NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kendali yang lemah

Langit Bandung sore itu tidak sepenuhnya gelap, hanya kelabu pucat yang menggantung rendah di atas pepohonan mahoni. 

Jarum jam tangan Agnesa menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit saat ia berdiri di depan toko kelontong kecil di pinggir jalan raya, tidak jauh dari sekolah. 

Aroma aspal basah menguar tajam.

 Tik. Tik. Tik. 

Gerimis mulai turun, tidak cukup deras untuk membasahi bumi, tapi cukup untuk membuat permukaan trotoar terlihat mengilap seperti sisik ikan.

​Agnesa menatap noda lumpur yang sudah mengering di pinggiran rok abu-abunya. 

Tadi, setelah baksos selesai, ia menolak tawaran Venzo untuk diantar kembali ke rumah dengan alasan ingin mampir ke toko buku.

 Namun, di sinilah ia sekarang—berdiri di bawah kanopi toko kelontong yang bau sabun batangan dan bumbu dapur, memandangi jalanan.

Di dalam toko, sebuah radio tua memutar lagu pop tahun sembilan puluhan dengan suara kemeresek. 

Sshhh... 

Penjual toko, seorang pria paruh baya dengan kaos oblong putih yang sudah agak kuning di bagian ketiak, sedang sibuk menyusun kaleng susu kental manis. 

Di depan Agnesa, sebuah kaleng biskuit Khong Guan yang sudah karatan digunakan sebagai tempat sampah, penuh dengan puntung rokok dan bungkus plastik permen. 

Debu beterbangan di antara cahaya lampu neon yang berkedip pelan. 

Tik... tik... tik...

​Sebuah motor besar dengan suara knalpot yang berat mendekat. 

Vrooom... bram! 

Motor itu berhenti tepat di depan toko. Pengendaranya tidak turun, hanya membuka kaca helm full-face-nya. Naren. 

Ia masih mengenakan jaket kulit yang sama dengan tadi pagi, namun kini kemeja di dalamnya terlihat lebih berantakan dengan kancing atas yang terbuka.

​"Belum pulang?" tanya Naren. Suaranya harus bersaing dengan deru mesin motor yang masih menyala.

​Agnesa sedikit memperbaiki posisi tas sekolahnya. "Menunggu gerimis berhenti."

​"Lama kalau nunggu berhenti. Ini gerimis awet," Naren mematikan mesin motornya. 

Klik.

 Keheningan mendadak terasa pekak.

Naren turun dari motor, namun ia tidak mendekat ke arah Agnesa. Ia berdiri di sisi lain kanopi, menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga yang catnya sudah mengelupas. 

Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan sebungkus rokok, lalu berhenti. Ia melihat ke arah Agnesa, menatap papan jalan yang masih dipeluk gadis itu, lalu memasukkan kembali rokoknya ke saku tanpa menyulutnya. 

Agnesa tetap diam, pandangannya terpaku pada genangan air di depan sepatunya.

​"Mana supir lo?"

​"Saya suruh jangan jemput. Tadi rencananya mau ke toko buku depan, tapi tiba-tiba turun hujan."

​"Toko buku sejauh dua blok? Lo bisa jalan kaki kalau nggak pakai sepatu itu," Naren menunjuk sepatu pantofel Agnesa yang masih bercak cokelat.

​"Sepatunya tidak masalah. Saya hanya... tidak ingin basah."

​Naren mendengus kecil. "Lo takut basah atau takut kelihatan berantakan di depan orang rumah?"

​Agnesa menoleh, alisnya bertaut. "Apa bedanya?"

​"Beda. Kalau takut basah itu insting. Kalau takut berantakan itu beban."

Agnesa melihat ke arah kabel listrik yang menjuntai di seberang jalan. Ada seekor burung gereja yang bertengger di sana, sendirian, bulunya tampak mengembang menahan dingin.

Ia teringat ibunya selalu menyisir rambutnya setiap pagi sampai tidak ada satu helai pun yang keluar dari jalur. 

Ibunya bilang, penampilan adalah benteng pertama seorang wanita. Jika bentengnya retak, orang akan menganggap isinya hancur. 

Agnesa sering bertanya-tanya, apakah burung gereja di kabel itu juga punya ibu yang melarangnya terbang saat hujan agar sayapnya tidak terlihat kusam?

​"Ngomong-ngomong," Naren bersuara lagi, memecah lamunan Agnesa. "Papan jalan lo. Masih ada gambar kelincinya?"

​Agnesa reflex mengeratkan pelukannya pada papan jepit itu. "Saya akan menghapusnya nanti."

