Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Malam harinya, Sesil banyak bercerita tentang kesehariannya selama ditinggal oleh ibunya.
"Sesil senang selama tinggal di rumah Oma, mah. Soalnya Oma baik banget sama Sesil. Begitu pun dengan Om."
"Om?." Cicit Vania.
"Maksud non Sesil putranya nyonya Dinda, Bu." Timpal mbak Atun dan Sesil pun mengangguk membenarkan ucapan mbak Atun.
"Bahkan siang tadi Om mengajak Sesil jalan-jalan ke mall, dan menemani Sesil bermain. Pokoknya, Om baik banget sama Sesil." Baru kali ini Vania mendengar putrinya membanggakan seseorang dihadapannya. Namun begitu, Vania kembali berpikir positif, bisa jadi karena putra Bu Dinda adalah satu-satunya orang selain dirinya yang pernah mengajak Sesil jalan-jalan hingga putrinya bersikap seperti itu.
"Apa semua anak-anak Oma baik pada Sesil?."
"Anaknya Oma cuma Om doang, mah." Mendengar jawaban putrinya, Vania lantas menoleh pada mbak Atun yang tengah membantunya mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
"Benar kata non Sesil, Bu. Nyonya Dinda hanya memiliki seorang putra, alias anak tunggal. Mana tampan banget lagi, Bu." Kata mbak Atun sambil mengulum senyum.
"Jadi putranya Bu Dinda anak tunggal? Apa tidak sayang menikahkan putra tunggalnya dengan wanita yang bersatus single mom sepertiku?." Batin Vania. Biasanya seorang ibu akan memilihkan wanita yang masih berstatus gadis terutama jika anaknya merupakan anak tunggal, lalu mengapa Bu Dinda malah memilih dirinya. Tidak ingin menambah beban pikirannya, Vania lantas melupakan hal itu dan kembali membahas hal-hal yang menyenangkan bersama sang putri.
"Nanti kalau mamah ada waktu, kita main ke mall lagi ya, sayang!."
"Beneran, mah?."
"Tentu saja, sayang." Ia bekerja keras demi putrinya lalu apa salahnya menggunakan waktu luang untuk pergi jalan-jalan demi menyenangkan buah hatinya itu, begitu pikir Vania.
"Sudah larut malam, sebaiknya Sesil tidur sekarang!."
"Iya, mah." Sesil menurut, meraih guling dan memeluknya. Tak lama kemudian, hembusan napas bocah itu mulai terdengar teratur pertanda Sesil telah memasuki alam bawah sadarnya.
"Bu...."
"Iya, mbak." Vania menolehkan pandangan pada mbak Atun.
"Mbak Atun selalu berdoa untuk kebahagiaan ibu. Semoga setelah menikah nanti, ibu bisa hidup bahagia bersama suami ibu." Doa tulus di panjatkan oleh mbak Atun untuk kebahagiaan majikannya itu.
Vania hanya terpaku, tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa, mengingat ia sendiri pun tidak tahu pernikahan seperti apa yang akan dijalaninya nanti.
"Kalau menurut pandangan Mbak Atun, calon suami ibu orangnya baik. Sepertinya beliau juga sayang banget sama non Sesil. Buktinya sewaktu non Sesil terjatuh ke kolam berenang tanpa berpikir panjang putranya nyonya Dinda langsung melompat ke kolam demi menyelamatkan non Sesil. Padahal saat itu beliau masih mengenakan pakaian kerjanya."
"Apa mbak, Sesil terjatuh ke kolam berenang?." Dari panjang kali lebar perkataan mbak Atun, Vania hanya terfokus pada kejadian putrinya terjatuh ke kolam berenang.
Deg.
Mbak Atun baru sadar jika ia sudah keceplosan.
"Maafin mbak Atun, Bu... Semua itu terjadi karena kelalaian mbak Atun. Kalau saja mbak Atun menggenggam tangan non Sesil lebih erat, mungkin non Sesil tidak akan berlari dan kakinya pun tidak akan tersandung hingga akhirnya terjatuh ke kolam berenang. Jika saat itu putranya nyonya Dinda tidak datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan non Sesil, mbak Atun pasti tidak akan bisa memaafkan diri mbak Atun sendiri."
Melihat mbak Atun menangis saat bercerita, akhirnya Vania pun tidak tega untuk menyudutkan ataupun menyalahkan mbak Atun atas kejadian yang pernah menimpa putrinya. Lagipula, merawat dan menjaga Sesil seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, mbak Atun hanya sekedar membantu tugasnya. Terkadang, bersikap bijak jauh lebih baik ketimbang saling menyalahkan.
