Di wilayah Provinsi Langit Hijau, Klan Long adalah salah satu kekuatan terbesar yang menjunjung tinggi bakat di atas segalanya. Long Yue, pemuda berusia lima belas tahun dari keluarga cabang, dianggap tidak memiliki bakat sama sekali dalam tiga jalur kekuatan utama klan—kultivasi, alkimia, maupun pembentukan formasi. Ia hidup dalam keterasingan, penghinaan, dan diasingkan oleh seluruh anggota klan bahkan keluarganya sendiri karena dianggap beban yang tidak berguna. Saat kepala klan mengusulkannya untuk dibuang di pertemuan tahunan, Long Yue dengan berani mengumumkan kepergiannya secara sukarela dan bersumpah akan kembali sebagai sosok terhebat yang pernah ada.
apa yang akan terjadi selanjutnya.?
dan akankah Long Yue berhasil membuktikan kepada klan nya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12:Api Ungu Surgawi Tingkat Satu
Long Yue berjalan mendekati dengan napas yang memburu dan tubuh yang penuh luka bakar serta memar. Ia menatap nyala api kecil itu dengan mata berbinar-binar bahagia. Di sekeliling api itu, tidak ada lagi hawa panas yang menyengat, melainkan rasa hangat yang nyaman dan menenangkan, memancarkan energi murni yang seimbang antara kekuatan dan kelembutan.
Sesuai petunjuk di kitab, Long Yue mengulurkan telapak tangan kanannya perlahan ke arah api itu. Ia tidak memaksanya, melainkan memanggilnya menggunakan kesadaran dan energinya yang murni.
"Datanglah... jadilah bagian dari diriku... kami akan menempuh jalan panjang ini bersama..." bisiknya pelan.
Nyala api kecil itu seolah mendengar panggilan. Ia bergerak perlahan, melayang di udara, lalu mendarat lembut di tengah telapak tangan Long Yue. Saat menyentuh kulitnya, api itu tidak membakar atau melukai sedikit pun. Sebaliknya, ia meleleh masuk ke dalam pori-pori kulit, mengalir masuk ke dalam tubuh, menuju pusat energi di perut bawah, lalu menetap
Nyala Api Ungu Surgawi Tingkat Satu yang baru saja didapatkan itu melayang lembut ke tengah telapak tangan Long Yue, lalu meleleh masuk ke dalam pori-pori kulitnya bagaikan air yang diserap tanah kering. Tidak ada rasa panas yang menyengat atau rasa sakit yang tajam seperti yang ia bayangkan. Yang ia rasakan hanyalah aliran hangat yang lembut namun sangat padat, bergerak perlahan namun pasti menuju pusat energi di perut bawah — tempat di mana seluruh kekuatan dan inti kekuatan seseorang bersemayam.
Sesuai petunjuk rinci di dalam Kitab Tiga Keahlian Kultivasi, memiliki api roh hanyalah langkah awal. Api yang baru didapatkan langsung dari alam masih mengandung banyak unsur liar, kotoran energi, dan sifat alamiah yang belum teratur. Jika dibiarkan begitu saja, api itu mungkin akan menjadi sumber kekuatan, tapi juga bisa menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan merusak seluruh dasar kultivasi. Langkah paling penting dan krusial berikutnya adalah proses pemurnian dan penyatuan.
Long Yue tidak berani menunda. Meski tubuhnya penuh luka bakar dan memar akibat pertarungan melawan Naga Tanah Api Ungu tadi, ia segera mencari tempat yang paling stabil dan kaya energi di sekitar mulut kawah itu. Ia menemukan sebuah batu datar besar yang masih memancarkan panas bumi lembut, tempat yang paling cocok untuk proses ini. Ia duduk bersila tegak, mengatur napasnya menjadi panjang dan stabil, lalu memusatkan seluruh kesadarannya ke dalam tubuh, mengamati pergerakan api ungu yang kini sedang berputar-putar kacau di dalam pusat energinya.
Di dalam sana, nyala api itu bergerak liar, berusaha melebur dengan energi dasar Long Yue namun sering kali bertabrakan, menciptakan gelombang panas yang menyebar ke seluruh pembuluh darah. Energi dasar miliknya yang berwarna putih keemasan berusaha menahan dan menyeimbangkan, tapi karena perbedaan sifat dan kepadatan, terjadi gesekan hebat yang membuat seluruh tubuh Long Yue terasa panas luar biasa, seolah sedang dimasak hidup-hidup di dalam tungku raksasa.
Ini baru permulaan. Jika aku tidak bisa menjinakkanmu hari ini, semua pengorbananku sia-sia," gumam Long Yue dalam hati, giginya mengerat menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang sumsum keringat mengucur di sekujur tubuhnya namun Long Yue terus bertahan karena dia tau api surgawi adalah api paling langka nomor dua hanya lebih rendah satu tingkat dar api abdi.