​"Ngapain dihapus? Bagus kok. Mirip lo."

​"Mirip saya?"

​"Iya. Kelihatannya diem, tapi kalau kaget telinganya berdiri. Terus suka gigit kalau ngerasa terancam."

​"Saya tidak menggigit," protes Agnesa datar.

​"Masa?" Naren melangkah satu tindak mendekat. 

Srek.

 Suara gesekan sepatunya di atas semen terdengar kasar.

Naren kini berdiri cukup dekat sehingga Agnesa bisa mencium aroma samar bensin dan sisa keringat yang tidak mengganggu—justru terasa sangat manusiawi dibandingkan aroma pembersih lantai di rumahnya. 

Naren mengulurkan tangan, jemarinya hampir menyentuh ujung rambut Agnesa yang tersangkut di kerah kemeja. 

Agnesa menahan napas. Ia tidak bergerak mundur, namun matanya berkedip lebih lambat. 

Naren hanya mengambil sehelai daun kering yang terselip di rambut Agnesa, lalu membuangnya ke jalan.

​"Tadi di panti, lo kelihatan beda," kata Naren pelan.

​"Beda bagaimana?"

​"Nggak kayak robot OSIS. Lo tadi... ya, kayak manusia aja. Pas kasih pulpen ke bocah itu."

​"Saya memang manusia, Naren."

​"Kadang gue ragu. Habisnya lo kaku banget, kayak baru ditelan penggaris."

​Agnesa hampir saja ingin melempar papan jalannya ke arah Naren, namun ia menahan diri. 

"Kamu sendiri, kenapa masih di sini? Bukannya ZENTRIX ada jadwal... apa itu namanya? Kumpul-kumpul tidak jelas?"

​"Lagi males. Abyan berisik banget hari ini, katanya mau nembak cewek tapi bingung mau modal apa."

​"Dia bisa modal kejujuran," sahut Agnesa otomatis.

​Naren tertawa. 

Heh. Suara tawanya pendek dan kering. 

"Kejujuran nggak bisa dipake buat beli martabak, Nes. Zaman sekarang, cewek butuh yang kelihatan. Lo sendiri, kalau ada cowok jujur tapi nggak punya apa-apa, lo mau?"

​Agnesa diam. Pertanyaan itu tidak ada di dalam kisi-kisi ujian Oxford-nya. "Tergantung."

​"Tergantung apanya?"

​"Tergantung apakah dia jujur karena dia berani, atau jujur karena dia tidak punya pilihan lain."

​Naren berhenti tertawa. Ia menatap Agnesa dengan tatapan yang sulit diartikan.

Naren merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda kecil. Ternyata itu adalah permen karet.

 Ia membuka bungkusnya dengan satu tangan—sebuah keahlian yang entah bagaimana terlihat menarik—lalu memasukkannya ke mulut.

 Ia mengunyah pelan, matanya tetap menatap jalanan yang mulai gelap. Ia tidak menawarkan permen itu pada Agnesa, juga tidak melanjutkan pembicaraan. 

Ia hanya berdiri di sana, mengunyah, dan sesekali memperbaiki posisi jaketnya yang merosot di bahu.

​"Naren," panggil Agnesa.

​"Hm?"

​"Terima kasih untuk hari ini. Maksud saya... transportasinya."

​"Mobil pick-up rongsok gitu lo bilang makasih?"

​"Setidaknya saya sampai di tujuan tanpa harus duduk di mobil mewah yang udaranya terasa seperti es."

​"AC mobil bokap lo terlalu dingin?"

​"Bukan suhunya. Suasananya."

Agnesa menyebut kata 'suasana', dan ada jeda tiga detik sebelum ia melanjutkan. 

Ia menggeser kaki kanannya, membuat pola melingkar di atas semen yang basah dengan ujung sepatunya. 

Ia menunduk, lalu kembali menatap Naren dengan sorot mata yang lebih berani.

 "Terkadang, saya merasa lebih bebas berada di dalam mobil rongsok kamu daripada di meja makan rumah saya sendiri."

​Naren tidak membalas dengan kata-kata puitis. Ia justru meludah pelan ke arah samping (bukan ke arah Agnesa). 

"Itu namanya lo kurang piknik. Makanya, sekali-kali jangan cuma baca buku hewan laut."

​"Buku itu sangat informatif," bela Agnesa.

​"Informatif tapi nggak bikin lo tahu rasanya kena angin jalanan."

​Naren berjalan menuju motornya. Ia menghidupkan mesin. 

Brruuum!

