“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Batas yang Ditegaskan
Ayza menarik napas pelan. Menahan sesuatu yang mulai naik ke dadanya. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Alvian kembali bersuara.
“Ada Om Fahri,” lanjut Alvian cepat. “Om Fahri marah.”
Ayza menoleh lagi.
“Dia bilang jangan dekati Al lagi,” tambahnya.
Ayza terdiam, namun sebelum ia sempat bicara—
“Terus, di mobil…” lanjut Alvian pelan, “…aku tanya Om Fahri soal Abi.”
Ayza tak menyela.
“Aku bilang… Om Reza nunjukin foto itu…”
Ia berhenti sejenak, mengingat.
“Terus Om Fahri bilang…” suaranya kecil, tapi jelas, “…kalau orang bicara soal orang lain, kita gak bisa langsung percaya.”
Alvian melanjutkan. “Katanya… apalagi kalau itu tentang orang yang kita sayang."
Ia terdiam sejenak, alisnya sedikit bertaut. "Aku tanya lagi…” tambahnya, “…kalau benar gimana.”
Ia memutar kepala kecilnya ke arah Ayza.
“Om Fahri bilang, Abi sayang sama Al…” lanjutnya, suaranya lebih kecil, “…dan sama Umi.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat sesuatu di dalam diri Ayza… bergeser.
“Katanya, kalau Abi lagi sibuk…” lanjut Alvian, “…bukan berarti Abi berubah.”
Ayza menunduk sedikit. Tangannya yang tadi mengepal… perlahan mengendur.
“Ia juga bilang…” suara Alvian makin pelan, “…kalau aku ragu… tanya langsung ke Abi. Jangan simpan sendiri.”
Ayza tidak langsung bicara. Tatapannya kosong sejenak. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi karena… ia tahu persis, kata-kata itu bukan sekadar menenangkan anak kecil.
Itu pilihan.
Pilihan untuk tidak merusak. Untuk tetap menjaga… meski ia sendiri tidak benar-benar tahu kebenarannya.
Dan di situ, rasa hormat Ayza bertambah.
Ia tidak bicara cukup lama. Namun kali ini, bukan karena ragu, melainkan karena menahan sesuatu.
Ia mengangkat tangan, mengusap pelan kepala Alvian.
“Dengar, Sayang…”
Nada suaranya kembali lembut, tapi lebih dalam.
“Om Reza tidak seharusnya bicara seperti itu ke kamu.”
Alvian menatapnya.
“Itu bukan hal yang pantas didengar anak-anak.”
Ia berhenti sejenak memilih kata. “Dan soal Abi…”
Kalimat itu menggantung sesaat. Ayza menarik napas pelan.
“Umi yang akan urus.” Katanya sederhana, tapi tegas.
Alvian mengangguk kecil, namun masih ada ragu di matanya.
Ayza melihat itu, lalu menarik Alvian sedikit lebih dekat.
“Kalau kamu bingung…” ucapnya lirih, “…tanya ke Umi. Jangan simpan sendiri.”
“Iya, Umi…”
Jawaban itu pelan, tapi lebih tenang.
Ayza tersenyum tipis, namun setelah itu… tatapannya berubah. Lebih dingin. Lebih fokus.
Reza.
Dan di balik itu, Fahri.
Tanpa banyak kata, ia tahu satu hal. Ia tidak salah menilai orang.
Sejak dulu… Fahri selalu tahu batasnya. Selalu menjaga jarak yang seharusnya dijaga. Dan hari ini, ia kembali membuktikan itu.
Ayza menunduk sedikit, menatap anaknya. Lalu, tanpa sadar, pikirannya melayang lebih jauh.
Selama ini… saat semua terasa berat, saat ia hampir tidak punya pegangan, Fahri selalu ada.
Tanpa diminta. Tanpa melewati batas.
Dan mungkin… itulah alasan kenapa, di tengah semua yang retak, ia masih bisa berdiri.
Tidak semua orang… memilih untuk benar saat punya kesempatan untuk menang.
***
Lobby kantor itu tenang.
Ayza melangkah masuk dengan langkah tegap. Tatapannya lurus. Ia berhenti tepat di depan meja resepsionis.
“Saya ingin bertemu dengan Pak Reza.”
Resepsionis tersenyum sopan. “Apakah sudah ada janji sebelumnya, Bu?”
“Belum.” Jawaban Ayza singkat. “Tolong sampaikan… Ayza ingin bicara.”
Nama itu cukup.
Di lantai atas, seorang sekretaris berdiri di depan meja kerja Reza.
“Pak… ada tamu.”
Reza tidak langsung menoleh. “Siapa?”
“Bu Ayza.”
Tangan Reza yang sedang memegang pena berhenti. Ia mengangkat kepala.
“Siapa?”
“Bu Ayza, Pak.”
