NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taring Karang dan Darah Dingin

Kapsul siluman itu melesat membelah awan badai yang pekat, berguncang hebat akibat turbulensi elektromagnetik yang diciptakan oleh mesin pengatur cuaca Pulau Pandora. Di dalam ruang sempit yang diterangi lampu merah temaram, Arkan mencengkeram tuas pengaman, matanya terpaku pada monitor altimeter yang angka-angkanya terjun bebas.

​"Tiga ribu meter... dua ribu... bersiap untuk pelepasan parasut drogue!" teriak Arkan melalui sistem komunikasi helm.

​Liana menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu. Di bawah mereka, kilatan petir buatan menyambar-nyambar, menerangi siluet Pulau Pandora yang tampak seperti taring raksasa yang mencuat dari laut hitam.

​KLIK—DUM!

Sentakan keras menghantam tubuh mereka saat parasut kecil berbahan kevlar terbuka, memperlambat jatuh mereka tepat sebelum kapsul itu menghantam permukaan air. Arkan segera menekan tombol pelepasan pintu. Air laut yang dingin dan asin langsung menyerbu masuk, menelan mereka ke dalam kegelapan samudra yang ganas.

​"Liana! Aktifkan pendorong jet kaki!" perintah Arkan.

​Mereka berenang di bawah permukaan air, menghindari sorotan lampu raksasa dari menara penjaga yang menyapu lautan. Di depan mereka, tebing karang terjal setinggi seratus meter berdiri angkuh, licin oleh lumut dan dihantam ombak yang pecah dengan suara menggelegar.

​Setelah perjuangan melawan arus selama lima belas menit, mereka mencapai kaki tebing. Arkan mengeluarkan pelontar jangkar magnetik dari pinggangnya. Dengan bidikan presisi, jangkar itu menancap di celah batu di ketinggian tiga puluh meter.

Aku duluan," bisik Arkan. Ia memanjat dengan ketangkasan seorang predator, otot-otot lengannya menegang di balik setelan taktis poly-carbon.

​Liana mengikuti di belakang, jemarinya yang dingin mencari pegangan di celah batu yang tajam. Di tengah pendakian, sebuah lampu sorot dari pos penjaga atas mulai bergerak ke arah posisi mereka.

​"Jangan bergerak, Liana! Menempel pada dinding!" desis Arkan.

​Liana membeku, jantungnya seolah berhenti berdetak saat cahaya putih terang itu hanya berjarak beberapa senti dari kakinya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, lampu itu berlalu. Mereka melanjutkan pendakian hingga mencapai bibir tebing yang dijaga oleh pagar kawat berduri dialiri listrik statis.

​Arkan mengeluarkan tang potong termal, memutus aliran listrik dalam hitungan detik. Mereka menyelinap masuk ke dalam kompleks laboratorium luar yang sunyi secara mengerikan. Tidak ada suara langkah kaki penjaga, hanya suara dengung mesin yang konstan.

Kenapa sepi sekali?" tanya Liana curiga, tangannya menggenggam erat perangkat peretas di pergelangan tangannya.

​"Itu karena mereka tidak butuh manusia untuk menjaga tempat ini," Arkan menunjuk ke arah sudut bangunan.

​Dari balik kegelapan, muncul empat unit 'Stalker'—robot berkaki empat dengan sensor infra merah yang menyerupai anjing mekanis. Di punggung mereka terpasang senapan mesin ringan yang bisa berputar 360 derajat.

​"Berlindung di balik tangki nitrogen!" Arkan menarik Liana tepat saat rentetan peluru mulai mencabik tanah tempat mereka berdiri tadi.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​"Liana, aku butuh kau meretas frekuensi kontrol mereka! Aku akan mengalihkan perhatian!" Arkan melepaskan tembakan balasan dengan HK416-nya, mengincar sensor optik robot-robot tersebut.

Liana segera berjongkok, membuka panel akses darurat di dekat tangki. Jarinya menari di atas layar holografik kecil.

"Enkripsinya berlapis, Arkan! Mereka menggunakan frekuensi hopping!"

