"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Dibalik Selimut
...*Jumat Sore. Butik Bridal Kelapa Gading.*...
Pukul 15.00 wib. Ruang fitting sudah ramai. Nerrisha berdiri di depan cermin dengan gaun yang kini pas di pinggang setelah penyesuaian.
Mama Shanty dan Alexandra duduk di sofa, sementara Tiara mencatat beberapa masukan dari Mbak Rina.
Pintu diketuk pelan. Andika masuk membawa map coklat, brewok tipis, kacamata lensa tebal dan kemeja kotak membuatnya terlihat seperti pria berkeluarga yang matang.
“Selamat sore, Mbak Nerrisha, Mbak Tiara,” sapanya sopan.
“Maaf saya datang sekalian. Kata Mbak Tiara hari ini mau bahas souvenir...”
Nerrisha menoleh dari cermin, tersenyum. “Oh iya, Mas Andika. Silakan duduk dulu. Saya ganti baju sebentar...”
Rey yang baru datang dari kantor menyalami Andika. “Mas Andika, akhirnya ketemu langsung. Saya Rey, kakaknya Nerrisha...”
Andika menjabat tangan Rey erat. “Oh, Mas Rey. Saya sering denger dari Mas Arka. Katanya Mas yang paling teliti soal teknis ya...”
Rey tertawa. “Arka emang gitu orangnya. Enak diajak kerja...”
Di pojok ruangan, Arka sedang mengecek colokan untuk laptop demo. Ia dan Andika bertukar pandang sekejap, cukup untuk saling memberi kode: Aman.
Mbak Rina selesai memasang jarum pentul terakhir di gaun Nerrisha.
“Sudah pas, Kak. Tinggal fitting aksesoris minggu depan ya.”
Nerrisha keluar dengan senyum lega. Ia duduk di sebelah Mama Shanty, lalu menatap Andika.
“Jadi gimana, Mas? Soal souvenir yang kemarin?”
Andika membuka map, mengeluarkan tiga sampel berbeda.
“Ini Mbak, yang paling banyak dipesan. Kayu jati ukir, lilin aromaterapi, sama tas spunbond custom. Kalau 150 biji, saya bisa kasih di dua puluh tiga ribu, Mbak. Sudah termasuk pita dan kartu nama...”
Mama Shanty menyentuh tas spunbond. “Yang ini praktis. Bisa dipakai tamu...”
Nerrisha mengangguk. “Saya suka yang kayu. Kesannya hangat. Tapi coba kita lihat dulu total anggaran dekor ya, Mas...”
Andika tersenyum mengerti. “Siap, Mbak. Saya nggak buru-buru. Yang penting konsumen cocok.”
Tidak ada yang curiga. Bagi mereka, Andika hanya vendor ramah yang tahu sopan santun. Bagi Andika, setiap anggukan Nerrisha adalah satu langkah lebih dekat ke rencana Felix alias Sam.
...*Sore Hari. Parkiran Butik.*...
Nicholas baru sampai dari kantor. Ia masuk ke ruang fitting saat Nerrisha sedang berdiskusi dengan Andika dan Arka.
Nerrisha menoleh. “Mas, ini Mas Andika, vendor souvenir. Ini Mas Arka, yang pegang buku tamu digital...”
Nicholas menjabat tangan keduanya. Matanya menatap Arka sedikit lebih lama. Ada sesuatu di raut wajah pria itu yang terasa samar, tapi ia tepis.
“Terima kasih sudah bantu Nerrisha, Mas.”
Arka mengangguk. “Sama-sama, Mas Nicholas. Saya pastikan hari H lancar.”
Felix tidak datang hari ini. Ia tahu belum waktunya menampakkan diri. Dari seberang jalan, ia duduk di dalam mobil, menatap Nicholas yang merangkul bahu Nerrisha. Kacamata tipisnya memantulkan cahaya senja.
“Nikmati dulu,” gumamnya pelan.
“Sebentar lagi kamu tahu rasanya diambil...”
...****************...
...*Malam Hari. Rumah Adiwangsa.*...
