NovelToon NovelToon
LINGKARAN PARA PENGHIANAT

LINGKARAN PARA PENGHIANAT

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pelakor / Poligami / Cerai / Selingkuh / Tamat
Popularitas:78.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
​Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
​Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Laura. Kepalanya terhentak sampai dia jatuh tersungkur. Sudut bibirnya pecah, darah segar mulai menetes ke lantai. Di pipinya yang putih, dan meninggalkan bekas lebam.

"Sudah berani kamu melawan aku, hah?!" Dirga menunjuk wajah Laura dengan telunjuk gemetar karena emosi. "Jangan harap aku bakal lepasin kamu gitu aja!"

"Mas, sakit..." Laura merintih, mencoba menjauh sambil memegang pipinya.

Tapi Dirga sudah gelap mata. Dia menyeret kasar tangan Laura. Begitu pintu dibanting, Dirga langsung menghujani Laura dengan pukulan tanpa ampun.

"Ampun, Mas! Ampun!" Laura menjerit histeris, meringkuk di sudut tempat tidur sambil menutupi kepalanya. Suaranya serak karena ketakutan yang luar biasa.

Dirga berhenti, tapi tangannya langsung menjambak rambut Laura dengan kencang, memaksa wajah istrinya itu mendongak.

"Jawab aku, Ra! Siapa bajingan itu?!" bentak Dirga tepat di depan muka Laura. Napasnya memburu, amarah Dirga terasa menyesakkan. "Siapa yang sudah berani menodai kamu! Jawab?".

"Ampun mas, ampun, sakit," Laura terus memohon. Suaranya serak, tenggorokannya terasa tercekat oleh tangis dan rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya.

Kedua tangan Laura gemetar hebat, berusaha melindungi kepalanya yang terus menjadi sasaran kemarahan Dirga. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang kini mulai membengkak. Ia merasa dunianya seakan runtuh di dalam kamar itu.

"Sakit? Kamu bilang sakit?!" Dirga berteriak tepat di depan wajah Laura, ludahnya menciprat ke pipi Laura. "Hati aku jauh lebih sakit, Ra! Kamu selingkuh di belakang aku!"

Dirga mengguncang kepala Laura dengan kasar. "Ayo jawab! Jangan cuma bisa nangis! Siapa laki-laki itu? Apa dia lebih hebat dari aku, hah?!"

Laura hanya bisa menggeleng lemah dengan sisa tenaga yang ada. Bibirnya gemetar, terlalu takut untuk mengeluarkan satu kata pun karena setiap kali ia mencoba bicara, tamparan baru selalu mendarat.

"Jawab, Laura! Jangan sampai aku hilang kendali dan habisi kamu di sini!" ancam Dirga dengan suara yang rendah namun sangat mematikan.

Saat Dirga sedang kalap menjambaknya, Laura melihat celah. Dalam kondisi terdesak, instingnya bekerja. Dengan sisa tenaga yang ada, dia menyentakkan kakinya sekuat mungkin, tepat mengenai selangkangan Dirga.

​Bugh!

​Seketika, makian Dirga terputus. Wajahnya yang tadi merah padam mendadak pucat pasi. Dia melepaskan jambakannya dan langsung ambruk berlutut di lantai, meringkuk sambil memegangi area sensitifnya.

 Napasnya tercekat, hanya suara erangan tertahan yang keluar dari tenggorokannya.

​"Argh... s-sialan..." Dirga mengerang, tubuhnya gemetar menahan nyeri yang menjalar sampai ke perut.

​Laura tidak menunggu sedetik pun. Dengan kaki yang masih lemas dan jantung berpacu liar, dia langsung melompat dari ranjang. Dia lari keluar kamar, mengabaikan rasa perih di bibirnya yang masih berdarah.

​"Laura, berhenti! Sial... awww, sakit!" rintih Dirga sambil mencoba merangkak di lantai. "Sialan, berani-beraninya kamu nendang anuku!"

