Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datanglah Tuan Putri
Arimbi berjalan perlahan mendekati ranjang.
Sepatu botnya menghentak lantai kayu, menciptakan suara ritmis yang menusuk gendang telinga.
Wajahnya yang tadinya ceria kini berubah menjadi serius dan tajam. Mata tajam itu menatap lurus ke arah pria yang terikat di hadapannya.
"Kau pikir, dengan menolakku, kau bisa bebas?"
Suaranya rendah, namun penuh wibawa dan ancaman.
Justin menatapnya dengan mata yang tampak polos, namun ada kilatan geli di sana.
"Kau terlalu paksa, Nona. Ini bukan cara memikat hati pria."
"Memikat?" Arimbi tertawa kecil, suara itu terdengar manis namun dingin. "Aku tidak butuh hatimu. Tubuhmu saja sudah cukup."
Ia menarik kursi dan duduk tepat di tepi ranjang. Jarak mereka sangat dekat. Hanya beberapa sentimeter saja.
Aroma tubuh Jenna yang harum bercampur dengan aroma obat-obatan khas karakter Justin, menciptakan kombinasi yang aneh namun memabukkan.
Tangan Jenna perlahan terulur.
Jari-jarinya yang lentik menyentuh dagu Justin, memaksanya menatap ke atas.
Kulit Justin terasa halus dan hangat.
"Kau cantik, Arimbi. Sangat cantik..." Justin berbisik, memainkan perannya sebagai pria yang mulai luluh. "Tapi sayang, hatiku sudah milik orang lain."
"Siapa berani?"
Mata Arimbi membelalak, amarah seketika meledak.
Ia mencengkeram kerah baju Justin dengan kasar, menarik wajah mereka semakin dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Di wilayah ini, AKU yang berkuasa! Apa pun yang aku lihat, itu milikku! Termasuk kau!"
"Kalau kau memaksaku..." Justin menelan ludah, tampak gemetar namun tetap berani. "Aku akan tetap mencintainya sampai mati."
"Bagus."
Sudut bibir Arimbi terangkat membentuk senyum miring yang mematikan.
"Aku suka tantangan. Aku akan menunggu sampai kau lupa nama wanita itu, dan hanya bisa memanggil namaku."
Ia melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri dan berjalan mengelilingi ranjang.
Matanya mengamati tubuh Justin yang terikat layaknya seekor burung elang yang siap menerkam mangsa.
"Mulai hari ini, kau adalah tawananku. Jangan harap kau bisa lari dariku."
"CUT!!!"
Teriak sutradara Mamayo memecah ketegangan.
"PERFECT! ITULAH YANG AKU MAU! LUAR BIASA!"
Mamayo bertepuk tangan dengan antusias, wajahnya berseri-seri.
"Chemistry kalian gila! Benar-benar meledak! Jenna, ekspresi matanya dapet banget! Galak tapi seksi! Justin, pasrah tapi tetap punya harga diri! Sempurna!"
Seluruh kru pun ikut bersorak dan bertepuk tangan.
Suasana tegang tadi seketika berubah menjadi riuh rendah.
Namun, di balik layar...
Wajah Jenna yang tadi penuh aura pembunuh, langsung berubah masam.
Ia melepaskan tangan Justin dengan kasar.
"Jangan macam-macam tadi!" desisnya pelan.
Justin terkekeh, masih dalam posisi terikat. "Aku cuma main peran, Babby. Tadi tanganmu gemas banget di leherku."
"Pergi sana! Nanti kalau tali ini lepas, aku hajar kau asli!"
"Halah, takut ketahuan kalau kamu sayang sama aku ya?"
"Brengsek!"
Di sudut ruangan, wajah Prilly sudah merah padam menahan amarah.
Tangannya mencengkeram dinding begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Maoy yang melihat itu hanya tersenyum tipis, merasa puas melihat api cemburu yang semakin besar membara di hati Prilly.
Hari berganti hari.
Syuting berjalan sangat lancar.
Bahkan bisa dibilang, terlalu lancar.
Jenna dan Justin seolah benar-benar sepasang kekasih yang memiliki ikatan batin.
Mereka bisa saling memahami gerak-gerik hanya dengan satu tatapan mata.
Adegan demi adegan dilalui dengan sempurna.
Tingkat kesalahan mereka nyaris nol.
Sutradara Mamayo sampai sering berkata, "Kalian ini memang ditakdirkan untuk bersama. Chemistry-nya nggak perlu diragukan lagi."
Jenna hanya bisa mendengus kesal.
Sedangkan Justin? Dia justru sangat menikmati situasi ini.
Setiap kali ada jeda syuting, dia pasti mencari cara untuk mengganggu Jenna.
Entah itu mencuri makanan di kotak makan siangnya, menarik rambutnya, atau berbisik-bisik hal yang tidak jelas di dekat telinganya.
"Jenna, kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Hari ini aku pakai parfum yang sama waktu kita pertama kali ketemu."
"Gila! Itu kan lima tahun lalu! Masa parfumnya awet sampai sekarang?"
Justin tertawa lebar. "Tentu saja tidak. Aku beli yang baru. Tapi wanginya sama persis."
Jenna memutar bola matanya malas.
"Dasar orang aneh. Cari masalah terus."
Namun, di balik kekesalannya, ada perasaan hangat yang tak bisa dia pungkiri.
Selama ini, hanya Justin yang bisa membuatnya tertawa lepas tanpa perlu berpura-pura.
Hanya dia yang tahu sisi asli Jenna.
Di sisi lain, popularitas Jenna mulai meroket drastis.
Berkat kehadiran Justin yang selalu berada di dekatnya, nama Jenna sering muncul di berita dan media sosial.
#TeamJennaDanJustin menjadi topik hangat yang diperbincangkan netizen.
Banyak yang mulai mengakui bakat akting dan kecantikannya.
Tentu saja, hal ini membuat Maoy dan gengnya semakin panas.
Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan Jenna.
Mulai dari menyebar rumor buruk, mengurangi porsi makan di lokasi syuting, hingga mencoba merusak properti kostum Jenna.
Namun, entah kebetulan atau memang nasib baik sedang berpihak padanya.
Semua rencana jahat itu selalu gagal tepat pada waktunya.
Bahkan seringkali, boomerang itu kembali menghantam mereka sendiri.
Suatu sore, saat matahari mulai terbenam.
Jenna sedang duduk santai di kursi rias, membersihkan make up wajahnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan, tapi dia tahu persis siapa pengirimnya.
[Besok Juju ulang tahun. Datang.]
Hanya dua kalimat singkat, penuh perintah.
Tulisan tangan dingin itu milik siapa lagi kalau bukan Marco Alamsyah.
Jenna menghela napas panjang.
Sejak kejadian di rumah Justin waktu itu, Marco seolah menghilang.
Tapi Jenna tahu, pria itu pasti sedang mengamati dari jauh.
Cemburu buta mungkin?
Senyum kecil terbit di bibir Jenna.
Dia mengetik balasan dengan santai.
[Kalau aku datang, hadiahnya apa?]
Balasan datang sangat cepat, seakan pria itu sudah menunggu di depan layar.
[Aku.]
Jenna hampir tersedak ludahnya sendiri.
Wajahnya memerah padam.
"Gila... Orang ini benar-benar gila!"
Dia melempar ponselnya ke atas sofa dengan perasaan campur aduk.
Jantungnya berdegup kencang, entah karena marah atau karena malu.
Di luar pintu, bayangan tinggi besar itu berdiri diam.
Mendengar teriakan kecil dari dalam, sudut bibir Marco terangkat sedikit.