Pukul 20.00 wib. Setelah makan malam, Nerrisha dan Nicholas duduk di teras, berbagi teh hangat.
“Mas Arka sama Mas Andika orangnya enak, ya,” kata Nerrisha.
“Kerjanya cepat, nggak neko-neko.”
Nicholas mengangguk, tapi dahinya sedikit berkerut. “Iya. Cuma entah kenapa, Mas Arka itu kayak pernah lihat di mana. Tapi mungkin cuma perasaan aku aja.”
Nerrisha menggenggam tangannya. “Mas kebanyakan kerja. Sampai semua orang kayak klien...”
Nicholas tertawa kecil. “Mungkin. Yang penting kamu nyaman aku pun senang.”
Di dalam rumah, Rey menelepon Arka untuk memastikan jadwal gladi resik. Tiara mengirim pesan ke Andika soal warna pita souvenir. Kepercayaan sudah diberikan, tanpa mereka sadari pintunya terbuka lebar.
...****************...
...*Malam Hari. Apartemen Felix, Kuningan.*...
Felix alias Sam mematikan rekaman suara dari alat kecil yang dipasang Arka di map portofolio tadi siang. Suara Nerrisha terdengar jelas: "Saya suka yang kayu. Kesannya hangat."
Ia tersenyum. “Kamu suka yang hangat, Ner. Nanti kamu dapat hangatnya neraka...”
Ponselnya bergetar. Pesan dari Andika: "[Bro, Jumat depan gue diajak ke rumah buat final dekor. Nerrisha yang minta langsung.]"
Felix membalas singkat: "[Bagus. Jangan sampai dia ragu sama lo. ]"
Ia menatap kalender di dinding. 17 Desember dilingkari merah. Dua bulan enam hari lagi.
Di luar, hujan turun lagi. Kali ini lebih deras. Seperti langkah yang tidak bisa mundur, seperti dendam yang sudah telanjur basah dan berat.
...****************...
...*Sabtu Pagi. Gereja Santa Perawan Maria Ratu, Bintaro.*...
Pukul 08.00. Gladi resik pertama. Nerrisha dan Nicholas duduk di bangku paling depan, mendengarkan Romo Fransiskus menjelaskan alur pemberkatan.
Rey, Tiara, Mama Shanty, dan Evander duduk di barisan belakang, mencatat beberapa hal.
Arka datang lebih awal, membawa tripod kecil dan tablet. Ia mengangguk sopan pada semua orang.
“Selamat pagi, Mas Nicholas, Mbak Nerrisha. Saya izin set QR code di pintu masuk dulu ya. Biar nanti gladi resiknya bisa sekalian simulasi...”
Nerrisha tersenyum. “Silakan, Mas Arka. Terima kasih sudah datang pagi-pagi...”
Nicholas memperhatikan gerak-gerik Arka. Cara pria itu berjalan, cara mengetik di tablet, ada sesuatu yang mengusik ingatannya. Tapi nama Farel tidak muncul. Empat tahun terlalu lama untuk mengingat wajah yang sudah berubah.
Romo Fransiskus menepuk tangan. “Baik, kita mulai. Saudari Nerrisha jalan dari pintu utama dengan Mas Rey. Saudara Nicholas tunggu di altar...”
Gladi resik berjalan lancar. Hanya sesekali Romo mengoreksi langkah. Arka merekam beberapa bagian dengan izin, katanya untuk bahan evaluasi tim dekor. Tidak ada yang curiga sama sekali.
Selesai gladi resik, Evander mendekati Nicholas. “Gimana? Siap?”
Nicholas mengangguk. “Siap, Mas. Tinggal latihan jalan aja biar nggak gugup...”
Evander melirik Arka yang sedang membereskan kabel. “Anak IT itu rekomendasi siapa?”
“Temennya vendor lama,” jawab Nicholas pelan.
“Rey yang bawa masuk.”
Evander mengangguk, tapi matanya menyipit sedikit. Instingnya sebagai kakak tertua Nicholas itu sangat peka.
