Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Taktik Sidang Meja Bulat
Kiandra tersentak, seolah baru saja tersengat aliran listrik ribuan volt yang merambat dari permukaan kulit lengan Enzo Romano.
Jemarinya yang tadi mencengkeram erat kain seragam Chef pria itu mendadak lemas, terlepas begitu saja. Ia melangkah mundur dengan terburu-buru, menciptakan jarak yang aman namun terasa sangat canggung di antara mereka.
Wajah Kiandra sepucat kertas. Di bawah siraman lampu neon dapur praktik yang putih tajam, ia merasa seperti seekor kelinci yang terpojok di depan serigala, sementara di luar pintu, segerombolan pemburu sudah siap mendobrak masuk.
"Enzo, mereka di luar!" bisik Kiandra panik. Suaranya bergetar hebat, nyaris hilang ditelan dengung mesin pendingin.
Ia menggeser tubuhnya perlahan, meremas ujung apron putihnya yang kaku hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Matanya melotot ke arah pintu kaca buram yang masih bergetar akibat guncangan dari luar.
Di dalam kepalanya, skenario terburuk sudah bermain seperti film horor: ia dikeluarkan dari Le Cordon Bleu, dideportasi, dan harus menghadapi wajah kecewa Papanya di Jakarta.
Enzo tidak menunjukkan tanda-tanda panik sedikit pun. Sebaliknya, ia justru menatap Kiandra dengan ketenangan yang sangat menyebalkan.
Pria Italia itu menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat diam yang mutlak. Mata hazel-nya berkilat tajam, mengunci pandangan Kiandra sejenak sebelum beralih menatap pintu dengan waspada.
Kiandra memejamkan mata rapat-rapat. Rasanya ia ingin menghilang ke dalam saluran pembuangan air sekarang juga.
Enzo bergerak cepat namun tanpa suara. Ia menunjuk ke arah pintu belakang yang biasanya hanya digunakan oleh staf kebersihan dan pengantar bahan makanan. Dengan kode mata yang tegas, ia menyuruh Kiandra untuk segera pergi dari sana.
Kiandra mengangguk cepat, nyaris seperti gerakan refleks. Ia berjalan berjinjit, memastikan setiap langkah sepatu Chef-nya tidak menimbulkan bunyi di atas lantai beton.
Dengan tangan yang gemetar, ia membuka selot pintu belakang dengan sangat hati-hati. Begitu pintu itu terbuka sedikit, ia menyelinap keluar seperti bayangan.
Enzo tetap berdiri di tempatnya. Ia merapikan kerah seragam Chef-nya yang sedikit miring, menarik napas panjang untuk memasang kembali topeng otoritasnya yang dingin. Begitu ia yakin Kiandra sudah aman, Enzo melangkah tenang ke arah pintu depan, bersiap menghadapi gerombolan mahasiswa yang haus gosip itu.
***
Kiandra menutup pintu belakang dengan perlahan, menahan napas hingga bunyi klik pengunci terdengar sangat halus. Begitu kakinya menginjak koridor belakang yang sepi, ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di kerongkongan.
"Gila... jantungku beneran mau copot," gumamnya parau.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong yang remang, tangannya sibuk merapikan kunciran rambutnya yang sedikit berantakan.
Kiandra mengarahkan langkahnya menuju taman kampus, berharap udara segar bisa mendinginkan kepalanya yang terasa mau meledak.
Begitu ia melangkah keluar gedung, embusan angin musim dingin langsung menerpa wajahnya. Udara Paris yang tajam menusuk hingga ke balik seragamnya, namun itu justru membantunya untuk kembali sadar sepenuhnya.
Namun, ketenangannya hanya bertahan lima detik.
Di dekat bangku batu taman yang dikelilingi pohon mapel dengan daun-daun yang mulai menguning, Mei Ling sudah berdiri menunggunya.
Sahabatnya itu melambaikan tangan dengan gerakan yang kaku, wajahnya datar tanpa senyum sedikit pun—sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang Mei Ling yang biasanya ceria.
Kiandra menghentikan langkahnya sejenak. Ia menelan ludah dengan susah payah saat melihat formasi lengkap teman-temannya sudah berkumpul di sana. Ini bukan sekadar nongkrong biasa; ini adalah sidang meja bulat.
Diya Kapoor menurunkan kacamata hitam mahalnya, bersedekap dada dengan gaya seorang hakim agung. Ia menatap Kiandra dengan pandangan mengadili yang sangat tajam.
Di sampingnya, Juliette Laurent bersandar pada pohon mapel dengan tangan terlipat, sementara Adele Moreau memegang buku catatannya erat-erat dengan wajah cemas.
Setelah menemui Enzo dan malah di marahi, Jaxson Cole ikut bergabung dan duduk di atas meja batu. Louis Barbier berdiri tegak di ujung barisan, merapikan mantel wolnya yang mahal, memasang wajah formal yang sangat kaku.
