Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api VS Api
Laras tidak peduli lagi dengan tasnya yang berat. Ia menendang pintu besi rooftop hingga terbuka dengan bunyi dentum yang memekakkan telinga. Mata tajamnya langsung menemukan sosok itu di ujung dak beton.
Bara berdiri membelakanginya, menyandar pada pagar pembatas. Tangan kanannya terangkat, menjepit sebatang rokok yang asapnya langsung tercerai-berai dihantam angin sore yang kencang. Ia tidak berbalik sedikit pun saat mendengar pintu dihantam, seolah sudah tahu siapa yang datang dari aroma parfum yang terbawa angin.
"Puas banget ya, ditontonin satu perpustakaan?" suara Laras membuka serangan.
Nadanya dingin, penuh sarkasme. Bara mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu berbalik perlahan. Wajahnya datar, namun matanya masih menyisakan kilat amarah yang sama seperti saat ia mematahkan pensil tadi. Ia menyesap rokoknya sekali lagi, membiarkan bara apinya menyala terang sejenak sebelum menjauhkannya dari bibir.
"Harusnya aku yang tanya gitu. Susu stroberinya manis, atau sengaja dibuat manis supaya aku lihat?" tanya Bara.
Suaranya berat, serak karena asap dan emosi yang tertahan. Laras berjalan mendekat, langkahnya mantap.
"Nggak usah bawa-bawa Yudhis. Masalahnya itu kamu, Bar! Kamu sengaja, kan, biarin Erika nempel-nempel gitu? Happy ya digelendotin cewek sexy?!"
Bara terkekeh sinis, lalu membuang abu rokoknya ke samping.
"Siapa yang happy? Aku? Kamu pikir aku cowok apa-an? Sekarang aku tanya, apa aku ngerespon Erika? Orang jelas-jelas dari tadi aku cuekin dia kok. Bukannya kamu ya yang happy? Ketawa ketiwi sama si Ketos itu."
Laras berhenti tepat di depan Bara.
"Nggak usah lempar kesalahan ke aku! Kamu itu yang kesenangan, nggak nolak waktu dia nyentuh bahu kamu. Aku nggak buta, Bar! Emang cowok itu sama semua, langsung luluh sama cewek sexy!"
"Terus kamu mau aku gimana? Teriak jangan sentuh aku, gitu?" Bara mematikan rokoknya dengan menekan ujungnya ke tembok beton, lalu membuang filternya sembarangan. Ia maju satu langkah, mengintimidasi.
"Kamu kan yang minta hubungan kita rahasia. Kamu salah besar kalau ngira aku suka sama cewek sexy. Denger ya, kamu pikir aku nggak tahu Yudhis udah lama nunggu celah buat masuk?"
"Yudhis cuma kasih minuman! Nggak lebih!"
"Tapi kamu terima!" potong Bara cepat, suaranya naik satu oktav.
"Kamu tahu dia suka kamu, tapi kamu kasih dia panggung. Kamu sengaja pengen lihat aku gila, hah?"
Bara menyambar pergelangan tangan Laras, tidak keras tapi cukup kuat untuk membuat Laras berhenti bicara. Ia mendekatkan wajahnya, membuat Laras bisa mencium aroma samar tembakau yang masih tertinggal di napasnya.
"Jangan pernah bawa-bawa Yudhis lagi buat mancing aku. Sekali lagi aku lihat kamu senyum ke dia kayak tadi, aku nggak bakal peduli lagi sama rahasia-rahasiaan ini. Aku bakal tarik kamu di depan semua orang dan bilang kalau Laras itu pacar aku!"
Mereka berdiri berhadapan, napas keduanya memburu, saling melempar tatapan menantang yang penuh dengan percikan emosi di tengah remang senja. Bara kembali merogoh saku jaketnya, seolah ingin mencari pelarian lain pada sebatang rokok lagi, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat mata Laras yang masih berkilat marah.
"Pulang," gerutu Bara sambil membuang muka ke arah cakrawala.