“Pastikan kontraknya jelas ya, Nick. Data tamu jangan sampai bocor.”
“Gue urus, Mas, ” kata Nicholas.
...****************...
...*Siang Hari. Rumah Adiwangsa.*...
Andika datang sesuai undangan. Ia membawa katalog dekor tambahan dan beberapa sampel pita. Tiara menyambutnya di ruang tamu.
“Mas Andika, duduk dulu. Nerrisha masih di atas, ganti baju habis dari gereja,” kata Tiara.
Andika mengangguk, matanya menyapu ruang tamu. Ia mencatat letak pintu, jendela, kamera CCTV di sudut plafon. “Rumahnya adem ya, Mbak. Cocok buat acara keluarga...”
Tiara menuang teh. “Iya, Mas. Makanya acara pemberkatan mau di sini aja biar lebih intim kalo bisa sih...”
Nerrisha turun, masih dengan pakaian rapi. “Maaf ya, Mas. Tadi gladi resik...”
Andika berdiri. “Nggak apa-apa, Mbak. Justru saya mau sesuaikan warna pita sama tema gaun Mbaknya. Biar serasi...”
Mereka berdiskusi hampir satu jam. Andika sesekali melontar pujian yang pas, tidak berlebihan. Mama Shanty yang lewat pun ikut mengangguk setuju.
“Mas Andika ini telaten ya...” kata Mama Shanty pada Nerrisha pelan.
"Beda sama vendor kemarin yang dipake waktu acara tunangan, maunya buru-buru...”
Nerrisha mengangguk. “Iya, Ma. Aku juga ngerasa nyaman...”
Andika pamit pukul 13.00. Di luar pagar, ia mengirim pesan ke Felix: " [Udah. Gue dapetin denah ruang tamu. CCTV ada dua, ruang depan dan samping. Nggak ada di teras belakang.]"
...****************...
...*Malam Hari. Apartemen Felix (Sam), Kuningan.*...
Sam membaca pesan Andika sambil memutar gelas berisi wine. Di layar laptopnya, terbuka foto-foto hasil rekaman Arka tadi pagi. Wajah Nicholas saat menatap altar. Wajah Nerrisha saat menggandeng lengan Rey.
Arka menelepon. “Bray, Evander tadi nanya kontrak ke Nicholas. Kayaknya dia mulai curiga ke gue...”
Felix memejamkan mata sebentar. “Tenang. Evander cuma wakil CEO di Theodore Grup. Selama kita nggak salah langkah, dia nggak bisa pegang apa-apa. Kamu urus aja datanya. Pastikan nama kamu bersih.”
“Siap, Boss, ” kata Arka.
“Terus kapan kita gerak?”
Felix menatap kalender. “H-3. Saat mereka sibuk dengan gladi resik terakhir dan acara keluarga. Saat semua fokus ke Nicholas. Saat itu Nerrisha lengah...”
Ia menutup telepon. Di luar, Jakarta gemerlap. Di dalam, tiga pria menyusun waktu dengan presisi, menunggu celah dari kepercayaan yang sudah mereka bangun sendiri.
...****************...
...*Malam Hari. Kamar Nerrisha.*...
Pukul 23.00. Nerrisha membuka grup WhatsApp keluarga. Pesan dari Rey masuk: "[Mas Arka udah kirim draft QR code. Keren banget. Besok gue tes print.]"
Nerrisha membalas: "[Makasih, Mas. Mas Andika juga udah kirim sampel pita. Warnanya pas sama dress code...]"
Ia meletakkan ponsel, lalu membuka Alkitab kecil di meja. Dibacanya Mazmur 91 pelan. Dua bulan enam hari lagi. Hatinya tenang, karena ia pikir semua orang yang datang ke hidupnya adalah berkat.
Ia tidak tahu, di balik senyum Mas Arka dan sopan santun Mas Andika, ada dua nama lama yang sudah mati, dan satu nama baru yang hidup hanya untuk dendam.
Di luar, hujan berhenti. Langit bersih. Tapi di ujung sana, awan gelap belum benar-benar pergi.
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris