Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Logika vs Logika
"Makan aja?"
Elvano mengulang dua kata itu dengan nada datar, seolah Aluna baru saja menyarankan agar dia membakar gedung ini demi menghangatkan tubuh. Matanya menatap gadis di hadapannya dengan sorot menilai yang tajam.
"Iya, Pak. Dimakan," jawab Aluna tanpa ragu, meski jantungnya berdegup kencang takut diusir. "Itu solusi paling efisien. Nol limbah, nol biaya simpan, seratus persen manfaat masuk ke perut."
Hening menguasai ruangan besar itu selama beberapa detik. Suara humming dari pendingin ruangan terdengar begitu nyaring di telinga Aluna. Dia meremas ujung kemejanya yang kusut di bawah meja, bersiap mental untuk mendengar kata 'KELUAR' atau 'TIDAK LULUS'.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Sudut bibir Elvano berkedut. Sebuah senyum miring yang sangat tipis—nyaris tak terlihat—muncul di wajah dinginnya.
"Jawaban kamu..." Elvano mengetukkan jarinya ke meja perlahan. "Secara matematis, itu gagal total. Dalam laporan keuangan, memakan stok dagangan artinya kerugian modal seratus persen. Nilai aset jadi nol."
Aluna hendak membela diri, tapi Elvano mengangkat tangannya, menyuruh diam.
"Tapi," lanjut Elvano, kali ini nada suaranya sedikit lebih rendah, lebih tertarik. "Secara praktis, itu jenius. Kamu memotong kerugian masa depan. Kamu sadar bahwa menahan aset yang terdepresiasi—seperti apel busuk—jauh lebih merugikan daripada menghabiskannya saat nilainya masih ada. Kamu paham konsep Stop Loss dalam bentuk yang paling primitif."
Aluna menghembuskan napas lega yang tertahan. "Jadi saya bener?"
"Kamu tidak benar, tapi kamu tidak salah," koreksi Elvano diplomatis. Dia menegakkan duduknya, lalu mengambil sebuah pulpen dari saku jasnya.
Itu bukan pulpen biasa. Dari kilaunya saja Aluna tahu itu barang mahal.
Mungkin harganya bisa buat bayar kontrakan Aluna setahun. Benda hitam mengkilap dengan aksen emas di ujungnya.
"Tes pertama lolos karena keberuntungan logikamu," kata Elvano sambil memutar-mutar pulpen itu di antara jari-jarinya yang panjang. "Sekarang tes kedua. Ini klasik. Anak semester satu ekonomi pasti tahu soal ini."
Elvano meletakkan pulpen mewah itu di atas meja, lalu mendorongnya pelan ke arah Aluna.
"Jual pulpen ini ke saya," perintah Elvano singkat.
Aluna menatap pulpen itu, lalu menatap Elvano. "Jual balik barang Bapak sendiri?"
"Ya. Buat saya mau mengeluarkan uang untuk membeli barang yang jelas-jelas sudah jadi milik saya. Buat saya merasa butuh membelinya lagi." Elvano bersandar santai, menyilangkan kaki. "Ingat, saya orang paling pelit di gedung ini. Saya nggak butuh pulpen baru. Saya punya lusinan di laci. Yakinkan saya kenapa saya harus bayar kamu buat benda ini."
Tantangan yang berat. Menjual es ke orang Eskimo saja susah, apalagi menjual pulpen ke orang yang punya pabrik uang, punya banyak pulpen dan terkenal kikir. Kalau Aluna cuma bilang "pulpen ini bagus, tintanya lancar", Elvano pasti akan menertawakannya.
Aluna mengambil pulpen itu. Berat. Terasa dingin dan mahal di telapak tangannya.
Dia memutar otak. Dia tidak bisa menjual fitur. Dia harus menjual situasi. Dia harus menjual keadaan.
Matanya menyapu meja kerja Elvano yang rapi. Tumpukan berkas, laptop yang menyala menampilkan grafik saham, dan sebuah map biru tebal yang tergeletak di pinggir meja.
Aluna tersenyum licik.
Tanpa permisi, Aluna menyambar map biru itu.
"Eh, apa-apaan kamu?" Elvano menegakkan tubuhnya, kaget propertinya disentuh tanpa izin.
Aluna membuka map itu sembarangan, mengambil lembar paling atas—sebuah dokumen kontrak entah apa, Aluna tidak peduli isinya—lalu meletakkannya tepat di depan Elvano.
"Pak," suara Aluna berubah mendesak, penuh urgensi. "Simulasi dimulai. Anggap kertas ini adalah cek senilai satu miliar rupiah dari klien besar yang super sibuk. Atau anggap ini kontrak akuisisi lahan yang Bapak incar selama lima tahun."
Elvano mengernyit. "Lalu?"
"Klien itu buru-buru. Dia harus naik pesawat jet pribadinya satu menit lagi," Aluna bicara dengan tempo cepat, membangun ketegangan. "Dia cuma punya waktu enam puluh detik buat Bapak tanda tangan kontrak ini biar duit satu miliarnya cair ke rekening Bapak. Kalau lewat satu menit, kontrak batal. Hangus. Bapak gigit jari."
Aluna menyembunyikan pulpen mewah itu di belakang punggungnya.
"Tanda tangan sekarang, Pak! Kliennya udah mau jalan tuh!" desak Aluna sambil menunjuk pintu kosong.
