Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
,,,,,
"Sepertinya di rumah lagi nggak ada orang deh , " ujar Dewi setibanya di kediaman Kakek Damar. Pintu rumahnya tertutup dan tidak terlihat adanya orang yang ada di rumah.
Saat hendak membukanya , ternyata terkunci. Jaka mengambil kunci di tempat biasanya. Jika kunci itu tidak ada disana maka ada yang tinggal di rumah , namun jika kuncinya ada di sana maka memang tidak ada seorangpun yang ada dirumah.
Seperti yang sudah Dewi prediksi, kuncinya ada di tempat. Jaka segera mengambil kunci itu dan membuka pintu rumahnya.
"Kalian pulang saja. Biar Aku istirahat di rumah saja," kata Jaka datar.
"Tidak bisa. Kami akan menemani Abang sampai Kakek Damar atau Vina pulang," jawab Dewi dengan tegas.
"Benar! "
"Apa yang kalian khawatirkan. Lagipula Aku sudah biasa tinggal disini. Tidak perlu ditemani lagi," ucap Jaka dengan kesal. Dia masuk ke dalam rumah dan mendudukkan dirinya di kursi tamu. Rami dan Dewi mengikutinya dari belakang. Kemudian duduk di kursi .
"Abang memang sudah biasa tinggal disini. Kalau Abang dalam kondisi baik-baik saja, Kami tidak perlu khawatir seperti ini. Setidaknya harus ada seseorang yang menemani Abang disini sampai Kakek maupun Vina pulang. Sebelum itu jangan paksa Kami untuk pulang."
"Apa yang dikatakan Mbak Dewi benar. Aku juga akan tinggal disini sampai Kakek dan Mbak Vina pulang. Oh iya....bukankah tadi Abang belum sempat sarapan. Bagaimana kalau sekarang Abang sarapan dulu?"
"Aku belum lapar,' tolak Jaka tanpa pikir panjang.
"Abang tidak mau sembuh?"
"Tunggu sampai Kakar ipar kalian pulang dulu."
"Iya kalau dia pulang cepat, kalau sampai sore bagaimana?" ujar Dewi tidak setuju dengan ide abangnya.
"Tunggu sebentar lagi."
"Memangnya Mbak Vina sudah masak?"
"Waktu ke rumah tadi tinggal lauknya saja yang belum matang. Pasti sekarang sudah matang. Biar Aku lihat di dapur dulu."
"Nggak sopan loh Mbak, masuk-masuk ke dalam saat orangnya tidak ada."
"Apa Kamu pikir Bang Jaka itu bukan orang? Lagian bukan Aku yang mau makan tetapi Bang Jaka."
"Sudahlah....biar nanti Aku ambil sendiri di dapur."
"Harus sekarang. Atau Aku ambil makanan dari rumah saja. "
"Jangan! apa kata orang nanti. "
"Kalau begitu tunggu apalagi?"
Tidak ingin mendengar omelan kedua adiknya, Jaka bangun dan berjalan ke ruang makan. Di bawah tudung saji sudah ada nasi dan juga lauknya. Hanya ada sambal, kulup, sama ikan klotok goreng.
Jaka mengambil secukupnya , kemudian makan dengan tenang di ruang makan. Ia tidak menawari kedua adiknya karena keduanya baru saja sarapan.
Hingga menjelang sore Vina belum juga pulang ke rumah. Padahal Kakek Darma sudah pulang sedari tadi. Rami dan Dewi langsung pulang begitu Kakek Darma pulang.
Jaka mondar-mandir didalam kamarnya dengan tidak tenang. Sedangkan orang yang sedang ia khawatirkan sedang bersenang-senang didalam hutan.
Siang tadi Vina menemukan seekor kancil yang terluka.Setelah diobati , kancil itu ia bawa untuk berkeliling.
"Sudah gelap nih, Aku harus segera pulang nih. Kalau tidak Kakek bisa khawatir."
"Aku ikut," kata si kancil. Tanpa diminta pun Vina memang sudah berniat untuk membawa si kancil itu pulang ke rumahnya.
Sangat disayangkan jika tidak membawanya, apalagi ia bisa memahami bahasanya.
Benar....sistem memberikan hadiah karena telah menyelamatkan kancil yang sedang sekarat itu dengan memahami apa yang diucapkan si kancil.
"Tenang saja Aku pasti akan membawamu pulang. Tapi sebelum itu Aku harus mengumpulkan semua yang sudah aku peroleh tadi."
Vina tidak hanya menemukan buah rambutan saja, tetapi juga buah Tin, mangga dan blackberry. Buah-buah itu ia masukkan kedalam keranjang yang ia beli dari sistem. Ia harus merelakan sepuluh poin dengan keranjang .
Setelah semuanya ia masukkan ke dalam keranjang, Vina menggendong si kancil dan berjalan pulang.
Vina tidak perlu khawatir tersesat, karena ia meninggalkan jejak di setiap jalan yang ia lewati.
"Vina!"
"Malam Pak lik," sapa Vina dengan hangat.
"Kamu kemana saja? Semua sibuk mencarimu," kata Lelaki yang vina panggil Pak Lik itu.
"Oh....Aku tadi jalan-jalan di dekat hutan," jawab Vina dengan jujur. Ia menunjukkan Si Kancil yang ad di dalam gendongannya.
"Kamu pegi ke hutan sendiri dan menemukan kancil ini? Kamu tidak takut?"
"Kenapa harus takut?"
"Bagaimana kalau ada binatang buas?"
"Tinggal lari atau naik pohon saja, gampang kan," jawab Vina dengan enteng.