​"Cepat! Aku hanya punya dua magazin tersisa!"

​Arkan melakukan manuver berbahaya, berlari di antara pilar-pilar beton sambil melepaskan tembakan presisi. Satu robot berhasil ia lumpuhkan setelah pelurunya mengenai sirkuit pendingin di sendi kakinya, namun tiga lainnya mulai mengepung Arkan dengan algoritma berburu yang sempurna.

​"Sedikit lagi... dapat!" teriak Liana.

​Tiba-tiba, ketiga robot itu berhenti menembak. Kepala mekanis mereka berputar liar selama beberapa detik sebelum akhirnya lampu sensor mereka berubah dari merah menjadi hijau.

​"

Aku sudah membalikkan protokol mereka," napas Liana memburu.

"Sekarang mereka akan menganggap kita sebagai teknisi senior. Tapi ini tidak akan bertahan lama, sistem pusat pasti akan mendeteksi anomali ini."

Bagus. Gunakan mereka untuk membuka pintu lift menuju Core Zero," ucap Arkan sembari mendekati Liana. Ia menyeka goresan di pipi Liana yang terkena serpihan beton. "Kau luar biasa, Liana."

​Mereka bergerak menuju lift utama, dikawal oleh tiga robot pembunuh yang kini menjadi pelindung mereka. Saat lift meluncur turun menuju kedalaman pulau, layar digital di dalam lift mulai menampilkan pesan singkat yang membuat darah Arkan mendidih.

​PROGRESS PROJECT PHOENIX: 96%.

PESAN DARI DIREKTUR ELENA: "SELAMAT DATANG DI RUMAH, ANAKKU. MAAF ATAS SAMBUTAN KASARNYA, TAPI SEORANG IBU HARUS MEMASTIKAN ANAKNYA CUKUP KUAT UNTUK MEWARISI DUNIA."

​Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah aula besar yang dipenuhi oleh tabung-tabung kaca berisi cairan biru elektrik. Di tengah aula itu, berdiri sebuah singgasana logam yang terhubung ke ribuan kabel saraf komputer.

​Namun, bukan Elena yang menyambut mereka di sana.

Seorang pria dengan jubah putih berdiri membelakangi mereka, menatap layar raksasa yang menampilkan data ekonomi global yang mulai runtuh. Saat ia berbalik, Arkan terpaku.

​"Dokter... Dokter Hendra?" suara Liana bergetar.

​Pria yang selama ini mereka anggap sebagai pelatih dan pelindung mereka, kini berdiri di sana dengan tatapan dingin dan penuh ambisi.

"Hendra adalah identitas yang kubuat untuk mengawasi kalian, Anak-anakku. Aku adalah Arsitek asli dari Project Phoenix. Elena hanyalah wajah yang kusewa untuk menjalankan bisnis ini."

​Arkan menodongkan senjatanya tepat ke dada Hendra.

"Kau mengkhianati kami. Kau menggunakan kami untuk menghancurkan sainganmu agar kau bisa menguasai Phoenix sendirian!"

​Hendra tertawa kecil, suara yang dulu terasa hangat kini terdengar seperti desisan ular.

"Bukan mengkhianati, Arkan. Aku mendidik kalian. Aku butuh kalian berdua mencapai titik ini agar kunci terakhir bisa dibuka. Kunci itu bukan hanya kode genetik... tapi pengorbanan murni."

Tiba-tiba, lantai di bawah Arkan dan Liana bergetar. Sebuah kurungan energi laser muncul, memisahkan mereka.

​"Liana, lari!" teriak Arkan, namun laser itu sudah mengunci posisinya.

​Hendra mendekati konsol utama.

"98%. Liana, berikan perangkat deksripsi itu padaku secara sukarela, atau aku akan membiarkan Arkan terbakar di dalam plasma laser ini."

​Liana menatap Arkan yang terkurung, lalu menatap Hendra. Di dalam hatinya, ia menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah wanita gila yang melarikan diri, melainkan pria yang selama ini ia percayai sebagai ayahnya sendiri.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!