Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahanan Ranjang
Ellea duduk di kursi taman belakang bersama Maria. Bersandar sambil menikmati matahari yang hampir tenggelam. Sesekali dia menatap makam anaknya. Berada disana, membuatnya merasa jauh lebih nyaman daripada mengurung diri di dalam kamar.
Dia meratapi perilakunya sendiri. Berpikir apa yang sebenarnya dia rasakan? Apa benar ini rasa cemburu? Ellea sendiri tak tau bagaimana mengartikannya.
"Maria.." Panggilnya pada Maria yang duduk di sebelahnya.
"Ya, nyonya."
"Menurut mu, apa sikap ku berlebihan pada Viskah?" Tanyanya.
Maria diam sejenak. Karena sebenarnya dia juga mendengar ucapan Ellea tadi pagi dari balik ruangan. Dia sendiri cukup terkejut mendengarnya. Ellea seakan memiliki keberanian lebih sejak kehilangan calon anaknya.
"Hmm.. Menurut saya.." Maria masih nampak menata kalimat.
Namun yang sedang menjadi topik panas kali ini tiba-tiba muncul di tepat di belakang mereka. "Sedikit berlebihan!" Ucapnya menyela.
Ellea dan Maria menatapnya tajam. Wanita ini lama lama seperti iblis yang bisa muncul dimana saja dan kapan saja. Dia berjalan mendekati Ellea.
"Tapi tidak masalah, karena sepertinya kau memang bisa mengendalikan Damian!" Ucapnya.
Emosi Ellea kembali meninggi. "Apa maksud mu?"
Viskah mengangkat bahunya. "Aku tidak pernah melihat Damian mengikuti langkah seorang wanita. Selama ini yang aku tau soalnya hanya aturan dan hukuman." Viskah berhenti sejenak memandang Ellea dengan tajam. "Tapi aku suka hal itu, bagaimana dengan mu? Ruang kerjanya keren kan?"
Ellea mengerti maksud dari kalimat itu. Sebab, Damian pun tak bisa menjawab pertanyaan tadi. "Maksud mu, kau hanya di sentuh oleh Damian saat dia marah? Begitu? Dia mengikat kedua tangan dan kaki mu sampai kau tidak bisa berkutik?"
Viskah tersenyum. "Ya, aku merindukan momen itu!" Ucapnya tanpa tau malu. Sepertinya, urat malu wanita ini sudah putus.
Ellea pun tersenyum tak kalah lebar, sedangkan Maria yang menjadi saksi perdebatan kedua wanita ini hanya bisa mematung memperhatikan. Seakan dia menjadi jurinya sekarang, menilai siapa yang akan memenangkan debat kali ini.
"Sayang sekali kalau begitu! Kau hanya bisa diam dan menjadi bahan pelampiasan! Sedangkan aku bisa menikmati setiap jengkal dari tubuhnya, aku bisa menyentuh semua bagian tubuhnya, aku berada di atas tubuhnya sampai membuat dia tak berdaya! Tidak seperti dirimu, yang hanya menjadi budak seks atas amarahnya!" Ucap Ellea mengangkat alis sebelahnya.
Viskah nampak tersinggung dengan kalimat Ellea. Dia mendekati Ellea yang masih duduk dengan santai. Tangannya siap menampar Ellea. Sebelum Maria siap memberikan perlindungan, tangan itu sudah di tangkap seseorang. Damian.
Sontak Viskah diam membeku dan tidak berkutik. Tertegun melihat kedatangan Damian. Raut wajahnya yang angkuh dan penuh amarah kini berubah drastis menjadi ketakutan. Bahkan tangannya sedikit gemetar.
"Kalau kau sampai menyentuhnya! Aku akan mematahkan tangan mu!" Ancam Damian dengan suara beratnya. Dia mendorong Viskah hingga wanita itu hampir terjatuh.
Ellea yang melihat itu jadi bertanya-tanya, sejauh mana hubungan kedua orang ini sebelumnya. Namun belum sempat dia berpikir lebih jauh. Viskah sudah lebih dulu mengeluarkan sebuah flashdisk dan menunjukkannya pada Damian.
"Kau jangan macam-macam, Damian! Aku memegang semua data milik Alan, kalau kau mematahkan tangan ku, aku akan menghapus semua data Alan hingga dia benar-benar tidak bisa di temukan lagi!" Viskah tak mau kalah.