 Lampu depan motornya yang terang menyapu kaki Agnesa, membuat bayangan gadis itu memanjang di dinding toko kelontong.

​"Ayo," ajak Naren.

​"Ke mana?"

​"Gue anter balik. Daripada lo lumutan di sini nunggu gerimis berhenti. Ini Bandung, kalau udah gerimis sore bisa sampe subuh."

​"Tapi saya tidak bawa helm."

​Naren melepas helmnya sendiri, lalu menyodorkannya pada Agnesa. "Pake ini. Gue bisa pelan-pelan."

​"Lalu kamu?"

​"Kepala gue keras. Nggak bakal pecah cuma kena air hujan."

​Agnesa ragu. Ia menatap helm hitam besar yang tampak terlalu berat untuk kepalanya.

Agnesa mengambil helm itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Naren saat proses serah terima. Ia tidak menarik tangannya dengan cepat. Ia merasakan sisa hangat dari jemari Naren di permukaan helm. 

Naren juga tidak segera melepaskan pegangannya, membiarkan Agnesa merasakan berat helm itu sebelum ia benar-benar melepaskannya.

 Agnesa mulai mengenakan helm itu. Ukurannya terlalu besar, membuatnya terlihat sedikit konyol.

​Klik. 

Agnesa mengunci tali helmnya dengan susah payah karena jarinya yang berplester kelinci sedikit menghalangi.

​"Bisa nggak?" Naren bertanya.

 Tanpa menunggu jawaban, ia mendekat dan menarik tali helm itu, menguncinya dengan sekali tekan. 

Cklek. 

Jari Naren sempat menyentuh dagu Agnesa. Dingin, tapi membuat kulit Agnesa terasa kesemutan.

​"Naik," perintah Naren.

​Agnesa naik ke jok belakang motor Ninja itu. Ia duduk menyamping, menjaga jarak agar tasnya berada di antara dirinya dan punggung Naren.

​"Pegangan. Gue nggak mau lo jatuh terus gue dipolisikan bokap lo gara-gara ngilangin anak emasnya."

​Agnesa ragu, lalu ia memegang ujung jaket kulit Naren dengan dua jari.

​"Yang bener pegangannya. Jaket gue bisa robek kalau lo tarik-tarik gitu."

​Akhirnya, Agnesa melingkarkan satu tangannya di pinggang Naren—sangat tipis, hampir tidak menyentuh. 

Naren tidak memprotes lagi. Ia menarik gas.

 Vrooom!

​Motor itu melaju menembus gerimis. Angin dingin mulai menusuk, tapi Agnesa merasakan kehangatan yang menjalar dari punggung Naren. 

Mereka melewati deretan ruko, lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, dan pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin.

Di atas motor, Agnesa memejamkan mata di balik kaca helm yang buram karena uap napasnya. 

Hujan makin deras—bukan lagi gerimis tipis. Air mulai merembes ke kemeja seragamnya, membuat kain putih itu menempel di kulitnya. 

Naren justru mempercepat laju motornya, seolah ingin membelah hujan. 

Agnesa mempererat pelukannya di pinggang Naren, menyandarkan keningnya di bahu jaket kulit pemuda itu yang kini basah dan licin.

​Mereka berhenti di sebuah persimpangan lampu merah yang sepi. Hanya ada mereka berdua dan suara hujan yang menghantam aspal.

 Pyar... pyar...

​"Lo kedinginan?" Naren setengah berteriak.

​"Sedikit!" jawab Agnesa dari balik helm.

​Naren meraih tangan Agnesa yang melingkar di pinggangnya, lalu memasukkan tangan kecil itu ke dalam saku jaket kulitnya.

 Di dalam sana, tangan Agnesa menemukan bungkus rokok dan sebuah kunci motor cadangan, tapi juga menemukan kehangatan yang terperangkap.

​"Tahan bentar. Lima menit lagi nyampe gerbang komplek lo," kata Naren.

​Agnesa tidak menjawab. Ia hanya merasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada getaran mesin motor di bawahnya.

Saat motor melaju lagi, Agnesa melihat sebuah mobil sedan hitam mewah melintas dari arah berlawanan. Ia mengenali plat nomornya. Itu mobil ayahnya. 

Agnesa segera menundukkan kepalanya lebih dalam di balik bahu Naren, berharap kaca helmnya yang gelap dan derasnya hujan cukup untuk menyembunyikan identitasnya. 

Mobil itu lewat begitu saja, lampunya menyilaukan mata Agnesa sesaat sebelum menghilang di tikungan.

