papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhirnya elvaro mengetahui nya
Hari berganti hari, minggu pun berlalu. Namun sosok pemuda berdarah Korea itu, Youjin, tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Kelas XII IPA ¹ terasa sepi. Tidak ada lagi tawa renyahnya, tidak ada lagi ocehan lucu dengan bahasa Indonesia yang masih belepotan, dan tidak ada lagi tatapan lembut yang selalu mencari-cari seseorang di sudut ruangan. Youjin benar-benar menghilang. Dia tidak pernah masuk sekolah, tidak pernah mengangkat telepon, dan yang paling parah—dia bahkan tidak pernah lagi datang ke markas Geng Wolf.
Di antara semua orang, hanya ada satu hati yang merasa hampa dan gelisah luar biasa. Zavira.
Gadis itu duduk di bangkunya, matanya sering menatap kursi kosong milik Youjin. Rasa cemas mulai menggerogoti pikirannya. Apa yang terjadi padanya? Apakah dia sakit? Atau... apakah ini ada hubungannya dengan perkelahian hebat waktu itu di markas? berita yang sempat viral 4 hari yang lalu.
Zavira tahu betul bagaimana kerasnya kata-kata Elvaro saat itu. Dia tahu betapa menyakitkannya ucapan sahabat sendiri yang menuduh dan menyalahkan.
"Gue harus cari tau," batin Zavira tegas. "Gue nggak bisa diam aja."
Sepulang sekolah, tanpa pamit pada siapa pun, Zavira segera bergegas pergi. Dia tidak tahu bahwa dari kejauhan, sepasang mata tajam milik Elvaro memperhatikan kepergian istrinya itu.
Elvaro berdiri di depan gerbang sekolah, tangannya memegang setir motor dengan erat. Dia melihat Zavira berlari kecil menuju halte, terlihat sangat terburu-buru dan cemas.
Hati Elvaro terasa sedikit tersengat, tapi pikirannya sedang kacau balau. Masalah keluarga yang hancur, pertengkaran dengan Youjin, dan tekanan dari semua sisi membuat mentalnya sedang tidak baik-baik saja.
''Biarin aja...'' pikir Elvaro dingin, mencoba mengabaikan rasa penasarannya. ''Gue nggak punya waktu buat mikirin hidup dia. Dia mau pergi kemana, mau ketemu siapa, itu urusan dia. Gue capek.''
Dengan perasaan berat dan pikiran yang penuh beban, Elvaro membiarkan Zavira pergi begitu saja tanpa menghentikan atau ditanya. ia tidak tahu kemana arah langkah kaki istrinya itu, dan untuk saat ini, ia seolah tidak peduli. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ada rasa tidak nyaman yang mulai merayap.
Zavira pertama kali pergi ke rumah Youjin. ia mengetuk pintu berkali-kali, menanyakan keberadaan pemuda itu pada keluarga atau asisten rumah tangganya. Namun jawabannya selalu sama: "Tuan Muda Youjin tidak ada di rumah, Non. Kami juga tidak tahu dia pergi kemana."
Hati Zavira semakin cemas. Tapi tiba-tiba, sebuah ingatan muncul di benaknya. Youjin pernah bercerita padanya, saat mereka berdua asik mengobrol di rooftop.
"Vi, kalau gue lagi sedih atau lagi banyak pikiran, gue biasanya pergi ke tempat itu. Tempat yang tenang, ada banyak pohon, dan anginnya sejuk. Tempat itu bikin gue merasa damai, kayak di Korea asli," kata Youjin waktu itu sambil tersenyum.
Zavira tahu tempat itu. Sebuah taman kota yang cukup tersembunyi dan sepi, terletak di atas bukit kecil.
Tanpa membuang waktu, Zavira langsung menaiki taxi online yang ia pesan menuju tempat itu. Jantungnya berdegup kencang, berharap dugaannya benar.
Saat sampai di sana, mata Zavira langsung menangkap sosok yang sangat dia rindukan.
Di bawah pohon besar yang rindang, Youjin sedang duduk sendirian di atas rumput. Punggungnya terlihat begitu kurus dan lesu. Dia menunduk, memeluk lututnya, tampak seperti anak kecil yang tersesat dan sangat kesepian. Angin sore menerpa rambut pirang mudanya yang terlihat sedikit berantakan.
Zavira turun dari mobil dengan perlahan. ia berjalan mendekat dengan langkah pelan, tidak berani membuat suara agar tidak mengejutkannya. ia berdiri beberapa meter di belakang Youjin, memperhatikan sahabatnya itu dengan perasaan haru dan sedih.
Youjin sepertinya merasakan kehadiran orang lain. ia menoleh sedikit, dan saat matanya bertemu dengan mata Zavira, ia langsung terkejut dan reflek ingin bangkit dan pergi.
"Vi... gue..." Youjin tergagap, wajahnya terlihat tidak enak. ia segera memalingkan wajah, berniat menghindar.
Hatinya masih terasa perih mengingat kata-kata Elvaro kemarin. ''Lo itu cuma bikin masalah... otak lo buta gara-gara cewek...'' Kalimat itu terus berputar. Youjin merasa malu, merasa tidak berguna, dan takut kalau Zavira juga akan berpikir buruk tentangnya seperti Elvaro.
"Jangan pergi, Jin..." suara lembut Zavira menghentikan langkah Youjin.
"gue... gue nggak enak badan, Vi. gue mau pulang," jawab Youjin berbohong, bahasanya jadi terbata-bata karena gugup dan sedih.
"Jangan bohong," Zavira berjalan mendekat, lalu duduk tepat di hadapan Youjin. Gadis itu menatap mata youjin dalam. " gue tau lo kenapa. lo sakit hati kan sama omongan Elvaro?"