Laura tidak menoleh. Dia menyambar grendel pintu depan, menariknya dengan tangan yang gemetar hebat, dan langsung menghambur keluar ke gang kontrakan yang sepi. Dia terus berlari tanpa alas kaki, mengabaikan rasa perih di wajahnya, menjauh sejauh mungkin sebelum Dirga mengejarnya.

Napas Laura memburu. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitar gang itu mendadak hilang. Sambil terus berlari menjauh dari kontrakan, tangannya yang gemetar hebat meraba saku, mengeluarkan ponsel dengan layar yang sedikit retak.

​Ia menyeka keringat dan darah yang mulai mengering di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu dengan cepat menyentuh layar yang buram. Matanya yang sembab fokus mencari satu nama: Hendra.

​Begitu ikon telepon ditekan, Laura menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia berdiri menyandar di tembok kusam sebuah gang buntu, kakinya yang lemas nyaris tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, suaranya terdengar sampai ke telinga sendiri, berpacu dengan nada sambung yang terasa sangat lama.

​"Angkat, Hen... tolong angkat..." bisiknya gemetar. Matanya terus melirik ke arah jalan yang baru saja ia lalui, takut jika bayangan Dirga tiba-tiba muncul di sana.

"Halo Ra, Ada apa?" suara Hendra terdengar tenang di seberang telepon, kontras dengan kekacauan yang baru saja dialami Laura.

"Hen, tolong aku... Mas Dirga memukuliku karena dia tahu bekas ciuman kamu di leherku. Dia sangat marah, Hen!" tangis Laura pecah, suaranya parau dan gemetar hebat.

"Apa?! Oke, oke, tenang Ra. Aku jemput kamu sekarang. Kamu di mana posisi sekarang?"

"Aku... aku masih di sekitar kontrakan, Ndra. Di gang depan. Tolong cepat ke sini... aku sudah nggak kuat," rintih Laura sambil merosot jatuh ke tanah, tubuhnya benar-benar lemas.

"Bertahan di situ, Ra. Sembunyi di tempat gelap, jangan sampai kelihatan Dirga. Lima menit aku sampai!"

Klik. Sambungan terputus. Laura memeluk lututnya di balik bayangan tembok, berusaha meredam isak tangisnya sambil terus mengawasi arah kontrakannya dengan perasaan was-was. Setiap sorot lampu motor yang lewat membuatnya jantungnya hampir copot.

Suasana gang yang tadinya sunyi mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang berat dan terseret.

​"Laura! Di mana kamu, hah?!" teriakan Dirga menggelegar, suaranya parau menahan sakit sekaligus amarah yang meluap. "Keluar kamu! Jangan jadi pengecut!"

​Laura tersentak, punggungnya menempel rapat ke tembok yang dingin. Jantungnya serasa mau copot mendengar suara suaminya yang semakin mendekat. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam napasnya yang memburu agar tidak terdengar.

​"A..... Hap!"

​Tiba-tiba, sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang. Laura terlonjak, matanya melotot ketakutan dan dia mulai meronta dengan sisa tenaga yang ada.

​"Shut....... diam, Ra. Ini aku, Hendra," bisik sebuah suara akrab tepat di telinganya.

​Seketika tubuh Laura melemas. Rasa takut yang mencekik itu berganti dengan rasa lega yang luar biasa begitu dia menoleh dan mendapati wajah Hendra di balik remang cahaya lampu jalan.

​"Hendra... akhirnya kamu datang," isak Laura lirih, air matanya jatuh ke tangan Hendra yang masih memeganginya.

​Hendra tidak membuang waktu. Dia melirik ke ujung gang, melihat bayangan Dirga yang bergerak liar di bawah lampu jalan.

"Ayo cepat kita pergi sekarang, Ra, sebelum ketahuan Dirga. Naik ke motor, cepat!"

​Hendra menarik tangan Laura, membimbingnya setengah berlari menuju motornya yang diparkir sedikit agak jauh agar suaranya tidak memancing perhatian Dirga.

