NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: tamat
Genre:Mafia / Perjodohan / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa - Sisa yang Memudar

​Mansion Thorne di perbukitan California yang biasanya memancarkan aura kemegahan yang kaku, kini mulai menampakkan tanda-tanda pembusukan yang halus. Belum genap satu minggu sejak Nora Leone—atau yang kini dikenal sebagai Nora Sullivan—melangkahkan kakinya keluar dari gerbang besi itu, namun jiwa dari rumah ini seolah-olah ikut terbawa pergi bersamanya.

​Di taman samping yang biasanya menjadi tempat favorit Nora, barisan bunga mawar Juliet dan bunga lily putih yang ia rawat dengan jemari lembutnya mulai menunduk layu. Kelopak-kelopak yang dulu segar dan harum kini berubah warna menjadi cokelat kering di pinggirannya, seolah meratapi kepergian sang pelindung. Di dalam rumah, suasananya jauh lebih menyesakkan. Vas-vas kristal mahal yang tersebar di lobi dan ruang tengah masih berisi rangkaian bunga potong, namun air di dalamnya telah berubah keruh dan berbau asam. Bunga-bunga itu mengering secara tragis, menjatuhkan kelopak-kelopaknya yang mati di atas meja marmer yang berdebu.

​Stella Leone, yang kini merasa sebagai nyonya sah di kediaman itu, berjalan melewati lorong dengan langkah yang angkuh. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah menyala, kontras dengan suasana rumah yang mulai suram. Saat langkahnya terhenti di depan sebuah vas besar berisi bunga lily yang sudah mengering total, hidungnya berkerut karena jijik.

​"Martha! Martha!" teriak Stella, suaranya yang melengking memecah keheningan mansion.

​Martha, yang sedang merapikan taplak meja di ruang makan, segera datang dengan langkah tergesa. Wajah wanita tua itu tampak lebih kuyu sejak kepergian Nora; lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan tentang malam-malam yang dihabiskan untuk menangis.

​"Iya, Nona Stella?" tanya Martha pelan, kepalanya tertunduk.

​"Lihat ini!" Stella menunjuk vas bunga yang layu itu dengan jarinya yang dihiasi kuku palsu panjang. "Bau busuk ini memenuhi seluruh ruangan! Kenapa barang-barang sampah ini masih ada di sini? Buang semuanya! Cabut semua bunga di taman yang mulai mengering itu. Aku tidak mau melihat satu pun jejak wanita itu di rumah ini!"

​Martha menatap bunga-bunga itu dengan rasa sedih yang mendalam. Ia ingat betapa bahagianya Nora saat bunga-bunga itu mekar. "Tapi Nona, Nona Nora sangat mencintai bunga-bunga ini. Tuan Adrian juga biasanya—"

​"Jangan sebut nama itu di depanku!" Stella membentak, matanya berkilat penuh kebencian. "Nora sudah pergi! Dia sudah menjual dirinya ke New York! Sekarang aku nyonya di sini. Aku ingin semua vas ini dibersihkan dan diisi dengan dekorasi modern yang tidak berbau tanah. Mengerti?"

​Martha hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan saat Stella berlalu pergi dengan angkuh. Dalam hatinya, Martha menjerit. Perbedaan antara kedua saudara itu bagaikan bumi dan langit. Nora selalu berbicara dengan nada lembut, bahkan sering membantu Martha mengganti air vas bunga itu sendiri. Sedangkan Stella, dia memperlakukan semua orang seperti budak dan memandang keindahan yang diciptakan Nora sebagai ancaman yang harus dimusnahkan.

​Stella mulai berkeliling, memberikan perintah acak untuk mengubah tata letak furnitur. Ia merasa bebas karena Adrian sudah pergi sejak pukul lima pagi. Adrian belakangan ini menjadi sosok yang lebih gelap dan sulit ditebak; ia sering berangkat sangat pagi dan pulang larut malam, seolah-olah sedang melarikan diri dari bayang-bayang di dalam rumahnya sendiri. Tanpa intervensi Adrian, Stella merasa memiliki otoritas penuh untuk menghapus setiap inci keberadaan Nora dari mansion Thorne.

​New York, di saat yang bersamaan...

​Ribuan mil dari California, Nora Sullivan terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia memulai paginya dengan rutinitas yang kini menjadi jangkar bagi hidupnya yang baru. Di ruang meditasi kecil di samping kamar utama, ia melakukan beberapa gerakan yoga. Tarikan napasnya terasa dalam dan bebas, tidak lagi tertahan oleh rasa takut.

​Setelah selesai, ia kembali ke sisi ranjang Declan. Dengan bantuan Markus, perawat laki-laki yang kini menjadi rekan kerjanya, Nora membersihkan tubuh Declan dengan teliti. Ia mengusap lengan dan dada suaminya dengan air hangat, memastikan sirkulasi darah pria itu tetap terjaga dengan pijatan-pijatan ringan. Ia mengganti baju Declan dengan kemeja kasmir berwarna abu-abu muda yang lembut.

​"Kau tampak sangat tampan hari ini, Declan," bisik Nora sembari merapikan kerah bajunya.

​Setelah ritual pagi selesai, Nora turun untuk sarapan bersama Lydia. Hubungan mereka semakin erat; Lydia tidak lagi memperlakukan Nora sebagai orang asing, melainkan sebagai partner dalam menjaga nyawa putra tunggalnya. Percakapan mereka berkisar tentang menu makan siang dan rencana kunjungan dokter spesialis minggu depan.