"Lain kali saya mohon lebih berhati-hatilah dalam menjaga Sesil, mbak!." Kata Vania tanpa suara kasar apalagi bentakan.
"Baik, Bu. Sekali lagi maafkan kelalaian mbak Atun, Bu."
Vania pun mengangguk seraya mengelus bahu mbak Atun yang nampak bergetar akibat menangis.
Melihat jarum jam yang menggantung pada dinding kamarnya telah menunjukkan pukul sebelas malam dan Sesil pun sudah tidur, Vania lantas mempersilahkan mbak Atun untuk beristirahat di kamarnya.
*
Keesokan harinya.
Dret....dret....dret....
Sandi menutup berkas dihadapannya kemudian meraih ponselnya yang tengah bergetar. Rupanya panggilan telepon dari sahabatnya, Bara.
"Ada apa, tumben kamu menelepon pagi-pagi begini?."
"Kamu sibuk nggak?." Terdengar suara Bara dari seberang sana.
"Lumayan. Memangnya kenapa?."
"Saudara sepupuku sedang mencari hotel yang cocok untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan dan aku merekomendasikan hotel Admodjo Group padanya. Jika hari ini kamu nggak terlalu sibuk, boleh nggak kamu bertemu dengan sepupu aku?." Dengan bertemu langsung dengan Sandi selaku pimpinan hotel Admodjo Group sepupunya tersebut pasti akan mendapat informasi yang lebih detail tentang hotel Admodjo Group, begitu pikir Bara.
"Baiklah." Balas Sandi. Sebenarnya bisa saja Sandi mengirim salah seorang pegawainya sebagai perwakilan, tapi mengingat calon kliennya merupakan saudara sepupu Bara maka Sandi pun bersedia meluangkan waktu untuk menemui calon kliennya tersebut.
"Katakan pada pak manager untuk segera ke ruangan saya!." Setelah menyudahi panggilan teleponnya bersama Bara, Sandi lantas menghubungi Vania melalui sambungan interkom. Meminta Vania menyampaikan pada manager hotel untuk segera ke ruangannya. Ya, meskipun dirinya merupakan pimpinan hotel, namun Sandi merasa perlu melibatkan manager hotel.
"Maaf tuan, saat ini pak manager sedang berada di luar kota." Jawab Vania.
"Untuk keperluan apa beliau ke luar kota? Mengapa tidak menginformasikan nya terlebih dahulu pada saya?." Dari nadanya, Vania sudah bisa menebak jika saat ini pimpinan sedang marah.
"Untuk itu saya kurang tahu tuan, karena beliau tidak meninggalkan pesan apapun pada staff, sementara saya baru kembali bekerja hari ini." Vania mulai was-was, tidak menutup kemungkinan selaku sekretaris manager, ia yang akan menjadi sasaran dari kemarahan Sandi akibat kesalahan yang dibuat oleh atasannya.
"Anda ke ruangan saya sekarang!."
"Baik, tuan." Kata Vania sebelum pamit untuk menyudahi obrolan.
"Mati aku. Kalau begini ceritanya, bisa-bisa aku yang akan kena marah." Gumam Vania sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Karena atasan anda sedang tidak ada di tempat, maka anda yang harus menggantikannya! Kita akan meeting dengan klien." Baru saja tiba di ruangan pimpinan, Vania sudah disuguhi pekerjaan baru.
"Baik, tuan." Tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah pimpinan jika masih ingin bekerja. Sebagai bawahan tentu saja menolak perintah pimpinan sama dengan mencari mati, begitu pikir Vania.
Sekembalinya ke ruang kerjanya guna bersiap-siap, Vania menyempatkan diri sejenak untuk mengirim pesan singkat pada Bu Dinda. Menyampaikan permintaan maafnya karena hari ini tidak bisa ikut bersama wanita itu untuk mencari cincin pernikahan. Ya, kemarin Vania sudah mengiyakan ajakan Bu Dinda untuk mencari cincin pernikahan, karena berpikir bisa menggunakan waktu istirahat makan siangnya hari ini. Tapi siapa sangka ia harus menggantikan posisi manager hotel untuk bertemu dengan klien.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku...!!..🙏🙏😘😘😘🥰🥰🥰🥰 love you all....
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