Mendengar nama itu, bahu Youjin sedikit bergetar. ia menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah menahan tangis.
"gue.. gue cuma nggak ngerti, Vi. Kenapa Elvaro bisa sejahat itu sama gue? Padahal gue anggap dia kakak, gue anggap dia sahabat terbaik. Tapi dia bilang gue cuma beban..." suara Youvaro pecah.
Zavira tidak berkata apa-apa. Dengan perlahan, dia mengulurkan tangannya, lalu mengusap kepala Youjin dengan sangat lembut. Jari-jarinya membelai rambut halus pemuda itu, memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak dia rasakan.
"lo nggak pernah jadi beban, Jin. lo orang terbaik yang pernah gue kenal," bisik Zavira lembut, suaranya menenangkan. "Elvaro cuma lagi emosi aja. Dia orangnya keras, tapi dia nggak bermaksud menyakiti lo sejauh itu."
"Tapi... dia benci gue sekarang," isak Youjin pelan.
"Nggak ada yang benci lo. gue ada di sini kan? gue cari lo kemana-mana. gue khawatir banget sama lo," kata Zavira tulus. "Kalau lo sedih, nangis aja. gue temenin lo di sini. Sampai lo merasa lebih baik."
Perhatian Zavira, kelembutan suaranya, dan sentuhan hangat di kepalanya... itu semua seperti obat mujarab. Benteng pertahanan Youjin yang keras akhirnya runtuh. Dia tidak lagi menghindar. Dia justru mencondongkan tubuhnya, membiarkan dirinya nyaman di dekat Zavira. Rasa sedih, kecewa, dan marah perlahan berganti menjadi rasa hangat yang membuatnya lupa waktu.
Mereka berdua duduk berdekatan di bawah pohon itu. Youjin menceritakan semua keluh kesahnya, dan Zavira mendengarkan dengan sabar. Suasana begitu damai, begitu intim, seolah dunia hanya milik berdua. Youjin bahkan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Zavira, mencari kenyamanan yang tidak pernah dia dapatkan dari orang lain akhir-akhir ini.
Di tempat lain, Elvaro sebenarnya sedang tidak tenang. Pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa fokus. Setelah berpikir panjang, dan mencoba menenangkan egonya, ia memutuskan untuk mencari Youjin.
''Gue salah...'' batin Elvaro. ''Gue kebawa emosi kemarin. Gue harus minta maaf ke Jin. Kita sahabat, gue nggak mau kehilangan dia cuma gara-gara masalah kekanakan.''
Dengan niat baik untuk memperbaiki persahabatan mereka, Elvaro melajukan motornya ke tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi. Dan instingnya membawanya ke taman di bukit itu.
Mobil Elvaro berhenti tidak jauh dari pohon tempat mereka duduk. ia baru saja turun dan hendak berjalan mendekat untuk memanggil nama sahabatnya.
Namun... langkah kakinya terhenti mati.
Waktu seolah berhenti berputar. Darah di tubuh Elvaro seakan berhenti mengalir.
Di hadapannya, hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, dia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak mendadak.
Dia melihat Youjin. Sahabatnya itu terlihat tenang, wajahnya damai, bersandar sangat dekat dengan seseorang.
Dan orang itu... adalah Zavira.
Istrinya sendiri.
Zavira sedang tersenyum lembut, tangannya masih mengusap punggung Youjin dengan penuh kasih sayang. Youjin terlihat begitu nyaman, begitu bahagia di samping istrinya. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara. Sangat harmonis, sangat manis, dan sangat menyakitkan bagi mata yang melihatnya.
Elvaro terpaku. Tubuhnya kaku.
''Jadi... selama ini dugaan gue bener?''
''Jadi inilah alasan Zavira sering pulang telat? Inilah alasan dia selalu terlihat bahagia akhir-akhir ini? Inilah alasan Youjin berubah dan kita berkelahi?''
Rasa cemburu itu meledak begitu saja. Meskipun di dalam hati kecilnya dia berteriak ''Gue nggak cinta sama Zavira, ini kan cuma pernikahan paksa,'', tapi melihat pemandangan itu... rasanya sangat sakit. Sangat menyakitkan.
Melihat istrinya bersikap begitu lembut, begitu perhatian pada pria lain, apalagi pria itu adalah sahabat terbaiknya sendiri... rasanya seperti ada pisau yang menikam tepat di jantungnya.
Bukan karena cinta, tapi karena rasa memiliki. Karena pengkhianatan. Karena kenyataan bahwa dua orang yang seharusnya dia miliki atau jagai, justru bersatu di belakang punggungnya.
Wajah Elvaro berubah pucat, lalu memerah padam karena menahan amarah dan kekecewaan yang luar biasa. Niat baiknya untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan Youjin lenyap seketika, berganti dengan rasa pahit yang mengganjal di tenggorokan.
Dia tidak maju. Dia tidak memanggil mereka.
Elvaro hanya berdiri mematung di sana, membiarkan pemandangan itu terekam jelas di memorinya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping, lebih hancur daripada saat melihat orang tuanya bertengkar.
Dengan perlahan, Elvaro membalikkan badan. Matanya memanas, tapi dia tidak akan menangis. Dia kembali ke motornya, menyalakan mesin, dan pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Meninggalkan Zavira dan Youjin yang masih asik berbincang, sama sekali tidak menyadari bahwa dunia mereka baru saja runtuh, dan sahabat mereka baru saja melihat segalanya dengan perasaan yang hancur lebur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
oke gais gimana gais cerita nya ,isi dikomentar pendapat kalian .
jangan lupa di vote ya kawan
see you🤗👍🤗