​Mereka sampai di dekat gerbang kompleks perumahan Agnesa.

 Naren berhenti di bawah pohon rindang yang agak gelap, jauh dari jangkauan pandangan satpam penjaga gerbang.

​"Nyampe. Turun gih sebelum lo jadi kerupuk basah," kata Naren.

​Agnesa turun dengan canggung. Ia melepas helm dan menyerahkannya kembali pada Naren.

 Rambutnya yang tadi sudah sedikit berantakan kini benar-benar kacau, menempel di pipi dan dahinya. 

Kemeja seragamnya basah kuyup, menampakkan bayangan singlet di dalamnya.

​"Makasih, Naren."

​Naren menerima helmnya, lalu menatap Agnesa dari atas ke bawah. "Tuh kan, berantakan banget. Gimana kalau nyokap lo liat?"

​Agnesa melihat penampilannya sendiri. Ia tertawa pelan—sebuah tawa yang terdengar aneh di tengah hujan. 

"Biarkan saja. Saya akan bilang saya jatuh ke kolam kura-kura."

​"Kura-kura lagi. Obsesi lo aneh juga."

​Naren memakai helmnya kembali. 

"Sana masuk. Mandi air anget, minum tolak angin. Jangan sampe besok lo nggak masuk sekolah terus gue nggak ada yang marahin."

​"Kamu ingin saya marahi?"

​"Lucu aja liat muka lo kalau lagi marah. Kayak kucing mau bersin."

​Naren menarik gas. "Duluan, Nes!"

​Vrooom!

 Motor itu melesat hilang di balik tirai hujan, menyisakan lampu merah di kejauhan dan keheningan yang kembali menyergap.

​Agnesa berdiri diam sejenak. Ia memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai stabil.

 Ia berjalan menuju gerbang rumahnya dengan langkah yang mantap, meskipun air hujan merembes masuk ke dalam sepatunya, menciptakan suara crat-crit setiap kali ia melangkah.

"Benar-benar selera yang buruk," gumam Agnesa sambil melihat tangannya yang tadi berada di dalam saku jaket Naren. 

Tangannya masih sedikit gemetar, tapi ia tidak segera mengelapnya. Ia justru menggenggam tangannya sendiri seolah ingin menyimpan sisa kehangatan itu sedikit lebih lama.

​Pukul lima sore lewat sedikit.

 Agnesa membuka pintu rumahnya. Ibunya sudah berdiri di lobi dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.

​"Agnesa! Kamu dari mana? Kenapa basah kuyup begini?"

​Agnesa tidak menunduk. Ia merapikan sehelai rambutnya yang basah ke belakang telinga.

"Hujan, Ma. Payung saya tertinggal di kelas."

​"Lalu kenapa tidak telepon supir?"

​"Baterai ponsel saya habis. Saya jalan kaki dari toko buku."

​Ibunya mendesah panjang, mengambilkan handuk kering. "Sudah Mama bilang... penampilan itu segalanya. Lihat kamu sekarang, seperti anak jalanan."

​Agnesa menerima handuk itu. "Anak jalanan kelihatannya tidak terlalu buruk, Ma. Mereka tidak perlu takut basah."

​Ia berjalan naik ke kamarnya, meninggalkan ibunya yang terpaku di depan pintu. 

Di dalam kamarnya yang sunyi, Agnesa meletakkan papan jalan birunya di meja. Ia melihat gambar kelinci kecil itu. Ia mengambil penghapus, namun tangannya berhenti di udara.

Agnesa meletakkan kembali penghapusnya. Ia justru mengambil pulpen merah, lalu menambahkan sebuah syal kecil di leher gambar kelinci itu. 

Setelah itu, ia tersenyum tipis, membuka seragamnya yang basah, dan masuk ke kamar mandi.

 Di bawah kucuran air hangat, ia mulai bersenandung kecil—lagu pop tahun sembilan puluhan yang tadi ia dengar di radio toko kelontong yang bau sabun.

​Hari Selasa yang panjang itu ditutup dengan suara petir yang menggelegar di langit Bandung, namun di dalam kamar Agnesa, semuanya terasa jauh lebih tenang dari biasanya.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Jangan sok tahu tentang dunia saya, Naren."

​"Gue nggak sok tahu. Gue cuma liat cara lo pegangan di jaket gue tadi. Lo kayak orang yang takut jatuh tapi nggak mau pegangan kenceng."

​Naren Terlalu Paham Rahasia Agnesa? Ikuti Kelanjutan Kisah Mereka di Bab 12: Di Balik Retakan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!