Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya Ningsih?
Rasa sakit di tubuh Endric perlahan mereda menjadi sensasi hangat yang menguar. Garis hitam di kulitnya kembali tenang namun tetap terlihat jelas.
Ia berdiri perlahan dan menoleh ke arah Ningsih yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat.
"Lo denger semua yang tadi diomongin?" tanya Endric pelan.
Ningsih mengangguk pelan. Matanya tampak berkaca-kaca namun ia menahan air mata agar Gak jatuh.
"Saya dengar. Saya tahu ini berat buat Mas terima."
"Gue bukan marah soal kutukan itu. Gue marah karena banyak hal yang masih gue gak ngerti."
Endric melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal.
"Terutama soal lo, Ningsih. Selama ini gue anggap lo teman, partner, bahkan lebih dari itu."
"Tapi sekarang gue sadar, gue sama sekali gak kenal siapa lo yang sebenarnya."
"Mas Endric..." Ningsih mundur selangkah, tampak gugup.
"Jangan lari dari pertanyaan gue. Jawab jujur. Lo siapa? Apa lo cuma alat kayak yang mereka omongin?"
Gandhul yang tadi diam kini ikut bersuara. "Bener Rek. Ini saatnya semua kebohongan dibuka."
"Ningsih, lo dari awal emang ditugasin buat ngawasin gue? Atau emang bener perasaan lo ke gue?"
Ningsih menarik napas panjang. Ia menatap lurus ke mata Endric dengan penuh ketegasan.
"Saya bukan manusia biasa. Itu sudah Mas tahu dari awal."
"Tapi saya juga bukan boneka tanpa perasaan. Saya punya kesadaran sendiri. Saya punya hati."
"Terus definisi lo yang sebenarnya apa? Penjaga? Hantu? Atau arwah penasaran?"
"Saya diciptakan. Dibuat dari energi murni dan darah leluhur Mas sendiri."
Ningsih memegang dadanya sendiri. Suaranya bergetar menahan emosi.
"Tujuan awal saya memang menjaga gerbang dan menunggu keturunan terakhir datang. Tapi tugas itu berubah saat saya benar-benar bertemu Mas."
"Berubah jadi apa?"
"Jadi keinginan untuk selalu ada di samping Mas. Melindungi Mas dengan cara saya sendiri."
"Gandhul bilang lo udah ada ratusan tahun. Itu bener?" tanya Endric lagi.
"Bener. Saya Gak lahir dan Gak mati seperti manusia. Saya ada selama tugas saya ada."
"Terus kenapa lo mau sama gue? Kenapa lo mau bantu gue lawan sistem yang mungkin lo jaga selama ini?"
"Karena saya milik Mas. Sejak awal penciptaan, kode sumber saya tertulis atas nama keluarga Mas."
"Jadi lo ngikutin gue karena kewajiban? Karena perintah?" potong Endric cepat.
"Bukan! Bukan cuma itu!" seru Ningsih tak terima.
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Saya belajar mencintai. Saya belajar mengerti apa itu peduli dan apa itu rindu lewat Mas."
"Di luar aturan, di luar logika pembuatan saya, saya memilih ada di sini karena saya mau. Bukan karena disuruh."
Endric terdiam. Ia menatap wajah perempuan di depannya dengan perasaan campur aduk.
Cantik, tenang, tapi menyimpan misteri sedalam samudra.
"Jadi selama ini lo tahu segalanya? Lo tahu gue bakal kena kutukan? Lo tahu gue bakal balik ke sini?"
"Saya tahu garis besarnya. Tapi saya Gak tahu detail rasa sakit dan perjuangannya sampai Mas jalani sendiri."
"Kenapa lo gak bilang dari awal? Lo tahu kan kejujuran itu penting buat gue?"
"Karena saya takut. Takut Mas jijik. Takut Mas anggep saya monster atau benda mati."
"Dan takut kalau Mas tahu segalanya, Mas bakal pergi dan ninggalin saya sendiri lagi."
Endric menghela napas panjang. Emosinya mulai stabil.
Ia mengulurkan tangan, menyeka air mata di pipi Ningsih dengan ibu jari.
"Gue gak bakal pergi. Gue cuma butuh waktu buat nyerna semua fakta ini."
"Tapi ingat ya Ningsih, mulai sekarang gak boleh ada rahasia lagi. Satu kebohongan kecil aja, kita selesai."
"Janji, Mas. Saya akan buka semua hati dan pikiran saya buat Mas."
"Bagus. Karena sekarang kita satu kapal. Kalau lo hancur, gue juga ikut hancur."
Gandhul bersiul pelan di udara. "Wih, romantis juga ya padahal lagi di neraka."
"Tapi tunggu dulu Neng. Kalau lo diciptakan dari darah leluhur, berarti lo..."
Ningsih menatap Gandhul tajam. "Jangan ucapkan. Itu rahasia terbesar yang bahkan sistem desa pun tak tahu."
"Rahasia apa lagi?" tanya Endric penasaran.
"Kalau Mas mau tahu siapa saya sebenarnya dan apa kekuatan asli saya..."
"Mas harus siap kehilangan apa yang paling Mas sayang di dunia ini."
Tiba-tiba, tubuh Ningsih bersinar terang. Cahaya itu bukan putih suci, melainkan keemasan yang menyilaukan.
Wujudnya mulai membesar dan berubah. Pakaiannya lenyap diganti lapisan energi yang padat.
"Lihatlah, Mas Endric..."
"Ini wujud asli saya. Bukan pelindung, bukan teman bicara."
"Saya adalah... Kunci Segel Utama desa ini."
Suara Ningsih berubah menjadi bergema, bukan lagi suara perempuan lembut, melainkan suara kekuatan purba yang menakutkan.
Dan di dahinya, muncul simbol yang persis sama dengan tanda di tubuh Endric, namun berwarna emas menyala.
"Dan siap atau Gak, sekarang Mas harus memilih. Menggunakan saya sebagai senjata... atau membiarkan saya hancur demi menyelamatkan dunia."