Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pesta resepsi pernikahan Baskara dan Ambar Mahendra berlangsung dengan sangat megah di ballroom hotel bintang lima yang paling mewah di kota.
Alunan musik orkestra yang elegan mengiringi tawa dan percakapan para tamu undangan yang terdiri dari kalangan elite bisnis dan pejabat tinggi.
Di atas pelaminan yang didesain bagaikan singgasana modern, Ambar duduk dengan anggun di samping Baskara.
Gaun merah marunnya berkilau terkena cahaya lampu kristal, dan riasan wajahnya memancarkan kecantikan yang dingin namun mempesona.
Baskara, dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna, sesekali membisikkan kata-kata manis yang membuat Ambar tersenyum tipis.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sesosok wanita dengan gaun sutra perak yang sangat berani melangkah mendekat.
Dia adalah Clara, mantan kekasih Baskara yang dulu meninggalkan pria itu tepat setelah kecelakaan yang menyebabkannya lumpuh.
Clara berjalan dengan penuh percaya diri, matanya tertuju lurus pada Baskara, mengabaikan keberadaan Ambar sepenuhnya.
"Baskara, Sayang," sapa Clara dengan suara mendesah yang dibuat-buat, berhenti tepat di depan kursi roda Baskara.
Ia membungkuk sedikit, memamerkan belahan dadanya yang rendah, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus rahang tegas Baskara.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku sangat merindukan momen-momen indah kita dulu."
Ambar merasakan hatinya mencelos. Rasa cemburu tiba-tiba membakar dadanya, perasaannya campur aduk antara marah, sedih, dan tidak percaya.
Ia menatap Clara dengan tatapan tajam, mencoba menjaga harga dirinya sebagai istri sah Baskara.
"Maaf, Nona Clara," ucap Ambar dengan nada suara yang bergetar namun tetap berusaha terdengar tegas.
"Suamiku, sedang tidak ingin diganggu."
Clara tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat meremehkan.
"Suamimu? Oh, Ambar. Kamu sungguh naif. Baskara tidak akan pernah bisa melupakanku. Aku adalah cinta sejatinya, dan kamu hanyalah bidak catur yang kebetulan dia gunakan untuk membalas dendam pada keluargamu yang menyedihkan itu."
Baskara diam membeku, matanya menatap Clara dengan dingin.
Tangan Ambar yang berada di pangkuannya mengepal erat, menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Ia merasa sangat terhina di depan ratusan tamu undangan.
Tiba-tiba, Baskara bergerak. Ia melepaskan tangan Ambar dari genggamannya, lalu dengan gerakan cepat dan kuat, ia menarik pinggang Ambar sampai istrinya itu terduduk di atas kursi roda, tepat di pangkuannya.
Ambar tersentak kaget, napasnya memburu karena posisi mereka yang sangat intim di depan publik.
Sebelum Ambar sempat bereaksi lebih jauh, Baskara mencengkeram tengkuk Ambar dan langsung mencium bibirnya dengan sangat posesif dan penuh gairah di depan Clara.
Ciuman itu terasa sangat panas dan menuntut, sebuah pernyataan kepemilikan mutlak dari Baskara atas istrinya.
Clara mematung di tempat, wajahnya yang tadi penuh kemenangan kini berubah menjadi pucat pasi karena syok dan rasa malu yang luar biasa.
Ia tidak menyangka Baskara akan melakukan tindakan senekat itu untuk melindungi harga diri Ambar.
Beberapa tamu undangan yang berada di dekat pelaminan tersentak ngeri, lalu mulai berbisik-bisik. Wartawan yang berada di barisan depan langsung mengarahkan kamera mereka, mengabadikan momen penuh drama tersebut.
Baskara melepaskan ciumannya, lalu menatap Clara dengan tatapan sedingin es.
"Clara," ucap Baskara dengan suara rendah namun penuh intimidasi.
"Dengarkan aku baik-baik. Ambar bukan bidak catur. Dia adalah istriku, Ratu Mahendra. Dan kamu hanyalah sampah masa lalu yang sudah lama aku buang. Pergi dari sini sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeretmu keluar dengan hina."
Ambar menyandarkan kepalanya di bahu Baskara, hatinya merasa sangat tenang dan terlindungi.