"Sini, Kiandra. Duduk," perintah Mei Ling. Ia menarik lengan Kiandra, memaksanya duduk di atas bangku batu yang dinginnya menembus celana kainnya.
Kiandra duduk dengan kaku, menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik lipatan mantel wol yang ia sampirkan di pangkuan. Ia merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis mati.
Diya mengetuk meja batu dengan kuku merahnya yang panjang. Suara tik... tik... tik... itu terdengar seperti detak bom waktu.
"Kiandra. Kamu tidak bisa lari lagi sekarang," ucap Diya dengan nada datar yang sangat mengintimidasi. "Apa penjelasanmu tentang kejadian semalam? Dan jangan coba-coba berbohong lagi."
Kiandra menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali sisa-sisa kemampuan aktingnya. "Salah paham. Semalam di L'Arpège itu benar-benar hanya salah paham yang tidak disengaja."
"Salah paham?" Mei Ling menyambar cepat, matanya menyipit penuh selidik. "Chef Romano menciummu di restoran bintang tiga, di depan Blake Harrington, dan kamu bilang itu salah paham? Kamu pikir kami ini anak TK yang bisa dibohongi pakai cerita dongeng?"
"Dia sedang melakukan review wine di sana, kami tidak sengaja bertemu di meja yang berdekatan," Kiandra mencoba membela diri, suaranya sedikit bergetar.
"Lalu kenapa dia harus menciummu?" Diya mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Kiandra.
"Dosen tidak akan mencium mahasiswinya tanpa alasan khusus, Kiandra. Apalagi seorang Enzo Romano yang terkenal sangat menjaga jarak."
Kiandra meremas jemarinya di bawah meja. "Blake sangat agresif semalam. Dia terus menekanku untuk menjadi pasangannya secara paksa, bahkan di depan umum. Aku merasa sangat tidak nyaman."
Ia menjeda kalimatnya, mencoba mencari kata-kata yang paling logis. "Chef Enzo hanya membantuku. Dia melakukan tindakan impulsif untuk mengusir Blake saat itu. Dia tahu aku sedang kesulitan, jadi dia bertindak sebagai... wali sementaraku."
"Membantu dengan cara mencium bibir mahasiswinya sendiri?" Louis Barbier akhirnya angkat bicara. Suaranya dingin dan penuh penilaian.
"Itu gila dan melanggar aturan, Kiandra. Kamu tahu kan kalau dosen dan mahasiswa tidak boleh memiliki hubungan pribadi? Komite etik bisa bertindak jika ini sampai ke telinga dekan."
"Aku tahu aturan itu, Louis! Makanya aku bilang ini hanya salah paham profesional!" seru Kiandra, mulai merasa terpojok.
"Tapi cara dia melindungimu semalam... itu tidak terlihat seperti seorang dosen biasa," Juliette menimpali dengan nada tenang namun mematikan.
"Kami hanya khawatir padamu, Kiandra," Adele menyentuh lengan Kiandra pelan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. "Gosip di kampus ini bisa menghancurkan beasiswamu. Kamu tahu betapa ketatnya persaingan di sini."
"Terima kasih, tapi aku bersumpah tidak ada hubungan apa-apa di antara kami," ucap Kiandra dengan nada yang ia buat semantap mungkin.
Hening.
Selama lima detik, ketegangan di bawah embusan angin taman yang bergemuruh pelan itu terasa begitu pekat. Daun-daun mapel yang kering bergesekan di atas tanah, menciptakan suara kresek-kresek yang menambah suasana mencekam.
Mei Ling melangkah maju dua tapak, berdiri tepat di depan Kiandra. Ia merundukkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Kiandra dengan intensitas yang membuat Kiandra ingin memalingkan wajah.
Diya memperhatikan reaksi wajah Kiandra dengan teliti, menghela napas panjang, lalu melipat tangannya kembali dengan kaku. Jaxson menghentikan kunyahan permen karetnya, menegakkan punggung, menatap Kiandra dengan wajah yang mendadak sangat serius.
"Aku tahu kamu bohong soal sepupu jauh yang tinggal bersamamu itu, Kiandra," bisik Mei Ling. Suaranya sangat tajam, menusuk tepat di ulu hati Kiandra.
Jantung Kiandra seolah berhenti berdetak. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak kaku. Ia menatap Mei Ling dengan mata membelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar.
Mei Ling semakin merunduk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Kiandra. Ia membisikkan kalimat yang menjadi mimpi buruk terbesar Kiandra sejak menginjakkan kaki di Paris.
"Pria tanpa baju di apartemenmu waktu itu... pria yang aku lihat sedang santai di sofa sambil baca buku..." Mei Ling menjeda kalimatnya, memberikan tekanan yang menghancurkan.
"Dia Enzo Romano, kan?"