Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Gerakan jemari Benedict di pinggang Zara perlahan berhenti. Ia tersadar sepenuhnya saat merasakan detak jantung Zara yang tenang di balik dadanya. Sorot matanya yang tadi sempat melunak, kini kembali meredup.
Tanpa kata, ia perlahan melepas pelukannya. Ia menarik tangannya dari pinggang Zara. Benedict memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah jendela, menolak untuk bertemu pandang dengan Zara.
“Keluar,” ucapnya pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sangat dingin.
Zara tertegun, tangannya yang tadi mengusap rambut Benedict kini menggantung di udara sebelum akhirnya ia tarik kembali.
“Tuan, aku…..” Zara mencoba bicara.
“Panggil Luca,” potong Benedict cepat, masih tanpa menoleh sedikitpun.
“Katakan padanya aku sudah bangun dan butuh pemeriksaan” lanjut Benedict
Zara menelan ludah. “Baiklah” sahut Zara.
Zara bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan pakaiannya sebentar. Dengan langkah yang berat, ia keluar dari ruangan itu.
Di dalam kamar, Benedict masih terpaku di tempat tidur. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, mengutuk dirinya sendiri karena mengizikan Zara melihat titik kelemahannya.
Pintu terbuka. Luca melangkah masuk, matanya yang tajam langsung menangkap wajah tuannya yang pucat dan rahang yang mengeras.
“Anda memanggilku Tuan?”
“Siapkan kepulangan kita ke New York. Sekarang juga” perintah Benedict.
“Cari jadwal penerbangan pertama dari Napoli. Ambil seluruh kabin first class jika perlu, terlalu lama menunggu izin terbang jet pribadi yang baru. Aku ingin keluar dari Italia malam ini juga.”
Luca sedikit mengernyit, melangkah maju. “Tuan, dokter Victor menyarankan setidaknya satu minggu lagi agar luka anda benar-benar menutup. Penerbangan panjang akan sangat melelahkan bagi kondisi anda.”
“Aku sangat menghargai kekhawatiranmu, tapi aku ingin keluar dari tempat ini segera,” potong Benedict cepat.
“Siapkan mobil ke pelabuhan, kita akan naik feri ke Napoli terlebih dahulu mengejar jadwal pesawat” lanjut Benedict.
Luca terdiam sejenak, lalu mengangguk patu. “Baik Tuan. Bagaimana dengan Nona Zara?”
“Dia ikut. Dia harus tetap berada di bawah kendali ku ” jawab Benedict.
Perjalanan di mulai saat matahari tepat di atas kepala. Benedict duduk di area dek terbuka yang lebih sepi, mengenakan kacamata hitam dan mantel panjang. Zara dengan sengaja duduk tepat di hadapan pria itu.
“Udara laut ini bagus untukmu, Tuan” ucap Zara memulai percakapan. “Jauh lebih baik daripada terus mengurung diri di kamar.”
Benedict tidak bergeming. “Kau bicara seolah ini adalah perjalanan romantis, Zara.”
Zara terkekeh pelan. “Kurasa ini adalah perjalan paling berbahaya dalam hidupku, Tuan. Bisa saja kau mendorong ku ke laut, tidak ada yang tahu.”
Benedict tidak menanggapi lagi, matanya menatap riak air yang ditinggalkan kapal.
“Aku hanya bilang ini menyehatkan. Ibuku pernah bilang kalau laut bisa mencuci beban pikiran. Apakah itu sebabnya kau memilih melawati laut untuk pulang?”
Benedict menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Zara dengan tajam.
“Aku memilih jalur ini karena aku ingin melihat daratan sebelum aku kembali ke New York dan menyiksamu.”
Zara tidak gentar, ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
“Kau selalu berbicara seperti itu. Apa kau tidak lelah? sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk terus menggenggam kebencian yang sama.”
“Kebencian adalah satu-satunya alasan yang membuatku hidup, Zara!” suara Benedict meninggi, membuat napasnya sedikit terengah karena lukanya berdenyut.
“Tapi kau masih hidup sekarang,” balas Zara lembut. “Kau selamat dari kematian dua hari yang lalu. Tidakkah kau pikir itu artinya kau diberi kesempatan untuk merasakan hal lain selain membenci?”
Benedict membuang muka. “Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Diam dan tutup mulutmu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang penerbangan, Zara terus mengajak Benedict bicara. Ia berceloteh tentang toko rotinya, juga tentang pelanggan-pelanggannya.
