NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kirana Tertangkap

...​Di dunia fana, semuanya akan serba samar, banyak kebaikan kalah oleh kelicikan. Benar kalah oleh yang jahat. Putih kalah oleh yang hitam. Tapi ketika semuanya berpindah alam, maka akan dipinta pertanggungjawabannya....

​Napas Reno memburu, berbaur dengan anyir darah yang menetes dari pelipisnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merajai dunia bawah tanah ibu kota, ia dipaksa berlutut di atas tanah berbatu. Tubuhnya lebam, ulu hatinya terasa seperti dihantam palu godam setelah Jalal menerobos masuk ke dalam pusaran celuritnya.

​Ia menunduk dalam-dalam, memejamkan mata sambil memegangi dadanya yang sesak.

​Sial! Orang buta ini bukan manusia... kalau begini terus, nyawaku benar-benar bisa melayang di desa terkutuk ini! batin Reno merutuk.

​Di hadapannya, Jalal masih berdiri dengan kokoh. Hanya ada satu kerugian kecil: lengan baju kulit cokelatnya robek panjang, memperlihatkan guratan tipis bekas sabetan celurit Reno yang sempat menyerempet kulitnya. Namun, tidak ada darah yang mengalir dari sana. Hanya ada aura murni yang semakin menekan udara di sekitar mereka.

​Jalal menumpukan kembali tongkat bambunya di depan dada, menatap lurus ke arah Reno dengan kacamata merah gelapnya yang dingin.

​"Lumayan juga untuk ukuran seorang bawahan," ucap Jalal, suaranya datar tanpa riak, namun justru karena itulah terdengar sangat mengerikan. "Sekarang, mau tidak mau kau harus dilenyapkan. Sudah terlalu banyak orang tidak bersalah yang menjadi korban."

​Jalal mulai melangkah maju perlahan. Setiap kali kaki sang pendekar menjejak, permukaan tanah di bawahnya melesek ke dalam, meninggalkan bekas jejak yang dalam—sebuah penegasan bahwa seluruh bobot tenaga batinnya kini telah dikerahkan sepenuhnya untuk mengakhiri nyawa Reno.

​Melihat fenomena itu, tubuh Reno seketika bergetar hebat. Giginya bergemertuk rapat menahan rasa takut yang menjalar hingga ke sumsum tulang. Setiap langkah Jalal yang mendekat terdengar di telinganya bagai dentang lonceng panggilan maut yang berkumandang dari dasar neraka.

​Reno melirik cepat ke arah kiri dan kanan, mencari celah atau jalur untuk melarikan diri, namun sosok Jalal seolah telah mengunci seluruh penjuru halaman. Hingga akhirnya, sudut mata Reno menangkap bayangan Darsih yang terkapar di lantai teras rumah panggung, merintih menahan sakit di antara pecahan kaca.

​Sebuah ide licik mendadak melintas di kepalanya yang buntu. Seringai iblis kembali terkembang di bibirnya yang pecah.

​BOOM!

​Reno tiba-tiba melompat maju ke depan, mengayunkan sisa celuritnya dengan beringas seolah-olah ia sedang melakukan serangan bunuh diri untuk menerjang Jalal. Serangan mendadak yang tampak nekat itu membuat Jalal bersiaga dan secara refleks menarik kakinya mundur selangkah untuk mengantisipasi tebasan maut.

​Namun, itu hanya tipuan.

​Dalam sepersekian detik setelah Jalal mundur, Reno memutar tubuhnya di udara dengan tumpuan satu kaki. Ia tidak meneruskan serangan ke arah Jalal, melainkan melesat cepat ke arah teras rumah, merangsek maju ke tempat Darsih terkapar.

​Dengan gerakan kasar, Reno menjambak kerah baju Darsih, menarik tubuh wanita paruh baya itu hingga terduduk tegak menjadi tameng hidupnya. SRET! Bilah celurit yang tajam dan dingin langsung ditempelkan erat-erat di kulit leher Darsih yang bergetar.