Rasa cemburunya seketika menguap, digantikan oleh rasa cinta yang semakin dalam pada suaminya.
"Petugas!" seru Baskara dengan nada memerintah.
"Bawa wanita ini keluar dari ballroom sekarang juga!"
Dua pengawal bertubuh kekar segera menghampiri Clara dan menyeretnya keluar dari aula di bawah sorot kamera wartawan yang terus menyambar tanpa henti.
Clara berteriak histeris, namun suaranya tenggelam oleh alunan musik orkestra yang kembali berdentang keras.
Baskara menggenggam tangan Ambar, lalu tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Baskara pelan di telinga Ambar.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Mulai malam ini, hanya ada kita. Baskara dan Ambar Mahendra."
Ambar tersenyum manis, lalu mengecup pipi Baskara dengan lembut.
"Terima kasih, Bas. Aku mencintaimu."
Baskara tersenyum, tatapannya melembut melihat binar di mata Ambar.
"Tentu, Sayang. Apapun yang kamu inginkan malam ini," jawabnya rendah.
Ambar kemudian melangkah ke belakang kursi roda Baskara.
Dengan gerakan perlahan namun penuh kebanggaan, ia mendorong suaminya turun dari pelaminan, membelah kerumunan tamu undangan yang otomatis memberikan jalan dengan tatapan hormat.
Tidak ada lagi Ambar yang menunduk malu; kini ia berjalan tegak sebagai nyonya besar di rumah itu.
Mereka berhenti di salah satu sudut buffet kelas atas yang menyajikan menu Nusantara spesial.
Aroma kaldu yang kaya dan rempah yang kuat langsung menyambut indra penciuman mereka.
Pelayan dengan sigap menyajikan dua porsi sop buntut yang uapnya masih mengepul panas ke meja khusus mereka.
Ambar mencicipi sesendok kuah bening yang kaya rempah itu.
Matanya terpejam sejenak, menikmati rasa gurih yang seolah menariknya kembali ke masa lalu.
"Enak sekali kuahnya, Bas..." ucap Ambar dengan suara yang sedikit bergetar.
"Terakhir kali aku makan sop buntut seenak ini, saat mendiang Ibuku masih ada. Setelah beliau pergi, tidak ada lagi yang memasakkan ini untukku. Di rumah Papa, aku bahkan jarang boleh menyentuh makanan enak jika Gea tidak bersisa."
Baskara terdiam, ia meletakkan sendoknya dan meraih tangan Ambar yang bebas, mengelusnya dengan ibu jari.
Pria itu bisa merasakan kesedihan yang mendalam di balik kalimat sederhana istrinya.
"Mulai sekarang, kamu bisa makan apapun yang kamu mau, Ambar. Tidak perlu menunggu sisa, dan tidak perlu meminta izin pada siapa pun," ucap Baskara tegas.
"Jika kamu suka sop buntut ini, aku akan meminta koki pribadi kita untuk belajar resep Ibu kamu, agar kamu bisa merasakannya setiap hari di rumah kita nanti."
Ambar menatap Baskara dengan mata berkaca-kaca, namun kali ini karena rasa syukur.
Di tengah kemewahan pesta yang penuh kepalsuan ini, ia justru menemukan kehangatan yang paling tulus dari pria yang selama ini dianggap dunia sebagai pria yang dingin dan tak berperasaan.
"Terima kasih, Bas. Kamu benar-benar keajaibanku," bisik Ambar sebelum kembali menikmati hidangannya, sementara dari kejauhan, mata-mata yang iri tetap mengawasi mereka, tak menyangka bahwa kebahagiaan sesederhana semangkuk sop buntut bisa menyatukan dua jiwa yang terluka itu begitu erat.
Acara resepsi yang megah itu akhirnya usai. Sorot lampu kristal di ballroom mulai meredup seiring perginya tamu terakhir, meninggalkan keheningan yang elegan.
Baskara memberikan isyarat kepada Ambar, dan dengan lembut.
Ambar mendorong kursi roda suaminya menuju lift privat yang langsung membawa mereka ke lantai teratas—kamar Presidential Suite yang telah disiapkan khusus untuk malam pertama mereka.