Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Halo… Nona Tania?"
"Kamu dimana sekarang?!" bentak Tania dengan suara tinggi, tidak ada sedikit pun nada sopan di dalamnya. "Kamu sudah dapat kabar jelas belum soal papa dan Rafael?!"
"S-Sudah, Nona… Saya baru saja dapat kabar terbaru dari kantor kepolisian. Mereka ditahan disana, kasusnya sudah dinaikkan ke tahap penyidikan resmi, dan sampai sekarang belum diizinkan bertemu siapa pun…" jawab sekretaris itu dengan suara pelan dan cemas.
Wajah Tania semakin mengerut marah mendengarnya.
"Belum diizinkan bertemu? Bagaimana bisa begitu?! Mereka belum bersalah sampai terbukti di pengadilan! Dan Mahesa Group itu sudah terlalu berlebihan, mereka memfitnah kami, mereka menjebak papa dan Rafael dengan sengaja!" seru Tania keras, seolah lupa betapa nyatanya semua bukti kejahatan yang ada. "Dengar baik-baik, aku minta kamu sekarang juga segera mencari pengacara! Pengacara yang paling handal, yang punya nama besar dan bisa menangani kasus besar dengan cepat! Aku tidak peduli berapa biayanya, berapapun uang yang diminta, aku akan bayar asal mereka bisa membebaskan papa dan Rafael secepatnya!"
Di ujung telepon, terdengar keheningan sesaat, sebelum suara sekretaris itu terdengar kembali dengan nada ragu-ragu.
"T-Tapi Nona… tadi saya dengar kabar bahwa seluruh rekening dan aset milik keluarga kita sudah resmi dibekukan oleh pengadilan sementara proses hukum berlangsung… Kita tidak punya akses ke uang itu, Nona… Dan sisa dana kas kecil yang ada di kantor juga sudah sangat sedikit, tidak cukup untuk membayar jasa pengacara kelas atas…"
Kalimat itu bagaikan air dingin yang disiramkan tepat ke kepala Tania. Dia terperangah, mulutnya terbuka lebar, rasa marahnya kini berubah menjadi kepanikan yang baru.
"Apa?!" teriaknya nyaring. "Kamu bilang uang kita sudah tidak bisa dipakai sama sekali?! Lalu apa gunanya kamu selama ini?! Kamu tidak punya solusi lain selain bilang tidak punya uang?!"
"Saya minta maaf, Nona… Saya hanya menyampaikan keadaan yang sebenarnya…" jawab sekretaris itu ketakutan.
Tania menghentakkan kakinya ke lantai keras-keras, pikirannya berputar kencang mencari jalan keluar. Dia tidak boleh menyerah, dia harus menyelamatkan ayah dan kekasihnya itu, apapun caranya.
"Baiklah, kalau begitu dengarkan aku baik-baik!" perintah Tania dengan nada tegas dan penuh paksaan. "Kamu cari pinjaman dulu ke rekan-rekan bisnis papa yang masih dekat dengan kita, bilang ini darurat hidup dan mati. Atau kamu jual dulu aset-aset kecil yang belum tercatat resmi di daftar sitaan, apa saja yang bisa diuangkan dengan cepat. Gunakan uang itu untuk menyewa pengacara terbaik. Katakan pada pengacara itu, kalau mereka berhasil membebaskan papa dan Rafael, dan berhasil membatalkan semua tuntutan Mahesa Group, aku akan berikan imbalan berkali-kali lipat begitu kasus ini selesai nanti. Paham?!"
"B-Baik, Nona… Saya akan usahakan semampu saya," jawab sekretaris itu patuh, meskipun di dalam hatinya dia merasa sangat ragu melihat betapa kuatnya bukti yang ada di pihak lawan.
"Jangan cuma usaha! Kamu harus berhasil! Kalau sampai papa atau Rafael kenapa-napa, atau sampai mereka dimasukkan ke penjara bertahun-tahun, jangan harap kamu bisa bekerja tenang lagi disini!" ancam Tania dengan tajam. "Sekarang juga kamu bergerak! Jangan buang waktu lagi! Setiap jam itu sangat berharga, mengerti?!"
"Mengerti, Nona. Saya akan segera berangkat sekarang juga."
Tut… tut… tut…
Tania langsung mematikan sambungan telepon itu dengan kasar, lalu melempar ponselnya ke atas sofa. Dia kembali bersandar lemas di sandaran kursi, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan, namun di dalam matanya terpancar api dendam yang semakin membara.
"Tunggu saja, Aruna… Tunggu saja," gumam Tania pelan dengan nada suara yang dingin dan penuh dendam. "Selama papaku dan Rafael masih bernapas, selama kami masih punya cara untuk melawan… aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang. Kita lihat saja siapa yang akan menang di akhir nanti."
-
-
-
Mobil hitam mewah itu berhenti mulus dihalaman rumah Aruna. Zeffrano melonggarkan ikatan dasinya sedikit, lalu menatap wanita di sampingnya dengan tatapan lembut.
"Sudah sampai," ucap Zeffrano pelan, suaranya hangat dan menenangkan.
Aruna mengangguk perlahan, lalu menoleh kembali menatap Zeffrano, matanya berbinar lembut. Sebelum dia membuka pintu mobil untuk turun, tangannya perlahan meraih lengan kekar pria itu, menggenggamnya erat seolah enggan berpisah.
"Zeff…" panggil Aruna pelan, nadanya terdengar manis dan sedikit memohon. "Jangan langsung pulang dulu, ya? Ikut aku turun."
Zeffrano mengangkat alisnya sedikit, senyum manis masih tergambar jelas di wajahnya.
"Kamu mau aku mengecek keadaan rumahmu dulu, atau mau memintaku untuk menemanimu tidur?" tanyanya dengan nada bercanda lembut.
Aruna menggeleng pelan, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Zeffrano, napas hangatnya menyentuh kulit wajah pria itu.
"Bukan begitu. Aku mau kamu masuk bersamaku… dan menemaniku makan malam," bisik Aruna lembut, wajahnya sedikit memerah namun tatapannya tetap menatap lurus ke manik mata Zeffrano dengan tulus. "Hari ini adalah hari yang sangat berat buatku. Rasanya aku tidak sanggup sendirian di dalam rumah besar ini. Aku mau kamu menemaniku sebentar. Boleh kan?"
Zeffrano menatap wajah cantik itu lekat-lekat, melihat ketulusan dan sedikit rasa ragu disana. Dia tidak pernah menyangka, bahwa wanita yang dulu pernah menolaknya itu, sekarang dengan berani memintanya untuk menjadi bagian dari ketenangannya.
"Baiklah. Permintaanmu adalah perintah bagiku. Aku akan masuk dan menemanimu makan malam." jawab Zeffrano lembut, membuat Aruna tersenyum senang.
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