“Kau tahu, Tuan” ucap Zara sambil memutar-mutar gelas airnya. “Di toko rotiku, yang paling kusuka adalah saat mencium aroma cinnamon. Menurutku itu adalah aroma paling menenangkan di dunia. Apa kau punya aroma favorit?”
Benedict hanya mendengus pelan, matanya terpejam namun keningnya berkerut.
“Aroma favoritku adalah kesunyian, Zara. Dan kau baru saja merusaknya dengan cerita membosankan tentang tepung.”
Zara terkekeh kecil. “Kesunyian? memangnya kesunyian punya aroma?.”
“Jangan menguji kesabaranku,” gumam Benedict malas, ia menggeser posisi duduknya.
“Kenapa kau tidak bisa duduk diam tanpa mengeluarkan suara?” tanya Benedict geram.
“Membosankan jika hanya diam,” sahut Zara cepat. Ia kemudian menatap ke jendela, lalu kembali pada Benedict.
“Di New York nanti, apa kau akan langsung bekerja? Setidaknya biarkan dirimu istirahat satu hari. Wajahmu sangat pucat, kau terlihat seperti hantu.”
Benedict mendengus kasar, mengabaikan pertanyaan Zara. Namun, setiap kali Benedict mencoba untuk benar-benar terlelap, Zara akan melemparkan pertanyaan baru.
Jika Benedict membalas dengan kalimat pedas, Zara hanya akan membalasnya dengan senyum tipis atau pertanyaan baru yang membuat Benedict terpaksa menjawabnya.
Saat pesawat akhirnya mulai menurunkan ketinggian, Benedict menyandarkan kepalanya, tampak sangat kelelahan namun wajahnya tidak sepucat tadi.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Benedict tiba-tiba. Matanya terpejam.
“Melakukan apa?,” sahut Zara.
“Mengajakku bicara. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja”
Zara menoleh. “Karena jika aku diam, kau akan kembali ke dalam kepalamu sendiri yang gelap itu. Dan aku tidak ingin membiarkanmu sendirian di sana lagi.”
Benedict tertegun, ia memilih tidak menjawab lagi, ia menarik selimutnya hingga ke dada, memunggungi Zara. Meskipun matanya terpejam, telinganya tetap terjaga. Ia masih bisa mendengar suara gemerisik pakaian Zara saat gadis itu memperbaiki posisi duduknya.
Beberapa jam kemudian, saat pesawat mulai membelah awan, guncangan turbulensi ringan terasa di kabin. Benedict terbangun dengan napas yang sedikit memburu. Refleks pertamanya adalah mencengkeram lengannya yang terluka.
“Kita hampir sampai,” suara Zara terdengar sangat dekat, hampir seperti bisikan di telinganya.
Benedict hanya bergumam tidak jelas, matanya masih terasa berat. Saat Benedict akhirnya berhasil mengumpulkan kesadaran dan menoleh ke samping, ia justru mendapati pemandangan yang tak terduga.
Zara yang selama belasan jam penerbangan tidak membiarkannya tenang dengan segala celotehannya, kini justru jatuh tertidur. Kepalanya terkulai miring ke arah sandaran kursi, dengan beberapa helai rambut menutupi wajahnya yang tampak sangat lelah.
Benedict mendengus pelan. “Kau terlalu banyak bicara sampai kelelahan, bukan?” gumamnya rendah.
Ia menatap wajah Zara yang terlelap. Gadis itu terlihat jauh lebih rapuh saat menutup matanya. Benedict sempat mengulurkan tangannya, ingin merapikan rambut yang menghalangi wajah Zara, namun ia segera menariknya kembali seolah tersengat listrik.
Pesawat menyentuh landasan pacu bandara Teterboro dengan hentakan halus. Guncangan itu membuat Zara tersentak bangun, matanya mengerjap bingung saat menyadari mereka sudah berhenti sempurna.
“Oh, kita sudah sampai?” tanya Zara dengan suara serak khas bangun tidur.
Benedict tidak menjawab ucapan Zara. Dengan wajah datar, ia segera berdiri, mengancingkan jasnya lalu melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun pada Zara yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Dia area penjemputan khusus, Luca sudah menunggu dengan barisan pria berjas gelap. Udara New York yang dingin menusuk tulang segera menyambut mereka.
“Selamat datang kembali, Tuan” ucap Luca sambil membukakan pintu mobil.