Refleks, tangan Elvano bergerak mencari alat tulis di saku kemejanya. Kosong. Dia meraba saku jasnya. Kosong juga—karena pulpennya sedang dipegang Aluna. Dia melirik tempat pensil di meja. Kosong.
"Mana pulpennya?" tanya Elvano, terbawa skenario dadakan yang dibuat Aluna.
"Bapak nggak punya pulpen," kata Aluna santai sambil tersenyum manis yang menyebalkan. "Semua alat tulis Bapak mendadak hilang ditelan bumi. Yang ada cuma saya, pulpen ini, dan waktu Bapak yang tinggal tiga puluh detik sebelum duit satu miliar itu melayang."
Elvano menatap Aluna. Dia sadar dia sedang dijebak dalam situasi Supply and Demand yang ekstrem.
"Bapak butuh tanda tangan ini sekarang," kompor Aluna lagi. "Bapak mau tanda tangan pake apa? Pake ludah? Nggak sah. Pake darah? Sakit dan kotor. Pake jari? Emangnya cap jempol kelurahan?"
"Berikan pulpennya," Elvano mengulurkan tangan. "Saya beli."
"Oke. Berani bayar berapa?"
"Sepuluh ribu. Itu harga wajar pulpen bekas," tawar Elvano, karakter pelitnya tetap muncul meski dalam simulasi.
Aluna tertawa meremehkan. "Sepuluh ribu? Maaf, Pak. Stok lagi kosong kalau harga segitu."
Aluna mundur selangkah, menjauhkan pulpen itu dari jangkauan Elvano.
"Dua puluh detik lagi, Pak! Satu miliar melayang lho. Tik tok... tik tok..."
"Lima puluh ribu!" Elvano menaikkan tawaran.
"Nggak mau. Ini pulpen edisi terbatas di tangan saya. Dan kebutuhan Bapak sangat mendesak," Aluna menggeleng tegas. "Hukum ekonomi, Pak. Saat permintaan tinggi dan penawaran rendah, harga meroket."
"Kamu mau berapa?!" Elvano mulai gemas. Dia tahu ini cuma tes, tapi gadis ini sangat pandai memancing emosinya.
Aluna mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elvano tepat di mata.
"Saya nggak jual pulpen ini, Pak. Saya sewakan. Hak guna pakai selama sepuluh detik."
"Disewakan?" Elvano melongo.
"Iya. Biaya sewanya lima ratus ribu rupiah per menit," sebut Aluna tanpa kedip.
"Kamu gila?!" seru Elvano. "Lima ratus ribu buat pinjam pulpen sepuluh detik?! Itu pemerasan!"
"Terserah Bapak," Aluna mengangkat bahu acuh tak acuh. Dia pura-pura hendak memasukkan pulpen itu ke sakunya sendiri. "Bapak boleh hemat lima ratus ribu sekarang. Tapi Bapak kehilangan potensi pendapatan satu miliar. Silakan hitung Opportunity Cost-nya, Pak Elvano. Pilih mana? Rugi gocap atau rugi satu milyar?"
"Sepuluh detik lagi, Pak..." Aluna mulai menghitung mundur. "Sembilan... Delapan..."
Elvano menatap gadis lusuh di depannya. Gadis yang memakai sepatu butut dan kemeja kusut, tapi punya nyali untuk memojokkan seorang miliarder di kandangnya sendiri.
Dia tidak menjual barang, dia menjual solusi atas kepanikan yang dia ciptakan sendiri. Dia tidak memohon agar barangnya dibeli, dia membuat pembeli yang memohon.
Licik. Cerdas. Dan sangat berorientasi pada uang.
Persis seperti dirinya.
"Tiga... Dua..."
"Oke! Deal!" potong Elvano cepat. "Saya sewa! Sini barangnya!"
Aluna menyerahkan pulpen itu dengan senyum kemenangan yang lebar. Elvano menyambarnya, pura-pura menandatangani kertas di depannya dengan gerakan cepat dan dramatis.
Setelah selesai, Elvano meletakkan pulpen itu kembali di meja dengan napas sedikit memburu, seolah dia baru saja benar-benar menyelamatkan kontrak satu miliar.
Suasana hening kembali menyelimuti ruangan itu.
Aluna berdiri tegak kembali, jantungnya mau meledak. Dia baru saja memeras CEO. Apakah dia akan ditendang keluar sekarang?
Elvano menatap pulpen di meja, lalu menatap Aluna. Perlahan, bahu tegapnya berguncang.
Bukan karena marah.
"Hah..." Sebuah suara tawa pendek lolos dari bibirnya. Sangat singkat, sangat langka, seperti suara guntur di musim kemarau.
Elvano mendongak, menatap Aluna dengan binar mata yang berbeda. Tidak ada lagi tatapan merendahkan. Yang ada adalah tatapan pengakuan.
"Lima ratus ribu per menit..." gumam Elvano, menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Kamu menciptakan krisis buatan, lalu menjual solusinya dengan harga markup sepuluh ribu persen."
"Itu bisnis, Pak," jawab Aluna polos.
Elvano menyandarkan punggungnya kembali, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang kali ini terlihat tulus—dan sedikit berbahaya.
"Kamu licik," kata Elvano pelan, suaranya berat dan penuh arti. "Saya suka."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