Baru saja mesin motor menderu, sorot lampu depan menyapu sosok Dirga yang muncul dari balik tikungan gang. Mata Dirga melotot tajam saat melihat Hendra membonceng istrinya.

​"Laura?! Dasar jalang, berhenti kalian !" raung Dirga, suaranya pecah di kesunyian malam.

​Hendra tidak memedulikan makian itu. Dia langsung menginjak pedal gas, membuat ban motor berdecit di atas aspal dan melesat pergi. Laura memeluk pinggang Hendra dengan erat, menyembunyikan wajahnya di punggung pria itu sambil terisak, tak berani menoleh ke belakang.

​"Laura! Kembali! Jangan kabur kamu!" teriakan Dirga menggema, sangat dekat di belakang mereka.

​Dirga mencoba mengejar. Dia berlari sekuat tenaga, namun rasa nyeri yang menusuk di selangkangannya akibat tendangan Laura tadi belum benar-benar hilang. Langkahnya ling lung, napasnya tersengal parah. Baru beberapa meter mengejar, kakinya tersangkut lubang jalanan gang yang rusak.

​Gubrak!

​Dirga jatuh tersungkur dengan keras. Wajahnya menghantam aspal, tangannya mencakar tanah mencoba menahan berat tubuhnya.

​"Sial... Laura! Kembali!"

​Dirga hanya bisa memukul jalanan dengan kepalan tangannya yang gemetar. Dia terengah-engah di atas tanah, menatap nanar lampu belakang motor Hendra yang semakin mengecil dan akhirnya menghilang di tikungan jalan raya, meninggalkan dia sendirian dalam amarah yang sia-sia.

Bersambung........

Jangan lupa like dan vote ya kak supaya aku bisa lebih semangat lagi 😁🙏🙏

1
niktut ugis
tokoh karin terkesan bodoh
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK..
Sejak kapan sidang perceraian terbuka untuk umum.???!!!!
ros
Dr awal sampai habis x ada kebahagiaan, menyesal baca
Rosita Tumbelaka
yaa kenapa nggk happy endingnya.. Thor...pembaca kecewa...
Rosita Tumbelaka
yaa ... aq paling benci perselingkuhan...
Fitrian
dari mana mereka dapat mobil? katanya mereka di buat miskin oleh karin🤔🖕
Fitrian
jalang yang mau ngejalang bilang astagfirullah 🧠🧠🧠🧠🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh baru saja keguguran mau nge jalang dia semoga mati waktu ngejalangnya🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh dasar 🧠🧠🧠🧠🧠🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
lahh dosa penghianat dan pelakor sahabat sendiri, gitu saja tak sadar 🧠🧠🧠🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuiiiiiihhhhh🧠🧠🧠🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Mega Arum
bukanya crta awal Bagas mantan pacar Mona dan ayah Laura y, entah lah crta hampir selesai tp alur awal krg sinkron
Mega Arum
nasib mona manaa....knp laura tdk brtemu mona lagi stlh semua terungkap, alurnya agak2 lompat....maaf yA Thoor jd krg greget
Mega Arum
kok bisa bw mobil.. awal2 mereka hanya jalan kaki deh, wktu Dirga ke kantor juga naik motor.. bgg juga nih
Simba Berry
inilah yg namanya penjahat yg sesungguhnya.dia yg jahat tapi dia malahan yg dendam.sedangkan yg korban seperti karin malahan meratapi dan kasihan melihat musuhnya mati.aneh😄😄😄
Simba Berry
pemeran utamanya lemah cengeng.😄😄😄😄😄
Simba Berry
dosa apa aku ya tuhan?orang stres masih bertanya dosa apa?😄😄😄😄😄😄😄
Rosita Tumbelaka: dosa mu selingkuh..
total 1 replies
falea sezi
endingnya kayak. pret
falea sezi
art satpam. goblok semua
Rismawati Damhoeri
cepat banget matinya tuh pelakor thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!