Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah ribuan berlian sedang menari di atas lantai marmer yang mengkilap. Malam ini bukan sekadar pesta; ini adalah medan perang bagi para penguasa kota. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau cerutu kelas satu dan denting gelas sampanye yang tak henti-hentinya bersulang untuk kekuasaan.
Nyx Morrigan berdiri di depan cermin besar di lobi hotel sebelum melangkah masuk. Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun midnight blue berbahan sutra yang dipilihkan Knox jatuh dengan sempurna di tubuhnya, membalut lekuk tubuh yang biasanya ia sembunyikan di balik pakaian kebesaran. Rambut pendeknya ditata sedikit bergelombang, memberikan kesan elegan namun tetap tajam. Satu-satunya yang tersisa dari "Nyx yang lama" adalah tatapan matanya yang dingin dan waspada.
"Kau terlihat seperti kehancuran yang indah, Nyx," bisik Knox di telinganya.
Knox berdiri di sampingnya, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit khusus. Rambut pirangnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan rahang tegasnya yang masih menyisakan sedikit memar samar dari pertarungan semalam. Luka itu justru memberikan kesan berbahaya yang membuat beberapa wanita di lobi menoleh berkali-kali ke arahnya.
Knox melingkarkan tangannya di pinggang Nyx, menariknya posesif. "Ingat, jangan lepaskan tanganku. Malam ini, kau adalah pusat gravitasi bagi keluarga Riccardo."
Di dalam aula, Isabella dan Alexander Riccardo—Tuan dan Nyonya Lambert—sudah menunggu. Begitu melihat putra tunggal mereka menggandeng seorang gadis, Isabella tersenyum lebar. Ia tidak lagi melihat gadis dengan kaos kebesaran dan tato sayap yang urakan; ia melihat seorang wanita muda dengan aura misterius yang sangat kuat.
"Kolega-kolega Daddy sudah menunggu," ucap Alexander dengan suara beratnya yang berwibawa. "Mari, tunjukkan pada mereka siapa yang berhasil menaklukkan singa muda Riccardo."
Sepanjang jalan menuju pusat keramaian, Isabella dan Alexander memperkenalkan Nyx ke seluruh kolega bisnis mereka dengan bangga.
"Kenalkan, ini Nyx. Kekasih putra kami, Knox," ucap Isabella setiap kali mereka berhenti di depan kelompok pengusaha.
Nyx membalas setiap jabat tangan dengan tata krama yang sempurna, persis seperti robot protokol yang dilatih Agnesia belasan tahun lalu. Namun, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, di ruangan ini, ada seseorang yang menjadi kunci dari segala pertanyaannya.
Tiba-tiba, suasana riuh di aula besar itu mendadak sunyi sejenak. Pintu ganda di ujung ruangan terbuka, dan semua mata tertuju pada satu titik. Tamu kehormatan malam ini telah tiba.
Christian Morrigan melangkah masuk dengan langkah yang lambat namun penuh otoritas. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat konservatif. Wajahnya keras, dengan garis-garis usia yang tidak bisa menyembunyikan ketampanan klasiknya. Ia tidak tersenyum; ia hanya memberikan anggukan tipis pada orang-orang yang membungkuk hormat padanya.
"Itu dia," bisik Knox, cengkeraman tangannya di pinggang Nyx menguat. "Christian Morrigan. Sang legenda dunia bawah."
Nyx terpaku. Ia menatap pria itu dari kejauhan. Saat Christian berjalan mendekati kelompok keluarga Riccardo, Nyx merasakan getaran aneh di nadinya.
Ketika jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, Christian Morrigan menghentikan langkahnya. Matanya yang berwarna kelabu tajam—warna yang sama persis dengan mata Nyx—beradu dengan mata putrinya.
Dunia seolah berhenti berputar.
Christian memberikan tatapan yang sangat dingin, hampir seperti es yang membeku. Tidak ada binar pengakuan, tidak ada pelukan hangat seorang ayah yang sudah lama tidak melihat anaknya. Hanya ada tatapan menyelidik yang seolah bisa menembus tulang rusuk Nyx.
"Selamat malam, Alexander," suara Christian terdengar berat dan datar saat menyapa ayah Knox. "Kulihat kau membawa anggota baru dalam barisanmu."
Alexander tersenyum tipis. "Christian, kenalkan. Ini Nyx, kekasih Knox."
Christian Morrigan mengalihkan pandangannya kembali ke Nyx. Ia menatap wajah Nyx dengan intensitas yang mengerikan. Nyx berusaha keras agar tangannya tidak gemetar. Ia memperhatikan setiap inci wajah pria di depannya.
Deg.
Nyx terkejut. Ada kesamaan yang sangat nyata di antara mereka. Bentuk hidung yang sedikit lancip di ujungnya, garis rahang yang tegas, dan yang paling mencolok... cara mata itu menatap dengan penuh kecurigaan. Nyx melihat bayangan dirinya sendiri dalam versi pria yang lebih tua dan lebih kejam.
"Nyx..." Christian mengulang nama itu dengan nada yang rendah. "Nama yang menarik. Seperti dewi malam dalam mitologi Yunani. Apakah kau berasal dari kota ini, Nona?"
"Saya dari jauh, Tuan Morrigan," jawab Nyx dengan ketegasan yang ia paksa. Ia tidak ingin kalah oleh tekanan aura pria itu.
Christian hanya mendengus tipis, sebuah reaksi yang sulit diartikan. "Los Angeles adalah tempat yang berbahaya bagi bunga yang mencoba tumbuh di antara beton. Pastikan kekasihmu menjagamu dengan benar, Knox. Riccardo tidak biasanya membuat kesalahan dalam memilih... rekan."
Drama keluarga ini berlanjut dengan keheningan yang menyesakkan. Knox yang menyadari ketegangan itu, menarik Nyx sedikit lebih merapat ke tubuhnya. "Aku akan menjaganya dengan nyawaku, Tuan Morrigan. Anda tidak perlu khawatir."
Christian Morrigan memberikan satu tatapan terakhir pada Nyx—sebuah tatapan yang seolah berkata 'Tetaplah pada perannmu'—sebelum ia berbalik pergi untuk menyapa tamu VIP lainnya.
Nyx menarik napas panjang yang baru saja ia tahan. Ia merasa lemas, namun otaknya bekerja dengan liar. Mengapa pria itu begitu dingin? Mengapa tidak ada satu pun sinyal kasih sayang jika benar dia adalah ayahnya? Dan yang lebih membingungkan... mengapa wajah mereka bisa semirip itu jika ia selama ini dianggap anak David Beckham?
"Nyx? Kau baik-baik saja? Tanganmu sangat dingin," Knox berbisik penuh kecemasan.
"Aku baik-baik saja, Knox," dusta Nyx. Matanya masih mengikuti punggung Christian Morrigan yang menjauh. "Hanya sedikit terintimidasi oleh tamu kehormatanmu."
Nyx menyadari satu hal malam itu: pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di gedung mewah ini, di antara kemewahan dan sandiwara, Nyx menyadari bahwa rahasia darah Morrigan jauh lebih dalam dan gelap daripada yang pernah ia bayangkan. Dan ayahnya... ayahnya adalah orang asing yang paling ia kenali wajahnya.
Di sudut ruangan, dari kejauhan, Christian Morrigan menyesap sampanyenya. Tangannya sedikit mengepal di balik saku jasnya. Ia melihat putrinya dari balik kerumunan, hatinya berbisik: Teruslah membenciku, Nyx. Karena benci adalah satu-satunya emosi yang akan membuatmu tetap waspada di sarang serigala ini.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