Laras berbalik, berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. Bara hanya menatap punggung Laras yang menghilang di balik pintu besi. Ia memukul tembok beton dengan kepalan tangan, mencoba melampiaskan rasa sesak yang masih tertahan di dadanya. Perang hari ini belum selesai, dan aroma asap rokok yang tertinggal di rooftop itu menjadi saksi bisu betapa panasnya ego mereka saat ini.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bara membanting tubuhnya ke atas kasur. Langit-langit kamar yang kusam seolah memproyeksikan kembali tatapan marah Laras di rooftop tadi. Rasa sesak di dadanya kini bukan lagi karena cemburu, melainkan penyesalan yang pahit. Ia sadar, amarahnya tadi mungkin terlalu berlebihan, dan ia tidak seharusnya membiarkan Laras pulang dengan hati yang hancur.
"Bodoh," rutuknya pelan sambil menatap ponsel.
Tanpa membuang waktu, Bara segera mencari tahu di mana rumah Laras berada. Ia menghubungi salah satu temannya yang ia tahu sekelas dengan Laras. Setelah mendapatkan sebuah alamat di kawasan elit yang jauh dari dunianya, Bara langsung menyambar jaket dan kunci motornya. Motornya membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, menuju rumah Laras.
Sesampainya di sana, jemarinya dengan cepat mengetik pesan.
[Bara]
Aku di depan rumahmu. Keluar sebentar, kita perlu bicara.
Di dalam rumah, Laras yang sedang menatap layar laptop dengan hampa langsung tersentak saat ponselnya bergetar. Begitu membaca pesan itu, jantungnya serasa merosot ke perut. Ia panik. Rumahnya penuh dengan telinga dan mata. Dengan jari gemetar, Laras membalas pesan itu.
[Laras]
Gila ya kamu?! Kamu ngapain ke sini?!
Belum sempat pesan itu terkirim, layar ponsel Laras berubah. Nama 'Bara' muncul di sana, memanggil. Laras mengangkatnya dengan suara berbisik yang penuh ketegangan.
"Bara, pergi sekarang! Kamu nekat banget!"
"Keluar sekarang," suara Bara terdengar berat dan mutlak dari seberang telepon.
"Kalau kamu nggak keluar dalam satu menit, aku yang akan masuk."
Laras mematung. Ia tahu Bara tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan panik, ia menyambar kardigan, mematikan lampu kamar, dan mengendap-endap keluar melalui pintu samping, berharap tak ada satu pun pasang mata yang menyadari keberanian gila yang sedang terjadi di balik pagar rumahnya malam ini. Laras berlari kecil menyusuri jalan setapak di samping taman, sandal rumahnya nyaris tak bersuara di atas rumput. Begitu ia berhasil menyelinap keluar lewat gerbang samping yang kecil, matanya menangkap sosok jangkung yang berdiri di bawah bayangan pohon besar, sekitar sepuluh meter dari pagar utama.
Bara berdiri di sana dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Begitu melihat Laras, ia menurunkan ponselnya.
"Kamu benar-benar gila, Bar!" desis Laras begitu sampai di depan pria itu.
Napasnya memburu. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Laras dalam diam. Di bawah remang lampu jalan, kemarahan yang tadi sore menyala di matanya kini telah padam, digantikan oleh sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan dan penyesalan.
"Kenapa diam? Sekarang kamu puas udah bikin aku jantungan?" cecar Laras lagi, suaranya naik satu oktav karena emosi yang campur aduk.
Tanpa aba-aba, Bara melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia meraih kedua tangan Laras yang dingin dan gemetar, menggenggamnya kuat-kuat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Aku nggak bisa tenang kalau kita belum selesai," suara Bara rendah, membelah kesunyian malam.
"Aku tahu aku keterlaluan di sekolah tadi. Aku nggak seharusnya bentak kamu cuma gara-gara susu stroberi sialan itu."
"Bodo amat! Aku benci sama kamu"
Ijin mampir🙏