​"Selangkah lagi kau maju, maka wanita tua ini akan benar-benar mati di tanganku!" desis Reno. Mulutnya yang berlumuran darah segar menyunggingkan senyum kemenangan yang menjijikkan.

​Jalal seketika menghentikan langkahnya. Udara di sekelilingnya mendadak membeku. Telinganya menangkap gesekan halus logam celurit yang menekan urat nadi Darsih, serta deru napas Darsih yang semakin ketakutan. Jalal tahu, satu sentakan kecil saja dari tangan Reno akan membuat nyawa ibu dari Kirana itu melayang.

​Tangan kanan Jalal mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tongkat bambu murninya teracung lurus, menunjuk tepat ke arah wajah Reno.

​"PENGECUT!"

​Teriakan Jalal menggelegar dahsyat, memecah keheningan malam Desa Kragan dan membuat daun-daun jati di sekitarnya berguguran seolah bergetar oleh amarah sang pendekar.

​Reno tidak merasa terhina. Sebaliknya, ia justru tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar parau dan menggila memenuhi halaman rumah yang sunyi.

​"Hahaha! Itulah bedanya penjahat dengan pahlawan seperti kalian, Jalal!" seru Reno, matanya mendelik liar penuh kemenangan. Tangannya yang bebas dengan sengaja memainkan rambut kusam Darsih, menariknya kasar hingga wanita itu meraihnya. "Aku akan melakukan segala cara untuk menang dan bertahan hidup... walaupun harus mengorbankan orang-orang lemah dan tak berguna seperti perempuan tua ini!"

​Di bawah ancaman besi dingin, Darsih menatap ke depan dengan sisa-sisa kesadarannya. Melalui pandangannya yang kabur oleh air mata dan darah, ia melihat pemuda asing berkacamata merah itu tengah berdiri membelanya.

​"Nak... jangan p-pedulikan saya..." lirih Darsih, suaranya sangat lemah, hampir habis. "Selamatkan... Kirana..."

​Jalal menggeram, telinganya bergerak-gerak memvisualkan lingkungan sekitar seperti sonar kelelawar. Melalui getaran napas dan aliran darah Darsih yang terputus-putus, ia menyadari satu fakta pahit: wanita tua itu tidak akan selamat, lukanya terlalu parah akibat siksaan sebelumnya. Sontak, Jalal merentangkan tubuhnya, berdiri tegak tanpa keraguan.

​"Aku tidak peduli dengan wanita itu, Reno," ucap Jalal, suaranya mendadak berubah dingin dan datar, mengelabui sang musuh dengan kepura-puraan yang kejam. "Tapi aku ingin mencabik jantungmu, merobeknya menjadi bagian kecil."

​Bulu kuduk Reno seketika berdiri. Hawa membunuh murni yang dipancarkan Jalal membuat bayangan kematian mendadak tampak begitu nyata di hadapannya. Panik karena gertakan sang pendekar, Reno tidak lagi memedulikan sanderanya. Dengan satu gerakan cepat, ia menendang punggung Darsih hingga terlempar ke depan, lalu menghantamkan bilah celuritnya ke tiang kayu penyangga rumah yang sudah lapuk.

​PRAAAK!

​Tiang utama itu patah di tengah. Kehilangan keseimbangan, bangunan tua itu perlahan merosot jatuh dan roboh total, menumpuhkan reruntuhan genting dan kayu serta meninggalkan debu tebal yang beterbangan tinggi membelah malam. Reno meloncat keluar ke halaman samping sebelum atap menimpanya, lalu melarikan diri, melompat beringas ke arah bukit yang rimbun di belakang rumah.

​Jalal menghentakkan kakinya, berniat melangkahi Darsih yang terkapar di tanah demi mengejar Reno. Namun, baru satu gerakan maju, langkah kaki Jalal tertahan. Sebuah tangan yang kurus, dingin, dan gemetar mencengkeram ujung celananya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

​"T-tolong, jangan dikejar..." rintih Darsih dengan sangat susah payah. Mulutnya kembali mengeluarkan darah, kepasrahannya beralih sepenuhnya pada pemuda asing itu. "Selamatkan a-anakku..."

​Jalal mengurungkan niatnya. Ia berlutut di samping wanita itu, menaruh tongkatnya di tanah. Dengan tangan yang bergetar, Darsih merogoh kantong bajunya yang koyak. Ia mengambil sebuah benda kecil dari sana, lalu meraba dan memberikannya ke telapak tangan Jalal. Sebuah benda logam kecil berbentuk kuno.

​"Berikan ini kepada anakku... itu adalah k-kunci..." Darsih berbisik, kelopak matanya perlahan semakin berat. "Bilang padanya, ibu sangat menyayanginya..."

​Ucapan lembut itu terputus di tengah malam yang dingin. Bersamaan dengan embusan napas terakhirnya, cengkeraman tangan Darsih melonggar, jatuh terkulai di atas tanah retak Desa Kragan. Jantung dan napas wanita itu telah berhenti seutuhnya. Wanita itu meninggal dalam kedamaian pengorbanan.

​Jalal terdiam dalam sujudnya di samping jasad Darsih. Tangannya mengepal erat memeluk kunci titipan tersebut, sementara di kejauhan arah utara, ia masih bisa mendengar suara kepungan anak buah Reno yang semakin dekat dengan tempat persembunyian Kirana.

​Sementara itu, di dalam kegelapan gubuk penyimpanan pupuk yang pengap, hawa ketakutan terasa begitu pekat hingga menyumbat tenggorokan.

​Miranti memegang sebuah bambu dengan tangannya yang gemetar. Jemarinya mencengkeram erat galah kayu yang permukaannya kasar itu, bersiap memukul siapa saja yang masuk terlebih dahulu. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi pakaian desanya yang kini terasa menjerat leher.

​Di belakangnya, Kirana memegang baju Miranti dengan erat. Tubuh mungil anak perempuan berumur sepuluh tahun itu menggigil hebat, matanya terpejam rapat seolah mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit yang sedang mengintai mereka. Bibirnya yang pucat berulang kali berbisik dengan nada lirih dan bergetar, "Lari secepat mungkin... lari secepat mungkin." Kata-kata itu diucapkannya bagai sebuah mantra perlindungan, mematuhi instruksi terakhir sang bibi yang terngiang-ngiang di kepalanya.

​Di luar gubuk, kesunyian malam pecah oleh suara gesekan sepatu di atas daun-daun jati kering. Sepuluh orang tadi sudah berdiri di hadapan gubuk, membentuk formasi setengah lingkaran untuk memastikan tidak ada celah bagi mangsa mereka untuk meloloskan diri. Sorot lampu senter mereka sesekali menembus celah-celah anyaman bambu yang renggang, membiaskan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding gubuk yang suram.

​Salah seorang dari mereka, seorang pria bermata juling dengan tubuh tinggi kekar, mendekati pintu setelah diberi isyarat oleh temannya yang berdiri di barisan belakang. Pria itu menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi yang kuning dan kotor.

​"Hey, kalian yang ada di dalam, siap-siap, aku masuk!" teriaknya sembari terkekeh, suara tawanya terdengar parau dan meremehkan, menganggap tugas ini tak lebih dari sekadar menangkap seekor anak ayam di dalam kandang.

​BRAKK!

​Ia menendang pintu itu dengan tendangan depan yang sangat kuat. Pintu bambu yang sudah rapuh tersebut terpelanting hancur, engselnya patah dan menyemburkan serpihan kayu ke udara. Tanpa ragu, pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang.

​Namun, sebelum matanya sempat menyesuaikan diri dengan kegelapan, sebuah bayangan melesat dari balik kegelapan sudut gubuk.

​Miranti langsung memukulnya dengan bambu—sekuat tenaga. TAK! Hantaman keras itu mendarat telak di bagian atas kepala pria tersebut. Darah segar seketika meleleh dari balik rambutnya yang cepak, membasahi dahi dan pelipisnya. Pria itu terhuyung mundur selangkah, namun malang bagi Miranti, kekuatan fisiknya sebagai wanita biasa tidak cukup tangguh. Pukulan Miranti tidak cukup membuatnya pingsan.

​Alih-alih tumbang, rasa sakit itu justru memicu amarah binatang di dalam diri pria tersebut. Matanya melotot merah, penuh dengan kilat kemurkaan. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, tangannya yang besar dan kasar meluncur maju, mencekik leher Miranti hingga tubuh wanita itu terangkat dan membentur tiang penyangga gubuk.

​"K-kira–na... la-ri..." ucap Miranti tersengal-sengal. Oksigen di tenggorokannya terputus seketika, wajahnya memerah, namun matanya tetap menatap lurus ke arah keponakannya, memberikan perintah terakhir dengan sisa tenaga yang ia miliki.

​Melihat bibinya tersiksa, tangis Kirana pecah. Ketakutan yang amat sangat memacu adrenalin di tubuh kecilnya. Mengingat pesan Miranti, Kirana langsung membalikkan badan dan lari keluar melalui celah pintu belakang gubuk yang langsung mengarah ke area kebun jati yang gelap. Langkah kaki kecilnya bergerak secepat yang ia bisa, melompati semak-semak dan akar pohon yang melintang.

​Namun, pelarian anak kecil bukanlah tandingan bagi para pembunuh bayaran yang sudah terlatih.

​"Anak itu kabur! Kejar!" teriak salah seorang pria yang berjaga di luar.

​Seorang anak buah Reno yang bertubuh kurus namun memiliki gerakan yang sangat lincah mengejarnya dengan mudah. Hanya dalam beberapa lompatan besar, ia sudah berhasil memotong jarak di antara mereka. Tanpa belas kasihan, tangannya menjulur maju, menjambak rambut Kirana dengan kasar dari arah belakang.

​"Agh!" Kirana menjerit kesakitan saat kepalanya tertarik paksa ke belakang.

​Sentakan yang kuat itu membuat keseimbangannya hilang seketika, sampai Kirana terbanting ke belakang, tubuh mungilnya menghantam tanah berbatu dengan keras hingga tas ransel rajutannya terlepas. Bocah itu meringis, napasnya seolah berhenti akibat benturan tersebut. Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, orang itu lalu menyeret Kirana kembali ke depan gubuk dengan menarik lengannya secara kasar di atas tanah kering.

​"Lepas! Lepasin Kirana! Ibuuu! Mbak Ranti!" jerit Kirana histeris, air matanya bercampur dengan debu tanah yang mengotori wajah cantiknya. Ia meronta-ronta, mencakar, dan menendang sebisanya, namun kekuatannya sama sekali tidak berarti di hadapan cengkeraman pria itu.

​Tubuh Kirana dilemparkan ke atas tanah di depan sembilan orang lainnya yang kini berkumpul di halaman gubuk. Pria yang kepalanya berdarah akibat pukulan Miranti berjalan keluar sambil menyeret tubuh Miranti yang sudah terkulai lemas, meskipun matanya masih sayu menatap Kirana dengan penuh penyesalan.

​"Sialan, anak kecil ini merepotkan juga," umpat pria yang kepalanya bocor, sambil menyeka darah yang mengalir ke matanya. Ia menatap Kirana dengan pandangan keji. "Ikat wanita ini di dalam, dan bawa anak ini ke hadapan Bos Reno. Tugas kita sudah selesai."

​Kirana meringkuk di atas tanah, memeluk lututnya yang berdarah akibat terseret. Di dalam kegelapan malam yang dingin, di bawah rindangnya pohon-pohon jati Desa Kragan, anak perempuan itu merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya. Ibunya entah bagaimana nasibnya, dan kini ia bersama bibinya berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani.

1
Muqimuddin Al Hasani
makasih kak, baru nyoba nulis kak🙏
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!