​Namun, setelah Lydia berangkat untuk mengurus beberapa urusan yayasan keluarga, Nora mulai merasakan kebosanan yang menggelitik. Ia memutuskan untuk keluar dari bangunan utama dan berjalan-jalan di taman belakang yang sangat luas.

​Udara New York pagi itu cukup segar. Nora berjalan menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan ek dan maple yang rimbun. Di beberapa sudut taman, ia melihat sekelompok pekerja kebun yang sedang sibuk. Ada yang sedang memangkas semak-semak, ada yang sedang membersihkan kolam pancuran, dan ada yang sedang menanam bibit bunga musim semi yang baru.

​Nora tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah. "Selamat pagi semuanya. Kerja yang bagus," ujarnya lembut.

​Beberapa pekerja berhenti sejenak, melepas topi mereka dan membungkuk hormat. Namun, saat Nora berlalu sedikit menjauh untuk melihat koleksi anggrek di rumah kaca, telinganya yang tajam menangkap bisik-bisik dari dua pekerja muda yang sedang merapikan rumput.

​"Itu Nyonya Sullivan yang baru, kan?" bisik salah satu pekerja laki-laki. "Cantik sekali. Gila, aku belum pernah melihat wanita secantik itu di rumah ini selama sepuluh tahun bekerja."

​"Iya, benar-benar menyedihkan," sahut yang lain dengan suara rendah. "Dia masih sangat muda dan bersinar, tapi harus menghabiskan hidupnya merawat Tuan Declan yang... yah, kau tahu sendiri. Harusnya dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih 'sehat' dan bisa membawanya berdansa, bukan malah terkurung dengan orang koma."

​Nora terhenti, tangannya yang hendak menyentuh kelopak anggrek menggantung di udara. Ada rasa nyeri yang aneh mendengar kata-kata itu, namun ia tetap tenang.

​"Sst! Jaga bicaramu," suara pekerja ketiga, yang tampaknya lebih tua, terdengar menyela dengan tegas. "Kalian tidak tahu apa-apa. Tuan Declan adalah pria yang sempurna sebelum kecelakaan itu. Dia cerdas, kuat, dan sangat menghormati wanita. Jika ada pria yang pantas mendapatkan istri sebaik dan setulus Nona Nora, itu adalah Tuan Declan. Mereka berdua justru tampak serasi dalam kesunyian ini. Kalian hanya melihat fisiknya, tapi tidak melihat bagaimana rumah ini terasa lebih hangat sejak dia datang."

​Nora menarik napas panjang dan melanjutkan langkahnya, berpura-pura tidak mendengar apa pun. Kata-kata pekerja tua itu memberikan kehangatan di hatinya.

​Ia berjalan menuju sebuah bangku taman yang menghadap ke arah hutan pinus. Nora duduk di sana, merenungkan apa yang baru saja ia dengar. Di California, orang-orang membicarakannya sebagai "wanita simpanan Adrian" atau "tameng yang bisa dibuang". Di sini, meskipun ada yang mengasihaninya, ada juga yang memandangnya sebagai sosok yang membawa kebaikan.

​Nora menatap cincin di jarinya. Ia teringat kembali pada sisa-sisa bunga di mansion Adrian yang mungkin sekarang sudah dibuang oleh Stella. Ia merasa bersyukur. Biarlah bunga-bunga itu layu, karena ia sendiri sudah mekar kembali di tanah yang baru. Ia tidak lagi peduli apakah Declan akan bangun besok, setahun lagi, atau tidak sama sekali.

​Bagi Nora, merawat Declan adalah cara ia merawat luka-lukanya sendiri. Di rumah ini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Ia tidak perlu memakai perhiasan berat untuk membuktikan nilainya. Ia hanya perlu menjadi Nora—wanita yang mencintai kedamaian dan keasrian taman ini.

​Sambil menatap para pekerja yang kembali sibuk, Nora berjanji dalam hati. Jika suatu saat Declan bangun, ia ingin pria itu melihat taman yang paling indah yang pernah ada. Ia ingin rumah ini menjadi tempat yang paling nyaman bagi Declan untuk kembali.

​"Kau beruntung, Declan," gumam Nora pada angin yang berhembus. "Bukan karena kau memilikiku, tapi karena kau memiliki orang-orang di sini yang masih percaya padamu."

​Nora bangkit dari bangkunya, merasa bosannya telah hilang digantikan oleh semangat baru. Ia berjalan kembali menuju rumah, berniat meminta Samantha untuk mengajarinya cara membuat kue kering kesukaan Lydia. Di New York, hari-harinya mungkin tenang dan repetitif, namun setiap detiknya terasa seperti kemenangan atas masa lalu yang berusaha menghancurkannya.

1
Liana Simon
seru ceritanya, perjuangan yang hebat Thor
Arieee
bagus🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰👍👍👍👍👍👍👍👍
Arieee
semoga nora gpp🤧🤧🤧🤧 kapan Stella dibuang jauhhhhh thor
kartini aritonang
ha ha ha..rasain tuh iblis betina...akhirnya kamu bertemu lawan yang sepadan. 🤣🤣
kartini aritonang
kamu salah stella, justru declan sudah lebih dulu tau masa lalu nora dari orang kepercayaannya. aneh...bukannya insyaf..malah semakin menjadi jadi iblis betina yang satu ini 😡
Ridwani
👍👍👍👍
kartini aritonang
lanjut thor....💪
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!