Reza terdiam sepersekian detik. Lalu,
“Suruh masuk.”
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Reza diketuk, lalu terbuka setelah ia mengizinkan masuk.
Ayza melangkah masuk.
Reza sudah berdiri. Senyum tipis langsung terpasang.
“Tidak menyangka…” ucapnya ringan. “Kamu akan datang ke sini.”
Ayza tidak membalas senyum itu.
"Silakan duduk." lanjut Reza. "Mau minum apa?" tanyanya masih dengan nada yang sama.
Tapi Ayza tidak duduk.
“Saya datang bukan untuk itu," katanya tanpa basa-basi.
Reza sedikit mengangkat alis. Tertarik.
Ayza menatapnya lurus. “Berhenti kirim apa pun ke rumah saya.” Nada suaranya tenang. “Tentang hadiah. Tentang mendekati anak saya.”
Ia maju selangkah.
“Dan tentang mencoba memengaruhi pikirannya.”
Kalimat terakhir itu… lebih tajam.
Ekspresi Reza tidak berubah. Ia justru berjalan santai ke arah meja. Bersandar ringan.
“Aku cuma ingin dekat dengan dia.” Nada suaranya masih ringan..“Dia anak yang baik.”
Ayza tidak terpengaruh.
“Dia anak saya.”
Satu kalimat itu menutup semua alasan.
Reza menatapnya lebih serius sekarang.
“Aku juga ingin kamu bahagia.” Kalimat itu keluar pelan. "Rumah tanggamu—"
“Apa pun yang terjadi di rumah tangga saya…” potong Ayza. Nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas. “...bukan urusan Anda.”
Reza mengangkat alisnya tipis.
Ayza melanjutkan. “Dan bukan hak Anda… untuk masuk.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada yang mengalah.
Reza menarik napas pelan.
“Kamu tahu Kaisyaf sudah mengkhianatimu—”
“Cukup.”
Kali ini Ayza memotong lebih tegas.
“Kalau itu benar…” ucapnya dingin, “…itu tetap urusan kami.”
Ia melangkah setengah langkah ke depan.
“Dan Anda… tidak punya tempat di dalamnya.”
Beberapa detik… tidak ada yang bicara. Lalu—
“Kalau Anda merasa sebagai pria terhormat…” lanjut Ayza rendah, penuh tekanan. “...jaga diri Anda.”
Matanya tidak goyah.
“Jangan jadi orang yang masuk ke rumah tangga orang lain… hanya karena melihat celah.”
Kalimat itu bersih tanpa emosi, tapi menampar lebih keras dari tangan.
Reza tidak langsung membalas.
Dan Ayza… belum selesai.
“Ada batas yang bahkan tidak perlu dijelaskan,” ucapnya. Dan Anda sudah melewatinya.”
Ayza, berkata lebih pelan—
“Dalam Islam… orang yang merusak hubungan suami istri itu bukan bagian dari golongan yang baik.”
Kalimat itu tidak panjang, tapi cukup… untuk memberi bobot.
Reza terdiam. Tidak ada bantahan ataupun senyuman seperti biasanya. Kali ini… ia tidak punya kalimat ringan untuk menutup.
Ayza menatapnya satu detik lebih lama. Lalu—
“Ini terakhir kali saya katakan.”
Nada suaranya tetap sama.
“Jangan racuni anak saya. Jangan dekati anak saya.”
Ia berbalik melangkah menuju pintu. Tanpa ragu dan tidak menoleh lagi.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Ruangan kembali sunyi.
Reza masih berdiri di tempatnya. Tidak bergerak selama beberapa detik. Lalu—
ia tertawa kecil, pendek. Namun kali ini tidak ringan. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.
“Kamu tetap seperti itu.”
Bukan kesal, lebih seperti… tertarik.
Ia berjalan pelan kembali ke mejanya, menyandarkan tubuh.
“Semakin dijaga…” Ia berhenti sejenak. Senyumnya kembali muncul. “…semakin sulit dilepaskan.”
...🔸🔸🔸...
..."Batas tidak selalu dijelaskan,...
...tapi sekali dilanggar, semuanya berubah."...
..."Menjaga bukan berarti lemah,...
...tapi tahu kapan harus berdiri dan menutup pintu."...
..."Ada yang mundur saat ditolak,...
...dan ada yang justru semakin ingin memiliki."...
..."Tidak semua yang bisa dimiliki… layak untuk dikejar."...
..."Rumah tangga tidak runtuh karena orang luar,...
...tapi karena mereka dibiarkan masuk."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.
Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.
Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.
Alvian...big hug 🥲
Tega sekali Ayza.
Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.
Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.
Fahri juga terluka.
Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Mesin tidak dimatikan.
Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.
Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.
Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.
Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.
Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.
Tak ada sambutan dari Alvian.
Bertemu calon yang dijodohkan.
Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.
Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.
Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.
Naila - mundur saja.
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...