Sontak, detik itu juga, Damian langsung menampar Viskah dengan keras hingga tersungkur ke tanah. Pria itu nampak belum puas. Dia menarik lengan Viskah dan memaksanya berdiri.
"Kau pikir kau siapa, huh! Beraninya kau mengancam ku!"
PLAKKK!!
Satu tamparan keras mendarat lagi di pipi kanan Viskah. Pasti rasanya panas menjalar. Ellea tak tega melihat itu. Dia segera beranjak dan menahan Damian yang hendak menampar lagi.
"Damian hentikan!" Teriak Ellea.
Seketika Damian menghentikan gerakannya. Dia menatap tajam Viskah yang sudah berada di genggaman amarah. Tinggal sedikit lagi wanita ini akan babak belur jikalau Ellea tak menghentikan Damian.
"Damian.." Panggil Ellea yang berdiri di belakangnya.
Damian melepaskan genggamannya pada Viskah. Membiarkan wanita itu menarik nafas dengan leluasa.
Perlahan, Ellea menarik lengan Damian. Menggenggam erat tangan suaminya itu. Menariknya menjauh dari sana, meninggalkan Viskah seorang diri. Maria juga membuntuti langkah nyonyanya. Seakan enggan membantu Viskah yang sedang terguncang batinnya.
Sedangkan Viskah yang berdiri disana, memandang tajam Ellea. Kebencian jelas terlihat jelas di kedua matanya. Dalam hatinya dia bersumpah akan membuat Ellea membayar semua perlakuan Damian pada dirinya.
Ellea sendiri membawa Damian ke dalam kamarnya. Karena dia masih enggan untuk masuk ke dalam kamar pribadinya bersama Damian. Rasa trauma itu masih melekat kuat.
"Duduklah dulu, akan aku ambilkan minum!" Ucap Ellea pada Damian.
Namun, Damian menahan tangan Ellea. Mengisyaratkan wanita itu untuk ikut duduk di sebelahnya.
Ellea duduk di sebelah Damian, di kursi sofa panjang yang terletak di depan ranjang. Mereka saling memandang satu sama lain. Seakan sama sama memiliki banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban sekarang juga.
Tetapi, Ellea enggan memulai. Energinya seakan sudah habis untuk menghadapi Viskah.
"Kau benar, Ellea. Aku pernah tidur dengannya. Viskah pernah menjadi budak ranjang ku setahun lalu." Ucap Damian pelan dan dingin namun berhasil menyayat hati Ellea.
Ellea menelan ludah meski terasa tercekat. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Entah mengapa, Damian selalu membuatnya merasa kecewa di saat dia sudah mulai menerima pria itu. Atau mungkin, lebih tepatnya Damian ini memang memiliki banyak masa lalu kelam yang belum Ellea ketahui.
"Tetapi aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya.."
"Hanya melampiaskan nafsu mu!" Sela Ellea menatap tajam Damian.
"Kita sudah selesai, benar-benar selesai. Hingga aku membutuhkan keahliannya lagi sekarang untuk menemukan Alan! Aku tidak punya pilihan lagi, Ellea." Damian mencoba menjelaskan.
"Apa yang membuatnya menjadi budak ranjang mu?"
"Sejak ayahnya meninggal, ibunya menjualnya pada ku untuk membayar hutang mereka." Jawab Damian.
Keduanya diam sejenak.
"Tetapi setiap aku melakukan itu dengannya, aku merasa bersalah. Hingga akhirnya aku membebaskannya dan mengirim dia ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda karena berada disini." Tambah Damian.
"Baiklah, cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi! Apapun yang kalian lakukan dulu, bukan urusan ku. Lebih baik kau urus dia sekarang agar segera menemukan keberadaan Alan dan Andrew! Aku tidak suka melihat sikapnya dan jangan biarkan dia berada di lantai atas, aku tidak mau bertemu dengannya lagi!" Ellea berkata dengan tegas dan jelas.
Damian mengangguk mengerti. Pria itu merasa Ellea sekarang banyak berubah sejak mengalami keguguran. Raut wajah ketakutan dan pasrah itu tak lagi terlihat disana.
Yang ada sekarang hanya ketegasan. Wanita ini juga nampak lebih bijak. Berani mengambil keputusan dan lebih percaya diri. Tidak seperti dugaan Damian sebelumnya.
Bersambung..
.
good luck authorrr