Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35- MCI 35
Ceklek
Raez membuka pintu ruangan rawat dimana ibunya berada.
Semua yang ada di dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu. Dan tatapan Diandra, segera tertuju pada seorang pria yang matanya tampak merah, menatap Diandra dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Tapi, ada rasa sakit yang begitu besar di sana.
"Berani juga kamu datang?" pekik Siska.
Pertanyaan itu bukan untuk Raez, tapi untuk Diandra.
Max masih diam, dia hanya berdiri di belakang ayahnya, dengan diam.
"Apa semua ini Raez? Diandra?" tanya Pram.
Raez menggenggam tangan Diandra dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan itu. Sementara tatapan Max, terus tertuju pada tangan pamannya yang menggenggam erat tangan wanita yang sudah dia suka selama 5 tahun lebih itu.
Siska yang melihat Raez seperti itu, menjadi sangat emosi.
"Kamu bahkan membawa pembohong ini kemari?"
"Bu, Diandra tidak berbohong. Aku yang berbohong pada kalian" ucap Raez.
Diandra menoleh ke arah pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Apa maksudmu, Raez?" tanya Amalia yang matanya sudah berkaca-kaca.
Dia tentu saja sangat sedih, anaknya sangat menyukai Diandra. Sekarang, Diandra hamil anak Raez. Dia tidak bisa menahan air matanya.
"Aku dan Diandra, sebenarnya sudah saling kenal. Kami sudah berhubungan selama tiga tahun..."
"Mustahil! kamu sampai berbohong begini Raez? keterlaluan!"
Siska semakin emosi, dia pikir Raez bahkan berbohong demi Diandra.
"Tidak, Bu. Selama membangun proyek dan menemani Max kuliah di Madrid. Aku dan Diandra sudah menjalin hubungan. Hanya saja, aku tidak tahu Diandra adalah putri tuan Romi. Diandra juga tidak tahu, siapa aku. Kami hanya..."
Max yang mendengar itu merasa tidak tahan. Dia berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu tanpa bicara dan menoleh. Hatinya hancur, sangat hancur.
Brakk
Max membanting pintu.
"Lihat itu! lihat ulah kalian! akhiri saja. Aku tahu dia berbohong! hentikan semua ini. Dan kamu Diandra pergi dari kehidupan Raez dan Max!"
Nyonya Siska bicara dengan sangat tegas. Tatapannya begitu tajam pada Diandra.
"Tidak bisa! Diandra benar-benar hamil. Anakku, dan kami sudah menikah!"
Raez mengeluarkan buku nikah mereka dan bukti laporan pemeriksaan medis Diandra.
"Raez..." lirih Amalia.
Sedangkan nyonya Siska. Wajahnya tampak merah padam. Wanita itu sungguh sampai pada batas kesabarannya.
"Tuan... tuan....!"
Dari luar, Bram berteriak memanggil Raez.
"Ada apa?"
"Tuan Max, kecelakaan!"
"Max!"
Semua orang berteriak. Diandra melepaskan tangannya dari Raez. Raez yang menyadari hal itu merangkul Diandra.
"Tidak apa-apa, pasti sudah di tangani..."
"Tidak apa-apa bagaimana? kalah sampai terjadi sesuatu pada Max, kalian berdua lah yang bertanggung jawab!" pekik Siska.
Diandra sungguh merasa sangat bersalah. Tangannya gemetaran, Max adalah satu-satunya teman untuknya di Madrid. Dia benar-benar telah menyakiti Max. Kaki Diandra mendadak lemas, rasa bersalah membuatnya tidak fokus dan matanya mendadak berkunang-kunang.
Diandra mulai terhuyung, ketika semua orang meninggalkan ruangan itu untuk melihat bagaimana kondisi Max.
"Diandra...." Raez meraih tangan Diandra, mencoba untuk menenangkannya, "Max, akan baik-baik saja...!"
Brukk
"Diandra!"
Beberapa waktu yang lalu. Max yang mendengar kalau kedua orang yang sangat penting baginya itu sebenarnya sudah kenal lama. Hatinya mendadak menjadi sangat hancur.
Dia tidak sanggup melihat keduanya bergandengan tangan di depannya. Dia memilih pergi.
