataan orang tuanya, wajahnya berseri-seri penuh bahagia. "Hati-hati ya Mas di dapur. Jangan sampai kepanasan atau masakannya gosong ya."

"Hahaha... tenang saja sayang. Aku ini CEO yang handal, mengatur perusahaan besar saja bisa, masa membuat bubur atau sup tidak bisa?" Elvano tertawa renyah, suaranya terdengar sangat bahagia. Ia pun melambaikan tangan dan keluar dari kamar meninggalkan Aira yang tersenyum-senyum sendiri di atas kasur dengan perasaan yang berbunga-bunga.

Di lantai bawah, tepatnya di dapur yang luas, modern, dan bersih itu, Bibi Asih baru saja datang dan sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk sarapan seperti biasa. Namun, ia terkejut bukan main saat melihat majikannya, Tuan Elvano Praditya yang terkenal dingin, tegas, dan jarang tersenyum itu, sudah berdiri tegak di depan kompor dengan mengenakan celemek!

"Eh? Tuan?!" seru Bibi Asih kaget sambil memegang dadanya karena terkejut. "Tuan mau apa di sini pagi-pagi buta begini? Biar Bibi saja yang memasak, Tuan. Nanti tangan Tuan kotor atau kepanasan."

Elvano yang sedang sibuk mengaduk isi panci dengan serius itu tersenyum tipis.

"Tidak usah, Bi. Hari ini saya ingin memasak sendiri. Khusus untuk Nona Aira," jawabnya lembut, suaranya jauh lebih lunak dibandingkan biasanya. "Dia kan demam tinggi semalam, jadi harus makan yang hangat dan mudah dicerna. Bibi tolong siapkan bahan-bahannya saja ya, atau bantu saya kalau ada yang kurang."

"Wah... Tuan sayang sekali ya sama Nona Aira," Bibi Asih tersenyum lebar melihat pemandangan yang sangat langka dan manis itu. "Ya sudah kalau begitu, Bibi bantu siapkan sayuran dan bumbunya ya, Tuan. Tuan mau memasak apa?"

"Bubur ayam spesial dan sup ayam bening yang hangat, Bi. Yang rasanya ringan, tidak terlalu berminyak, supaya mudah masuk di tenggorokan dan tidak membuat mual," perintah Elvano dengan jelas.

"Siap, Tuan!"

Akhirnya terjadilah pemandangan yang sangat unik dan mengharukan di dapur itu. Seorang CEO muda yang kaya raya dan sangat tampan sedang sibuk mengaduk panci, mencicipi rasa, dan memotong sayuran dengan wajah yang sangat fokus. Wajahnya yang biasanya datar dan dingin, kini terlihat sangat hidup dan tampak semakin ganteng saat sedang bekerja.

"Bagaimana rasanya, Bi? Kurang asin atau kurang manis?" tanya Elvano pada Bibi Asih setelah ia mencicipi kuah supnya dengan hati-hati.

"Enak sekali, Tuan! Rasanya pas banget di lidah. Nona Aira pasti suka sekali," puji Bibi Asih dengan tulus. "Ternyata Tuan juga jago memasak ya."

"Hahaha... dulu pernah belajar sedikit saat kuliah di luar negeri kalau sedang tidak ada uang atau malas makan di luar," jawab Elvano santai sambil tersenyum bangga. "Tapi baru kali ini saya memasak dengan hati yang senang dan penuh cinta. Pasti rasanya akan jauh lebih enak dari biasanya."

Bibi Asih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar. Ia sangat bahagia melihat majikannya berubah menjadi sosok yang sangat hangat dan penyayang semenjak hadirnya Aira di rumah besar ini. Rumah yang dulu terasa sunyi dan dingin kini terasa begitu hidup dan penuh kebahagiaan.

Tidak berapa lama kemudian, Elvano kembali naik ke kamar dengan membawa nampan besar yang berisi mangkuk bubur hangat, semangkuk sup ayam, segelas air putih, dan juga potongan buah segar.

"Sayang... waktunya sarapan." panggil Elvano lembut saat membuka pintu kamar pelan-pelan.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!