Tapi, Max pergi dengan hati yang sangat kacau. Hati yang sangat hancur. Dia mencintai Diandra dengan sangat tulus. Dia tidak pernah memaksakan apapun pada Diandra. Cintanya sungguh murni dan tulus. Tapi, kenyataan kalau pamannya dan Diandra punya hubungan, dan Diandra hamil anak pamannya. Itu membuat Max sangat terluka.
Dengan hati yang robek, dan patah. Max masuk ke dalam mobil. Dia bahkan tidak tahu dia harus kemana. Hanya saja dia ingin pergi dari tempat ini. Tempat yang membuat hatinya terasa begitu sakit.
Awalnya Max berkendara dengan biasa. Tapi, kenangan-kenangan bersama Diandra itu kembali lagi melintas di kepalanya. Membuat dia tidak fokus, membuatnya tidak sadar telah menginjak pedal gas dengan sangat kuat. Hingga mobil itu melaju sangat kencang. Tak jauh dari rumah sakit, di sebuah lampu merah, sebuah truk besar membunyikan klakson dengan sangat kencang.
Max, tersadar tapi semua itu sudah terlambat. Ketika dia banting setir, mobilnya malah menghantam pembatas jalan dengan sangat kencang.
Brakkk
Suara keras terdengar, kondisi mobil rusak parah. Dan beberapa orang langsung datang membantu Max. Lalu membawanya ke rumah sakit, yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan itu.
Amalia, Pram, dan Siska yang duduk di atas kursi roda segera pergi ke ruangan operasi. Dari UGD, Max segera di bawa ke ruang operasi. Sementara Raez masih menunggu Diandra yang tiba-tiba pingsan.
"Tuan..."
Bram masuk ke ruangan dimana Diandra di rawat sementara.
"Bagaimana Max?" tanya Raez.
"Tuan, tuan Max masih di tangani di ruang operasi. Kecelakaan itu cukup parah. Tapi itu murni kelalaian pengemudi. Kondisi rem dan mesin semuanya baik menurut rekaman sebelum kecelakaan. Tapi kecepatan yang terekam 140 km perjam.
Raez menghela nafas panjang. Keponakannya itu sungguh terpukul sepertinya.
"Awasi terus, pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik!"
"Baik tuan!"
Di depan ruangan operasi. Semuanya tampak sangat panik dan cemas. Raez yang sudah memastikan Diandra baik-baik saja, hanya sangat terkejut langsung menyusul keluarganya di ruangan operasi.
Tapi, Siska yang melihat itu sangat marah.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Siska dengan ketus.
"Bu, aku sungguh minta maaf. Aku perduli pada Max..."
"Jika peduli, mana mungkin kamu menipu Max. Jika kalian memang sudah saling kenal, kenapa tidak memberitahu Max. Kamu dan wanita itu sama saja. Kalian berdua orang-orang licik dan kejam. Tidak perduli nama baik keluarga, apalagi keluarga! pergi kamu dari sini! jika terjadi sesuatu pada Max! ingatkah Raez, ini salahmu!" kata Siska.
"Bu..."
"Pergilah Raez!" kata Pram yang juga sudah mencoba menahan diri sejak tadi.
"Kakak ipar..."
"Pergilah! kalian sudah menentukan semua ini kan? kalian bisa hidup bahagia tanpa mengusik putraku lagi. Pergilah!"
Raez menghela nafas berat. Awalnya dia memang ingin melepaskan Diandra. Tapi, dia tidak bisa. Apalagi Diandra sudah hamil anaknya. Apapun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan Diandra.
***
Bersambung...
Oleh dunia yang fana sebagai tempat ujian bagi kita
Dunia sementara akhirat selama lamanya
Orang kaya mati
Orang miskin mati
Raja raja mati
Rakyat biasa mati
Semua pergi menghapap Illahi
Dunia yang dicari
Tak ada yang berarti.. 🎶🎤
Genelia mati..
Kamila mati..
Romi gila..
Diandra bahagia..
Terimakasih Kak Noer untuk updatenya.. ❤❤❤❤❤
cepat sekali sudah tamat...
aku kira masih ada cerita selanjutnya...
GK taunya udah endingnya 😭😭😭